
Haruka dan Rokuro pergi mengunjungi sebuah tempat yang memiliki suhu hangat di sekitarnya, Rokuro sadar ketika merasakan suhu ini sama hangatnya dengan pemandian air panas, itu artinya mereka akan menikmati pemandian air panas bersama-sama di musim sejuk ini yang baru saja dimulai karena partikel biru muda baru saja turun seperti hujan salju, suhu terasa lebih dingin tetapi suhunya sangat pas untuk tubuh karena tidak mampu membekukan sesuatu, intinya musim sejuk adalah musim yang pantas untuk dinikmati bersama-sama terutama dengan sebuah pasangan.
"Musim sejuk seperti ini pantas sekali untuk menikmati pemandian air hangat bersama-sama karena mereka menyediakan fasilitas privasi, kau harus merasakan sensasi yang baru masuk ke dalam tubuhmu dan menyebar seperti aliran darah." Haruka tersenyum, di balik senyuman itu terasa rasa penyesalan karena urat malu-nya baru saja putus untuk mengajak seorang laki-laki mandi bersama di pemandian air hangat, mereka sendiri bahkan belum menjalani hubungan sebagai pasangan sekarang mungkin karena Haruka yang mulai panik ketika menciumnya.
Untuk sekarang tidak ada gejala aneh atau penolakan di dalam tubuhnya bahkan Rokuro merasa terpaksa dan terseret lagi Haruka, sering sekali ia merasakan perasaan seperti ini dan karena sering, ia jadi merasa terbiasa untuk terus terserat dan termasuk untuk mengikuti permintaannya yang bisa dibilang egois.
"Kenapa kamu bengong seperti itu, ikut!" Haruka mengembungkan pipinya lalu ia meraih tangan kanan Rokuro untuk membawa dirinya ke sebuah ruangan yang begitu luas dipenuhi dengan pasangan serasi, Rokuro merasa bahwa bangunan yang baru saja ia masuki dipenuhi dengan labirin yang memiliki ruangan berbeda-beda sehingga Haruka terus membawa dirinya keluar gedung itu dan masuk ke dalam hutan yang begitu sejuk, hanya terdengar suara tiupan angin di kedua telinga mereka.
"Kita ingin apa...? Kenapa jauh sekali, kau menghabiskan waktuku saja, sebenarnya kau ingin mengajak dirimu kemana?"
"Mencari posisi dan tempat yang sangat privasi dan nyaman agar kita dapat menggunakan waktu itu untuk kita masing-masing, tidak ada yang mengganggu... hanya kita berdua..."
"Berdua---"
"Maksudku itu loh! Kamu pasti mengerti 'kan! Berdua yang aku maksud itu kebersamaan dalam menikmati sesuatu dengan damai, aku tidak meminta hal lainnya!" Pikiran Haruka kembali kacau ketika Rokuro terus menanyakan pertanyaan yang membuat dirinya semakin malu dan panik, mereka terus melewati berbagai macam pemandian air panas yang sudah di halang dengan bambu agar tidak ada satupun orang yang berani mengintip seseorang yang sudah menikmati pemandian air panas itu.
Tidak lama kemudian, menghabiskan waktu yang cukup lama untuk Haruka menemukan tempat yang begitu nyaman karena Korrina pernah memberitahu dirinya tentang tempat ini sebagai simbol cinta kedua orang tuanya, itu artinya ia dapat menggunakan tempat ini juga sebagai simbol cinta yang baru untuk dirinya bersama Rokuro.
"Kau berencana untuk menculik diriku ya...? Waktu yang tersedia kita habiskan dengan terus berjalan---" Rokuro melebarkan matanya ketika ia melihat batu emas yang besar di hadapannya dengan hiasan lainnya yang terlihat begitu mewah, Haruka sudah memesan pemandian air panas itu karena ia tidak ingin satupun orang menikmatinya kecuali dirinya bersama Rokuro, mereka masuk ke dalam wilayah yang bisa dibilang privasi karena ia sudah menghabiskan banyak uang untuk memesannya.
"Apakah membutuhkan sesuatu yang hebat seperti ini...? Kita menikmati air panas bukan pemandangan yang begitu emas."
"Akui lah, kamu ingin menikmati waktu bersama di tempat seperti ini." Haruka tersenyum kecil, entah kenapa ketika mereka sudah sampai tujuan Rokuro mulai memikirkan sesuatu yang mesum tentang Haruka karena dosa Lust yang tiba-tiba muncul begitu saja, mempengaruhi otaknya untuk membuat sebuah pandangan dimana ia melihat Haruka mencoba untuk melepaskan seluruh pakaiannya di hadapannya lalu mereka akan menikmati pemandian air panas itu bersama tanpa busana sedikitpun.
"Rokuro, kenapa kamu bengong lagi?"
"Ahh... tidak apa-apa... sepertinya asap dari pemandian air panas ini membuat kepalaku sedikit pusing, begitulah..." Rokuro mencoba untuk menyadarkan diri dengan mengusap kepalanya lalu menekan-nya pelan-pelan karena ia tidak ingin pikirannya liar di tempat sepi seperti ini, berdua dengan seorang gadis yang ia cintai, di dalam pemandian air panas, bisa saja terjadi sesuatu yang tidak dapat disangka.
"Fasilitas pemandian air panas privasi ini sudah menyiapkan segala hal..." Haruka mengambil sebuah tas kecil lalu menunjukkan kepada Rokuro.
"Seharusnya kau memberitahu diriku sejak awal jika ingin menikmati pemandian air panas..."
"Aku hanya ingin mengadakan semuanya secara mendadak agar membuat dirimu terkecoh? Tidak apa-apa 'kan. Sesuatu yang langka juga untuk membuat dirimu terkejut dan memperlihatkan sisi lain kecuali ekspresi kejam dan dingin itu..." Haruka mengeluarkan sebuah handuk lalu ia memberikannya kepada Rokuro, awalnya ia sudah memiliki pilihan untuk menikmati pemandian air panas bersama tanpa sebuah handuk tetapi pikirannya tidak dapat menahan dirinya, tangannya secara refleks bergerak sendiri untuk melarang dirinya dalam melakukan sesuatu yang buruk.
"Kalau begitu, aku akan mengganti pakaianku." Haruka pergi ke tempat yang aman untuk mengganti pakaiannya, awalnya Rokuro merasa sangat kecewa karena ia mengharapkan sesuatu yang lebih agresif dari Haruka yaitu saling menampakkan kulit mereka masing-masing, setidaknya ia tidak begitu merasa kecewa karena dapat menikmati pemandian air panas bersama-sama.
Rokuro lah yang terlebih dahulu untuk masuk ke dalam air yang terasa hangat, sensasi yang sangat pas dengan musim sejuk ini mengalir di seluruh tubuhnya membuat tubuhnya merasakan relaksasi yang sangat tinggi, ia sampai menyadarkan punggungnya yang terasa pegal karena ia pagi menyempatkan diri untuk berlatih, ia melihat sekeliling dan Haruka masih belum kembali dari tempat persembunyian-nya itu, mungkin saja dia malu.
__ADS_1
"Rokuro..."
"A-Apa...?" Secara refleks suara Rokuro terdengar panik sekarang bahkan jantungnya berdetak sangat cepat ketika ia mendengar suara lembut Haruka di belakangnya, ia harus tetap diam dan mencoba untuk tidak menunjukkan rasa malu, ia juga harus bisa menahan iman dan pikirannya untuk tetap fokus dan memikirkan sesuatu yang positif.
"Kau sudah masuk?"
"Ya..."
"Kalau begitu, aku juga masuk."
"Sepertinya aku harus melihat arah lain ya..."
"Aku mengijinkan dirimu untuk melihatnya..." Rokuro melebarkan matanya dan ia mulai berpikir bahwa di belakangnya terdapat Haruka yang sedang berdiri tanpa mengenakan pakaian apapun, itu yang dipikirkan oleh pikirannya tetapi biasanya ekspektasi tidak seindah realita.
"Aku juga menggunakan handuk jadi semuanya aman-aman."
"Ohh..." Rokuro merasa kecewa bahkan ia sampai memasang wajah kesal tanpa disadari dirinya, ia menoleh ke belakang lalu dikejutkan dengan tubuh mulus Haruka yang lebih terlihat sekarang bahkan terdapat dua gunung yang terlihat sangat jelas terhalang dengan handuk berwarna putih, rambut merah yang tidak diikatnya itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian yang sangat besar bahkan Rokuro sampai tidak bisa berhenti menatap dirinya.
"Kecewa ya... ternyata kau mesum juga, inilah yang aku harapkan dari seorang anak yang mewariskan tujuh dosa besar? Apakah Lust itu sudah bangkit untuk mencoba merasakan tubuh ini...?" Haruka mencoba untuk menggoda-nya dengan wajah penuh percaya diri tetapi ia menyesal dengan apa yang ia baru saja katakan.
Pada akhirnya mereka duduk di posisi yang berbeda saling membelakangi satu sama lain karena tidak ingin pikiran mereka tiba-tiba memunculkan pilihan yang negatif, kedua dari mereka sama-sama merasakan perasaan yang canggung dan gugup karena tempat yang mereka tempati sekarang terasa begitu sepi, di tambah lagi pemandian air panas dimana mereka hanya mengenakan handuk. Rokuro sempat melihat punggung Haruka yang memiliki beberapa garis merah, ia mengetahui garis itu sebagai kutukan untuk keturunan Comi.
"... ..." Mereka mencoba untuk menatap satu sama lain tetapi tidak berhasil, mereka memandang arah lain lagi karena tidak dapat mengontrol pikiran mereka masing-masing.
"Sepertinya... tidak ada rasa penyesalan juga untuk mengunjungi pemandian air panas ini... terasa begitu hangat... pas dengan musim sejuk ini." Rokuro mulai berbicara.
"Ya..."
"...Rokuro, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"... ...!" Rokuro mendengar suara lembut dan sedih Haruka yang digabungkan menjadi satu, sesuatu pasti terjadi kepada dirinya dan ia ingin mengetahuinya dengan cepat untuk mencoba menenangkan dirinya itu.
"Apa...?"
"Perasaanku..."
"Rokuro... aku..."
__ADS_1
"...mencintaimu." Rokuro mengintip ke belakang dengan ekspresi yang terlihat terkejut, sepertinya tujuannya kalah oleh Haruka yang sudah menyatakan perasaannya terlebih dahulu karena rasa agresif yang terdapat di dalamnya, ternyata selama ini fakta tentang keturunan Comi benar bahwa mereka selalu akan membuat putusan yang pertama bahkan melakukan gerakan yang pertama, gerakan apapun itu pasti akan mereka lakukan dan itu semua terbukti oleh Haruka.
"Aku sangat mencintai dirimu!"
Rokuro berdiri lalu mulai mendekati Haruka karena ia memiliki keberanian tinggi untuk mendekati Haruka lebih dekat lagi, "Aku sangat-sangat mencintai dirimu.... aku tidak bisa menahan semua perasaan ini di dalam hatiku selama lima tahun lamanya karena rasa takut... aku takut... kehilangan seseorang yang aku cintai... seseorang yang membuat diriku nyaman... kamu satu-satunya laki-laki yang dapat menyentuh hatiku sampai aku merasakan kenyamanan ketika kesepian..."
"Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi... kamu itu tampan, berani, kuat, dan bahkan memiliki tubuh yang ideal... jika aku tidak mengungkapkan semua perasaan ini maka seorang gadis bisa saja merebut dirimu dariku... aku sungguh takut bahkan sampai tidak bias menyembunyikan dan menahannya lebih lama lagi."
"Aku senang..."
"Ehh...?"
"Tidak ada satupun gadis yang dapat meraih hatiku, aku sudah bilang dari awal bukan? Sebelum itu, kau adalah gadis yang kuat... seorang Legenda layak yang membutuhkan seorang pria untuk mendampingi dirinya sampai akhir, aku juga mencintai dirimu, Haruka..."
"...tidak ada lagi gadis yang bisa aku cintai darimu." Ketika Haruka mendengar perkataan itu dari Rokuro, ia mulai menghantam wajahnya dengan air hangat karena ia masih belum siap menerima balasan darinya.
Haruka melompat waktu sehingga Rokuro melebarkan matanya ketika ia melihat Haruka berada tepat di hadapannya sampai menjatuhkan dirinya di atas air hangat sehingga mereka terjatuh bersama-sama di dalam air hangat, Haruka tidak bisa lagi menahan perasaannya untuk tidak membagi rasa kasih sayangnya kepada pria yang ia cintai.
Kedua handuk yang menutup mereka tidak sengaja terlepas sehingga mereka saat ini saling berpelukan dengan tubuh telanjang, hanya berduaan di tempat yang begitu sepi dan matahari yang sudah terbenam.
"Oi, Haruka...! Handukmu...!"
"Tidak apa... Setidalnya... Mengungkapkan perasaan lebih memalukan..."
"Ugh... Aku merasakan sesuatu..." Rokuro merasa sensasi kelembutan tepat di dadanya karena tubuh Haruka sudah menempel dengan tubuh Rokuro sehingga kedua bola kenyal itu bisa ia rasakan.
"Tidak ada salahnya dengan ini..."
"Apa...?"
"Jangan khawatir, hanya kita berdua. Tidak ada yang dapat melihat kita melakukan sesuatu bukan? Semua ini aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, Rokuro." Haruka mendekati bibirnya dengan Rokuro lalu mereka mulai saling menghisap bibir satu sama lain dan saling menukar air liur dengan menyentuh lidah mereka masing-masing.
Rokuro tidak bisa berpikir jernih lagi, semuanya sudah terlambat dan ini semua disebabkan oleh nafsu seorang gadis terutama keturunan Comi sepertinya memiliki daya tarik yang sangat kuat, Haruka meraih kedua lengan Rokuro dan menempatinya di dadanya selagi menghisap bibirnya lebih dalam.
"Rokuro... Aku sudah tidak bisa menahannya lagi..." Haruka mundur beberapa langkah lalu melebarkan kedua pahanya dengan sebuah senyuman.
"L-Lakukan sesuatu..."
__ADS_1