
Semua peserta dari kelas tiga sudah jelas pasti akan diberi tugas oleh Shua karena dia adalah seorang pemimpin, tugas-tugas itu sudah jelas tentang bertahan hidup di wilayah. Akina mulai mengambil beberapa ranting dari pohon yang memiliki warna hijau, ia mengambil ranting itu tidak sendirian, ia ditemani oleh Ophilia yang sedang mengambil beberapa ranting juga, "Bertahan hidup di wilayah yang akan beracun ini... Sepertinya terdengar lumayan sulit ya." Ucap Ophilia karena ia mengkhawatirkan tentang racun itu, Realm of Poison adalah wilayah dengan racun yang sangat berbahaya.
"Tenang saja, Ophilia. Terdapat tiga orang yang mampu membuat racun itu tidak berguna." Akina tersenyum dan Ophilia bisa melihat senyuman itu yang terlihat sangat yakin karena Akina sepertinya mengenal dua orang yang mampu menyucikan racun itu, "Siapa itu...? Jika itu kamu maka jelas sih, kamu ini seorang malaikat dengan kekuatan Seven Heavenly Virtues."
"Hanami Asuka, dia adalah seorang malaikat yang memiliki kekuatan dari Enchantment Rose of Virtuous, sebuah kekuatan suci melalui bunga. Sihir bunga ini sangatlah kuat dan misterius rumornya dan Asuka sendiri mendapatkan kekuatan dari bunga mawar, aku dengar bahwa dia adalah seorang malaikat dengan kesucian yang tinggi sehingga seluruh tubuhnya selalu bersinar putih dan mampu membuat racun-racun langsung terhapuskan." Ucap Akina yang mulai menghancurkan pohon hijau itu lalu ia mengangkatnya, Ophilia mulai mengangguk, "Benar juga... Kita memiliki dua malaikat yang mengikuti tantangan ketiga ini, jadi kita akan dipermudahkan dengan itu." Jawab Ophilia, ia bersama Akina baru saja selesai untuk mengumpul ranting, sepertinya mereka sudah siap untuk membuat api unggun agar mereka bisa memasak sesuatu dan menerangkan malam hari.
Akina dan Ophilia mulai berjalan menuju arah Shua dan Rexa berada, mereka bisa mengetahui tempat mereka berdua melalui jam tangan mereka yang mampu menunjukkan rekan-rekannya, hampir sama seperti GPS singkat-nya. Shua berada di tempat yang dekat dengan sungai dan Rexa sudah jelas berada di sebelahnya, "Kita bergegas pergi sebelum kita bertemu dengan peserta dari kelas lain, jika itu terjadi maka akan sangat merepotkan." Ucap Akina.
"Yang terakhir siapa...?" Tanya Ophilia, pertanyaan Ophilia sepertinya masih belum berakhir karena ia masih penasaran dengan satu orang lagi yang bisa menyucikan racun, "Ohh... Hibino Mirai, seorang laki-laki Legenda yang pernah membantu dalam insiden Katrina dan Sabrina itu, dia adalah seorang Saint Wood dan anehnya dia hampir sama seperti ras Elf, dia memiliki kecerdasan dan juga kemampuan yang sama dengan ras Elf..." Akina mulai mengingat-ingat tentang Mirai dan ternyata dia mampu menciptakan sebuah pohon kehidupan yaitu Yggdrasil, "Dia mampu menciptakan pohon Yggdrasil sehingga ia mendapatkan kekuatan dari pohon itu atau kehidupan bangsa Elf... Aneh ya...? Sepertinya dia memiliki darah elf, dengan pohon kehidupan itu... Aku yakin jika wabah racun itu datang maka racun tersebut akan segera hilang karena kehadiran dari pohon Yggdrasil." Akina tersenyum.
Ophilia mengangguk dan jawaban Akina terdengar cukup masuk akal, "Kau ada benar-nya juga." Di sisi lainnya, Asuka dan Megumi sedang mencari tempat persembunyian yang bagus dan mereka masih belum mendapatkan berita tentang Shua dan Rexa yang baru saja menemukan tempat persembunyian yang lebih aman dan juga bagus, "Sepertinya kita berpisah terlalu jauh dengan yang lain." Ucap Megumi selagi menghela nafasnya karena ia sudah tidak bisa mendengar suara langkahan kaki rekan-rekannya melalui kedua telinga-nya yang dapat mendengar cukup jauh.
Asuka dan Megumi melihat sebuah peti harta karun yang terletak tepat di depan mereka, "Ahh! Itu peti harta karun---" Megumi langsung menarik lengan kanan Asuka menggunakan ekor-nya karena sepertinya ia merasakan keberadaan seseorang melalui kedua telinga-nya, "Ada apa...?" Tanya Asuka dengan nada yang pelan lalu mereka berdua mulai masuk ke dalam semak-semak yang lumayan besar, untungnya racun yang berada di semak itu langsung karena Asuka yang dapat menyucikan apapun yang ada di sekitarnya.
"Apakah kau tidak merasakan keberadaan-nya...?" Tanya Megumi dengan nada yang pelan sehingga Asuka mulai memejamkan kedua matanya dan ia bisa mengontrol beberapa bunga mawar dan untungnya ia merasakan bunga mawar yang tidak jauh dengan semak itu, "Rose Vision..." Asuka membuka mata kiri-nya sehingga pupil matanya mulai membentuk bunga mawar dan bersinar warna merah muda, sihir itu mampu membuat Asuka melihat melalui bunga mawar yang ia kendalikan, hampir sama seperti CCTV.
Bunga mawar yang Asuka kendalikan mulai mekar dan bersinar kecil lalu Asuka mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, "Ada apa...? Apakah kau menemukan sesuatu...?" Tanya Megumi dan Asuka mengangguk karena ia melihat dua Legenda yang sedang sembunyi di balik pohon selagi memperhatikan peti harta karun itu, sepertinya prinsip mereka itu untuk membiarkan seseorang mengambil-nya terlebih dahulu lalu ketika seseorang membuka peti itu maka bagian mereka untuk membunuh orang yang membuka peti itu duluan. Hampir sama seperti hukum alam, mangsa dan juga pemangsa.
Sepertinya pikiran kedua Legenda itu hampir sama seperti Megumi karena ketika ia melihat peti tersebut, ia pasti tahu bahwa ia merasakan sesuatu yang aneh atau firasat yang tidak enak sehingga seluruh tubuhnya merinding, "Sepertinya mereka menunggu seseorang untuk membuka peti itu duluan, mereka sepertinya tidak akan menyerah dan terus menunggu sampai peti itu terbuka. Lina pernah mengatakan bahwa peti akan muncul di peta kita jika peti itu sudah mendarat di pulau ini." Ucap Megumi yang mulai menggerakkan kedua telinga-nya.
"Hearing Sense..." Megumi mulai menggunakan kemampuan Neko Legenda-nya yang mampu mendengar sesuatu yang sangat jauh bahkan ia juga mampu mendengar suara yang terdengar dari planet lain, "... ..." Kedua telingan Megumi mulai naik karena ia bisa mendengar suara kedua Legenda itu, "Kau melihat dan aku mendengar." Suruh Megumi.
"Aku mengerti." Asuka melihat kedua Legenda mulai duduk di belakang pohon itu selagi menunggu seseorang untuk membuka peti itu, "Uki, aku merasakan keberadaan dua orang tadi ketika kita menemukan peti itu dan sekarang mereka pergi entah kemana." Ucap Legenda mulai yang memanggil rekannya dengan nama Uki, Megumi bisa mendengar suara mereka dengan sangat jelas, "Ya, aku tahu itu. Bukannya dia sudah mengatakannya tadi bukan...? Kita hanya harus menunggu mangsa bahkan jika kita harus menunggu sampai malam atau besok, jika kita mendapatkan mangsa dan juga peti itu maka kita mendapatkan keuntungan yang banyak, Fuga." Ucap Uki yang mulai menyandarkan kepalanya di pohon yang berada di belakangnya.
__ADS_1
"Sial... Aku tidak bisa mengetahui siapa yang tadi aku rasakan. Jika seseorang yang aku rasakan tadi memiliki kemampuan yang hebat maka itu sangat berbahaya." Ucap Fuga selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, "Sepertinya mereka berasal dari kelas satu karena jaket mereka itu berwarna kuning." Ucap Asuka.
"Ya... Akan sangat membantu jika dia memberitahu kita tentang pemimpin-nya." Megumi tersenyum dan ia harus terus mendengarkan mereka berdua berbicara agar ia tidak tertinggal dengan informasi yang penting. Megumi mulai menatap jam tangan-nya dan ia sadar bahwa Shua mencoba untuk menghubunginya, Megumi langsung menyentuh jam tangannya sehingga jam itu mulai menunjukkan wajah Shua, "Kalian dimana...?" Tanya Shua.
"Kami menemukan dua peserta yang berasal dari kelas satu. Kita saat ini menemukan sebuah peti, siapa tahu akan berguna." Ucap Megumi dengan nada yang pelan, Shua mengangguk lalu ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Jangan lengah... Lina pernah mengatakan bahwa semua peserta yang mengikuti tantangan tiga memiliki kecerdasan dan kemampuan yang sangat hebat, hanya peserta yang cerdas-lah yang dapat mengikuti tantangan tiga ini." Megumi langsung mengangguk dan sepertinya Uki dan Fuga bisa saja seorang Legenda yang sangat cerdik.
"Jangan memakan waktu terlalu lama." Ucap Shua, Megumi mengangguk lalu ia menyentuh jam-nya lagi untuk menutup panggilan Shua, "Kita tidak memiliki banyak waktu, Asuka... Kita harus segara mengakhirinya." Suruh Megumi karena waktu mereka sangat terbatas, Megumi mulai menyentuh jam-nya untuk melihat jam berapa sekarang dan jam itu menunjukkan bahwa sebentar lagi akan masuk ke dalam waktu sore sehingga beberapa jam lagi, wabah racun akan dimulai.
"Bagaimana cara-nya kita mengakhiri-nya?" Tanya Asuka, Megumi mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius sehingga kedua mata pupil-nya mulai berbentuk tajam serta gigi taring-nya, "Aku akan menarik perhatian mereka dengan kecepatan-ku." Ucap Megumi dan ketika Megumi mengatakan itu, Asuka mengerti dengan situasi yang ia hadapi sekarang sehingga ia tahu harus apa agar bisa menyingkirkan Uki dan juga Fuga.
"Aku mengerti, Megumi. Aku akan mulai jika kau bergerak." Ucap Asuka selagi menganggukkan kepalanya, "Bagus... Ayo mulai, Phantom Star!" Megumi mulai bergerak cepat mengelilingi Uki dan Fuga sehingga pergerakkan Megumi mampu membuat mereka terkejut karena semak-semak yang berada di depan mereka terlihat seperti bergerak dengan sendirinya, "A-A-Apa ini...!?" Uki membulatkan kedua matanya.
Fuga mulai berkeringat karena ia merasakan keberadaan Megumi yang mulai menyebar di segala arah, ia rasa bahwa mereka berdua sedang dikepung oleh banyak orang, "HAAAAHHHHH!!!" Fuga mengeluarkan dua senjata api berjenis pistol lalu ia menembakkan-nya kemana-mana.
"Disini!" Panggil Megumi sehingga ia berdiri tepat di atas peti itu selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, Uki dan Fuga mulai menatap Megumi lalu mereka menunjukkan ekspresi yang terlihat karena Megumi adalah seorang Neko Legenda, "Neko Legenda...?! Apakah kau tadi mendengarkan percakapan kita berdua!?" Tanya Uki dengan nada yang terdengar kesal.
Fuga mulai memejamkan kedua matanya lalu ia mulai berkonsentrasi untuk mencari keberadaan Megumi, "Aku merasakannya...!!!" Fuga mulai menembak ke belakang sehingga tembakkan-nya mampu mengenai bahu Megumi dan itu membuat bahu kanan Megumi berdarah karena tertembak sehingga Phantom Star-nya mulai berhenti lalu Megumi menampakkan dirinya yang asli di depan mereka berdua selagi memegang bahu kanan-nya yang berdarah, "Nrggghhh... Sial..."
"Sekarang, Fuga!!!" Suruh Uki dan Fuga langsung membidik wajah Megumi dengan ekspresi yang terlihat seperti psikopat, "Bam---"
"Rose Devour!" Asuka bangkit dari atas semak-semak lalu bunga-bunga mawar yang Asuka letakkan di depan peti itu mulai membesar sehingga menciptakan dua bunga monster dengan taring yang sangat tajam, "A-Apa!?" Uki dan Fuga melirik ke belakang sehingga kedua kaki mereka langsung tertarik dengan sebuah tali yang terbentuk dari daun, tali itu berada di kedua lengan monster mawar tersebut, "H-Hentikan...!!! Hentikan....!!!" Ucap Fuga dengan suara yang terdengar panik karena ia bersama dengan Uki mulai tertarik ke dalam mulut kedua monster itu, "GRAGGGHHHH!!!" Kedua monster mawar itu membuka mulut mereka dengan sangat lebar.
"AAAAAAHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak mereka berdua bersamaan sehingga kedua monster itu langsung melahap Uki dan Fuga. *ZLASH!!!* Asuka mengepalkan kedua tinjunya sehingga kedua monster itu berubah menjadi mawar bisa dan Asuka menarik kedua mawar tersebut lalu ia mengubahnya menjadi dua gelang, ia langsung menggunakan kedua gelang itu di tangan kiri dan kanan-nya.
__ADS_1
Megumi tersenyum, "Kerja bagus." Megumi berhenti menghalangi bahu kanan-nya karena ia telah berbohong karena sudah tertembak oleh Fuga, darah-darah tadi itu berasal dari bahu kanan Megumi yang tertusuk menggunakan kuku-nya sendiri, "Sepertinya pengalihan tadi berjalan dengan lancar sehingga aku bisa menepatkan kedua bunga monsterku." Asuka tersenyum dan ia melihat bahu kanan Megumi yang berdarah mulai meregenerasi, "Kau memiliki sihir regenerasi ya."
"Begitulah. Hanya sedikit sih." Megumi dan Asuka mulai menghampiri peti itu, "Apakah kau sudah memasang jebakan di sekitar kita?" Tanya Megumi untuk berjaga-jaga agar mereka berdua tidak diserang oleh peserta lain, Asuka mengangguk karena ia sudah memasang bunga monster lainnya di sekitar mereka, mereka sudah aman untuk membuka peti itu lalu mengambil fasilitas yang terdapat di dalam-nya.
Megumi membuka peti itu sehingga ia melihat banyak sekali daging mentah yang terlihat lezat, "Uwaaaahhhhhhhh!!!" Kedua mata Megumi langsung berbinar-binar sehingga mulut-nya mulai berliur, Asuka hanya bisa terkekeh lalu Megumi mengambil semua daging itu sampai habis sehingga Asuka bisa melihat sebuah Shrink Button dan itu membuatnya yakin bahwa itu adalah sebuah tombal yang mampu membuat sebuah kristal menjadi kecil, itu akan sangat bagus jika mereka menggunakannya untuk hari terakhir dimana barrier akan menyusut menjadi lebih kecil.
"Megumi, kita mendapatkan sesuatu yang berguna." Asuka mulai mengambil tombol itu lalu ia mulai menatap Megumi yang terlihat seperti hampir memakan habis semua daging itu, "OI!!! KAU SEDANG APA, MEGUMI!? SISAKAN SEMUA UNTUK YANG LAIN!!!" Asuka langsung mencoba untuk menghentikan Megumi yang mulai memakan semua daging itu sampai habis, "Tidak mauuuuu!!!" Teriak Megumi keras.
***
Shua baru saja selesai dengan memasang tenda terakhir, terdapat empat tenda dan setiap tenda hanya bisa ditepati oleh dua orang kecuali tenda yang terakhir, tenda yang terakhir itu hanya untuk Mirai karena dia ini seorang laki-laki, sudah jelas dia akan tidur berpisah dengan para gadis. Mirai dan Rexa mulai mencoba untuk menyalakan api dari ranting-ranting yang telah dikumpulkan oleh Akina dan Ophilia.
Semua-nya telah berkumpul kecuali Megumi dan Asuka yang sedang dalam perjalanan menuju tempat persembunyian mereka yang bagus, "Crimson Flames..." Rexa mulai menciptakan sebuah api Crimson di jari telunjuk-nya lalu ia membakar ranting-ranting itu sampai terbakar dengan api berwarna merah darah, "Baiklah, api sudah nyala!" Rexa tersenyum ketika ia melihat ranting-ranting itu yang terbakar dengan api Crimson, Shua mengangguk lalu ia menatap langit-langit yang mulai gelap.
"Sepertinya sebentar lagi sudah akan menempuh waktu malam ya, Asuka dan Megumi masih belum datang juga." Shua menghela nafasnya pelan. Akina dan Ophilia datang dengan beberapa daging yang mereka dapatkan dari monster yang berbentuk hampir sama seperti goblin, daging yang mereka dapatkan tentu saja beracun, tetapi Akina berhasil menyucikan sehingga daging-daging itu bisa dimakan ketika sudah di masak atau di bakar, "Kami kembali dengan sebuah makanan." Ucap Akina.
"Bagus! Itu artinya kita baru saja bertahan di hari pertama kita---"
"Kami kembali." Ucap Megumi yang membawa dua daging yang ia dapatkan dari peti harta karun, Shua melirik ke belakang lalu ia hanya bisa melihat Megumi sendirian dengan mulut-nya yang dipenuhi daging-daging kecil, "Selamat datang kembali, Megumi. Sepertinya kau membawakan kami sedikit makanan ya...?" Tanya Shua dengan ekspresi yang terlihat senang.
"Begitulah, daging ini enak loh." Megumi mulai menepatkan kedua daging itu di atas daun yang baru saja di suci-kan oleh Akina, Akina dan Ophilia melakukan hal yang sama dimana mereka menepatkan kedua daging itu di atas daun itu, daun itu memiliki bentuk yang sama dengan daun pisang, "Loh, dimana Asuka?" Tanya Shua.
Megumi menunjuk Asuka yang sedang buang air kecil di belakang semak-semak, Asuka melambaikan tangannya, "Aku disini." Jawab Asuka selagi melambaikan tangannya. Shua tersenyum lalu ia merasa puas bahwa di hari pertama, mereka semua berhasil bertahan dan tidak kehilangan satu rekan sama sekali. Megumi menghampiri Shua lalu ia memberikan Shrink Button kepada-nya, "Aku menemukan ini juga di dalam peti harta karun, sepertinya kita cukup beruntung juga, Shua. Bukan hanya itu, kelas satu sudah kehilangan dua peserta karena Asuka membunuh-nya." Ucap Megumi.
__ADS_1
Mereka semua langsung terkejut dan juga merasa senang karena sudah mendapatkan Shrink Button serta mereka dikejutkan dengan berita bahwa Asuka baru saja membunuh dua peserta, "Kelas satu pasti akan mengincar kita karena mereka sudah kehilangan dua peserta... Itu artinya kita harus waspada terhadap kelas satu yang memiliki jaket merah!" Ucap Shua untuk memperingati mereka semua untuk tetap terjaga dari siapapun termasuk kelas satu.
"Dimengerti!!!"