Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 32 - Penipu Ini dan Itu


__ADS_3

Carilah Korrina yang asli dan jangan sampai tertipu.


"... ..." Korrina sedang berbaring di atas kasur selagi menatap atap-atap karena ia tidak bisa tidur, pikirannya terus memikirkan apa yang sedang Alvin lakukan saat ini, "Hahhhhh.... Kangen..." Korrina memeluk bantalnya lalu ia menyalakan televisi dimana terdapat Morgan yang sedang berdiri selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal.


"Korrina."


"Morgan? Apa maumu?" Tanya Korrina sehingga Morgan mulai tersenyum kecil, senyuman itu seperti memberi Korrina jawaban dan apa yang akan terjadi selanjutnya, "Sepertinya akademi ini akan aku tinggalkan untuk beberapa menit, jadi bisa saja sesuatu yang buruk akan terjadi di akademi ini tanpa diriku." Morgan mulai menciptakan sebuah portal di belakangnya.


"Pemandu lainnya masih menjaga akademi ini kok, jadi aku minta kamu untuk bisa mengendalikan kondisi akademi tanpa diriku." Morgam membalik badannya, sekarang ia menghadapi portal yang ada di depannya, "Sampai jumpa, Korr---"


ZBRET!!!


Korrina menghancurkan televisi itu menggunakan katana-nya lalu ia mulai bersinar hingga berubah wujud menjadi Katrina, "Heh... Mereka semua ini bodoh dan mudah ditipu oleh ilusi dari warisan Comi." Katrina mulai menghampiri jendela dan setelah itu ia melihat Korrina palsu lainnya sedang menculik beberapa laki-laki lalu memperkosa dan menyiksa mereka.


"Sepertinya aku juga mendapatkan informasi penting, Morgan akan pergi dan itu artinya aku bisa melakukan apapun untuk menghancurkan kelas tiga, soal pemandu itu mudah... Aku harus membayar mereka dengan hartaku." Katrina tersenyum sinis lalu ia mulai melompat keluar dari jendela dan setelah itu ia berubah menjadi Korrina, "Illusion of Faker!" Ilusi yang mampu meniru wujud seseorang serta dengan kekuatan dan sihir mereka.


Beberapa menit kemudian, Korrina sedang mengambil minum di kantin, "Malam-malam seperti ini aku tidak bisa tidur---" Korrina melirik ke belakang lalu Arata tiba-tiba menebas hidung Korrina, tetapi ia langsung mundur beberapa langkah, "H-Hei, apa maksudmu dengan serangan tadi?! Apa kau bercanda?!" Tanya Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal.


"Bagaimana bisa aku menemukan banyak sekali Korrina di akademi ini, mulai dari Akina yang bertemu dengan Korrina beberapa kali dan aku baru saja melihatmu ditaman." Ucap Arata, "Tunggu, apa yang kau maksud?! Aku tidak mengerti---"


ZLASSHH!!!


"AAAARRRRRGGGGHHHHH!!!" Teriak Korrina kesakitan hingga lengan kanannya putus karena tertebas oleh pedang kemarahan (Wrath) milik Arata, ia melakukan itu selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat dingin, "Urghhh...! Kau melanggar aturan bodoh...!" Korrina menghalangi pendarahan yang ada di lengan kirinya.


"Jangan mencoba untuk menipuku, palsu. Aku tahu Korrina yang asli saat ini sedang berada di kamarnya." Arata melesat ke depan dan tiba-tiba ia terhantam oleh seorang Legenda sehingga ia terdorong ke belakang, "Cih..." Arata menatap Legenda itu dan ternyata seorang gadis yang terlihat kesal, "Apa yang kau perbuat...?! Kau melukai Mama...!!!" Ternyata gadis itu adalah Rexa Ghifari dengan kedua matanya yang bersinar warna Crimson.


"Sepertinya aku telah terjebak di ilusi seseorang... Cih, walaupun ini ilusi, aku dengan senang hati akan mengalahkan mereka lalu menghancurkan ilusinya." Ungkap Arata selagi tersenyum sinis, Rexa melesat ke depan selagi memunculkan sabit yang terbuat dari aura crimson, Arata dengan cepat melakukan backflip ke belakang.


Rexa mengayunkan sabitnya beberapa kali menuju arah Arata sedangkan Arata menahan semua serangan itu menggunakan Sword of Envy, Envy adalah salah satu kekuatan dari Seven Deadly Sins yaitu iri hati. "Blessing of Envy!!!" Arata menggunakan sihir iri hati yang mampu membuat tubuhnya kebal terhadap serangan senjata apapun. Seluruh tubuh Arata langsung bersinar hingga ia berhenti melawan Rexa, Rexa tersenyum sinis lalu ia mengayunkan sabitnya beberapa kali ke arah tubuh Arata. Arata tidak bisa merasakan kesakitan apapun dari sabit milik Rexa bahkan pedang itu tidak mampu meninggalkan bekas luka ditubuh-nya, Blessing of Envy akan bertambah kuat jika musuh memiliki rasa iri kepada seseorang.

__ADS_1


"Sihir apa yang dia gunakan...!? Bagaimana bisa pedangku tidak melukainya!? Ini mustahil...!!!" Rexa terus mengayunkan sabitnya tanpa henti walaupun tubuh Arata tidak terluka sama sekali. Kejadian itu mampu membuat prediksi Arata benar bahwa Rexa dan Korrina itu benar-benar palsu, pasti seseorang yang terkait dengan Korrinalah yang melakukannya.  "Sihir ini...!!! Aku akan mencoba untuk merusaknya!!! Aku adalah peserta yang akan mengalahkanmu dan menyingkirkanmu, bajingan!!! Kau akan membayar semua perbuatan yang kau lakukan kepada Mama!!!" Rexa terus menyerang Arata tanpa henti hingga ia membuat shockwave besar di belakang tubuh Arata.


"Jangan bodoh!!! Sihirku ini tidak akan bisa dihancurkan oleh pedang lemah yang kau pegang!!! Lagipula... Sabit berkekuatan Crimson yang kau pegang itu hanyalah replika dan tidak memiliki efek kehancuran yang besar, beda dari yang asli!" Arata menusuk perut Rexa dengan pedang Envy lalu ia menghantam leher belakangnya menggunakan gagangan pedang yang ia pegang, setelah itu Arata langsung menebasnya sehingga Rexa terpental ke depan dan terjatuh di atas tanah dengan kondisi yang merasa pegal di bagian lehernya. "Gugh..." 


Arata mengganti pedangnya menjadi pedang Wrath, ia melihat Rexa perlahan-lahan mulai teregenerasi.  Logam pedang itu langsung terlumuri oleh api yang sangat panas dan Arata mencoba untuk meluncurkan gelombang tebas lagi menuju arah Rexa, Rexa melesat ke depan lalu ia mencoba untuk menusuk punggung Arata, tetapi Arata menghindari serangan itu lalu ia memegang kaki kanan Rexa, setelah itu Arata berputar 360 derajat. Arata melempar Rexa ke depan sehingga ia terus berputar dan tidak bisa mengontrol keseimbangan tubuhnya saat ini. Rexa berhenti berputar lalu ia berhasil mendarat di atas tanah selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal.


"HAAAAHHHHH!!!" Rexa muncul tepat di depan Arata langsung menyerang Arata dengan mengayunkan sabitnya beberapa kali, Arata menangkis semua serangan itu selagi memegang luka tusuk yang berada di perutnya. "Grrrr...!!!" Lama-lama Arata mulai merasa sangat kesal hingga ia bisa saja membunuh Rexa karena sudah melukainya cukup parah. Rexa terus menyerang Arata secara bertubi-tubi sedangkan Arata menahan semua serangan itu dengan wajah yang terlihat kesal. Rexa menendang Arata mundur lalu ia muncul tepat di belakang, Arata melirik ke belakang dan ia langsung mengayunkan pedangnya ke arah leher Rexa, ternyata Rexa yang berada di belakang Arata adalah ilusi yang ia ciptakan. Rexa yang asli masih berada di depan Arata, ia menusuk luka tusuk Arata yang terletak di perutnya hingga ujung sabit itu langsung masuk ke dalam perut Arata. "Guugghhh...!!!" Luka tusuk itu mengalami pendarahan lagi karena tusukan dari sabit milik Rexa.


"Kau jauh lebih kuat dan lebih cepat ketika kau bertarung melawan perwakilan dari pedang tujuh dosa besar itu!" Rexa sekarang mulai meremehkan Arata yang mendadak melemah. Arata langsung merasa sangat kesal mendengar perkataan Rexa yang terdengar seperti meremehkan dirinya, ia langsung menebas wajah Rexa hingga tebasan itu meninggalkan luka gores di dahi milik Rexa. Rexa langsung terpental ke belakang dengan dahi yang berdarah. "Guargh...!"


Rexa langsung melakukan beberapa backflip ke belakang lalu ia meluncurkan Final Shine Attack menuju arah Arata. Arata mengubah pedangnya menjadi Sword of Gluttony, ia langsung menangkis gelombang sihir itu menggunakan pedangnya sehingga gelombang itu langsung terserap oleh pedang yang Arata pegang. Arata melesat ke depan lalu ia mengayunkan pedangnya ke arah dada Rexa hingga itu mampu merobek bajunya dan memperlihatkan sedikit pakaian dalamnya.


Arata menebas wajahnya lalu ia menendang dagunya dengan sangat keras hingga ia terpental ke atas, Arata muncul di atas Rexa lalu ia menebas dada Rexa sebanyak dua kali hingga mampu membuat luka tebas yang berlambang X besar di dada-nya. "UGGHHH!!!" Luka X itu langsung mengeluarkan darah yang cukup banyak, sepertinya Arata sudah tidak akan memberikan Rexa kesempatan untuk menyerah, ia sekarang lebih memilih untuk menyiksanya.


Rexa terpental menuju daratan lalu Arata muncul di depan Rexa, ia langsung meluncurkan Gluttony's Hunger Wrath tepat di depannya. sihir yang di keluarkan adalah sebuah gelombang merah yang mampu menghapus apapun yang menghalangi gelomabng itu, gelombang merah itu langsung mengenai Rexa sehingga ia langsung terbawa oleh gelombang itu ke depan. "Uagh...!!!!" Rexa langsung mencoba untuk menghilangkan gelombang itu dengan menahannya menggunakan kedua telapak tangannya. "Grrgghh...!!!" Rexa berusaha sekuat mungkin untuk melarikan diri karena jika gelombang itu meledak maka luka X yang berada di dada-nya akan membesar dan membuat luka itu lebih buruk lagi bagi tubuhnya.


BAMMM!!!


"Hah... hah... Cih... Padahal aku sudah merasakan bahwa kau telah tertusuk di bagian perutmu dan dia masih memiliki kekuatan sebanyak ini...!" Sabrina mulai merasa kesal sekarang dan ia juga merasa sangat menyesal karena meremehkan Arata, ia ingin melarikan diri dan menggunakan ilusi lainnya tetapi ia bisa merasakan keberadaan Arata di sekitarnya, ia terasa seperti dikepung oleh Arata.


"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, dasar bodoh." Jawab Arata, "Apakah kau ingin menjadi lebih dari Korrina dengan cara sampah seperti ini, hah? Justru kau seharusnya berjuang dan berusaha lebih keras dari adik-mu yang bernama Korrina Comi itu!" Arata mulai mengepalkan tinju kirinya karena ia mencoba untuk memberi musuhnya itu sebuah motivasi sebelum memberinya pelajaran.


"Apa...!?"


"Aku bisa merasakan di setiap seranganmu bahwa kau ini arogan dan masih meremehkanku, sepertinya kau memiliki kebiasaan terhadap emosi arogan dan meremehkan lawan yang sedang kau lawan ini... Tidak ada setitik kesucian dari keluarga Comi jika kau mencoba untuk memfitnah adikmu Korrina, bukannya keluarga Comi itu dikenal karena hubungan kekeluargaan mereka?!." Arata menunjuk Sabrina dengan pedang yang ia pegang. "Apakah itu saja yang harus kau katakan padaku?" Tanya Sabrina selagi tersenyum kesal, api-api sacred biru tua muncul dan melingkari seluruh tubuhnya.


"Ya, aku ini arogan dan meremehkanmu!!! Aku adalah Sabrina Comi, anak pertama dari keluarga suci Comi...! Tidak ada yang namanya Legenda atau ras lain yang mampu melampaui kekuatan dan sihir kunoku...!!!" Sabrina langsung menaikkan seluruh kekuatan dan bahkan aura-nya yang berwarna Sacred dengan biru yang lebih tua. "Tapi, bagiku, justru itulah harga diriku sebagai seorang Legenda yang berasal dari keluara suci... COMI!!!" Sabrina langsung menunjuk ke depan dengan telapak tangan kanannya lalu ia mulai menciptakan sebuah bola energi biru tua.


"HAAARRRRGGGGGGHHHHHHH!!!!" Teriak Sabrina keras sehingga aura-auranya mulai membesar, setelah itu ia langsung menggenggam bola energi itu lalu ia mengangkat lengan kanannya ke atas. Ia berusaha untuk meluncurkan gelombang sihir terkuatnya ke arah Arata. "Aku tidak bisa mengalahkanmu!? Jangan membuat diriku tertawa sampai mati!!!" Seluruh tubuh Sabrina mulai membakar semua yang ada di sekitarnya termasuk ilusinya yang mulai retak, Sabrina mengeluarkan beberapa kilat di seluruh tubuhnya dan kilat itu meluncur menuju arah Arata, tetapi Arata menghindari semua serangan itu.

__ADS_1


"Aku tidak akan bisa membuang siapa diriku ini... Namaku adalah Sabrina Comi, salah satu dari putri keluarga Ghifari yang terkuat...!!! Aku adalah anak dari seorang Dewi Sacred yang bernama Koura Comi...! Aku sebagai penurus Ibuku yaitu Koura akan mengalahkanmu, ARATAAAGGHHHHH!!!" Teriak Sabrina keras dengan nadanya yang terdengar kesal. Seluruh aura Sabrina mampu membuat dorongan dan shockwave yang besar di sekitar Arata, bahkan dunia ilusi milik Sabrina mulai bergetar sehingga berada di ambang kehancuran.


Arata hanya bisa menatap Sabrina dengan tatapan tajamnya, ia bisa merasakan dorongan besar di sekitar tubuhnya. "Arata...!!! Setelah semua yang kau katakan padaku, kamu tidak akan mencoba menghindar ini, 'kan!?" Arata langsung melempar pedang-nya ke atas langit.


"Kerahkan semua yang kau miliki, putri pertama dari keluarga Comi...!"


"PROMINANCE SACRED FLASH!!!" Sabrina meluncurkan sihir Prominance Sacred Flash menuju arah Arata, gelombang sacred biru tua yang ia luncurkan menuju arah Arata mampu menghancurkan daratan. Gelombang Prominance Sacred Flash itu dilumuri dengan listrik-listrik silver, Arata langsung menunjukkan wajah yang terlihat terkejut dan setelah itu ia langsung menghalang gelombang itu dengan pedangnya yang ia putar 360 derajat.


ZWOOSH!!!


Gelombang itu meledak seperti ledakan nuklir, setelah ledakan itu selesai, Sabrina langsung menatap ke arah ledakan itu dan melihat Arata tergeletak di atas tanah. Sabrina tidak merasakan setitik Lenergy milik Arata, itu artinya ia berhasil mengenai-nya dengan sihir Prominance Sacred Flash. Tiba-tiba pedang Arata berputar di atas dan hampir saja menusuk puncak kepala Sabrina, dengan cepat Sabrina melompat ke belakang sehingga pedang itu menancap di atas lantai depan Sabrina."Hah... Hah... Hah..." Sabrina mulai bernafas cukup berat karena ia bisa merasakan kelelahan besar setelah melawan Arata.


"Heh...Hehehe... HAHAHAHAHAHAHA!!!" Sabrina mulai tertawa terbahak-bahak karena ia baru saja menang melawan Arata. "Hmph! Rasakan itu! Aku adalah Sabrina Comi, putri pertama dari--- Ahhh!!!"


Sabrina langsung merasakan aura menyengat tepat di belakang punggungnya, ia melirik ke belakang dan ia melihat Arata sedang meraba punggungnya dengan sebuah bola energi merah di tangan kanannya. "A-Acckkk..."Sabrina bisa merasakan bahwa Lenergy dan kekuatannya seperti terserap oleh bola energi merah yang mengenai punggungnya, "Gluttony's Starvation..." Ucap Arata, ia baru saja menggunakan sihir pedang Gluttony yang mampu menciptakan sebuah tubuh palsu yang mampu menyerap sihir apapun, sihir yang Arata gunakan itu mampu menyerap Lenergy dan kekuatan milik musuh lalu menjadikannya miliknya sendiri.


Sihir Prominance Sacred Flash tadi terserap oleh tubuh palsu Arata, aura milik Arata langsung melesat menuju arah dirinya dan merasuki tubuhnya. Luka tusuk yang ada di perutnya langsung teregenerasi sehingga pulih kembali karena efek dari sihir Gluttony-nya yang mampu mengubah sihir yang terserap menjadi sumber sihir penyembuhan. "Terima kasih, Sabrina... Tanpa dirimu aku tidak akan bisa menyembuhkan luka tusuk yang kau berikan kepadaku!" Arata bisa menggunakan sihir Gluttony karena pedang Gluttony yang ada di depannya, Arata hanya bisa menggunakan sihir tujuh dosa besar ketika pedangnya muncul atau ada.


"SAMPAI JUMPA!!!" Teriak Arata keras sehingga ia memutuskan lengan kiri Sabrina.


JLASSSHH!!!


"AAAAAAHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Sabrina dengan sangat keras sehingga ruangan ilusi milik Sabrina hancur, mereka langsung tiba di aula kelas dengan darah dari lengan kiri Sabrina yang putus mulai menetes kemana-mana, Arata menendang wajahnya lalu ia menginjak mulutnya agar Sabrina tidak teriak seperti itu, teriakan-nya bisa saja memancing banyak peserta atau murid yang sedang tertidur nyenyak di tengah malam, "MMMFFFHHHHHH!!!!"


Arata mulai memasukkan ujung pedang Gluttony-nya ke dalam mulut Sabrina, "Bergerak sedikit maka kau akan kehilangan kepalamu." Ucap Arata sehingga ia merasakan keberadaan yang sangat menyengat di depannya, "A-Apa ini...?!" Arata memandang ke depan lalu ia melihat seorang iblis dengan kedua matanya yang bersinar merah dan sinar itu tiba-tiba membentuk menjadi zig-zag sehingga mampu membuat kepala Arata pusing, "A-Apa itu...?" Arata memejamkan kedua matanya.


"Death Stare... Death Sound... SSSHHHHHHHHHHHAAAAAAAA!!!" Teriak iblis itu sehingga Arata langsung kehilangan kesadarannya, ia terjatuh di depan Sabrina dengan pedangnya yang tergeletak di sebelahnya, Sabrina perlahan-lahan bangun lalu ia menatap Arata dengan ekspresi yang terlihat kesal, "Hah... Hah... Hah..."


"Heh..." Sabrina tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2