Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 128 - Mimpi yang Mengingatkan Masa Lalu


__ADS_3

Malam hari telah tiba, Haruka perlahan-lahan membuka kedua matanya karena ia tiba-tiba bangun di tengah malam ini karena perutnya yang terus mengeluarkan suara. Haruka duduk di atas kursi-nya dan ia mulai menatap Korrina yang masih tertidur dengan pulas, ia tidak melihat guling sama sekali.


"Sebelum tidur tadi... Mama mengatakan sesuatu untuk tidak tidur dengan sebuah guling karena guling itu berbahaya dan mematikan pada saat kita tidur, aku tidak percaya Mama mengatakan sesuatu seperti itu karena dia sering tidur dengan sebuah guling di pelukan-nya." Haruka turun dari tempat tidurnya dan ia segera membuka lemari untuk mengambil sebuah guling.


Guling itu memiliki aroma yang wangi dan ia segera menepatkan guling itu disebelah Korrina, Korrina langsung memeluk guling itu dan mulai menggigit-nya dengan pelan, "Harukaa... Mmmm..."


"Wahhh... Mama mimpi memakan diriku sepertinya." Haruka terlihat ketakutan, ia segera pergi meninggalkan ruangan itu untuk mengambil minum dan makan makanan yang ada di dalam kulkas.


Ia tiba-tiba mulai memikirkan sesuatu tentang dimensi palsu dan asli dari Touriverse, ia sebenarnya berasal dari dimensi palsu... Disana dirinya mengorbankan diri untuk menyelamatkan seluruh penduduk yang tinggal di semesta Yuusuatouri, pengorbanan dirinya mampu membawa kedamaian untuk semesta itu sampai ia tidak menyangka bahwa dirinya akan tereinkarnasi ke dimensi asli-nya.


"Setidaknya aku mendapatkan kesempatan kedua untuk bisa hidup lagi tetapi di dimensi asli... Dimensi ini terasa lebih nyaman berbeda dari dimensi palsu, sepertinya Shiro berasal dari dimensi palsu sesuai prediksi-ku... Tidak mungkin jika dia mati di dalam dimensi palsu itu." Haruka mulai mengeluarkan dua botol yang berisi Vodka dan susu lalu ia meminum-nya sampai habis.


Haruka mengambil beberapa roti lapis di dalam-nya lalu ia segera memakannya semua sampai ia mendengar suara langkah dari arah ruang tamu, Haruka segera menutup pintu kulkas itu lalu menatap ruang tamu dimana ia melihat seorang malaikat yang sedang duduk di atas sambil menikmati teh hangat-nya.


"Kau...? Kalau tidak salah nama-mu adalah Shuri." Haruka mulai menghampiri diri-nya sambil memegang sebuah roti lapis dan segelas Vodka.


'Kau pasti sudah mengetahui tentang kebenaran-ku ya, Haruka..."


"Hm...? Apa yang coba kau katakan?" Tanya Haruka dimana ia mulai memasukkan roti lapis-nya ke dalam gelas yang berisi Vodka lalu ia memakan-nya.


"Aku juga berasal dari dimensi palsu yang diberi kesempatan kedua untuk hidup di dimensi asli ini." Kata Shuri.


Haruka langsung tersedak tetapi ia mengulang waktu secepatnya agar ia tidak tersedak lagi, Haruka mulai menatap Shuri dengan ekspresi yang terlihat serius. Dengan sihir waktu-nya ia dapat menebak Shuri bisa mengetahui Haruka yang berasal dari dimensi palsu itu mungkin karena dewa reinkarnasi yang memberitahu dirinya tentang Haruka.


"Aku tidak menyangka bahwa akan ada dimensi se-nyaman ini... Berbeda dari dimensi palsu dimana semesta Touri disana itu sangat tidak nyaman, selalu diselimuti dengan masalah dan konflik yang berlebihan..." Shuri terkekeh pelan.


"Sebentar lagi juga dimensi asli ini akan memiliki takdir yang sama dengan dimensi palsu itu." Haruka mengulang waktu-nya agar roti lapis yang dimakannya mulai kembali dan segelas kosong itu mulai terisi dengan Vodka kembali.


"Dewa reinkarnasi itu memberitahu-ku bahwa terdapat beberapa orang yang berasal dari dimensi palsu tereinkarnasi ke dimensi asli ini, contohnya anak-ku yaitu Shiro..."


Haruka sudah mengetahui tentang hal itu karena di dimensi palsu dia sempat mendapatkan beberapa informasi tentang Shira dan ibu-nya, terlihat sangat jelas bahwa Shuri adalah ibu dari Shiratori Shira yang ada di dimensi ini juga. Haruka bangkit dari atas sofa-nya dan ia segera mengambil sebuah puding lalu memakannya.

__ADS_1


"Jadi... Shiratori Shira yang ada di tempat ini juga bisa disebut sebagai anak-mu?" Tanya Haruka.


"Ya... Awalnya anak-ku memang memiliki kepribadian ganda sih, di dunia asli." Ucap Shuri.


Haruka mengerti apa yang Shuri coba katakan tentang dunia asli karena sebagian makhluk hidup yang tinggal di Touriverse adalah reinkarnasi manusia mati yang berasal dari dunia sali, rahasia kehidupan memang tidak akan bisa diketahui dengan mudah. Haruka mencoba untuk membaca masa depan tetapi tidak bisa karena sihir untuk membaca masa depan itu hanya untuk wujud terkuat-nya.


"Haruka, maukah kau membantu-ku?" Tanya Shuri.


"Dengan senang hati akan aku bantu..." Haruka menghampiri Shuri dengan sebuah senyuman lebar di wajah-nya, ia bersedia untuk membantu siapapun berdasarkan kemampuan-nya sendiri.


"Aku ingin dirimu untuk menggunakan kemampuan waktu-mu... Aku ingin semua ingatan-ku tentang Shira bisa dilihat oleh Shira sendiri, apakah kau bisa membantu-ku?" Tanya Shuri.


Haruka segera menciptakan sebuah kubus hijau dari telapak tangan kanan-nya, kubus hijau itu mampu menyerap dan mencari ingatan yang ada di pikiran seseorang. Untungnya kubus itu tidak memiliki efek samping seperti menghapus ingatan seseorang, kubus itu sangat cocok untuk orang yang lupa ingatan.


"Dengan kubus ini yang sudah dipenuhi oleh ingatan-mu, apakah aku harus memasukkan-nya ke dalam mimpi Shira?" Tanya Haruka.


"Tentu saja." Shuri mengangguk lalu ia menundukkan kepalanya.


Setelah kubus itu berhenti memancarkan cahaya, Haruka mulai mengambil kubus itu dan mengecilkan-nya lalu menyimpannya di dalam saku-nya, "Permintaan terakhir, Haruka..."


"Mmm...?"


"Apakah kau mampu merekam sesuatu dengan kubus itu?" Tanya Shuri.


"Tentu saja." Haruka menciptakan kubus hijau lain-nya.


Kubus itu mulai melayang dan memancarkan cahaya hijau, Shuri mulai berbicara di depan kubus itu dan Haruka duduk di depan-nya sambil mendengarkan perkataan-nya yang terdengar cukup menyentuh di hati-nya. Menghabiskan satu jam setengah untuk Shuri selesai berbicara, Haruka segera mengambil kubus itu lalu mengecilkan-nya.


"Aku ingin kau memberi rekaman itu kepada Shira nanti ya." Shuri tersenyum.


"Baiklah, aku akan memberi Shira mimpi tentang ingatan-mu sekarang juga, Shuri." Haruka mengangguk lalu ia berjalan pergi meninggalkan Shuri sendirian di ruang tamu, ia juga tidak lupa untuk memberitahu Shuri untuk tidak begadang karena itu tidak baik untuk kesehatan.

__ADS_1


"Selamat malam, Shuri." Kata Haruka dimana ia mulai diam-diam masuk ke dalam ruangan para tamu, disana ia harus bergerak dengan pelan-pelan menuju Shira. Haruka sempat menginjak kaki Arata dan membuatnya bangun tetapi Haruka segera mengembalikan waktu-nya dan berhasil selamat.


Dia sudah menginjak kaki mereka semua selama beberapa menit, tetapi berkat bantuan sihir waktu-nya... Haruka selamat dari amarah mereka semua, setelah melewati semua Legenda yang menghalang-nya, Haruka berdiri di depan Shira lalu berlutut di depan-nya mencoba untuk memasukkan kubus yang benar.


Haruka mengeluarkan kubus hijau yang berisi ingatan Shuri lalu ia menepatkan-nya di kening Shira sampai kubus itu masuk ke dalam kepala-nya dan memberikan dirinya mimpi tentang ingatan Shuri, Haruka segera lari keluar ruangan dan mengembalikan waktu untuk menidurkan kembali beberapa Legenda yang terinjak oleh dirinya.


"Selamat malam---"


"KYAAAAAAAAAAAAAAAA....!!!" 


Terdengar suara teriakan Korrina yang menggema di sekitar planet Legenia itu sampai membangunkan seluruh warga yang ada di planet Legenia dan memancing beberapa iblis untuk menyerang planet tersebut tetapi tidak bisa karena planet itu saat ini diselimuti dengan aura suci yang dapat membakar mereka semua.


Haruka segera mendatangi Korrina yang masih teriak, ketika ia masuk ke dalam Korrina... Kamar Korrina berantakan sampai seluruh barang yang ada di dalam-nya rusak kecuali guling yang ada di sebelah-nya, Haruka menatap Korrina dengan ekspresi yang kebingungan karena saat ini dia sedang menangis tersedu-sedu.


"P-P-Pocong...! Pocong...!!! Hweehhhh...! Selamatkan aku, Haruka...!" Ucap Korrina yang sedang menangis sambil menunjuk sebuah guling di depan-nya.


"Pocong...? Apa tuh?" Tanya Haruka dengan ekspresi yang terlihat kebingungan, untungnya Haruka menggunakan sihir mengembalikan waktu secepatnya agar semua Legenda yang berada di planet itu bisa kembali tidur dengan pulas kecuali Korrina karena Haruka merasa penasaran karena ia bisa teriak sekeras itu.


"Itu...!!! Pocong...!!!" Seru Korrina.


Haruka mulai menatap guling itu lalu ia mengambil-nya, "S-Sekarang...! Lempar...! Buang itu dan bakar!!!" Suruh Korrina.


Ketika Haruka mencoba untuk menyingkirkan guling itu dari kamar Korrina, ekspresi-nya segera berubah menjadi senang dan lega bahwa tetapi ketika Haruka masuk dan menunjukkan guling itu kepada Korrina, ia segera ketakutan dan kembali menangis seperti anak kecil.


"Harukaaa...! Buang itu...!" Ucap Korrina dengan ekspresi yang terlihat sedih.


"... ..." Ekspresi Haruka terlihat datar seketika karena ia memiliki rasa takut terhadap sebuah guling entah kenapa hal ini bisa terjadi, tetapi dua tanduk imajinasi Haruka muncul di atas kepala-nya lalu ia mulai tersenyum jahat.


"Hahhhhhh!!! Pocong!!! Ini Pocong, Mama!!!" Haruka segera mendekati Korrina lalu mendekatkan guling itu dengan wajah Korrina.


"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA....!!!" Teriak Korrina keras.

__ADS_1


__ADS_2