
Keheningan muncul seketika, terasa begitu panjang sampai terus di isi dengan rasa yang begitu mengejutkan ketika mengetahui berita yang sangat buruk.
Mereka mau tidak mau harus mempercayainya karena keberadaan Korrina memang sudah hilang, dan mereka ikut bersama dirinya untuk memeriksa masalah yang berada di luar alam semesta.
Honoka memasang tatapan yang terlihat kaget sampai perasaannya memiliki penolakan yang begitu besar karena Korrina pasti masih hidup, hanya saja ia datang terlambat.
Haruka hanya mengeluarkan sedikit suara bingung lalu ia terdiam seketika sampai atmosfer di sekitar mereka terasa begitu dingin karena keheningan yang terjadi.
Tubuh mereka semua bahkan tidak bergerak sedikit pun, tidak ada perkataan yang di keluarkan, suara yang bisa di dengar hanya burung dan serangga.
"... ..." Honoka terus menolak untuk mempercayai tetapi entah kenapa mulutnya tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun karena berita itu sangat mendadak.
Berdiam diri terus seperti itu tidak akan mengubah fakta, sesuatu yang sudah menghilang bahkan mati tidak akan pernah bisa kembali dengan rasa sedih atau tangisan yang keluar.
Kedua mata Haruka berkaca-kaca, pikirannya dipenuhi dengan ingatan Korrina seketika karena ia tidak menyangka sejak dirinya masih lumpuh adalah terakhir kalinya ia bisa berbicara dengan Korrina.
Bukan hanya berbicara saja tetapi merasakan kasih sayang yang begitu besar dan ikhlas, semuanya ia jaga sendiri sampai ingatan dan kenangannya terus muncul di kepalanya.
Honoka mencoba untuk mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa, ia hanya bisa melakukan pergerakan yang terlihat seperti menolak tetapi hatinya terus menghentikan dirinya sampai ia meneteskan beberapa air mata.
"Mama... pasti... dia..." Honoka terdiam seketika sampai ia berlutut di atas tanah karena tidak tahu harus apa.
"Honoka...!" Bakuzen mulai membantu Honoka, dan ia bisa melihat tatapannya yang dipenuhi putus asa bahkan kedua matanya sempat terlihat mati.
Situasi yang sedang genting dan buruk seperti ini di timpa dengan berita yang sangat buruk bagi keturunan Comi, Haruka yang mengetahui putrinya mengalami sesak nafas dan adiknya yang masih pingsan tidak dapat menerima semuanya.
Honoka juga mengalami hal yang sama, mereka semua juga tidak bisa melakukan apapun kecuali diam dan mencoba untuk menenangkan mereka semua.
"Kita harus bisa tenang di situasi seperti ini... ya...?" Haruki mulai berbicara, mencoba untuk memperbaiki mood yang sangat buruk dan suram.
"... ..." Haruka berdiri di posisinya, tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali karena pikirannya terasa seperti membohongi dirinya.
Semua yang ia lihat awalnya terasa seperti mimpi tetapi rasa yang tidak mau menerima itu terasa begitu asli sampai sekarang mengetahuinya dengan jelas bahwa Korrina tidak selamat.
Bukan hanya Korrina saja tetapi neneknya juga, yang tersisa hanya tiga orang selamat dalam perjalanan yang begitu panjang.
Rokuro baru saja selesai membuat Koizumi tidur, dan ia menghampiri keluar dengan tatapan yang terlihat khawatir, ia bisa mengetahui situasi ketika ekspresi mereka terlihat suram dan tidak menerima seperti itu.
Ternyata Korrina tidak akan bisa datang, mereka semua terpaksa harus menerima berita buruk itu di situasi yang sangat menyusahkan.
"... ..." Haruka menoleh ke belakang dan melihat Rokuro yang berdiri di depannya dengan tatapan sangat khawatir.
Atmosfer masih terasa begitu dingin bahkan tidak ada satu pun orang yang berani untuk bergerak, mereka hanya bisa diam dan merenung karena Legenda yang menyatukan mereka semua tidak akan pernah bisa kembali.
"Korrina..." Ophilia mengeluarkan banyak air mata karena ia tidak sempat untuk berbicara dengannya sebagai teman masa kecil yang saling melupakan.
"Bertahun-tahun pergi... dan meninggalkan kita begitu saja." Arata mengepalkan kedua tinjunya.
"Jika seperti ini... situasinya... semakin buruk..." Kata Haruki yang merasa kesal karena ia menginginkan kedamaian yang abadi tetapi ancaman terus muncul.
"Berat... berat sekali..." Shizen berjalan pergi untuk duduk di tempat yang sepi karena ia sudah tidak bisa menahan rasa muak terhadap era sekarang.
"Kita sudah kehilangan banyak hal sejak Zoiru datang... tetapi, aku tidak menyangka... hari ini akan lebih parah..." Kata Yuuna.
Mereka semua sudah bisa menerimanya tetapi rasa sedih terus menyerang hati mereka, Shira tidak berada di tempat itu karena ia sedang sibuk latihan untuk mempersiapkan diri nanti.
Shira sudah pasti akan merasa kesal dan sedih, mengetahui panutan dan dulunya seorang guru untuknya mati begitu saja ketika pergi selama ratusan tahun lamanya.
"Aku tidak sempat... untuk bertemu dengan Mama... secara berhadapan... menggunakan tubuh ini..." Honoka mulai berbicara dengan air mata yang terus mengalir deras.
"...Okaho mengharapkan Mama pulang secepatnya tetapi ia tidak bisa melihatnya lagi karena keberadaannya sudah dilupakan..."
"...sekarang Mama tidak akan pernah kembali... aku tidak bisa berbicara dengannya... aku sudah... aku tidak tahu...!" Honoka mulai memegang erat rambutnya dan melepaskan tangisan yang keras.
__ADS_1
Mendengar Honoka yang menangis begitu keras, tangisan itu langsung menyebar satu per satu karena seseorang yang begitu dan baik telah meninggal mereka semua untuk selama-lamanya.
Ratu Touriverse yang menyatukan segala hal bahkan sampai mempertemukan mereka semua dengan takdir yang begitu indah, mengetahui dirinya yang tidak akan pernah kembali.
Rasanya begitu menyakitkan, Ophilia ikut menangis karena ia sangat merindukan teman masa kecilnya, walaupun sudah mendapatkan kembali ingatannya, dia tidak akan pernah bisa berbicara dengan Korrina lagi.
"Korrina..." Ophilia menutup wajahnya, mencoba untuk tidak menunjukkan ekspresi yang terlihat sangat bersedih.
Rasa rindu, sedih, menyesal, semuanya tercampur menjadi satu ke dalam hati mereka. Arata bahkan tidak bisa menahan air matanya karena ia juga memiliki hubungan baik dengannya seperti bertarung dan berlatih bersama.
Bukan hanya Arata yang menangis dan bersedih seperti itu, mereka semua merasakan hal yang sama, Haruki yang mencoba untuk tetap tenang dan positif bahkan sampai meneteskan beberapa air mata juga.
Pohon emas yang terlihat oleh seluruh alam semesta mulai menjatuhkan beberapa daun untuk mencoba menenangkan rasa kesedihan yang mereka rasakan.
Rasanya seperti Minami mencoba untuk menenangkan mereka semua karena pohon itu adalah kuburan yang begitu besar baginya sampai mereka terus melepaskan rasa sedih itu dengan tangisan.
Apa yang mereka pikirkan adalah ucapan terakhir Korrina sebelum ia pergi meninggalkan Touriverse untuk selama-lamanya, harapan yang ia miliki di serahkan kepada semua orang yang ia anggap sebagai keluarga dekat.
Haruka ingin sekali berbicara untuk terakhir kalinya dengan Korrina tetapi ia tidak bisa melakukannya karena rasa sedih yang menahan dirinya untuk tidak menggunakan waktu demi kebaikannya sendiri.
Ia harus bisa menerima apapun tanpa melarikan diri, menciptakan kubus waktu untuk bertemu dengan Korrina bukanlah ide yang baik karena rasa sedih itu pasti tidak akan bisa menghilang melainkan membekas.
Rokuro melihat Haruka yang mencoba sekuat mungkin untuk menahan air matanya tetapi semua itu terus keluar sampai ia menunjukkan ekspresi yang mencoba untuk tetap kuat.
"Hiks... Uck..." Haruka terus menahannya sampai ia langsung memeluk Rokuro dan menangis tepat di dadanya tanpa mengeluarkan suara apapun.
Hanya air mata yang terus mengalir deras sampai membuat bajunya basah, Haruka terus menangis tanpa henti sampai pelukannya bertambah erat.
"... ..." Rokuro hanya bisa diam, dan mengusap kepala Haruka selagi meneteskan beberapa air matanya karena ia juga tidak sempat untuk bertemu dengan Korrina secara langsung, bukan melalui surga.
Tidak lama kemudian, semua keheningan itu di ganti dengan suara tangisan mereka karena tidak bisa menahan lebih lanjut lagi soal kehilangan seseorang yang penting.
Suara tangisan dan air mata yang terus mengalir terjadi secara bersamaan, mereka semua tidak bisa lagi mempertahankan perisai yang mencoba untuk menahan kesedihan itu.
Hanya Futsu satu-satunya orang yang tidak bersikap sedih atau kehilangan melainkan ia merasakan kesenangan dan kepuasan yang begitu besar karena berhasil menipu istri dan putrinya sendiri.
Ia juga sudah mengetahui era kerajaan dan perselisihan telah bangkit kembali sampai ia bisa bersujud di hadapan Zenzaku karena sudah melakukan pekerjaannya dengan baik.
Beberapa jam kemudian, semuanya kembali seperti biasa dan mereka tentunya harus bisa maju tanpa harus merasa sedih lagi, takdir yang terjadi harus bisa di terima sampai dilanjutkan untuk tetap berjalan.
"Kita tidak perlu bersedih terus seperti ini... mari melangkah lebih lanjut bersama." Kata Haruka yang berhasil memenangkan dirinya dengan menghabiskan ratusan Vodka.
Mereka semua mulai menatap Haruka, "Kau tidak tahu apa yang akan terjadi... Itu langkah-langkah berani yang harus kita ambil untuk kembali utuh, menemukan tujuan."
"Kau harus meneruskan hidup." Haruka kembali tersenyum kepada mereka semua agar mereka ingin melangkah kembali untuk meneruskan kehidupan.
"Kita harus meneruskan kehidupan!" Haruka bangkit dan menatap mereka semua dengan tatapan yang terlihat serius.
"Semua alam semesta berada di tangan kita, di tinggalkan untuk kita dan dipercayai oleh Mama, kita harus melakukan sesuatu untuk itu."
"Jika tidak... maka seharusnya kita semua sudah di bunuh oleh takdir itu." Haruka berjalan pergi ke kamarnya untuk menenangkan Koizumi yang baru saja bangun dari tidur.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang...?" Tanya Haruki.
"Kita harus melakukan pemberontakan seperti biasanya, hanya saja aku membutuhkan waktu untuk melakukannya karena tubuh ini masih dalam proses pemulihan." Jawab Arata.
"Berita soal Korrina... apakah kita harus merahasiakannya kepada Kou...? Dia pasti akan merasa sangat bersedih karena sejak kecil sudah di tinggal dan sekarang tidak pernah kembali." Kata Ophilia dengan tatapan sedih.
"Untuk sekarang kita rahasiakan saja dulu, Kou sudah mengalami banyak kesusahan dan ia membutuhkan istirahat." Jawab Shuan dengan tatapan serius.
"... ..." Kou yang berada di balik pintu kamarnya bisa mendengar semua percakapan dan isi pikiran mereka, ternyata Korrina bukan mati melainkan di khianati oleh orang tuanya sendiri.
Kou sempat menangis karena ia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bertemu dengannya lagi tetapi sekarang ia akan menciptakan alat pelacak untuk bisa membawa Korrina lebih cepat.
__ADS_1
"... ..." Kou menatap ke depan, melihat gambar Korrina yang sedang tersenyum.
Pikirannya mulai tercampur dengan perasaan sedih dan amarah yang begitu besar sampai kedua iris matanya yang biru perlahan-lahan terus berubah menjadi warna merah darah yang dipenuhi rasa benci dan amarah.
Setiap Kou berkedip, pandangannya bisa melihat Korrina yang berdiri di hadapannya selagi mengelus kepalanya tetapi ia sendiri sadar bahwa pikirannya yang menciptakan imajinasi itu.
"Kou pasti bisa bertarung dan melindungi sesuatu dengan Keris ini." (Korrina).
Kou menunjuk ke depan dan memunculkan sebuah Keris yang memancarkan cahaya berwarna Crimson merah, tidak ada yang dapat merasakan keberadaan dan kekuatan itu karena ia menggunakan The Mind untuk menyembunyikannya.
Kou duduk di atas lantai dengan kedua tatapan yang terlihat mati, untungnya di dalam kamarnya itu tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya sendiri yang mulai menusuk tubuhnya dengan semua Keris itu.
Kou tidak bisa merasakan kesakitan apapun, mungkin karena rasa sedih dan tekanan yang ia rasakan melihat situasi yang memburuk membuat dirinya kebal dengan apapun yang membunuhnya.
Fisik lemahnya terasa hilang seketika, Keris itu dipenuhi dengan darahnya sendiri sampai membuat Kou memasang tatapan yang datar karena ia tidak menyangka keturunan Comi akan sangat hancur dan terkutuk.
Seorang ayah mengkhianati istri dan putrinya sendiri sampai membela sesuatu yang jauh lebih berbakat dan kuat, Kou terus merenung berjam-jam sampai malam hari tiba.
Sebuah bulan mulai muncul, bulan yang begitu sempurna memancarkan cahaya yang begitu indah di malam hari.
"Mama..."
"Aku berbicara sendirian..."
"...semua keruntuhan hubungan dan kebangkitan era kuno membuatku hancur juga..."
"Rasa sakit bahkan tidak bisa aku rasakan untuk sementara..."
"...Keris ini seharusnya bisa membunuhku tetapi aku tidak merasakan apapun..." Kou menusuk dadanya sendiri sampai ia tidak bisa merasakan apapun.
"Aku berhasil..."
"Aku sudah melakukan tanggung jawabku sebagai Ratu Touriverse..."
"...aku membuat semua orang senang..."
"...aku juga membuat semua orang bangga dan bahagia kepadaku."
"Semua pekerjaanku sudah selesai..."
"...semuanya sudah berubah sekarang, runtuh satu per satu sampai era kerajaan dan perselisihan kembali muncul."
"Tidak ada lagi yang namanya Ratu Touriverse... hanya raja dan dewa yang dipercayai oleh semua bangsa..."
"...satu penyebab dan itu adalah keturunan kita dari sisi yang lain..."
"...aku ingin meneruskan apa yang Mama seharusnya lakukan sejak itu." Kou memegang erat Keris itu.
"Sesuatu yang tidak dapat Mama lakukan sejak itu karena tidak sempat..." Tubuh Kou mulai dipenuhi dengan garis merah Crimson.
"Aku ingin membunuh Kakek..." Bulan purnama yang awalnya memiliki berwarna putih perlahan-lahan berubah menjadi merah secara proses.
Bulan merah atau bisa di bilang [Blood Moon] bahkan sampai memunculkan lambang dari Crimson ketika rasa benci Kou kepada keturunan terus bertambah.
"Aku ingin membunuh Tante..."
"...aku ingin membunuh sepupuku..."
"Aku ingin menghancurkan semua keturunan Comi yang mengkhianatimu...!" Kou melebarkan kedua matanya yang berubah menjadi merah secara keseluruhan.
Berkah dari Heaven tertimpa dengan sesuatu yang kuat, lebih menonjol kepada kekuatan dan kekuasaan karena ia menatap bulan merah itu secara langsung.
"Darah dan nyawa..."
__ADS_1