
Sore hari sudah tiba, semua orang mulai sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing dalam membagikan hadiah. Tidak lama kemudian semua orang pergi hanya untuk melihat sebuah acara yang sedang terjadi di pusat kota, dengan hasil meninggalkan Shuan dan Kou sendirian lagi karena Honoka dan Haruka lah yang merencanakan-nya dari awal, Shuan yang sedang berlatih melihat Minami dan Honoka melambaikan kedua tangan mereka bahwa mereka juga ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan.
"Tolong jaga adikku ya, Shuan, dia masih demam kecil sepertinya." Kata Honoka, ia bersama Minami menghilang begitu saja, membuat Shuan menghela nafas panjang. Tubuh yang baru saja ia miliki sekarang terasa begitu berbeda, kedua orang tuanya bahkan menatap dirinya dengan penuh rasa bangga karena Shuan sekarang dapat berjuang lebih keras lagi tanpa harus jatuh sakit karena batasan anak kecil.
"Bagaimana ini...? Kenapa mereka meninggalkan diriku bersama Kou...? Brengsek emang..." Shuan menghentikan latihannya sebentar untuk memeriksa kondisi Kou, ia melompat melalui jendela yang berada di dalam Minami dan melihat Kou yang sejak awal memperhatikan dirinya berlatih, ia menyambut kedatangannya dengan sebuah senyuman.
Shuan sadar bahwa dirinya baru saja melakukan pergerakan yang salah untuk mengunjungi kamar Minami karena suasana kamarnya terasa sangat panas dan hanya rasa canggung yang mengisi tubuh mereka masing-masing, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Shuan dan Kou sendiri mulai bergetar karena tidak bisa menulis apapun di layarnya itu.
Kou melihat ke arah Shuan dan membuat keberaniannya bertambah besar, sudah saatnya untuk melanjutkan perkataan yang ia ingin katakan ketika berada di dalam ruangan Minami, Haruka dan Honoka baru saja memberi dirinya semangat dan kesempatan untuk merebut hati Kou bahkan mereka berdua merestui dirinya untuk menjadi pacar yang mampu untuk melindungi Kou dari dekat dan jauh.
Haruka sudah berusaha sekuat mungkin dengan menggunakan kekuatannya untuk mengubah Shuan dan Kou menjadi umur remaja atas, tidak ada lagi waktu yang harus di sia-siakan karena Shuan ingin mengatakannya agar motivasinya bertambah besar juga tujuannya bisa ia laksanakan tanpa kendala apapun, ia tidak bisa melepaskan kesempatan ini sekarang juga karena tidak ada siapapun di rumah Shira.
"Kou!" Panggil Shuan dan Kou mulai menatap dirinya.
"Aku... aku sekarang memiliki tujuan yang selalu aku bingungkan sejak itu... tujuanku adalah melindungi senyuman itu, senyuman yang selalu kau tunjukkan kepadaku! Senyuman yang membuat diriku bersemangat untuk terus berjuang menjadi Legenda yang layak, berkat dirimu... aku harus berterima kasih..." Itu yang ia ingin katakan, Shuan menundukkan kepalanya dan tidak memiliki pilihan untuk menyatakan perasaannya langsung, Kou langsung merasa kecewa tetapi ia dapat memperbaikinya dengan mengingat perkataan Honoka.
Kou memberitahu dirinya melalui layar bahwa ia ikut senang untuk Shuan karena sudah mau berusaha lebih tinggi lagi bahkan tujuannya sudah muncul dan tujuan itu manis sekali sampai membuat dirinya senang. Kou kembali menulis, kali ini ekspresi-nya berubah menjadi malu dan wajahnya mulai memerah karena ia harus melakukannya karena tidak mungkin ia bisa menulis perkataan ini lagi.
[Aku mencintaimu...]
[Setelah jarak kita semakin akrab, aku tahu seberapa besar usahamu untuk menjadi Legenda yang layak demi mengalahkan Shira dan Minami bahkan sekarang, aku selalu memikirkan dirimu. Karena itu, jadikanlah diriku sebagai kekasihmu], Kou menutup wajahnya dengan layar virtual-nya itu dan Shuan dikejutkan dengan semua perkataan itu bahkan wajahnya terlihat begitu terkejut sehingga menghancurkan ekspresi seriusnya itu.
"Jika... jika kamu tidak keberatan denganku maka aku ingin menjadikan dirimu sebagai kekasihku, sepertinya begitu... yah... aku juga cinta, cinta dirimu untuk melindungi dirimu. Semacam itulah, kau tahu." Shuan memalingkan pandangannya ke arah lain dengan ekspresi canggung karena ia mencoba untuk mengembalikan sisi keren-nya tetapi hancur begitu saja ketika melihat Kou tersenyum lembut karena pengungkapan-nya di terima.
Shuan merasa sangat merinding karena ia tidak menyangka Kou akan menyerang duluan, padahal ia sudah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya di tempat yang lebih romantis tetapi Kou sepertinya menerima di keadaan apapun itu.
[Senangnya, akhirnya aku bisa menulisnya... dan menyampaikannya kepadamu.].
"Ehh...? Akhirnya...?"
[Iya, aku sendiri, sejak hari itu, kepalaku hanya bisa memikirkan dirimu...].
"Hari itu...?"
[Hari itu, ya, hari itu!], Kou menunjukkan tulisan itu dengan pipi yang ia kembungkan.
"Umm..."
[Kamu mengajak diriku ke tempat yang begitu nyaman dan damai... entah kenapa semua perlakuan yang kamu lakukan kepadaku cukup membuat diriku tenang sampai aku tidak pernah merasa sedih lagi... aku tidak kesepian lagi ketika kamu mengajakku sejak itu...].
"Ahhh... aku mengerti..." Saking senangnya Kou dengan berani-nya menyatakan cintanya kepada Shuan sampai ia tidak bisa memikirkan apapun.
[Senang sekali rasanya, ketika menghabiskan waktu bersamamu sambil melihat pemandangan lautan juga kembang api yang berjumlah banyak... seseorang yang mengajak diriku ke tempat yang begitu indah adalah pria sepertimu, pria yang aku cintai sekarang.]
[Bahkan aku tidak menyangka Shuan bisa menjadi kekasihku... sudah seperti mimpi... aku senang sekali, aku cinta kamu.], Kou tersenyum sambil memejamkan kedua matanya. Ketika Shuan membacanya, tubuh Shuan serasa ingin meleleh dengan cahaya dari senyuman lembutnya itu bahkan ia mulai saling tingkah dan menutup mulutnya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat malu.
"Aku juga mencintaimu, Kou... Boleh..."
"...kita ciuman?"
[Iya, aku mau, apalagi dilanjutkan lebih jauh lagi juga boleh...], Kou menahan semua rasa nafsu ingin menerima ciuman pertamanya dari seorang pria, setidaknya ini yang dimaksud oleh keluarganya bahwa seorang gadis akan tumbuh dewasa dan merasakan cinta seseorang yang ia sangat cintai.
Dan yang datang kepada Shuan adalah tulisan yang seakan membuat hatinya meleleh, ditambah lagi melihat ekspresi Kou sudah cukup untuk membuat dirinya membayangkan suara yang keluar melalui mulutnya itu. Kou mulai berubah pikiran dengan menghapus tulisan 'dilanjutkan' karena ia tidak ingin Shuan salah sangka, ia masih belum siap bahkan fisiknya yang begitu lemah pasti tidak akan bisa menahannya.
Ketika Shuan mencoba untuk mendekatinya, Kou mulai memberontak. Shuan menatap wajahnya yang terlihat begitu malu dan merah, ia sudah menurunkan tubuhnya yang tinggi tadi tetapi Kou sepertinya ingin menolak permintaan ciuman itu.
__ADS_1
[Ummm... Shuan... jangan hari ini ya? Nanti demamnya menular...].
"Masa bodoh, malah lebih baik begitu. Katanya bisa jadi lebih cepat sembuh."
[Mitos! Itu cuma mitos! Selain itu, tadi kan habis makan, jadi belum sikat gigi...].
"Tidak apa-apa, daripada bau pasta gigi." Shuan mulai mendekati Kou karena ia merasa tidak sabar untuk merasa bibirnya yang terlihat begitu lembut dan belum disentuh oleh siapapun, padahal bibir itu sudah disentuh beberapa kali oleh Haruka, Honoka, dan Korrina sejak ia masih kecil.
[Jangan! Jangan mendekat! Aku lebih suka aroma pasta gigi!], Kou menghalang wajahnya dengan layar yang memiliki tulisan itu, Shuan mulai berpikir tidak baik untuk memaksa seorang gadis dalam melakukan sesuatu yang tidak bisa ia sanggupi. Selain itu, ia juga tidak ingin dibenci oleh dirinya karena memaksa ingin berciuman.
"Terserah, sayang sekali, hari ini sepertinya tidak baik." Kemudian Shuan kembali menjauh, hanya dengan mengambil jarak saja, perasaan bisa langsung dingin seperti itu di dalam dirinya. Padahal sudah menerima cintanya tadi, Kou membaca jelas perasaan dan pikirannya sehingga ia merasa bersalah, ia memiliki pasangan yang mudah kecewa sepertinya dan ia juga harus menjaga dirinya dengan baik.
[Bukan, Shuan... bukan itu yang aku maksud... aku...], Kou mendekati Shuan sehingga layar itu melayang di atas kepalanya, ia mulai memeluk Shuan erat dan mencoba untuk mencium bibirnya tetapi tidak bisa karena perbedaan dari tinggi tubuh, setelah Shuan menjauh, sekarang giliran Kou yang mendekat ke arah dirinya.
Shuan terlihat terkejut, karena bisa merasakan panas tubuhnya, Kou mengambil layar itu dan menulis kembali untuk mengatakan sesuatu kepada dirinya, [Aku kan lagi demam, apalagi belum sikat gigi. Tapi yang sebenarnya bukan itu...].
[Dari kemarin aku belum mandi! Kotor! Makanya jangan ya...]
"...itu saja? Tidak penting loh, aku tidak begitu peduli. Masa bodoh malahan..." Ketika mendengar perkataan itu dari Shuan membuat Kou memiringkan kepalanya sambil menunjukkan ekspresi kebingungan.
[Jangan-jangan kamu suka yang kotor-kotor!? Mesum!!! Shuan mesum!!!], Kou menunjukkan layar itu sambil lompat-lompat dengan wajah yang terlihat panik dan malu.
"Bukan! Jangan salah sangka!"
[Padahal aku sudah tahan, tapi kamu malah biasa saja!].
"Lah mau bagaimana lagi... jika seorang Legenda merasa bahagia harus bagaimana? Oh saja gitu?"
[Ihhh! Mesum! Mesum!!!], Kou menunjukkan ekspresi yang terlihat ketakutan karena ia tidak menyangka Shuan begitu mesum sampai menerima sesuatu yang kotor.
[Shuan... Maaf, kalau bisa jangan sekarang. Agak egois sih, tapi untuk yang begituan... lebih baik pas aku sudah merasa sehat, aku ingin kamu menerima diriku yang sempurna.], Kou menunjukkan layarnya dengan wajah yang memerah, semoga saja Shuan bisa mengerti dengan apa yang ia coba maksud.
Shuan melebarkan matanya dan terkejut di dalam hatinya, terasa seperti hatinya yang melepaskan teriakan besar karena tidak bisa menerima ciuman pertamanya dari Kou tetapi semua itu diperbaiki dengan ekspresi Kou yang begitu imut bahkan keimutan itu bisa saja membunuh dirinya.
"Kamu curang, Kou... kenapa bisa kamu seimut ini...'" Baru sebentar saja, Shuan sudah terpengaruh dengan keimutan dirinya itu.
[Masa sih... aku rasa biasa saja.].
"Imut... imut sekali..." Shuan menutup mulutnya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat malu karena ia tidak bisa memperkuat tembok yang mampu menahan keimutan Kou yang menyerang wajah serius dan tidak pedulinya itu.
[Begitu ya... pokoknya aku senang kalau kamu bilang aku cantik, tapi kalau terus begini, kamu pasti benci. Hari ini, maaf, ya.].
"Ya, terserah saja." Shuan mulai mengalah, Kou jelas bisa membacanya dan ia masih terlihat kecewa sehingga ia memasang wajah kesal dengan pipi yang ia kembungkan sekarang.
[Shuan, kamu pasti salah paham.].
"Salah paham?" Shuan membacanya.
[Iya, aku sekarang ingin merasakan ciuman... untuk pertama kalinya dari seorang laki-laki... tapi karena nanti kamu ketularan, maaf ya.]. Kou membuat layar itu melayang lalu ia memejamkan keduanya sambil menunjukkan bibirnya yang sudah siap untuk menerima sebuah ciuman, Shuan mencoba untuk menurunkan tubuhnya sehingga ia menerima sebuah ciuman yang mengenai lehernya.
Shuan merasakan sensasi hagnat dan lembut di lehernya, setelah itu Kou berhenti dan mengambil layar untuk menulis apa yang ia ingin katakan, [Ciuman tadi sepertinya tidak akan menular, kan?].
"... ..."
[Kenapa kamu diam, Shuan?].
__ADS_1
"Satu kali lagi..."
[Ehh...?].
"Agar bisa tahan karena tidak bisa ciuman, aku ingin merasakan dirimu...'
[Kalau kamu mengatakannya seperti itu, jadi tidak bisa menolak, kan?], Kou mulai mendekati Shuan dan memberi dirinya sebuah ciuman di leher bagian sebelah sehingga membuat Shuan merasakan sesuatu yang berbeda di dalam dirinya, jadi ini maksud dari cinta yang pernah Megumi dan Shira ceritakan kepadanya.
Begitu hangat, lembut bibirnya, sekarang jatuh di leher Shuan. Merasakannya saja sudah membuat tubuh bagian bawah Shuan langsung bereaksi dengan tidak sengaja, ciuman di bagian leher itu berakhir dengan sebuah senyuman yang tertera di wajah Kou.
[Shuan, curang...].
"Kenapa?"
[Pakai mendesah segala... jadi ingin mendengar lagi, kan?].
"Meski begitu... tidak, tidak, masa bodoh! Terserah!" Wajah Shuan bertambah merah, lagi-lagi Kou mencium lehernya lagi kali ini ia bisa mendengar suara hisapan dan ciuman itu dari Kou sampai ia mencoba untuk menahannya dan mengendalikan pikirannya untuk tidak terbang ke arah lain, setelah itu Kou mundur dan menunjukkan tulisan lainnya.
[Baguslah, bisa menahannya.].
"Jelas lah... aku tidak mesum..."
[Tidak mau, suaramu itu bisa menjadi penyemangat bagiku.].
"Penyemangat?"
[Lebih penting agar bisa sembuh, kan?].
"Curang..." Tiba-tiba Shuan mulai berpikir, mereka sedang melakukan apapun, perilaku yang tidak begitu jelas bagi dirinya. Meskipun lehernya masih merasa geli karena kelembutan dari bibirnya itu, terasa sangat nikmat, bisa-bisa jadi kecanduan dan penyemangat juga untuk dirinya terus berlatih agar bisa menerima ciuman dan senyuman-nya itu.
"Kalau begitu, tuliskan perkataan cinta lagi untukku. Agar aku bisa sabar sampai kamu sembuh..."
[Eh? Sabar...?], Kou melebarkan matanya ketika ia tidak sengaja menatap ke depan dan melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat, ia mulai menutup wajahnya dengan layar itu lalu menulis sesuatu.
[Ini berarti itu kan ya...?].
"Hmm...? Mungkin...?" Shuan tidak mengerti apa yang Kou coba katakan tetapi ia bisa merasakan ereksi dan semoga saja Kou tidak melihatnya.
[Maaf... aku tidak mengerti lagi dengan fisik sudah lima tahun selalu saja merasakan demam secara tiba-tiba, sekarang aku sudah punya kekasih... bertambah semakin menyusahkan saja, demam ini.].
"Itu karena kamu terlalu memaksa diri, seakrang pokoknya istirahat, agar cepat sembuh."
[Iya, terima kasih. Shuan, kamu benar-benar baik...], Kou tersenyum.
[Shuan, aku cinta kamu, cinta sekali...], Kou mulai mendekati Shuan hanya untuk memberi dirinya sebuah ciuman lagi di bagian leher, bibirnya yang lembut kembali menyentuh leher Shuan sampai membuat dirinya tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima ciuman leher itu.
"Aku juga mencintai dirimu... ah..." Kali ini Shuan tanpa sengaja mengeluarkan sedikit desahan, Kou tidak bisa berbicara tetapi ia tidak begitu memedulikannya karena ia bisa terus mencium dan menghisap leher Shuan, wajahnya yang memerah setelah melepaskan ciumannya itu, entah karena nafsu atau demam.
[Kita sedang apa sih?], Kou terkekeh dengan wajah yang masih merah karena malu.
"Ahh... beri aku istirahat, kamu sedang demam, tidur sana..." Shuan menatap keluar jendela dan Kou tersenyum lalu mengangguk dan ia tidak lupa untuk memberitahu Shuan karena tidak dapat melanjutkan-nya, ia merasa tidak begitu peduli karena masih terdapat lain hari untuk dilanjutkan.
[Kalau sudah sembuh, kita ciuman yang banyak ya...], Shuan terkejut ketika melihat tulisan itu bahkan Kou langsung menghapusnya dan menghalang wajahnya lagi dengan layar itu.
"Janji..."
__ADS_1