
Agfi membaringkan tubuhnya di atas kasurnya yang terasa empuk karena pikirannya saat ini dipenuhi dengan masalah Korrina dan Alvin, ia masih bertengkar dengan Korrina karena permintaan yang berbeda. Sudah jelas bahwa permintaan Korrina itu terlalu berbahaya dan bisa saja Realm of Crimson menyerang semesta Yuusuatouri jika Korrina masuk ke dalam wilayah itu lalu menyelamatkan Alvin dengan sendirinya, bukan hanya itu dia juga harus melawan semua makhluk yang tinggal di wilayah tersebut.
"Jika saja Mama berhasil menang dalam turnamen ini... Dengan kemampuan dan kekuatan yang ia tunjukkan ketika melawan Ophilia, apakah aku memiliki kesempatan besar untuk menang melawannya...?" Tanya Agfi kepada dirinya sendiri, ia memegang sebuah ramuan yang bersinar putih, "Jika saja... Permintaan Mama terkabuli maka semuanya bisa saja berakhir... Mama menciptakan konflik yang besar, walaupun misalnya bangsa Legenda mampu mengakhiri tentang konflik penyerangan dari Crimson Realm, Mama bisa saja dibenci oleh semua bangsa Legenda dan menjadi dirinya sebagai Legenda yang selalu membawa masalah."
Agfi mulai memejamkan kedua matanya selagi meneteskan beberapa air mata, "Aku sudah tidak mengerti lagi... Dimana Kakak saat ini...?" Tanya Agfi yang saat ini mulai teringat dengan Rina, pikiran Agfi saat ini telah dipenuhi dengan masalah Korrina, Alvin, dan kehilangan Rina sehingga ia perlahan-lahan mulai jatuh tertidur selagi memegang sebuah ramuan yang berbahaya jika pecah.
Tak lama kemudian, Agfi mengalami mimpi dimana ia sedang berdiri tegak di dunia dimana hanya terdapat warna merah darah saja dan tempat itu memiliki aroma darah yang busuk sehingga membuat Agfi menutup kedua matanya, "Apa ini...? Mimpi apa lagi...?" Agfi mulai melihat sekeliling dimana ia melihat Rina berdiri tepat di depannya, Agfi membulatkan kedua matanya ketika melihat Rina yang dipenuhi dengan darah bahkan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan darah sehingga Agfi sendiri tidak bisa melihat kulitnya yang mulus dan putih. "K-Kakak...?"
"Sepertinya aku berhasil menghubungimu..." Ucap Rina selagi menghela nafasnya, mendengar itu Agfi yakin bahwa mimpi adalah sebuah pesan dari Rina yang berada di tempat entah dimana, hal itu membuat Agfi yakin bahwa mereka saat ini sedang menggunakan sihir telepati melalui sihir Crimson mereka sendiri, "Agfi, dengarkan aku. Aku saat ini sedang berada di tempat dimana Papa berada, pada akhirnya aku bisa bertemu dengannya yang berada di kondisi seperti akan kehilangan terhadap pikiran dan akal sehatnya." Ucap Rina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, Agfi mencoba untuk mendekat dan memeluk, tetapi Rina menggelengkan kepalanya, "Jangan mendekat, tubuhku ini dipenuhi dengan dosa, jika kau mendekat maka kau akan mendapatkan kutukan..." Rina mulai memperingati Agfi.
Agfi tidak mendengarkan apa yang Rina katakan melainkan ia langsung memeluk Rina dengan sangat erat, "Aku tidak peduli... Setidaknya aku masih bisa bertemu dan melihat wajahmu, Kakak." Ucap Agfi yang mulai menunjukkan senyuman kecilnya, Rina membalas peluk lalu ia tersenyum kecil, "Aku juga."
"Ngomong-ngomong... Soal masalah Mama dan permohonanmu." Ucap Rina sehingga Agfi mulai menatap Rina dengan ekspresi yang terlihat bingung, "Tolong dengarkan aku, Agfi. Apakah kau mempercayaiku?" Tanya Rina.
"Hmm!" Agfi mengangguk.
***
"Fufufu... Pemandian air panas yang sangat nikmat." Ucap Ophilia yang sedang duduk di sebelah Arata, sepertinya mereka berdua saat ini sedang menikmati pemandian air panas hanya berduaan saja, siapa tahu hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi seperti bercinta karena nafsu dalam pemandian air panas bisa saja meningkat sesaat, "Ophilia, apakah kau benar-benar ingin mandi bersama denganku?" Tanya Arata selagi menghela nafasnya pelan.
"Tentu saja." Jawab Ophilia tanpa keseganan, "Kita tidak pernah mandi di pemandian air panas bersama bukan? Aku sudah merencanakannya sejak dulu bahwa aku ingin menikmati pemandian air panas bersama dengan pacarku." Ucap Ophilia selagi menunjukkan senyumannya.
"Kau selalu berpikir tentang ini." Jawab Arata.
"Jelas!" Ophilia menjawab dengan datar, sambil melanjutkan senyum puasnya. Yah itu tidak seperti Arata keberatan sama sekali, sebenarnya Arata akan mengatakan bahwa dia merasa senang mereka bisa melakukan hal ini, Arata mulai menatap Ophilia dan ia merasa kecewa bahwa seluruh tubuh Ophilia terhalangi dengan sebuah handuk, "Cih... Tubuhnya terhalangi dengan sebuah handuk."
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Ophilia.
"Tidak ada."
"Haa... Temperaturnya sempurna~ Sangat mewah..." Ophilia menghela nafasnya dengan nada yang lembut, Arata dapat melihat kulitnya berwarna merah muda terang saat dia menikmati suhu dari air panas. Tetapi ketika dia melihat lebih lama lagi, dia mulai terangsang, Arata mencoba untuk menggosok hidungnya ke belakang lehernya, "Hei... Itu geli loh." Saat dia melakukan itu, Arata memeluk tubuh Ophilia dari belakang, "Kulitmu terasa mulus sekali."
"Nada itu terdengar seperti nada mesum." Ucap Ophilia yang mulai tersipu, "Kau memberitahuku untuk tidak bersikap mesum di situasi seperti ini?" Tanya Arata. Kejam mungkin, Ophilia harus mengangguk sebagai tanda terima, "Saat ini kita berada di tengah-tengah waktu mesra kami. Jadi aku melarang hal-hal mesum. Dilarang!"
"Setidaknya... Bisakah kau lepas handuk itu?" Tanya Arata.
"... ..." Ophilia memelototi Arata. Mereka belum melakukan 'hal-hal semacam itu' sejak malam pertama mereka, mereka sibuk selama beberapa hari terakhir ini dan selalu ada siswa di akademi. Karena itulah Arata tidak bisa menahan diri untuk tidak mengharapkan hal ini, Arata yakin bahwa Ophilia merasakan hal yang sama, itu sebabnya dia mengundang Arata ke bak mandi, atau mungkin dia salah, "B-Bukankah kau terlihat kecewa?"
"T-Tentu saja tidak, ini terasa menyenangkan untuk bisa mandi bersama Ophilia~ Ahaha..."
"Huhh... Pembohong." Ophilia meraih lengannya, lalu menarik dan memutarnya di sekitar tubuhnya sendiri, "Aku mendengar bahwa semua pria adalah binatang dalam hal dorongan seksual, tetapi aku percaya kau itu berbeda." Dia pikir terlalu banyak untuk Arata.
"K-Kau tahu, Ophilia... Itu karena pria memiliki insting khusus yang tidak dimiliki oleh seorang gadis."
"Arata, aku mempercayaimu."
"Hmm..." Arata mencoba untuk mengabaikan darah yang menumpuk di bagian bawahnya, dan fokus pada hal-hal lain, cara terbaik untuk menghindarinya adalah dengan berbicara tentang topik serius, "Bagaimana menurutmu tentang Solicitation's Order itu? Apakah kau memiliki sebuah permohonan yang akan aku kabulkan? Aku bisa saja mengabulkannya ketika aku menang."
"Tidak tertarik."
"O-Oh..." Arata juga tidak terlalu merasa tertarik tentang Solicitation's Order, berkat memikirkan topik yang tidak menarik, tampaknya darahnya sudah kembali ke kondisi normal sedikit, Arata meletakkan tangannya di kaki Ophilia, "Ahh..."
"Kau masih tidak suka disentuh?" Pada malam pertama mereka, Arata mengetahui bahwa Ophilia tidak suka disentuh di bagian kakinya, "Tidak kok... Hanya saja, Arata, kau pernah mengatakannya sejak itu. Kau mencintai keseluruhan dariku mulai dari ujung atas sampai ujung bawah." Ophilia mengingatnya, "Ya..."
__ADS_1
"Misalnya jika kau tidak menyelamatkanku sejak itu, apakah kita memiliki takdir untuk bisa bersama seperti ini ya?" Tanya Ophilia.
"Tentu saja, aku tidak bisa membantu diriku sendiri untuk jatuh cinta terhadap seorang gadis cantik sepertimu. Aku hanya masih tidak yakin apa yang kau pikirkan tentang diriku." Ucap Arata.
"Tentunya aku mencintaimu, Arata. Walaupun itu menghabiskan diriku beberapa waktu untuk sadar bahwa kau ini hebat dan sempurna." Ophilia tersenyum dan hal itu membuat Arata yakin sehingga ia tidak bisa menahannya lagi, ia langsung *** kedua payudara Ophilia, "Ahh~ A-Arata, a-apa yang kau lakukan?!"
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Ophilia. Setidaknya, aku tahu batasannya... Tenang, aku tidak akan membuatmu hamil." Arata mulai menyentuh bagian lainnya, Ophilia tidak merasa ingin berhenti melainkan ia ingin melakukannya bersama di tempat dimana hanya terdapat mereka berdua saja, Ophilia dan Arata langsung berciuman dan mereka mulai bercinta di dalam kamar mandi yang sepi itu.
Untungnya Ophilia mampu mengecilkan suara desahannya ketika melakukannya dengan Arata.
***
Saat ini di turnamen pertarungan antara Haruki dan Bloodman atau bisa dipanggil Zake telah di mulai. Cavalries of the Thousand Blade Strike!!!" Haruki mulai menebas semua pedang yang melesat menuju arah Bloodman atau Zake menggunakan kedua pedangnya, pergerakkan Haruki cukup cepat hingga ketika ia menatap ke depan ia melihat Zake yang muncul di depannya selagi menunjuk Haruki menggunakan telapak tangan kirinya, "HARGGGHHH!!!" Zake memunculkan sebuah logam pedang di telapak tangan kirinya, Haruki langsung menunjukkan wajah yang terkejut ketika melihat itu, ia dengan cepat langsung melindungi dirinya dengan menggunakan Chaos Barrier.
CLAAAANGGG!!!
Haruki muncul di belakang Zake lalu ia mengayunkan kedua pedangnya tepat di belakang punggung Zake, tetapi ia langsung melihat bahwa punggung Zake telah terlindungi dengan barrier yang terbuat dari darah, dari namanya itu adalah Bloodman dan dia ini ras vampire yang mampu mengendalikan atau memanipulasi darah dengan sangat baik, dengan cepat Haruki menyerap darah itu menggunakan kedua pedangnya. Haruki langsung mencoba untuk menusuk punggung Zake, tetapi Zake menangkis pedang itu menggunakan pedang yang muncul di belakang punggungnya, "Dasar aneh!!!" Haruki dan Zake mulai mengadukan pedang mereka berdua.
CLANG! CLANG! CLANG! CLANG! CLANG!
Haruki melompat ke belakang lalu ia melompat ke depan selagi berputar 360 derajat, ia langsung mengayunkan kedua pedang-nya ke arah kepala Zake, tetapi Zake langsung menahan pedang itu menggunakan darah yang muncul di bawah lantai, darah itu berbentuk seperti tombak yang besar sekali, "Apa---"
ZWASSSHHH!!!
"HUUGGHHH!!!" Haruki langsung memuntahkan darah yang cukup banyak melalui mulutnya karena ia baru saja tertusuk dengan tombak panjang dan besar yang muncul di daratan, Haruki langsung terbawa oleh tombak itu ke atas langit dan menuju barrier yang berada di atasnya, Zake tertawa jahat lalu ia menunjuk Haruki hingga tombak itu mulai menciptakan tombak yang besar di sekitar Haruki dan melesat menuju bagian fatalnya, "HAAAAAAAAAARRRRGGGGHHHH!!! BLOOD DRAIN!!!" Teriak Haruki kesal hingga ia langsung mengubah semua tombak darah itu menjadi darah berbentuk bulat, semua darah itu langsung Haruki serap hingga membuat luka tusukannya teregenerasi menjadi daging yang baru.
Zake muncul di depan Haruki lalu ia menghantam kepalanya menggunakan tongkat yang besar sekali, Haruki terpental menuju daratan lalu Zake mulai mengangkat kedua telapak tangannya hingga ia mulai menciptakan sebuah energi merah besar, energi itu ia kumpulkan melalui darah-darah yang ada di arena tersebut, "BLOODS OF SPIRIT AGONY!!!"
"LIFESTEALING ATT-" Zake menghantam seluruh tubuh Haruki menggunakan perisai itu hingga ia terpental ke belakang, Zake melesat ke depan lalu ia menginjak perut Haruki dengan telapak kaki kanannya, "JYAGGHHH!!!" Zake mencoba untuk menusuk kepala Haruki, tetapi Haruki langsung membuka kedua matanya lebar hingga membuat Zake terpental ke belakang karena kedua matanya berubah menjadi white hole dalam waktu yang singkat.
"W-White Hole...?"
Haruki bangkit selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, "... ..." Haruki tiba-tiba muncul tepat di depan Zake dengan kecepatannya yang tiba-tiba meningkat, Zake membuka kedua matanya lebar lalu ia menahan serangan Haruki yang mengarah ke lehernya.
CLAAAANG!!!
Haruki berputar lalu ia menendang wajahnya hingga ia terpental ke belakang, Haruki mulai bermunculan di sekitar Zake selagi mencoba untuk menyerangnya, tetapi Zake mulai menyerang seluruh arah menggunakan kedua sabit yang ia ciptakan. Haruki terus menghindari dan bermunculan di sekitar Zake hingga membuat darah Zake menurun setiap detik karena ia menggunakan sihir darahnya terlalu berlebihan, ia mulai berkeringat karena ia takut bahwa Haruki bisa saja menyerang bagian vitalnya.
"BLOOD OF BURST!!" Zake meledakkan dirinya sendiri hingga darahnya mulai tersebar dimana-mana bahkan tubuh Haruki, Haruki mundur lalu ia melihat darah yang berada di seluruh wajahnya mulai menciptakan beberapa senjata, "HAGHHH!!! BLOOD DRAIN!!!" Haruki langsung menyerap darah-darah yang ada di tubuhnya, ketika ia melihat ke depan ia sadar bahwa Haruki sedang dikempung dengan senjata-senjata yang tajam.
SWOOSSSHHH!!!
Haruki terbang ke atas lalu ia menghancurkan semua senjata itu dan menyerap semua darah itu menggunakan kedua pedangnya, Zake melempar beberapa tombak ke arah Haruki lalu Haruki mulai melompati tombak-tombak itu selagi mendekat dan mengejar Zake, ia mulai melompat lalu ia melesat ke arah Zake.
BAAAMMMM!!!
Kedua mata Zake hancur tertebas oleh kedua pedang Haruki, mereka berdua melesat menuju lantai sehingga Zake tergeletak di atas tanah dengan kedua penglihatannya yang sudah hilang, "GRRRGGGHHH...!!!" Haruki langsung menaikkan kedua pedangnya dan mulai mencoba untuk menusuk kedua paru-paru Zake, tetapi Zake menahan ujung pedang itu menggunakan darah yang terdapat di kedua matanya yang hancur.
"GUARRRRGGGHHHH!!!" Teriak Zake keras hingga munculah beberapa paku runcing di seluruh tubuhnya, Haruki melompat ke belakang lalu ia melihat Zake yang melesat menujunya selagi menggunakan sihir darahnya untuk mencoba menusuknya lalu mengendalikan darah milik Haruki, Haruki mulai menyerang semua darah itu, tetapi kedua lengan Haruki mulai terarah dengan duri-duri darah yang terdapat di seluruh tubuh Zake.
Zake masih bisa melihat karena ia bisa merasakan keberadaan Haruki cukup jelas, Zake langsung meludah dari mulutnya hingga membuat kedua penglihat Haruki terhalang, "Grgh---" Zake langsung menendang perutnya cukup dalam sehingga Haruki terpental ke belakang, Zake langsung menunjuk Haruki arena mulai menciptakan duri-duri darah yang melesat menuju arah Haruki.
Haruki melompat ke atas lalu ia mulai melesat menuju arah Zake, Zake mulai menciptakan perisai yang lebih besar dari tubuhnya, Haruki langsung menendang-nendang perisai itu menggunakan kedua kakinya, "Roundhouse Kick!" Haruki mulai menendang-nendang perisai Zake hingga hancur lalu ia menendang wajah Zake hingga ia terdorong ke belakang.
__ADS_1
Zake melesat ke atas lalu ia mulai mengepalkan kedua tinjunya hingga seluruh tubuh Haruki langsung terbelit oleh rantai-rantai yang terbuat dari darah, kedua kaki Haruki bahkan tertarik oleh rantai darah yang berada di dalam arena itu hingga seluruh tubuh Haruki langsung masuk ke dalam arena itu, "Cih..."
"BLOODS OF SPIRIT AGONY!!!" Zake mengangkat kedua tangannya hingga ia langsung memunculkan kembali bola energi darah yang ia kumpulkan tadi, "KAU BERSAMA DENGAN ARENA INI LEBIH BAIK MUSNAH!!!" Zake melempar bola energi itu ke arah Haruki, Haruki melompat keluar dari dalam arena itu lalu ia mulai mundur beberapa langkah, ia mulai menatap sekitar dimana jika ia terus mundur maka dia akan terjatuh, Haruki tidak memiliki tujuan untuk melarikan diri, Haruki melesat ke atas langit lalu ia mencoba untuk menjauh dari bola energi tersebut.
SWOOSSHHH!!!
Bola energi itu terus mengikuti Haruki sampai ia mati, bola energi itu terus membesar hingga mampu melampaui besarnya ukuran tubuh Haruki, Haruki menghela nafasnya "Tidak ada cara lain..." Haruki mulai memegang kedua pedangnya dengan sangat erat selagi terbang mundur ke belakang karena bola energi itu melesat menuju arahnya dengan cukup cepat, kedua pedangnya mulai bersinar warna hitam layaknya warna hitam itu seperti melambangkan warna black hole, "HAHHHHHHHH...!!!"
"CHAOS...!!! BLACK HOLE...!!!" Haruki membuat kedua pedangnya mulai menciptakan sebuah bola black hole yang berukuran sebesar pedang yang ia pegang, terdapat beberapa aliran listrik merah di sekitar bola energi itu, energi itu langsung menghisap bola energi milik Zake sampai habis serta sihir Black Hole Haruki juga ikut menghilang karena sihir itu sangatlah berbahaya. Haruki muncul tepat di depan Zake dan membuatnya terkejut, Haruki mulai menebas perut Zake dengan cepat sehingga membuatnya terpental ke belakang lalu mengenai barrier yang terdapat di belakangnya. Zake telah mengenai barrier yang berada di belakang, itu artinya Haruki memenangkan pertarungnya dan berhasil maju ke babak semi final.
"CONGRATULATIONSSUUUUUU... SHICHIRO HARUKI TELAH MAJU KE BABAK SEMI FINAL!!!" Teriak Jorgez keras sehingga membuat penonton dan para juri bersorak lalu bertepuk tangan semeriah mungkin. Haruki menepatkan kedua pedangnya di belakang punggungnya lalu ia berjalan pergi meninggalkan arena itu karena urusannya sudah selesai, ia hanya harus mengurus lawannya di babak semi final nanti.
~TO BE CONTINUED~
~TRAILER #4 IS HERE~
"Bisakah kau bayangkan... Aku bertahun-tahun berjuang demi mendapatkan gelar Crimson, aku mencoba untuk menjadi seorang dewa yang aku selalu inginkan, tetapi kekuatan dan keberadaan seorang Dewa itu sangatlah menggoda sehingga membuat pikiranku terkendali sepenuhnya dengan kehausan dari kekuatan seorang Dewa." Ucap Alvin selagi memegang kerah baju Shira, "Selama ini... Apa yang telah kau lakukan kepadanya?" Tanya Alvin selagi menatap Shira dengan tatapan yang terlihat mengancam.
NOVEMBER OR DESEMBER
"Apa yang kau harapkan dari seorang raja iblis? Tidak semua raja iblis bersikap kejam, sikap kejam itu sudah pasti berasal dari darah daging iblis yang kehausan terhadap berperang dan darah." Ucap Rina.
Korrina mencekik leher Mortem lalu ia menatapnya dengan tatapan yang terlihat mematikan, topeng yang Mortem pakai mulai retak dan hancur ketika menatap kedua bola mata Korrina yang berwarna merah Crimson, "Sebenarnya... Apa yang kau mau dariku...? Kenapa kau mencoba untuk membuatku menjadi hina seperti ini? Bantuanmu tidak dibutuhkan, aku hanya ingin mengalahkan semua makhluk hidup yang tinggal di Crimson Realm." Ucap Korrina.
"Jika kita menyerbu Crimson Realm bersamaan menggunakan pasukan kami semua maka bisa saja hal itu mengajukan terhadap perang yang besar, jika saja kita semua kalah maka dewa agung yang bernama Shinku tidak akan berdiam diri selain menghancurkan semua Legenda. Seharusnya kita pergi dengan sebuah tim yang layak saja." Ucap Arata.
~Menyerang Crimson Realm~
"Yuusuatouri berada dalam perlindungan seorang Saint Legenda yang memiliki potensi tinggi bernama Shiratori Shira, kita serahkan semua masalah penyerangan iblis pasukan Rxeonal terhadap dirinya karena ia sudah menebak bahwa para iblis akan menyerang planet yang ada di Yuusuatouri." Ucap Haruki.
"Mortem... Aku tidak percaya bahwa kau akan menghianati tuan-mu seperti ini, sepertinya kau menjalankan rencanamu sesuai dengan harapanmu bukan? Ini semua karena aku melakukan pergerakan yang salah." Ucap Shinku.
~Penyelesaian seperti apa yang akan dimiliki Konflik ini?~
"Dengarkan aku! Mulai sekarang kalian pergi dari wilayah ini secepat mungkin sebelum planet yang Shira tepati hancur, Rxeonal memiliki nyawa yang tak terbatas dan dia ini iblis yang memiliki kekuatan abadi serta pedang yang dapat membuat kehancuran dengan hanya satu tebasan saja!" Suruh Korrina yang mulai menahan sebuah serangan menggunakan barrier-nya.
"Hahaha~ Menarik sekali~~~" Rina tertawa terbahak-bahak.
"Dengan hanya satu...?" Ucap Shira selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut.
"Serangan apapun yang kau gunakan?! Semua itu tidak akan berguna jika aku abadi, HAHAHA!!! BAHKAN WUJUD ITU TIDAK CUKUP UNTUK MENGALAHKAN SESOSOK IBLIS SEPERTIKU, SHIRAAAAA!!!" Teriak Rxeonal yang mulai menebas seluruh tubuh Shira lalu ia menghantam wajahnya sehingga membuatnya terdorong ke belakang lalu terjatuh di atas tanah.
~Legends Never Dies~
"Aku tidak bisa memanggil diriku ini sebagai seorang Legenda jika aku menyerah..." Shira perlahan-lahan bangkit dari atas tanah lalu ia mulai menatap Rxeonal selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, Rxeonal hanya bisa diam dan tersenyum seolah-olah bangsa Legenda itu bodoh karena tidak tahu cara untuk menyerah atau berdiam diri, seluruh tubuh Rxeonal mulai merasa panas lalu ia melirik ke atas langit dimana ia melihat matahari besar yang berada tepat di atas kepala mereka, "A-Apa?!" Rxeonal mulai menatap Shira yang bersinar cerah.
Shira mulai memejamkan kedua matanya lalu ia mengangkat Luz Legendaria-nya ke atas sehingga matahari yang berada di atas mereka mulai terserap habis dengan pedang yang Shira pegang, "Bersiaplah karena... Kami... Para Legenda tidak memiliki batasan apapun dan kami... kami... tidak akan mengakui semuanya berakhir jika kami berhasil dalam memperjuangkan sesuatu." Kedua mata Shira bersinar cerah sehingga membuat Rxeonal terdorong ke belakang.
"Legends Never Dies... LIGHT OF HOPE!!! TINGKAT SERATUS LIMA PULUH KALIIIIIII!!!!!!!" Teriak Shira keras.
~SPECIAL CHAPTER 1~
~THE MADNESS OF GRAND-CRIMSON GOD AND DEMON LORD~
__ADS_1