
"Bagaimana rasanya, Shinobu Koneko!? Apakah kau sudah merasa menyesal dan putus asa ketika menerima hukuman itu secara langsung dari Dewa tanah sepertiku!?" Tanya Demetrio.
"Sungguh melegakan untuk bisa mengalahkan salah satu dari keturunan Shiratori..."
"...mungkin peristiwa saat ini bisa disebut bahwa aku berhasil mencetak satu skor untuk mengalahkan Shinji!" Demetrio membuka buku itu pelan-pelan karena setiap halaman selalu mengeluarkan petir.
Demetrio baru saja menemukan halaman yang menarik perhatiannya tetapi ia malah membuka halaman lain dengan pergerakan jari serta tangannya sendiri sampai ia memasang tatapan bingung.
"Halaman ini..." Demetrio membuka halaman sebelumnya tetapi tangannya malah melanjutkan halaman selanjutnya sampai ia menatap Shinobu dengan tatapan kaget.
"Apa ini ulahmu lagi, Shinobu Koneko...!!!" Demetrio menghantam wajahnya beberapa kali sampai ia terjatuh di atas tanah dengan tubuh yang tetap mengeras karena sihir pengerasan batu itu.
Demetrio mencoba untuk menghantam kepala Shinobu lalu mengeluarkan otaknya itu tetapi pukulannya melesat seketika, ia mencoba untuk mengarah kepalanya itu untuk menghancurkan otaknya.
Namun, pukulan itu malah mengenai anggota tubuh Shinobu yang ia lain sampai ia mulai memasang tatapan waspada bahwa Shinobu bisa saja merencanakan sesuatu yang berada di luar pikirannya saat ini.
"Apa yang aku lihat ini sebenarnya salah satu rencana Shinobu lagi...? Aku pasti sedang melihat kesalahan karena aku berhasil melukai dirinya!" Demetrio menghantam wajah Shinobu cukup keras.
Wajahnya sampai babak belur, penuh dengan darah yang mengalir deras sampai menodai tanah lalu menciptakan genangan darahnya sendiri karena pukulan itu.
Lengan kanan Demetrio terangkat seketika sampai tinjunya berubah menjadi besi lalu ia memukul wajahnya sendiri sampai berdarah lalu berlubang karena ketajaman dari tinju itu.
"Aggghhh...! Apa... kenapa...!?" Demetrio melihat tangannya terlihat baik-baik saja bahkan ia rela memutuskan tangannya sendiri lalu menumbuhkan yang baru menggunakan sihir tanya liat itu.
"Satu-satunya yang akan bertahan adalah kebenaran dunia... seluruh alam semesta... seluruh hal yang belum pernah diketahui." Shinobu mulai berbicara.
"Perbuatan benar yang lahir dari kebenaran tidak akan pernah hancur... semua Legenda yang mati dalam perjuangan untuk menjaga kedamaian itu memang sudah tiada."
"Tetapi tekad dan perbuatan mereka tidak akan bisa hancur dan menghilang... semuanya keabadian yang tidak memedulikan konsep apapun." Daun emas mulai bertumbuhan di tanah.
Semua daun itu menempel di tubuh Shinobu untuk membalut semua lukanya sampai memperbaiki kerusakan di tubuhnya sendiri, Demetrio hanya bisa memang tatapan kesal.
Ketika ia mencoba untuk menyerang, pukulannya melesat sampai mengenai perutnya sendiri, tubuhnya bergerak tanpa sebuah tanda atau aba-aba sampai ia tidak merasakan apapun.
"Apakah perbuatanmu untuk menyadarkan mereka semua dengan paksaan bisa membawakan kedamaian itu...? Atau sebatas perbuatan yang terlahir dari kejahatan?"
"Kita tidak tahu siapa dan menang yang lebih besar... tetapi aku... aku sudah lahir... aku adalah ilmu pengetahuan itu sendiri." Shinobu membuka kedua matanya yang bersinar emas sampai tidak memperlihatkan pupil apapun.
Demetrio memasang tatapan kaget seketika karena tatapan itu mirip sekali dengan Shinji, tidak memiliki mata melainkan cahaya emas itu yang keluar secara langsung melalui kedua matanya, sangat cerah.
Kecerahan itu bukannya membawakan harapan atau kesenangan tetapi bagi sebagian orang ketika melihatnya, rasanya mereka seperti di panggil langsung ke dalam kematian.
"Cahayaku bersinar... menyerahkan semua harapan sesuai dengan kepercayaan yang mereka mau pegang, intinya mereka pasti akan buta dengan cahayaku."
"Yang terlindungi hanyalah mereka... mereka dengan kepercayaan terhadap diriku serta tekad perjuangan mereka... dari awal kehidupan sampai akhir kehidupan, memberikannya kepadaku."
"Aku tidak merasakan serangan atau pergerakan apapun... seharusnya God Lenergy dapat mendeteksi serangan apapun... semuanya bisa dirasakan." Ungkap Demetrio.
"Alasan kau bisa melukai diriku... itu karena keseimbangan. Mengalahkan dirimu dengan kekuatanku belum cukup, itulah kenapa aku menggunakan The Mind sedikit demi sedikit."
"Jika aku menggunakan The Mind maka semua kekuatan dan daya tahanku mendadak berkurang secara drastis... tetapi waktu yang dihabiskan oleh The Mind tidak akan lama."
"Apa yang aku lakukan tidak bisa dimengerti oleh dewa busuk sepertimu... The Mind yang aku gunakan masih dibilang lemah tetapi cukup efektif untuk dewa sepertimu."
Shinobu berdiri dengan tatapan yang terlihat mengancam, "Maupun itu pemimpin... kaisar... raja tirani... dewa agung... dewa segalanya... semua hal yang mustahil dikalahkan... masih bisa menerima resolusi dariku."
__ADS_1
Tubuh Demetrio langsung merinding ketika Shinobu berbicara seperti itu karena ia terlihat sangat berbeda sekarang, "Dalam usia dan kekuatanku di titik ini... semakin dekat lawan... semakin efektif The Mind."
"The Mind tidak akan memedulikan apapun... maupun kau kebal dengan konsep ini itu... The Mind akan menanggapinya sebagai nol, tidak ada apa-apa karena kemampuan itu adalah... puncak dari ilmu pengetahuan."
"Setiap kemampuan... konsep... logika... pasti akan berkaitan dengan The Mind... ilmu pengetahuan." Shinobu membicarakan sesuatu yang membuat Demetrio kebingungan dan ketakutan sampai tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun.
"Semustahil apapun mereka... The Mind mengetahui cara mengalahkannya... berdasarkan diriku yang sering belajar dan bekerja keras... ini adalah The Mind... dengan bantuan otak dari 2 persenku..."
"Apa... Apa yang kau coba katakan, Shinobu Koneko!?" Seru Demetrio yang tidak mengerti sama sekali soal perkataannya tetapi ia sempat kaget mendengar Shinobu selama ini menggunakan satu persen dari otaknya sendiri.
"Sial... gadis ini... The Mind... sebenarnya potensi apa yang disembunyikan di dalam kemampuan sialan itu!?" Ungkap Demetrio yang mencoba untuk lari tetapi kedua kakinya bergerak mendekatinya.
"Apakah kamu tahu...? The Mind bisa mengontrol seseorang dari dekat seperti buku... seperti membuat ceritanya sendiri... dengan mengendalikan apapun... termasuk yang mustahil."
"Saat ini... aku sudah memasukkan banyak peringatan ke dalam pikiran itu, semua orang bergerak dan melakukan apapun berdasarkan otak mereka..."
"...otakmu itu bisa aku tambahkan banyak sekali perintah seperti seranganmu tadi yang melesat, itu sama karena aku... karena aku yang menggunakan The Mind." Shinobu tersenyum polos.
"Koneko tidak ingin menggunakannya... tetapi Koneko tahu bahwa kau adalah Dewa dengan harga diri tinggi untuk melukaiku."
"Aku perlu mengajarimu... bahwa bukan hanya kau saja yang harus ditakuti dan menerima kepercayaan semua orang berdasarkan paksaanmu itu." Sinar emas di kedua matanya menghilang sampai kembali menunjukkan wajah polos itu.
Demetrio masih memasang ekspresi kesal, sejujurnya dia ingin melarikan diri tetapi tubuhnya merasakan banyak penolakan yang tidak bisa ia kendalikan dengan cara apapun karena Shinobu yang sudah mengakses tubuh dan otaknya juga.
"Kekebalan dengan Mind Manipulation atau kemampuan manipulatif lainnya... semuanya akan sia-sia dan menjadi nol untukku..." Demetrio langsung memegang erat bukunya itu.
"Setiap persentase yang aku naikkan... memperlihatkan bertapa mengerikan The Mind sebenarnya... sayang sekali semua itu harus aku capai dengan usahaku sendiri..."
"...tidak sepertimu, Dewa yang mendapatkan kekuatan instan... semua raja dan dewa sama saja... mengandalkan sesuatu untuk menyelesaikan tujuan itu..." Shinobu mundur beberapa langkah.
"Masih bisa aku atasi karena diriku adalah seorang Dewa...!!! Ini bukan sesuatu yang tidak bisa kuatasi, takdir mengangkat diriku sebagai seorang Dewa yang akan membuat para mortal bersyukur dengan ciptaan ini!"
"Aku, Demetrio, adalah Dewa yang akan mengatasi semua ancaman!!!"
Shinobu terkekeh, "Kamu sungguh lucu ya... aku bisa mendengarnya loh, rasanya halusinasi juga bukan hal baik untuk terus dituruti."
"Jangan berlagak seolah kau tahu apa yang terjadi, Shinobu Koneko!!! Tidak peduli kau menggunakan The Mind atau apa tetapi satu serangan sudah cukup untuk membunuhmu...!!!"
"Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk menyesali kematianmu...!!! Karena kau sudah menggunakan The Mind maka kesempatan untuk membunuhmu sudah pasti sempurna."
Shinobu terus menatap Demetrio yang mencoba untuk menyerang dirinya tetapi serangan yang ia lakukan hanya mengenai dirinya sendiri.
Pandangan yang ia lihat saat ini adalah seorang Dewa memukul dirinya sendiri, terlihat sangat rendahan sampai ia pikir bahwa tidak semua Dewa itu mulia melainkan sebagiannya gila karena tidak mau menerima sesuatu yang mustahil.
Demetrio melebarkan matanya ketika ia berhasil melancarkan satu pukulan kepada Shinobu, tetapi pukulannya berhenti sebelum mengenai tubuhnya.
"Apa...!?" Demetrio terus melancarkan banyak sekali tendangan dan pukulan sampai ia tidak bisa mengenai dirinya, bukan karena sihir atau perlindungan apapun melainkan Shinobu tidak menggunakannya sama sekali.
"Apa yang kau lakukan sekarang, sampah!!!"
"Sialan kau, Shinobu Koneko...!!! Apa yang kau bisa tanpa kemampuan The Mind!? Apapun itu kau tetaplah sampah karena menerima kemampuan sebodoh itu...!!!" Seru Demetrio dengan tatapan yang terlihat muak.
"Apa yang kau bisa lakukan tanpa kemampuan The Mind!?"
"Sungguh pertanyaan yang bodoh... kau tahu menggunakan The Mind bukanlah sesuatu yang mudah seperti kekuatan pemberian dan julukan...?" Tanya Shinobu.
__ADS_1
"Jika kau memiliki The Mind, aku yakin kau pasti senang tetapi jangan cepat senang dulu karena kau perlu mengembangkan kemampuan itu dengan berusaha keras."
"Tanpa usaha keras maka kemampuan itu akan hilang karena tidak menganggap dirimu layak, Koneko sendiri... menurut pertanyaan tadi itu."
"Jika Koneko tidak memiliki The Mind maka..."
"...ku tetap akan menjadi legenda layak yang terus berusaha keras dan belajar giat sampai aku bisa mengatasi apapun dan menginginkan segalanya."
"The Mind bukanlah sesuatu yang mudah kau gunakan, perlu usaha dan kerja keras. Tidak seperti kalian Dewa dan raja yang sudah merasa puas begitu cepat sampai melupakan arti dari usaha itu...!"
"Berhentilah sampai kau benar-benar mencapai sesuatu dengan baik dan benar! Jangan anggap bahwa kau sudah berada di puncak atas, aku sendiri tidak akan berhenti sampai berada di langit yang tidak semua orang tempuh!"
"Itulah kenapa..."
"...Koneko masih harus berusaha keras untuk mempelajari berbagai macam hal, mengembangkan semua yang aku peroleh sebagai hasil dari usaha itu!"
"Jika Koneko bermalas-malasan maka semuanya akan hilang... kembali menjadi nol, tetapi semakin lama maka semua itu akan menyatu denganku sendiri..."
"...bisa saja aku memperoleh sesuatu yang tidak bisa dibayangkan dalam pandangan luar dan semua hal yang tidak ada di dunia ini saat ini."
"[Embodiment of Everything]." Shinobu mulai tersenyum polos sampai memikirkan banyak hal bahwa dirinya perlu menyelesaikan banyak tujuan dan tentunya mencapai sesuatu yang lebih tinggi.
"Sudah aku jawab bukan? Sekarang siapa sebenarnya dirimu tanpa julukan dan kekuatan itu?"
"Apa...!? Kau berani menanyakannya!?"
"Tentu saja, jawaban yang kau akan sebut selanjutnya pasti orang yang berkuasa... tetapi jawaban yang asli adalah sampah!"
"Shinobu Koneko...!!! Tidak ada satu pun mortal sejauh ini yang membuatku sangat kesal!!! BRENGSEK KAU!!!" Demetrio terus menyerang Shinobu tetapi semua serangan itu tidak mengenai.
"Aku menggunakan The Mind untuk memasukkan larangan dan hukuman... sudah cukup, kau tidak bisa menyerang diriku."
"Tujuanku di sini adalah menghancurkan Grimoire, selanjutnya adalah takdir yang memutuskan maupun kau bersama dewa lainnya akan hancur atau tidak..."
"...atau mungkin kau sudah menyimpan kartu as itu?" Shinobu tersenyum polos.
"Yah... yang paling penting adalah... perjalanan masih panjang, ini pertama kalinya aku menggunakan dua persen dari otak dan kecerdasanku sendiri."
"Koneko masih memiliki banyak rintangan... yang paling penting adalah..."
"...Koneko...!"
"...akan berjuang!!!" Shinobu memasang tatapan penuh tekad sampai Demetrio membuka halaman terakhir dengan sendirinya.
Shinobu memutuskan untuk mengakhirinya dengan membiarkan Demetrio menghancurkan Grimoire itu sendiri sampai ia tidak bisa melakukan apapun karena semuanya terjadi secara alami seperti dirinya sendiri yang berniat melakukan hal itu.
"Meski itu akan menentang takdir Dewa... tetaplah Memberontak!" Shinobu berhenti menggunakan The Mind sampai kekuatan dan daya tahannya meningkat lagi.
Demetrio tidak akan bisa lepas sampai permintaan terakhir dipenuhi yaitu membuka halaman penghancur itu lalu membiarkan dirinya membaca.
"Dengan sambaran--- Tidakkkk...!!! Shinobu Koneko...!!!" Lidah Demetrio tidak bergerak sendiri melainkan ia seperti berbicara secara alami dengan niat palsu tetapi tidak niat aslinya.
"Sambaran petir... keluarlah suara halilintar... sambar buku ini menjadi gosong tanpa menyisakan apapun!!!" Grimoire yang ia pegang langsung melayang ke atas langit.
"Shinobu..." Demetrio memasang tatapan yang terlihat sangat geram kepada Shinobu.
__ADS_1
"...KONEKO!!!"