
"Beval, kapan upacara dan rapat itu akan dimulai? Apakah saya sudah bisa pergi mengunjungi berbagai macam planet untuk mencari seseorang?" Tanya Keith.
"Upacara hanya membutuhkan satu jam lagi untuk dimulai sedangkan rapat itu sendiri tergantung kedatangan para kandidat bersama dengan pengikut yang ia percayai."
"Kau terlihat terburu-buru, apakah sesuatu mengganggu pikiranmu, Keith? Hampir setiap saat kau selalu saja memikirkan tentang seseorang..." Beval mengerutkan dahinya.
"Yah..." Keith langsung tersipu seketika sampai Beval hanya bisa tersenyum serius lalu ia menepuk punggungnya beberapa kali bahwa ia sudah mengerti tentang perasaannya.
"Aku mengerti, melihat dari tatapan seperti itu. Kau masih mencari seorang gadis yang berada di mimpimu ya, kenapa kau tidak mencoba untuk mencarinya di sekitar kerajaan?"
"Aku tidak begitu tertarik dengan gadis lainnya kecuali seseorang yang sudah memberikan diriku sebuah kebahagiaan..."
"...karena dirinya sekarang aku mengerti dengan arti dari kehidupan serta perjuangan, dia hanya meninggalkan diriku kedua mata ini agar aku dapat melihat keindahan dunia dan tentunya kebebasan angin."
"Hm... gadis itu pastinya sangat spesial bagi dirimu, tidak salah lagi Dewa Erion menurunkan bidadari sepertinya untukmu." Beval memegang dagunya.
"Dia memiliki rambut emas yang begitu indah."
"Rambut emas...?" Beval memasang tatapan kaget ketika mendengar rambut emas itu, ia merasa sedikit sensitif ketika mengetahui atau melihat seseorang yang memiliki rambut berwarna emas.
"Apakah mungkin dia satu-satunya pengikut yang masih setia kepada Dewa Shinji?"
"Tidak... dia tidak mengenal Insignia, hanya saja mungkin dia memiliki lambang kepercayaan ketika menepuk dadanya seperti ini." Keith menepuk dadanya sampai mengeluarkan lambang angin.
"Jika kau sempat bertemu dengannya lagi maka aku ingin kau memperkenalkan dirinya kepadaku, aku sangat penasaran dia seperti apa."
"Doakan saja, semoga Dewa Erion bisa mempertemukan kita dengan bidadari emas itu." Kata Keith selagi menyatukan kedua tapaknya untuk memohon kepada angin yang baru saja lewat.
"Shinobu Koneko... nama yang begitu indah..."
***
"Baiklah, anak-anak. Aku memiliki banyak sekali misi yang perlu kalian selesaikan..." Arata membuka lacinya lalu mengambil beberapa catatan dan dokumen di dalamnya.
Kelima gadis itu melihat Arata menempatkan beberapa dokumen dan catatan dengan rapi secara pisah agar mereka dapat memilih untuk menyelesaikan masalah yang mana terlebih dahulu.
"Dengan melihat dan memeriksa semua dokumen serta catatan itu, kalian tahu harus memulai dari mana bukan?" Tanya Arata yang tidak memberi mereka sebuah petunjuk atau keringanan.
"Bebas kalian ingin memilih untuk melakukan apapun, tetapi perlu di ingat bahwa kalian berhak menjaga kehidupan kalian." Arata bangkit dari atas kursi.
"Pertemuan di bubarkan, semoga beruntung atas misi kalian semua." Arata berjalan keluar dari ruangan itu lalu pada gadis juga melakukan hal yang sama mereka berkumpul tepat di hadapan pusat pemberontak itu.
Mereka semua langsung menatap Shinobu yang sedang membaca semua dokumen dan catatan itu dalam satu detik sampai ia berhasil merancang berbagai macam rencana yang dapat mereka pilih.
Setelah itu, ia melihat mereka semua menatap dirinya dengan sebuah senyuman lebar yang menyebabkan dirinya terlihat ketakutan sampai mengeluarkan suara kecil seperti biasanya.
"Fu-Fuehhh...!? Ke-Kenapa...?" Tanya Shinobu yang terlihat malu karena mereka sepertinya bisa mengandalkan dirinya jika berkaitan tentang rencana atau strategi yang perlu mereka ikuti.
"Soal rencana dan strategi tentunya kau yang paling jago bukannya begitu, Koneko~?" Tanya Hinoka.
"Kami akan mengikuti dirimu, kapten. Bukannya setiap misi selalu saja kamu yang merancang rencana sampai menghasilkan kemenangan yang memuaskan?" Tanya Konomi.
"Benar juga sih... kalau begitu Koneko memiliki banyak rencana alternatif yang bisa dicoba... semoga saja berhasil ya." Shinobu terkekeh pelan sampai Koizumi mulai mendekati dirinya lalu mengusap kepalanya.
"Sebelum memulai misi, apakah kamu ingin bertarung denganku sebentar? Sudah lama sekali kau tidak melakukan latih tanding denganku..." Koizumi mengajukan sebuah pertarungan dengannya.
"Aku ingin melihat seberapa jauh perkembangan yang kau capai." Kata Koizumi sampai ia menatap kedua teman dan Hinoka.
"Apakah kalian keberatan? Rasanya cukup tidak adil jika kalian saja yang bersenang-senang bertarung dengan Shinobu sedangkan aku hanya melakukan beberapa latihan kecil bersamanya."
__ADS_1
"Boleh saja kok, Nobu sempat bilang bahwa ia berpikir lebih cepat dan teliti jika dirinya merasakan pemanasan terlebih dahulu." Ako menatap Shinobu sambil ia mulai mengacungkan jempolnya.
"Ayo...!" Kata Shinobu.
***
Shinobu dan Koizumi melayang di atas langit lalu menatap satu sama lain, mereka langsung mengerahkan semua Lenergy yang berada dalam tubuh mereka sampai menyebabkan guncangan di wilayah pegunungan itu.
Shinobu mengeluarkan ikat kepalanya lalu ia langsung menggunakannya dan melepaskan sinar cahaya yang begitu cerah sampai mereka seperti melihat matahari ketika menatap tubuhnya.
"Lepaskan semua kekuatan itu, Shinobu!" Koizumi menarik keluar belatinya lalu ia memegangnya dengan sangat erat.
"Koneko akan berjuang!" Shinobu menarik keluar Keris itu menggunakan ekornya lalu di lempar ke atas sampai ia menangkapnya menggunakan tangan kiri.
"Melihat dirimu yang sudah berkembang dan pesat sampai mau berubah... memberikan diriku motivasi bahwa aku akan menambah kemenangan untuk Ayahku sendiri!" Koizumi melesat menuju arah Shinobu.
Shinobu melakukan hal yang sama sampai serangan yang dilakukan Koizumi mulai ia lepaskan sampai berhasil menebas pipi Shinobu, ia melihat Koizumi melancarkan pukulan melalui tinju kirinya tetapi ia berhasil menangkapnya menggunakan tapak kanannya.
Setelah itu ia mengayun kerisnya dengan penuh tenaga sampai Koizumi membalasnya menggunakan Kerisnya juga, kedua senjata itu langsung saling beradu dan menyebabkan suara yang begitu bising di sekitar mereka sampai menghilang banyak awan di atas langit.
Shinobu dan Koizumi mundur ke belakang lalu melancarkan satu tebasan yang saling mengenai satu sama lain sampai menyebabkan guncangan dahsyat serta dorongan yang menggerakkan rambut Hinoka bersama kedua temannya.
Shinobu dan Koizumi menatap satu sama lain dengan tatapan yang terlihat serius, mencoba untuk mendorong belati yang mereka menuju arah satu sama lain.
Shinobu langsung menendang perut Koizumi lalu terbang ke belakang untuk melepaskan sihir cahaya yang berbentuk matahari menuju arah Koizumi tetapi ia berhasil menebasnya menjadi dua lalu menyerapnya.
Koizumi memutar belatinya yang bersinar merah lalu ia mengayunkannya beberapa kali sampai mengeluarkan gelombang tebasan yang berhasil mengenai lengan kanan Shinobu sampai berdarah.
Semua tebasan itu mulai Shinobu pindahkan menggunakan daun emas yang muncul melalui tubuhnya, semua serangan sihir Koizumi ia bungkus dengan daun lalu memindahkannya ke tempat yang lebih aman.
Shinobu merasakan Koizumi melompati waktu sampai ia berada di belakangnya, wajah Shinobu menerima satu hantaman dari sikut Koizumi sampai dirinya terpental ke belakang.
Setelah itu ia menebas perutnya yang mengandung dorongan besar di dalamnya, cukup untuk melempar Shinobu sampai mengenai gunung lalu membelahnya menjadi dua.
Koizumi mengangkat belatinya ke atas untuk menyerap Lenergy di dalam kehidupan seperti tanaman, tumbuhan, atau pohon lalu mengubahnya menjadi serangan sihir yang membentuk sirkuit merah.
Sirkuit itu melepaskan gelombang merah menuju arah Shinobu tetapi ia melawannya dengan melepaskan sinar matahari melalui mulutnya sampai kedua sihir itu mulai saling mendorong satu sama lain.
"Shinobu! Lepaskan semuanya!!!" Seru Koizumi.
Shinobu melihat gelombangnya melesat meninggalkan planet itu sehingga ia sadar bahwa waktu telah melompat lagi, tubuhnya menerimanya satu tendangan dari Koizumi yang sudah berada di hadapannya.
Shinobu langsung menebas semua serangan Koizumi, mata buatannya bisa melihat semua pola serangan Koizumi sampai ia memerlukan waktu yang pas untuk menyerang balik.
Shinobu menemukan celah yang pas, ia menghantam perut Koizumi cukup dalam sampai ia memuntahkan banyak darah melalui mulutnya lalu melihat bahu Shinobu membentuk sebuah tangan robot yang memancarkan cahaya emas.
Tangan robot itu langsung menghantam wajah Shinobu lalu melepaskan Golden Repulsor yang mementalkan dirinya ke belakang sampai mengenai beberapa pohon.
"Ahh! Kedua tangan robot tambahan itu bisa dijadikan untuk bertarung ya!? He-Hebat sekali!" Konomi melihat kedua bahu Shinobu menumbuhkan tangan robot.
"Ternyata ilmu alkemis Nobu cukup hebat ya..." Ako tersenyum bangga melihat Shinobu berhasil menguasai sihir alkemis yang membantu dirinya untuk tetap melangkah maju.
Shinobu terbang ke atas langit lalu melihat Koizumi mendekat, ia melompati waktu tetapi Shinobu mengetahui dia akan pergi kemenangan sehingga kedua lengannya bersama tangan robotnya menghantam kepala Koizumi sampai ia terjatuh.
Shinobu mengangkat lengan kanannya sampai menumbuhkan pohon emas di atas tanah yang menghantam punggung Koizumi sampai terpental kembali menuju arah Shinobu.
Shinobu langsung menendang pinggangnya, Koizumi membalasnya dengan menebas perut Shinobu, lagi-lagi Shinobu membalasnya dengan menghantam wajah Koizumi menggunakan tinju robotnya sampai hancur.
Koizumi menendang dada Shinobu menggunakan sikutnya sampai punggungnya melepaskan dorongan yang besar, Shinobu menyerang balik dengan mencakar wajah Koizumi sampai meninggalkan bekas luka.
__ADS_1
Koizumi menusuk lengan kanan Shinobu, Shinobu langsung membalas dengan mencekik leher Koizumi menggunakan ekornya lalu menghantam wajahnya dengan keningnya sendiri.
Konomi dan yang lainnya langsung terlihat khawatir dengan latih tanding tersebut.
Mereka seperti mencoba untuk bertarung sampai mati karena keagresifan mereka yang begitu menyeramkan karena luka yang mereka terima cukup fatal.
Shinobu menggerakkan ekornya untuk memutar tubuh Koizumi lalu ia melemparnya ke atas langit dan mengeluarkan pembakaran melalui kedua tapaknya yang sudah ia pasang dengan alatnya juga.
"Bertarung dengan Koneko menggunakan kekuatan penuh!!!" Teriak Shinobu keras.
Koizumi langsung mengerahkan kekuatan penuhnya sampai ia melihat Shinobu mengeluarkan kemampuannya itu yang bernama Light of Hope dengan tingkatan seribu sampai pergerakan mereka sudah tidak bisa di lihat oleh teman-temannya.
Shinobu menebas pinggang Koizumi sedang Koizumi menusuk perut Shinobu sampai meninggalkan belati tersebut karena ia langsung menghantam wajahnya tetapi Shinobu langsung menendang dagu Koizumi cukup keras sampai melemparnya ke atas.
"Maju, Shinobu!!!"
"ROOOAAAARRRRR!!!" Shinobu meraung keras lalu melesat menuju arah Koizumi sehingga Koizumi juga melakukan hal yang sama dengan memancarkan cahaya melalui tato Greednya.
"GOLDEN OVERDRIVE!!!" Sebuah logam mulai membentuk tangan robot yang melindungi lengan kanan Shinobu seperti zirah, logam itu memancarkan sumber cahaya yang begitu cerah terutama lagi di bagian tinjunya.
Koizumi mencoba untuk menghentikan waktu tetapi Shinobu langsung tak terpengaruh dengan penghentian itu.
"Percuma saja..."
"...aku mengetahui strukturnya."
"The Mind membantu diriku untuk kebal dengan kemampuan waktu yang dapat kau kendalikan sesukamu secara keseluruhan!"
"Begitu ya..."
"Jadi ini adalah alasan kenapa kau tiba-tiba kebal dengan serangan yang sudah diketahui oleh The Mind... Koizumi tersenyum serius.
"Aku penasaran apa yang akan terjadi ke depannya dengan kemampuan ini..."
Shinobu dan Koizumi langsung melancarkan satu pukulan yang saling beradu sampai menyebabkan kehancuran yang begitu dahsyat.
Daratan langsung retak dan terbelah menjadi dua bahkan teman-teman mereka langsung terpental ke belakang sehingga Ako menciptakan sebuah pelindung besar untuk menahan tekanan dan dorongan yang mereka lepaskan..
Setelah kehancuran itu selesai, Hinoka memasang tatapan kaget ketika melihat Shinobu dan Koizumi saling membelakangi dengan lengan kanan mereka yang masih terulur ke depan.
Shinobu langsung terjatuh sampai cahaya ditubuhnya menghilang seketika, Koizumi berdiri di atas langit lalu menoleh ke belakang dan melihat Shinobu yang terjatuh menuju arah dirinya.
Koizumi langsung menangkap dirinya dan mendarat di atas tanah yang sudah hancur menjadi kepingan kecil, ia tersenyum ketika melihat Shinobu yang sedang memasang senyuman puas.
"Mari kita berkembang lebih jauh lagi... sejauh-jauhnya sampai batasan itu tidak memiliki arti bagi kita."
"Apakah kalian gila!? Kalian ini sebenarnya bertarung atau saling membunuh satu sama lain!?" Seru Konomi yang melihat Koizumi dipenuhi dengan luka tusuk, tebas, dan bekas memar dari pukulan.
Lengan kanannya juga patah karena mengadu pukulan dengan Shinobu, Shinobu juga memiliki luka fatal yang sama dengan Koizumi sampai mereka berdua hanya bisa mengeluarkan tawa kecil.
"Ahahaha... bukannya kita sebagai bangsa Legenda di larang untuk menahan diri dalam pertarungan apapun?" Tanya Shinobu dengan tatapan polosnya.
"Jarang sekali aku mendengarnya darimu... kamu memang sudah berubah." Koizumi mengelus kepala Shinobu sampai Konomi memberi mereka sebuah ramuan yang cukup untuk menyembuhkan semua luka itu.
"Kalian memang gila..."
Sedangkan itu... di balik gunung terdapat Shira, Haruki dan Arata yang sedang taruhan, "Cucuku menang, mana janjimu, Shira?"
"Cih." Shira memberikan satu kantung berlian kepada Arata.
__ADS_1
"Lihat saja... taruhan selanjutnya aku akan menang!"