
Mereka semua yang berkumpul di ruangan VIP itu mulai membahas informasi tentang kerajaan Legetsu, satu-satunya kerajaan yang sangat berbahaya karena mengandung banyak sekali Legenda yang kuat.
Hanya tiga Legenda yang terlihat sangat menonjol, nama mereka adalah Regulus, Satori, dan Diablo, mereka masih belum mengetahui jelas siapa Legenda yang bertopeng dan bertanduk itu.
Haruki, Chloe, dan Shizen pernah melihat mereka tetapi untuk identitas tidak karena terlalu tersembunyi, Kou juga mengetahui siapa Legenda bertanduk itu ketika berada di wujud Bloodlust tetapi ingatannya ketika berada di wujud tersebut hilang begitu saja.
Mencegah keseimbangan terhadap dunia, mereka harus mencari tahu sendiri lalu menggali lebih dalam lagi tentang informasi kerajaan Legetsu, setiap harinya Kou yang selalu mencarinya lalu memberikan semua itu kepada Legenda pemberontak.
"Aku tidak menyangka zaman akan berubah begitu cepat... aku kira zaman modern ketika semua bangsa bersatu adalah yang terakhir." Ophilia mulai membahas topik lain.
"Ibu benar... entah kenapa kita yang sudah berada di tingkatan paling atas malah terjatuh kembali menuju tingkatan paling rendah dimana semua ras buta terhadap kesatuan." Jawab Haruka.
"Lebih baik jika zaman seperti ini terulang saja, dengan syarat rasa yang tidak berguna di bantai habis karena mereka tidak membutuhkan arti dari kedamaian." Ucap Arata.
"Percuma populasi banyak tetapi pola pikiran mereka bodoh semua... itu artinya selama ini masih terdapat banyak sekali ras yang memasang topeng di masa modern."
"Mereka menunggu waktunya sampai era kerajaan dan perselisihan ini kembali... tetapi aku dan Ophilia sendiri merasa bersalah soal reputasi keluarga kami."
"Semuanya berawal di situ." Arata mengepalkan kedua tinjunya, ia ingin memperbaiki semua reputasi keluarganya dengan menghapus sebagian populasi yang tidak berguna.
"Tidak ada yang harus di salahkan, Arata. Semua ini memang sudah seharusnya terjadi karena batu takdir itu, apa yang harus kita lakukan hanya melanjutkan semua itu semampu mungkin." Kata Kou.
"Perubahan masih bisa di ubah... jika kita ingin kembali menuju persatuan yang besar maka kita harus bisa berjuang lebih keras lagi tetapi dengan cara yang berbeda..."
"...kita harus mengotori tangan kita."
Perkataan Kou membuat mereka semua memasang tatapan serius karena kali ini, cara yang lembut bukanlah pilihan, mereka harus mengotori tangan dengan darah dan nyawa demi mengembalikan kedamaian dari persatuan itu.
"Kita juga masih harus melindungi harapan yang baru..." Kata Honoka selagi menatap ketiga sepupu yang sedang bermain.
"Honoka benar... apapun yang terjadi, kita harus bisa melakukan segalanya untuk mengembalikan persatuan dan kedamaian itu." Haruki mengangguk.
"3 tahun kita mengumpulkan informasi, dan masih belum ada pertanda untuk mendekat." Haruka memegang dagunya.
Kali ini mereka semua mencoba untuk turun tangan mengakhiri era kerajaan ini dengan cepat, tetapi masalah yang mereka hadapi jauh cukup menyulitkan di bandingkan melawan bangsa dan ras lain.
"Melawan bangsa sendiri... Legenda... kau tahu sendiri melawan saudara kita itu cukup menyulitkan karena kemampuan alami mereka itu." Ucap Kou.
"Bangsa Legenda seharusnya bersatu untuk menciptakan sebuah sejarah yang dapat di ingat untuk masa depan nanti..."
"...semuanya sudah berubah karena kemunculannya era kerajaan... yang dipimpin oleh bangsawan, raja, dan kaisar." Kou mengepalkan kedua tinjunya.
"Aku masih merasa penasaran soal Shiratori Shira, kemana dia? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya..." Arata mulai membahas Shira yang sudah 3 tahun menghilang.
"Shira masih melakukan latihan besar bersama Megumi di dalam kuil cahaya... Neko Isle juga sudah menjadi incaran yang besar untuk beberapa kerajaan, untungnya Hana ada di sana untuk melindunginya." Kata Haruka.
"Hm... putriku memang bisa di andalkan." Arata mengangguk, merasa bangga bahwa Hana telah membantai banyak sekali Legenda yang mencoba untuk memusnahkan Neko Legenda.
Mereka terus membahas informasi yang mereka ketahui soal kerajaan Legetsu, di sisi lainnya ketiga sepupu itu saat ini mengalami waktu yang cukup menyenangkan saling menyapa dan bermain sesuatu hal yang kecil.
Hinoka terus menyapa Koizumi tanpa henti karena ia terlihat cukup lucu ketika sedang marah, "Koizumi! Koizumi! Koizumi!"
"Kamu berisik sekali sih..." Koizumi menutup kedua telinganya karena Hinoka yang terus memanggil namanya tanpa henti.
"Main yuk~"
"Tidak."
__ADS_1
"Hehhhh... Koizumi dingin sekali... jahat..." Hinoka mengembung kan pipinya, Koizumi hanya bisa membalasnya dengan tatapan datar.
"Kamu tidak bisa diam ya... aku sedang fokus melakukan push up..." Koizumi menghela nafasnya lalu ia duduk di atas lantai, melihat Shinobu bersembunyi di balik meja makan.
"Shinobu, ke sini." Koizumi mengajak Shinobu untuk mendekat, ia sudah mengenalnya cukup dekat karena Kou selalu membawa Shinobu ke rumah Haruka agar mereka bisa bermain.
Shinobu pelan-pelan mendekati Koizumi tetapi Hinoka langsung berada di hadapannya, "Shinobu~"
"Eeeppp...!!!" Shinobu langsung kaget ketika melihat Hinoka muncul entah dimana, ia mulai panik tetapi Koizumi mulai menarik lengah Hinoka.
"Jangan mengganggu dirinya... kau tahu Shinobu itu sangat pemalu, apalagi di sekitar kau yang aneh dan kelebihan gula."
"Mm~ aku kelebihan gula, dan kamu kelebihan garam~"
"Apa maksudnya itu?" Koizumi memasang tatapan yang terlihat kebingungan.
Dari ketiga sepupu itu, hanya Koizumi yang terlihat jauh lebih dewasa karena pola pikirannya itu, sejak umur satu sampai dua tahun, ia sudah mempelajari banyak hal dari Rokuro.
Shinobu mencoba untuk memberanikan diri berinteraksi kepada mereka, ia ingin menumbuhkan hubungan yang baik dengan kedua sepupunya itu karena Kou yang memintanya.
"Hinoka..." Shinobu menatap Hinoka dengan tatapan yang terus melihat kemana-mana selagi menepuk kedua jarinya sendiri.
Shinobu terlihat gugup sampai ia terus menatap arah yang berbeda karena menatap wajah ke wajah itu terasa cukup memalukan baginya sampai ia belum siap.
"Hm! Aku Hinoka...! Kamu pasti Shinobu Koneko, aku panggil Koneko ya~" Hinoka tersenyum lebar.
"Anuuu... anuuu... Mmmm..." Shinobu tidak bisa mengeluarkan kata sedikit pun, keberaniannya masih belum cukup untuk membantunya berinteraksi dengan kedua sepupunya.
"Koneko ya... kalau tidak salah sesama keturunan Comi harus memanggil keturunan lainnya dengan nama yang di berikan dari awalan Ko."
Shinobu mulai berjalan melewati Hinoka karena ia masih belum begitu nyaman di hadapan Hinoka, hanya terdapat tiga orang saja yang membuat dirinya nyaman sampai ia mampu berinteraksi dengan baik.
Shuan, Kou, dan Koizumi karena mereka semua sudah sering berbicara dengan Shinobu sampai rasa malu dan takutnya hilang ketika bersama mereka semua.
"Sudah lama sekali tidak bertemu... Kakak Koizumi..." Shinobu menunjukkan senyumannya itu selagi menepuk kedua jarinya.
Koizumi melebarkan matanya ketika senyuman Shinobu terasa seperti mencerahkan pandangannya dengan cahaya yang begitu cerah sampai kedua pipinya memerah karena tidak bisa menahan keimutan nya itu.
"Kakak...? Kamu tidak perlu memanggilku seperti itu kok..." Koizumi menatap arah lain.
"Fuehhh...? Bukannya Kakak jauh lebih tua dariku...?"
"Bukannya aku tidak mau di panggil Kakak sih... aku hanya tidak begitu... Entahlah..."
"Hehhhhh! Kenapa aku jadi di lantarkan seperti ini?!" Hinoka terkejut ketika Koizumi dan Shinobu mengabaikan dirinya.
"Kamu terlalu bersemangat karena kelebihan gula... Koneko merasa takut melihat dirimu yang bersikap sangat aneh." Kata Koizumi dengan tatapan datar karena ia sejak kecil juga harus menahan Hinoka yang selalu kelebihan gula.
Shinobu menatap Hinoka, "Anuuu... Kakak Hinoka...?"
"Uwahh~ Aku juga di panggil Kakak...! Itu artinya aku lebih tua kan!?"
"Apakah aku lebih tua dari Koizumi!?" Hinoka memegang kedua lengan Shinobu yang terasa begitu keras karena terbuat dari teknologi canggih dengan bahan yang kuat.
"Eeeepppp...!!!" Shinobu melarikan diri lalu bersembunyi di belakang Koizumi karena Hinoka benar-benar membuat dirinya ketakutan.
"Kamu ini..." Koizumi menyentil dahi Hinoka.
__ADS_1
"Aw!"
"Kamu harus bisa melakukannya secara bertahap dan proses untuk Koneko... dia ketakutan melihatmu yang terlalu bersemangat tuh."
"Te-he~ aku ceroboh~" Hinoka menepuk kepalanya selagi menjulurkan lidahnya.
"Te-he... apanya?!" Koizumi memasang tatapan datar melihat sepupu yang seumuran dengannya ternyata lumayan bodoh dan kelebihan gula.
"Anuuu... maaf, Kak Hinoka... aku memang pemalu..." Ucap Shinobu selagi bersembunyi di belakang Koizumi.
"Tidak apa~ yang penting, suatu saat nanti aku akan mendapatkan sambutan ciuman darimu!" Hinoka mengacungkan jempolnya sampai Koizumi menyentil dahinya lagi.
"Jangan menodai Koneko ku..."
"Koneko mu? Koneko kita!"
***
Di suatu tempat yang tersembunyi, perbatasan Touriverse yang memiliki lubang hitam di dalamnya, lubang hitam itu dapat membawa seseorang menuju kematian dan ke ruangan dari seorang calon sang pencipta yaitu Zenzaku.
"Ini benar-benar gawat..." Zenzaku mulai berkeringat ketika mengetahui keturunan Comi telah berlanjut sampai titik yang cukup berbahaya karena memiliki darah campuran lain.
"Jika di biarkan saja maka semuanya akan berjalan cukup menyulitkan..." Zenzaku mulai memikirkan sebuah tumbal untuk membunuh ketiga sepupu itu.
"Dengan kekuatan dari tangan Holy Corpse... jika ketiga Legenda itu mati maka aku dapatkan menghidupkannya kembali."
"Kau ingin membunuh mereka secepatnya? Kenapa tidak melakukannya ketika mereka masih bayi?" Tanya Zangetsu.
"Mereka memiliki banyak perlindungan... kebetulan sekarang mereka semua sibuk melakukan pemberontakan dan mencari informasi tentang kerajaan Legetsu."
Zenzaku memejamkan kedua matanya lalu ia melakukan telepati dengan Regulus, Diablo, dan Satori yang saat ini sedang mencari lokasi [Temple of Saint].
"Regulus... Diablo... Satori... aku memiliki tugas yang penting untuk kalian semua." Perintah Zenzaku adalah mutlak bagi mereka karena Holy Corpse itu yang mengendalikan mereka.
"Ck, ada apa, Zenzaku? Kita sedang sibuk mencari kuil Saint tetapi kau datang untuk mengganggu." Ucap Regulus.
"Lupakan soal itu... kalian bisa melanjutkannya ketika pekerjaan yang aku berikan selesai."
"Pekerjaan seperti apa itu...? Jika berkaitan dengan pembunuhan atau pembantaian maka aku akan menerimanya sesuka hati." Diablo terlihat tertarik.
Satori hanya bisa diam selagi memperhatikan peta yang menunjukkan lokasi kuil Saint, kuil itu sangat tersembunyi sampai mereka menghabiskan beberapa hari untuk mencarinya.
"Bunuh keturunan Comi yang baru sebelum semuanya terlambat...!!! Pekerjaan ini sangat mutlak jadi aku ingin kalian untuk membunuh ketiga sepupu itu...!!!"
"Shiratori Shinobu, Shizukaze Hinoka, dan Shimatsu Koizumi! Jangan beri mereka kesempatan apapun untuk hidup di Touriverse sampai mengalami banyak perkembangan...!!!"
"Di mulai dari kau... Satori, kau harus membunuh Shinobu yang masih lemah dan tidak berdaya! Aku yakin kau pasti bisa menghentikan Kou dengan kekuatanmu itu..."
"Diablo! Aku serahkan Hinoka kepada dirimu karena dengan Founder's Origin itu... kau pasti bisa menghancurkan pengontrolan realitas Honoka!"
"Dan yang terakhir adalah kau, Regulus... bunuh Koizumi yang saat ini sudah memiliki tingkatan setara dengan para dewa karena ia sudah di latih sejak kecil!"
"Dengan kekuatanmu yang terus menambah bahkan wujud dari Primal Legend itu... kau sudah kebal dengan konsep waktu!"
""Kami menerimanya...""
""...sang pencipta!"'
__ADS_1