
"Itu lah keturunan Shiratori yang aku kenal!" Hana mulai menciptakan Armor Leviathan dan memasang kuda-kuda bertarungnya.
"Jangan menahan diri Shinobu, karena aku juga tidak akan menahan diri!"
"Golden Sunshine...!!!" Shinobu melancarkan sinar matahari melalui tubuhnya.
Setelah itu, ia lanjutkan dengan melempar Keris itu ke atas lalu memegangnya menggunakan tapak kirinya sampai bilahnya mengeluarkan aura Crimson.
Shinobu memutar Keris tersebut lalu ia melepaskan pembakaran besar melalui kedua tapaknya untuk membantu dirinya melesat secepat cahaya menuju arah Hana.
"Gaya bertarung Kou?" Hana menghindari serangannya dengan mudah dan meninju Shinobu dengan sarung tangan air yang berbentuk kepala Leviathan
Shinobu menahannya menggunakan kedua lengannya sampai ia memunculkan beberapa senapan yang membidik ke arah Hana.
"Benar-benar gaya bertarung yang klasik." Hana menciptakan sebuah pedang yang terbuat dari air dan langsung membelah semua senapan yang di miliki oleh Shinobu.
Di saat yang bersamaan Hana menciptakan gelembung air yang memiliki tekanan untuk menghancurkan Armor biasa.
"Berusaha lah untuk menghindari serangan yang satu ini!"
"Light of Hope!!!" Shinobu tanpa memikirkan risiko seperti biasanya langsung menggunakan kemampuan tradisi Shiratori sampai ia mulai bermunculan di sekeliling Hana.
"Ilusi?" Hana langsung memanggil Leviathan dan melahap semua Shinobu yang ada di sekeliling dirinya.
Semua Shinobu yang di lahap langsung berubah menjadi daun emas yang berpisah keluar dari dalam tubuhnya sampai mulai mengarah kepada Hana.
Semua daun emas itu hanya melewati tubuh hana layaknya menembus air, "Asal kau tahu kalau kebanyakan serangan jarak jauh seperti ini tidak mempan untukku"
Shinobu muncul di hadapan Hana lalu melancarkan satu serangan keris, dengan cepat Hana menghindari serangan Shinobu dan mulai menjaga jaraknya setelah itu.
"Apa kau berencana menggunakan cara hit and run?" Awan-awan hitam mulai berkumpul di atas mereka dan hujan pun turun dengan derasnya, saking derasnya satu tetesan hujan bisa menghancurkan satu kerikil kecil.
Shinobu mundur ke belakang lalu memejamkan kedua matanya sampai ia menarik nafasnya dalam-dalam, aura emasnya membentuk seekor Beast Neko Legenda sampai ia memancarkan sinar matahari besar melalui mata kanannya.
"ROOOAAAAARRRRRR!!!" Shinobu melepaskan raungan yang sangat keras seperti campuran serigala, singa, harimau, dan hewan buas lainnya.
"Beast mode ya." Hana langsung memanggil Leviathan untuk melawan Shinobu.
Shinobu mengangkat tinju kanannya ke atas sampai seluruh sinar matahari mengarah kepada tubuhnya, "Light of Hope: Tingkatan Sepuluh..."
Auranya bertambah semakin besar sampai kedua lengannya yang berwarna perak berubah menjadi emas seketika, ia mulai menerima semua cahaya itu yang membantu dirinya meningkat lagi dan lagi.
"Light of Hope ya, walau masih tingkatan rendah tapi kekuatannya lumayan besar."
Tubuh hana mulai mengeluarkan aura berwarna biru laut dan Armor nya langsung di lapisi oleh aliran air yang deras di setiap pergelangan seperti siku atau lutut yang bisa memotong apapun yang menyentuhnya.
Shinobu melesat maju ke depan bersama dengan pembakaran yang ia lepaskan dengan penuh kekuatan, Shinobu merapatkan giginya sampai ia mengepalkan tinju kanannya yang memancarkan cahaya emas.
"GOLDEN...!!!"
"...OVERDRIVEEEEE!!!" Shinobu melancarkan satu pukulan emas ke arah Hana.
Hana langsung berubah menjadi air dan muncul tepat di belakang Shinobu sampai Hana langsung mengurung Shinobu dengan gelembung air.
"E-Ehh...?"
Shinobu menatap Hana dengan tatapan kaget sampai ia melepaskan tangan kanannya ke arah Hana.
Hana langsung mengurung tangan kanan tersebut ke dalam kumpulan air yang memiliki tekanan yang bisa menghancurkan bijih terkuat, "Jangan bilang kau ingin meledakkan tempat ini kan?"
"Tidak!"
"Light of Hope: Tingkatan dua puluh...!!!" Shinobu melesat maju ke arah Hana.
"Bullet Rain." Hana menurunkan hujan yang lebih deras dengan air yang di perkuat oleh sihirnya, satu tetes hujan sudah cukup untuk membuat batu-batu retak.
Shinobu menerima beberapa luka dari tetesan air itu sampai ia terjatuh di atas tanah dengan tubuh yang terasa berat, "Nrgghh..."
Shinobu mencoba untuk bangkit tetapi ia terus terjatuh karena tekanan hujan itu, Shinobu berubah menjadi daun seketika sampai ia muncul tepat di belakang Hana lalu melancarkan satu tebasan ke arahnya.
Serangan Shinobu tidak mempan karena Armor Hana yang keras dan tebal, Hana langsung berputar menyiku wajah Shinobu dengan sekuat tenaga.
Shinobu terpental ke belakang dengan darah yang mengalir deras melalui lukanya.
"Light of Hope: Tingkatan...!!! Lima puluh!!!" Shinobu melesat menuju arah Hana dengan pembakar besar.
"Sebenarnya apa tujuan dalam latih tanding ini...?" Tanya Ako yang terlihat khawatir soal Shinobu karena ia terus menerima beberapa luka yang terlihat menyakitkan.
"Kurasa sudah cukup sampai sini." Hana kembali menjadi air lalu muncul di belakang Shinobu dan langsung mengunci gerakannya.
"... ..." Shinobu menyadari suatu hal yang penting dalam pertarungan ini bahwa ia masih memiliki perjalanan yang begitu panjang untuk bisa menempuh jalannya sendiri.
"Aku masih belum kuat ya..." Shinobu menurunkan kedua telinga dan ekornya.
"Koneko... ingin bisa menjadi Legenda yang hebat seperti Mama..."
"Menjadi kuat seperti Papa..."
"menjadi harapan besar seperti Kakak Koizumi dan Hinoka..."
"Menjadi gadis mulia seperti Nenek..."
"dan tentunya... cahaya secerah Tante Minami..."
"Jadi lah dirimu sendiri Shinobu, semua legenda memiliki jalan mereka sendiri." Kata Hana.
__ADS_1
"Tante Hana..."
"Hm?"
"Terima kasih..."
"Aku akan... Koneko akan berjuang untuk menjadi seorang Legenda dengan jalanku sendiri..."
"...jauh lebih kuat dari apapun... Koneko akan melampaui semua keinginan dan kepercayaan mereka." Shinobu tersenyum lebar.
"Dan tentunya..." Shinobu menatap Koizumi.
"Koneko akan memenangkan tantangan Papa dengan Papamu yang akan terus terjadi sampai sekarang, Kakak Koizumi...!" Shinobu terlihat begitu semangat sampai rasa malunya hilang untuk sementara.
"Tentunya aku akan melanjutkan kemenangan berturut-turut yang di dapatkan oleh ayahku." Ucap Koizumi dengan senyuman bangga.
"Kalau begitu aku pergi dulu, karena tugasku sudah selesai aku ingin melanjutkan pekerjaanku sebagai pemberontak."
"Terima kasih, Tante Hana..." Shinobu tersenyum lembut sampai pikirannya memberi dirinya jalan sedikit demi sedikit, The Mind tidak akan terbuka secara keseluruhan sampai Shinobu dapat berusaha mengerti dalam pandangannya sendiri.
Kou menyegel beberapa kekuatan The Mind, cara membukanya membutuhkan usaha dan kerja kerasnya sampai ia dapat melakukan semua itu sendirian.
Di antaranya adalah mengubah pola pikiran seseorang kepada dirinya, hal seperti itu tidak bisa Shinobu lakukan karena Kou ingin dirinya hidup dengan mendapatkan kepercayaan melalui usahanya bukan secara instan atau bantuan The Mind.
Shinobu menatap Koizumi, "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi... Koneko... akan berjuang!"
"Kalau begitu berjuanglah agar bisa mengalahkanku, aku akan menunggu tantangan mu Shinobu!"
"Hm...!"
"Koneko..." Shinobu mengepalkan kedua tinjunya sampai ekspresinya berubah menjadi ekspresi yang selalu di gunakan oleh seluruh Shiratori ketika sudah memiliki tujuan yaitu tekad besar.
"...akan berjuang!!!"
***
Shinobu melepas jubah emasnya lalu ia menatap lemari di hadapannya yang menunjukkan gambar Kou dan Korrina, melihatnya saja membuat hatinya terasa hampa seketika.
"... ..." Shinobu memberikan jubah itu kepada Tech yang bersedia untuk membawa dan mengambilkan apapun untuk dirinya.
Tech hanya bisa diam ketika melihat Shinobu tidak mengeluarkan perkataan apapun seperti biasanya, ia mulai mendekati lemari itu selagi berlutut di hadapannya selagi menyatukan kedua tapaknya.
"Aku masih tidak mengerti... Koneko sudah belajar beberapa kali... Koneko sudah di marahi beberapa kali... Koneko sudah di beri pelajaran oleh beberapa orang..."
"...tetapi Koneko masih tidak mengerti dengan pandanganku sendiri dalam dunia ini, sebenarnya... apa yang harus aku lakukan Mama, Nenek?" Tanya Shinobu sehingga mata kanannya memancarkan cahaya surga.
Alam sadarnya berpindah seketika ke dalam surga karena ia menggunakan The Mind untuk melakukan komunikasi dengan apapun yang ia sukai, salah satunya adalah Korrina yang terlihat kaget ketika melihat Shinobu berdiri di hadapannya.
Entah kenapa Shinobu tidak menggunakan kemampuan itu kepada Kou melainkan Korrina saja karena Shinobu sendiri tahu bahwa Korrina masih bisa di bilang hidup tetapi berada di alam semesta luar yang jauh.
"Shinobu Koneko... aku tidak menyangka kamu akan mengetahui panggilanku." Kata Korrina.
"Pikiran dan penampilanmu terlalu polos... itulah kenapa pola pikiran itu berjalan sangat lambat tentang dunia yang kejam ini..." Korrina tersenyum lalu mendekati Shinobu untuk mengelus kepalanya.
"Aku sudah melihat usahamu... sepertinya terdapat banyak sekali hal yang mengganggu pikiranku itu ya? The Mind tidak dapat membantu karena Kou yang sengaja menyegelnya agar kamu dapat berusaha."
"Dengar ya, Koneko." Korrina mulai menyentuh kedua pipi cucunya sampai mendekati wajahnya yang terlihat masih polos.
"Direndahkan tidak mungkin menjadi sampah... Disanjung tidak mungkin jadi rembulan... maka jangan risaukan omongan mereka semua, sebab setiap orang membacamu dengan pemahaman dan pengalaman yang berbeda."
"Teruslah melangkah selama engkau berada di jalan yang benar dalam pandangan dan pikiranmu sendiri..."
"...meski terkadang kebaikan tidak selalu di hargai." Perkataan Korrina langsung membekas di dalam pikiran Shinobu bahwa ia dapat melakukan apapun yang ia sukai dengan syarat itu.
Semua perkataan yang ia dapatkan dari keluarga terdekatnya terus ia cerna kembali sampai dirinya mulai menunjukkan ekspresi gugup selagi memegang roknya.
"Kebaikan yang kamu buat untuk orang lain belum tentu akan di balas dengan kebaikan dari orang lain, tetapi kebaikanmu pasti akan terbalas dengan sesuatu yang lebih baik."
"Aku tahu kamu pasti mengerti bukan, Koneko? Apa yang harus di lakukan selanjutnya terdapat di dalam dirimu sendiri karena kamu tidak bisa di atur oleh mereka, termasuk diriku juga."
Shinobu menatap kedua tapaknya lalu ia menatap wajah Korrina yang terlihat begitu cerah sampai Shinobu sempat menutup kedua matanya lalu membukanya sampai melihat Korrina mulai mendekati bibirnya kepada telinganya.
"Kejahatan tidak selalu berakhir buruk... terdapat kebaikan di dalamnya, apakah kamu ingin tahu...?"
"...membunuh seseorang itu sama saja dengan membantu Dewa kematian yang bertugas untuk mencabut beberapa nyawa yang tidak berguna."
"Mengakhiri penderitaan mereka... kesakitan mereka... semuanya... itu sudah bisa di bilang membantu."
Perkataan itu langsung mengubah pola pikiran Shinobu seketika, ia mengerti jelas dengan maksudnya sampai tatapannya terlihat polos karena kekuatan dari The Mind akan terus membuat Shinobu polos setelah melakukan apapun itu.
"Ternyata membantu dewa kematian adalah kebaikan ya... Hehehe, aku mengerti." Shinobu tersenyum.
"Mereka yang mengganggu dirimu terus kau lawan juga, kau mendapatkan kebaikan. Kebaikan seperti itu? Kebaikan untuk menghentikan perbuatan dosa mereka yang terus melukai dirimu."
"Begitu ya... aku mengerti, Nenek."
"Sekarang, kamu masih memiliki jalan yang panjang, aku harap kamu masih bisa mempelajari hal lainnya... ingatlah, kamu bisa menjadi Legenda paling pintar di seluruh alam semesta dan dimensi sampai kepintaran itu tidak dapat dikalahkan."
"Lain kali... jangan menggunakan The Mind untuk menghubungi diriku seperti itu." Korrina terkekeh lalu menyentuh hidung Shinobu sampai alam sadarnya kembali ke dalam tubuh aslinya.
"Begitu ya... jadi... jadi begitu..." Shinobu tersenyum lembut sampai ia mulai menatap dirinya di hadapan cermin.
"Setiap perbuatan baik... masih banyak sekali." Shinobu mulai pergi menghampiri laboratoriumnya untuk belajar dan melakukan beberapa eksperimen seperti biasanya.
***
__ADS_1
Akademi pemberontakan telah di buka, setiap Legenda dari berbagai macam planet, negara, dan kerajaan berkunjung untuk menjadi pemberontak yang dapat mengikuti misi apapun sehingga mendapatkan gelar elite.
"Selamat pagi, Shinobu... pakaian akademi itu terlihat cocok untukmu." Konomi menyambut Shinobu yang baru saja datang.
Bisa di bilang Shinobu telah menjadi pusat perhatian karena mereka semua mengenal jelas riwayat dirinya sebagai keturunan Comi, putri Ratu Touriverse pengkhianat, dan Neko Legenda.
"A-Aku tidak menyangka... kita akan menjadi pusat perhatian seperti ini." Kata Ako yang terlihat malu seketika.
"M-Mustahil... Koneko... Koneko akan menunggu sampai semua orang masuk, aku tidak suka menjadi pusat perhatian..." Shinobu melarikan diri ke tempat yang sepi sampai kedua saudara itu mengejar dirinya.
Mereka semua menunggu seluruh murid itu masuk ke dalam akademi, Shinobu tidak begitu siap untuk di jadikan sebagai pusat perhatian, maupun itu buruk dan baik dirinya masih tidak bisa menahannya.
Beberapa menit kemudian, seorang penjaga melihat tiga gadis yang masih menunggu di bawah pohon, penjaga itu mendekati mereka lalu menyuruh mereka untuk segera masuk ke dalam akademi itu.
"Baiklah, kami akan segera masuk." Kata Konomi yang mulai menarik lengan Ako lalu segera bergegas menuju akademi bersama Shinobu yang sempat mengalami kendala di kaki kanannya.
"E-Ehh...? Kekurangan oli ya..." Shinobu meminta kedua temannya untuk segera pergi tetapi mereka sudah pastinya menunggu Shinobu agar ia tidak di ganggu oleh siapa pun.
Pada saat ini seseorang melempar sebuah belati kepada dirinya dengan kecepatan penuh tetapi belati itu langsung hancur ketika menyentuh kepala Shinobu.
Konomi dan Ako tercengang ketika melihatnya, Legenda yang melemparnya juga sama kagetnya sampai Shinobu mulai mengusap kepalanya yang terasa gatal karena menerima belati tadi.
"Hmm...?" Kedua telinga Shinobu bergerak seketika karena mendengar pergerakan dari dua Legenda seumuran dengan dirinya yang mulai mendekat.
"Tidak salah lagi... rambut emas, telinga, dan ekor kucing yang berwarna emas... kau adalah Legenda yang kami cari-cari." Ucap seorang laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya.
Shinobu terkejut ketika melihat kedua Legenda itu memiliki aura rasi bintang di sekeliling mereka, melihatnya saja membuat Shinobu yakin bahwa mereka memiliki kaitan dengan kekuatan Zodiak.
"Shinobu Koneko... brengsek..." Perempuan di sebelah laki-laki itu terlihat sedih dan kesal dalam waktu yang bersamaan karena mengingat sesuatu.
Shinobu mengetahui isi pikiran dan perasaan mereka sampai ia hanya bisa diam selagi menuangkan beberapa oli ke dalam kakinya itu yang lumayan sulit untuk di gerakan karena dirinya yang lupa menuangkan oli.
"Tidak salah lagi... kau benar-benar membunuh Ayah kami... bocah seperti dirimu, bagaimana bisa!?" Tanya laki-laki itu yang terlihat kesal.
"Jangan-jangan kalian adalah anak dari pemimpin Leon ya...? Beliau sempat membicarakannya kepadaku..." Shinobu menyimpan kembali botol oli di dalam tangannya yang memiliki banyak ruangan.
"Maafkan aku... seharusnya aku memang mati dalam lokasi itu... sayang sekali, Papa kalian tidak mempercayai diriku..." Shinobu menurunkan kedua telinganya dengan ekspresi sedih.
"Jangan memberikan diriku alasan seperti itu...!!! Kami mengenal jelas riwayatmu, sudah berhari-hari kami mencoba untuk mencari dirimu!!!"
"Itu benar...!!! Kesempatan ini, kami tidak akan menyia-nyiakannya... lihat saja ketika akademi sudah mulai."
Shinobu menundukkan kepalanya kepada mereka, "Maafkan aku... Koneko hanya bisa meminta maaf dan berharap bisa membantu kalian."
"Tunggu saja di akademi, Shinobu..."
"Aku dapat membantu kalian dengan cepat, untuk apa kalian datang ke akademi dengan kehausan darah sebanyak itu?" Tanya Shinobu yang menatap mereka dengan tatapan polos.
"Kehausan darah?"
"Tujuan untuk datang ke dalam akademi seharusnya bukan seperti itu... anu... semua orang datang untuk menjadi pemberontak yang hebat... Legenda yang dapat menjalankan misi kegelapan dalam kebaikan..."
"Sekali lagi, aku minta maaf---"
Shinobu secara refleks menangkap lengan perempuan yang mencoba untuk menampar wajahnya menggunakan ekornya.
Ako dan Konomi terkejut ketika melihat Shinobu melawan balik dengan cara yang halus, ekspresinya juga tidak menunjukkan rasa kesal atau dendam kepada mereka.
"Apakah kau bisa memperbaiki sesuatu dengan perkataan maaf...? Hatiku... hati adik dan ibuku hancur karena kematian Ayahku..."
"...permintaan maaf sudah cukup?"
"Seharusnya dia mempercayai diriku..." Shinobu menurunkan kedua telinganya.
"Aku benar-benar tidak bisa memaafkan dirimu..."
Shinobu membaca banyak sekali niat membunuh yang besar dari mereka, kata maaf memang tidak di pandang baik dan bermakna dalam dunia ini sampai ia mulai menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau begitu aku bantu..."
"...anu... umm..." Shinobu terlihat gugup.
Perempuan itu melepaskan tangannya lalu mundur beberapa langkah selagi menatap Shinobu, "Apa..!?"
"Aku bisa membantu... apakah itu cukup untuk memperbaikinya?" Tanya Shinobu selagi menyentuh kedua jarinya.
"Membantu apa?! Akan sangat membantu jika kau menyerah dan sujud di hadapan kami yang sudah siap untuk membunuh dirimu."
"Aku dapat membantu kalian untuk bertemu dengan Ayah kalian..."
"... Koneko lakukan ya." Shinobu mengatakannya dengan tatapan polos sehingga...
BAAMMMM!!!
Konomi dan Ako tercengang sampai Ako secara refleks menutup mulutnya ketika melihat Shinobu baru saja menembak dada perempuan itu menggunakan tapak kanannya.
Hasil dari tembakan itu menyebabkan lubang yang sangat amat besar di bagian dada perempuan itu sampai jantungnya terjatuh lalu ia berlutut tepat di hadapan Shinobu dengan nyawa yang menghilang.
"A-Apa---" Laki-laki itu sempat kaget sampai ia mencoba untuk melarikan diri tetapi Shinobu sudah menembak punggung sampai meninggalkan lubang besar di dadanya yang menjatuhkan seluruh organ itu.
Darah mengotori tubuh Shinobu seketika tetapi cahaya emas yang keluar melalui tubuhnya mampu membersihkan semua itu sampai ia mulai mengubah mereka menjadi partikel cahaya.
"Koneko sudah berjuang ya... berterima kasihlah..."
"...kalian dapat bertemu dengan Ayah kalian." Shinobu terkekeh begitu polos sampai membuat Ako dan Konomi ketakutan seketika.
__ADS_1
Shinobu menoleh ke belakang, "Aku sudah membantu Dewa Kematian dengan tugasnya bukan...?"
"...apakah itu kebaikan?"