
"Hueeeggghhhhh...!!!" Hinoka terus memuntahkan banyak sekali paku yang berlumuran darah, ia terus memegang erat lehernya yang terasa kesat sampai mulutnya tidak pernah berhenti mengeluarkan paku itu.
"Ini adalah kekuatan seorang Dukun, nak... sekali kau menerima Santet maka tidak ada jalan keluar yang dapat memungkinkan dirimu untuk selamat." Ucap Abah yang mulai mundur beberapa langkah.
"Aku hanya mengulurkan waktu untuk mengambil helai rambutmu itu agar ritual berjalan dengan baik, untungnya Khodam yang melindungi diriku tadi berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik."
"Dukun lainnya saat ini memang dirimu... tubuhmu bagaikan boneka yang dapat ia kendalikan dengan cara apapun, salah satunya adalah kemampuan Santet yang dapat menyerang dirimu dari dalam!"
"Kekuatan dalamku... dibantu dengan kepercayaan Gaib, sekarang kau hanya perlu menikmati semua paku yang berada dalam tubuhmu itu." Abah mengeluarkan tongkatnya lalu ia mengayunkannya sampai menghantam wajah Hinoka.
Hinoka terpental ke belakang lalu menabrak tembok di belakangnya, ia mulai menutup mulutnya dengan tapak kirinya lalu memasang tatapan yang sangat kesal ketika mengetahui kemampuan yang belum ia ketahui sebelumnya.
"Sial... siapa yang memasukkan paku itu ke dalam tubuhku...?" Batin Hinoka, serangan tadi belum cukup kuat untuk menghentikan Hinoka yang bisa dibilang akan terus bangkit karena harga dirinya sebagai Legenda yang tidak mau dipermalukan.
Hinoka menarik keluar pistol di pinggangnya lalu ia menarik pelatuknya, peluru yang mengenai tubuh Abah tidak memberikan luka apapun untuk dirinya yang sudah kebal dengan serangan senjata api.
"Percuma saja, dek... kau tidak akan bisa menembus ilmu hitam, serangan yang kau lakukan menggunakan pistol itu tidak dapat menembus ilmu kekebalan yang sudah aku pegang!!!" Abah mengeluarkan sebuah pisau kecil lalu menusuk dirinya sendiri.
Tusukan itu tidak memberinya luka, "Di tambah lagi aku lahir dari keturunan yang memiliki Khodam, bangsa asing seperti dirimu yang meniru rupa kami tidak akan pernah tahu apa kegunaannya!!!"
Khodam adalah bangsa Lembut yang bisa dibilang sebagai ruh atau makhluk halus yang sudah menjalani kontrak dengan penggunanya, mereka bisa dibilang sebagai pembantu identik dengan ilmu gaib.
Mata Manusia biasa tidak akan bisa melihat Khodam, hanya mereka yang sudah membuka semua indra dapat melihatnya lalu melawan Khodam itu sendiri jika memiliki kesanggupan, bangsa lelembut itu juga memiliki nama masing-masing tergantung beberapa orang yang mau menyebutnya apa.
Untuk Hinoka sudah jelas Khodam itu memiliki kesamaan dengan makhluk Astral, ketika mendengar nama itu pandangannya bertambah semakin fokus sampai ia melihat aura yang dihaluskan oleh Supernatural Astral itu.
"... ...!" Hinoka melebarkan matanya ketika melihat seekor hewan yang berada di sebelah Abah, ukurannya sangat besar sampai ia bisa melihat cula satu yang begitu panjang.
"Seekor badak...?!" Batin Hinoka.
Khodam memiliki kemampuan tersendiri berdasarkan jenisnya, rata-rata Khodam juga berbentuk seperti hewan yang terlihat begitu mistis, salah satunya adalah Abah yang mendapat badak besar bercula satu.
Badak itu bukan hanya sekedar badak biasa, jika bisa melukai Hinoka tanpa menyadari dimana serangan itu berada maka itu sudah cukup kuat, mungkin ke bangsa selain Legenda akan memberikan efek yang lebih menyakitkan.
Yang berkemungkinan untuk langsung membunuhnya, tetapi sekarang Hinoka dapat melihat Khodam tersebut dengan baik sampai dirinya hanya perlu menghindari serangan badak itu.
Itu artinya pukulan Abah yang sempat meleset mengenai dirinya memberikan kesempatan besar untuk Khodam itu menyerang Hinoka, hampir seperti peliharaan sampai ia perlu berhati-hati.
__ADS_1
"Sialan...!!!" Hinoka melangkah maju menuju arah Abah yang hanya diam dari jarak jauh selagi menunggu serangan yang akan diciptakan oleh dirinya.
Serangan yang ia lakukan saat ini mungkin tidak akan berefek pada dirinya, jadi ia hanya bisa mengandalkan kemampuan Khodam yang dapat memberikan dirinya perlindungan dari serangan yang akan dilakukannya.
"Selama kau tetap berada di tempat itu... selama boneka itu masih di santet oleh Dukun lainnya maka kau akan tetap menerima banyak sekali benda tajam yang masuk ke dalam tubuhmu."
"Ahhh...!!!" Hinoka merasa sesuatu yang mengganjal pada lehernya, ia mulai memegang erat lehernya itu untuk tidak mengeluarkan sesuatu dari dalamnya seperti ratusan paku tadi.
"L-Leherku...! Si-Sial...!" Hinoka sudah menggunakan Lenergy untuk memperkuatnya tetapi sesuatu yang mengganjal di dalamnya bertambah semakin kuat karena sudah menerima peningkatan dari Vile Energy.
Bisa dibilang semua yang diperbuat Hinoka hanya akan terjatuh ke dalam kesalahan yang sama sehingga ia mencoba untuk berpikir dengan mendekati dirinya tetapi tubuhnya merasakan keanehan yang tidak bisa ia ketahui.
"HUUUUUEEEEGGHHH!!!" Hinoka langsung memuntahkan banyak sekali silet dari dalam mulutnya bersamaan dengan darah seperti air terjun yang menyentuh lantai sampai menciptakan genangan darah yang banyak sekali.
"A-Apa ini...!? Ke-Kenapa aku bisa... kenapa aku bisa terluka hanya dengan silet biasa!?" Batin Hinoka.
"Kau terlalu meremehkan ilmu hitam dan ilmu gaib... salah satu dari serangan kami tidak memedulikan yang dinamakan daya tahan hebat." Ilmu gaib yang dimaksud oleh Abah memiliki kemampuan [Durability Negation].
Dengan memanipulasi energi internal, atau elektrik, seseorang dapat langsung menargetkan organ dari lawan mereka sehingga daya tahan lapisan luar dari lawan mereka menjadi tidak berguna termasuk dengan penguatan Lenergy itu.
Setiap luka robek di dalam tubuhnya kembali menyatu berkat bantuan Lenergy ia fokuskan untuk menciptakan daging baru sampai Hinoka akan tetap bertahan dan mencoba untuk menyerang Abah.
"Sial... jika saja aku bisa menyingkirkan badak yang melindungi dirinya maka akan aku berikan dirinya neraka..." Hinoka menatap kedua tapaknya yang berlumuran darah.
"Teruslah memberontak... Vile Energy itu hanya akan bereaksi lebih kuat." Abah mulai duduk di atas lantai lalu mengeluarkan sebuah rokok selagi memperhatikan Hinoka yang tersiksa.
"Ughhh...!!! HWAAAGGGHHH!!!" Hinoka menjerit keras ketika pipi bagian kanannya mengeluarkan jarum kecil yang menembus sampai sebagiannya juga keluar melalui lubang hidungnya.
Banyak sekali darah yang mulai berjatuhan sampai menyebabkan Hinoka merasa frustrasi, mencoba untuk meningkatkan Lenergy tetap akan membawa dirinya menuju jalan kesalahan karena efek dari Vile Energy.
Hinoka tetap maju lalu melancarkan beberapa serangan tetapi semua pukulan yang ia lakukan tidak memiliki tenaga apapun karena ia lebih fokus memulihkan luka-lukanya sampai Abah terus mundur ke belakang dan membiarkan Khodam itu menahan serangannya.
"Gawat...! Dia memang sangat kuat... jika Astral Indonesia dapat menakutkan diriku maka aku memang tidak bisa meremehkan Manusia yang sudah berteman dekat dengan Astral itu..."
Hinoka melarikan diri dengan bergegas ke belakang selagi mengeluarkan sebuah walkie talkie untuk menghubungi siapa pun yang dapat membantu dirinya untuk mencari dukun yang sedang menyantet dirinya.
"Percuma saja lari..." Abah mengejar Hinoka yang mulai menghalangi jalan di hadapannya dengan Khodam itu sampai Hinoka menabrak badak tersebut lalu terpental ke belakang.
__ADS_1
Hinoka mengerutkan dahinya lalu ia menyentuh tas pinggangnya yang menyimpan banyak sekali granat berbeda di dalamnya, ia hanya perlu mengulurkan waktu dengan melempar banyak ledakan.
Hinoka mengeluarkan dua granat yang ia tarik pin itu menggunakan giginya sendiri lalu ia memegangnya erat dari kedua tangannya sampai melepaskan ledakan besar yang dapat dilihat oleh Abah.
"Gadis ini memiliki ilmu kebal juga...? Rasanya kenal dengan ledakan granat sangatlah sulit, aku masih belum mencapai titik sejauh itu..." Batin Abah.
"Percuma saja... ilmu santet... tidak akan bisa dihindari...!" Abah melebarkan kedua matanya, membiarkan dukun lainnya terus menusuk boneka yang sudah dimasukkan helai rambut di dalamnya.
Hinoka menggunakan ledakan tadi sebagai kesempatan untuk dirinya melangkah maju menuju arah Abah lalu melancarkan satu serangan yang berhasil mengenai Khodam itu.
"Apa...?!"
"Khodam tidak akan mengkhianati penggunanya..."
"...apa yang aku lihat saat ini benar-benar membuatku tertarik, bangsa Legenda memang lahir sebagai makhluk sakti ya... menerima banyak luka tetapi masih bertahan hidup..."
"...menakjubkan. Tetapi kau harus waspada dengan serangan santet selanjutnya, mungkin itu cukup untuk membunuh dirimu!"
Hinoka melebarkan matanya ketika lehernya mulai membesar dan terasa ketat, ia bisa merasakan tenggorokannya memiliki pisau yang menyangkut di sana sampai dirinya hanya bisa meringis kesakitan.
"Aggghhh...!!! Aaaaaahhhhhh!!!"
***
"Ternyata banyak sekali ilmu hitam yang dapat dipelajari ya... salah satunya adalah Khodam, sepertinya Koneko memang punya tetapi itu mungkin Mamaku sendiri yang menjaga dari surga."
Shinobu saat ini sudah berada di alam gaib, berbicara dengan seorang raja yang memimpin seluruh makhluk halus yang ada, dia menerima dirinya karena tertarik dengan tekadnya yang berani untuk memberikan lima nyawa sejak itu.
"Kalau begitu... Koneko sudah memenuhi semua syarat itu bukan? Hanya membunuh Manusia..." Shinobu memasang tatapan serius sampai kedua matanya memerah.
"Ketika kau menginjak alam ini..."
"...kau memang sudah siap untuk melaksanakan semuanya agar bisa menggunakan ilmu hitam apapun."
"Ya..."
"...Koneko akan berjuang."
__ADS_1