
Ketika Minami dan Hana menghadapi masalah yang berkaitan listrik dari seorang Ras Beast yang memiliki nama Whiterice, Lyazen dan Marie tidak menyangka akan bertemu dengan murid lainnya yang sedang bertempur.
Tidak jauh dari tempat persembunyiannya tetapi mereka dikejutkan dengan pohon yang membesar bahkan sampai menyebar dalam skala yang luas.
Lyazen mencoba untuk menciptakan objek batu untuk melindungi rumahnya itu tetapi warna dari batu tersebut sudah pasti akan menarik perhatian murid lainnya yang sedang bertarung.
Lyazen dan Marie mulai menjaga jarak dengan bersembunyi di tempat yang aman sampai Minami dan Hana kembali, Lyazen mulai mengeluarkan kartu identitas karena ia merasakan sebuah getaran.
Kartu itu mulai memperingati dirinya bahwa sedang terjadi pertempuran dari jarak yang dekat, kartu identitas itu ternyata memiliki sistem baru yang dapat memperingati murid bahaya dan pertarungan yang terjadi di jarak yang dekat.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang...? Bertarung...? Diam saja...?" Tanya Marie.
"Aku tidak mahir dalam pertarungan jarak dekat karena aku hanya dapat menciptakan objek yang berwarna biru, objek apa pun itu... semoga saja kau ingin bertarung melawan mereka." Kata Lyazen.
Marie mulai memikirkannya lalu ia berjalan keluar dari tempat persembunyian itu dan melihat daratan mulai dipenuhi dengan akar yang bergerak seperti mencoba untuk melacak sesuatu.
Lyazen mulai menciptakan sebuah senapan lalu ia menghancurkan akar itu, ketika peluru mengenai akar itu, tercipta lah api yang membakarnya.
"Sepertinya kemampuan yang sama dengan Minami... sihir tumbuhan yang dapat menciptakan pohon dan semacamnya."
"Kita tidak tahu di mana letak murid yang menggunakan sihir itu tetapi aku bisa mendengar suara pertarungan di belakang kita."
Lyazen mulai mengintip dan ia dikejutkan dengan beberapa murid angkatan satu yang diserang oleh seorang murid dengan zirah kayu yang begitu tebal bahkan serangan yang mereka lakukan tidak mampu menghancurkan zirah yang digunakan oleh murid yang memiliki kemampuan tumbuhan.
"Sial... siapa murid yang berani menghancurkan hutan ini, hah!? Hutan itu seharusnya dilestarikan bukan di hancurkan, dasar Whiterice...!"
"Berani-beraninya dia menyebabkan kebakaran hutan yang cukup besar di arah timur...!"
"Aku akan melepaskan lebih banyak tumbuhan yang dapat melahap siapa pun yang tidak melestarikan alam!"
Murid itu mulai menghantam daratan beberapa kali sehingga daratan itu mulai melepaskan beberapa tumbuhan yang bergerak dan menyebar ke mana-mana bahkan sampai menyelimuti tubuh murid di hadapannya yang tidak berdaya.
"Lestarikan alam dengan baik, nak...!!!"
Murid itu mulai menghantam daratan lagi sehingga menyebabkan murid di hadapannya yang sedang diselimuti dengan akar mulai terbelah menjadi beberapa bagian karena semua akar itu menarik dirinya dari sisi yang berbeda dengan tenaga yang begitu kuat bahkan sampai membuat Lyazen terkejut ketika melihatnya.
Ia segera melindungi diri di balik pohon itu dan ia sempat melihat akar yang bergerak seperti ular, mencoba untuk mencari mangsa lainnya.
"Hutan adalah daerah kekuasaanku dan kalian jangan berani-berani datang lagi bahkan sampai merusaknya...!!!"
"Pergi semua dari wilayah ini, jika tidak maka aku akan membunuh kalian satu-satu dan menjadi pupuk makhluk hidup!!!"
__ADS_1
Murid itu melepaskan pohon, tumbuhan, bunga, dan akar melalui zirahnya itu bahkan sampai membuat Marie tercengang ketika melihatnya karena semua sihir itu menyebar ke mana-mana.
Ia tidak memiliki pilihan lain selain membawa Lyazen menjauh menuju pantai karena berada di hutan hanya akan memperburuk situasi.
Marie dan Lyazen melebarkan matanya ketika melihat hutan di hadapannya terlihat seperti bergerak sendiri dan melepaskan semacam aura berwarna hijau yang memasuki tubuh murid yang memakai zirah kayu itu.
Ia terlihat marah karena sebagian hutan telah terbakar dan itu membuat dirinya melemah bahkan sampai berkeringat.
Ia masih ingin mengamuk tetapi seseorang mulai menghentikan dirinya dengan menghantam kepalanya sampai murid itu menatap teman yang baru saja memukulnya.
"B-Bos Cranell...!" Murid itu mulai sujud kepada dirinya dan murid ras Raijuu yang bernama Cranell itu mulai menginjak kepalanya karena sudah bertindak ceroboh.
Memancing banyak sekali musuh bahkan bisa saja merugikan dirinya, ia ingin bawahannya mengeluarkan sihirnya di waktu yang tetap dan secara diam-diam agar tidak diketahui oleh siapa pun tetapi sudah terlambat.
"Sialan kau, Graylad... apa yang telah kau lakukan!? Berani-beraninya kau menghancurkan rencana yang sudah aku rancang dari awal...!"
"M-Maaf... aku tidak tahan melihat murid-murid yang tidak melestarikan alam terutama Whiterice yang sudah mengkhianati diriku."
"Ia malah menggunakan listrik itu untuk menyebabkan kebakaran hutanku yang begitu indah."
Graylad mulai menangis dan setiap tetesan air matanya yang terjatuh dan mengenai daratan mampu menciptakan tumbuhan lainnya.
Marie dan Lyazen baru saja mendapatkan informasi penting, jika murid yang bernama Graylad itu memanggil Cranell dengan sebutan bos maka ia adalah pemimpin dari kelas angkatan ketiga karena bisa terlihat melalui pakaiannya yang memiliki lambang [III-A].
Mereka akan mendapatkan keuntungan besar jika mengalahkan Cranell langsung tetapi salah satu dari mereka tidak mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh Cranell bahkan kemampuan yang dimiliki oleh Graylad saja sudah cukup mengerikan.
"Jika semuanya sudah terlanjur seperti ini, aku menghukum dirimu untuk tetap diam di hutan dan mencari murid lainnya... indra yang kau miliki meningkatkan asalkan berada di hutan bukan?"
"Bahkan kemampuan tanaman yang kau miliki itu dapat merasakan detak jantung murid lainnya, singkirkan semuanya dan aku tidak ingin kau menyisakan satu...!" Cranell menghilang begitu saja.
Lyazen mulai dibingungkan dengan kemampuan Cranell yang dapat menghilang tadi, sekarang ia pergi entah ke mana.
"Ini benar-benar bahaya, Marie... kita pergi sekarang." Lyazen mulai mengajak Marie untuk melarikan diri tetapi mereka semua di jebak dengan beberapa akar yang bergerak dan mencoba untuk mencari mangsa lain.
Graylad mulai menutup kedua matanya lalu berjalan mengelilingi hutan untuk mendekati beberapa murid yang baru saja ia dengar karena semua akar itu dapat mendengar detak jantung yang berdetak begitu cepat karena ketakutan.
"Kalian bisa bersembunyi tetapi kalian tidak bisa melestarikan alam~" Graylad tersenyum.
Ia melompat dan menghancurkan murid lainnya, Marie terkejut ketika ia melihat Graylad berada di jarak yang sangat dekat sekarang, Lyazen memperingati dirinya bahwa ia dapat mencari murid dengan hanya menggunakan semua akar yang bergerak itu.
Sekali saja detak jantung mereka berdetak begitu cepat maka semakin cepat Graylad menemukan mereka.
__ADS_1
"...kau di sana!!!" Graylad melepaskan batang kayu yang begitu panjang melalui lengan kanannya, kayu itu melesat maju ke arah Lyazen dan Marie tetapi Lyazen berhasil melindungi dirinya dengan menciptakan tembok di hadapannya.
Mereka mulai melarikan diri lagi selagi memikirkan sebuah cara agar bisa mengalahkan Graylad, serangan tadi bahkan mampu menghancurkan objek yang dibuat oleh Lyazen dengan cepat tetapi mereka berdua berhasil menghindari serangan lainnya.
"Ini dia...! Murid kelas 1C...! Bos akan bangga kepadaku jika aku membunuh mereka berdua, sepertinya Hana, Minami, dan Honoka sedang tidak bersama mereka karena terpisah oleh serangan yang disebabkan oleh Whiterice!"
Graylad mulai menunjuk seluruh pohon yang berada di hutan lalu menciptakan sebuah tembok yang begitu besar bahkan sampai menghalang jalan yang dimiliki oleh Lyazen dan Marie.
"Jangan melarikan diri... jika kalian melarikan diri lebih lanjut lagi maka akan aku bokong kalian dengan serangan tanaman yang dapat mencabik-cabik tubuh kalian." Kata Graylad.
Marie mencoba untuk menyerang Graylad tetapi terlambat kedua lengan dan kakinya diselimuti dengan akar yang dapat membuat dirinya tidak bisa bergerak sama sekali.
Lyazen juga bahkan tidak ingin berisiko dengan mengeluarkan sihirnya karena Graylad bisa saja membunuh dirinya dengan cepat seperti memasukkan akar kecil itu ke dalam mulutnya lalu menarik seluruh organ tubuh di dalamnya.
"Sebelum kita bertarung... aku ingin menanyakan beberapa pernyataan penting, mungkin bisa dijadikan sebagai pembicaraan yang sangat kecil sebelum salah satu dari kita merasakan arti dari kematian."
"Aku sangat menyukai alam... apakah kalian suka alam? Terutama hutan dan semacamnya?" Graylad tersenyum.
"Alam...? Tentu saja kami menyukainya tanpa alam... tidak ada makhluk hidup yang mungkin bertahan karena alam terdapat banyak sekali keindahan yang bermakna di dalamnya." Marie mulai berbicara.
Ia bersama Lyazen tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat, Graylad terlihat seperti orang yang baik mungkin karena terlalu mencintai alam bahkan sampai membunuh semua orang yang mencoba untuk menghancurkannya walaupun kecil.
Tidak melestarikan juga dapat membawa kematian yang akan ia berikan kepada mereka.
"Kalau begitu... aku sangat senang mendengarnya dari kalian, menyukai alam dan melestarikan alam dapat memberikan rasa ketenangan yang begitu hebat."
"Dari kecil aku sendiri sering sekali menyiram tanaman... perasaannya itu... tidak bisa disampaikan dengan kata-kata tetapi..."
"...jika kalian menyukai alam dan ingin melestarikannya... kenapa...!?"
Graylad memasang wajah yang terlihat kesal sekarang bahkan sampai membuat pasir diselimuti dengan tumbuhan yang berbeda-beda, zirahnya itu tidak dapat melepaskan apa pun yang berkaitan dengan alam.
Marie dan Lyazen tercengang ketika melihat Graylad mengamuk tanpa sebab mungkin Lyazen baru saja mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya seperti berbohong.
"Dasar gadis sialan!!! Kalian berbohong...!!! Jika kalian menyukai alam... kenapa mencoba untuk membuat rumah melalui alam itu sendiri, hah!?"
"Bahkan sampai mewarnai alam itu dengan warna biru...!!!"
"Perbuatan yang sangat tidak pantas untuk pencinta alam sepertiku...!!!"
"...sekarang kalian mati!!!"
__ADS_1