
Shinobu mengambil beberapa bibit emas di dalam tabung itu lalu ia memberikan sebuah kecupan untuk Eo yang sudah berusaha keras menjadi peliharaan penurut di hadapannya.
Bibit yang Shinobu ambil dapat melahirkan sebuah bunga matahari besar dimana mahkotanya akan mengeluarkan seluruh Gildritch yang sudah ia masukkan dan amankan agar mereka bisa berkembang di dalam dimensi sakunya yang berbentuk bunga.
Shinobu mengenakan kacamatanya hanya untuk menghitung jumlah berapa hari lagi Ragnarok akan dimulai, hanya tersisa dua hari lagi sebelum mereka menghadap perang akbar.
Dimana yang mereka terpaksa harus saling membunuh satu sama lain dengan cara menghakimi dalam perwujudan bertarung, entah sampai kapan mereka semua akan bertahan.
Semakin hari mendekat perasaan Shinobu bertambah semakin tidak enak sehingga ia setiap malam selalu saja memikirkan sesuatu yang buruk secara berlebihan sampai air matanya mengalir keluar tanpa disadari olehnya sendiri.
"Apakah kita bisa terlepas dari semua perbudakan ini jika berhasil memenangkan Ragnarok...?"
"Layer... masih ada dunia atau ruangan lainnya di atas layer yang kemungkinan menanggapi kita sebagai fiksi dalam sebuah cerita." Shinobu mulai melangkah keluar dari ruangan bawah tanah untuk mendatangi seseorang.
"Aku tidak bisa menggunakan The Mind dalam medan perang karena semuanya sudah aku gunakan untuk memperbaiki Touriverse yang penuh dengan kekacauan..."
"...jika kita berhasil terlepas dari layer itu maka akan aku hancurkan Touriverse bersama layer lainnya untuk memberikan kebebasan yang dibutuhkan oleh mereka." Ucap Shinobu sehingga kedua matanya langsung memerah.
"Membangun kembali sesuatu sesuai dengan pandanganku sendiri, seseorang yang mencoba untuk menghalangi diriku sudah pasti tidak bisa bertahan dari cahaya harapan yang aku lepaskan."
"Aku juga masih harus mengembangkan tubuhku ini agar bisa terbiasa menggunakan The Mind tanpa batasan apapun, jika aku berhasil membuka persentase yang ke empat maka semua itu sudah cukup..."
"...tetapi sekarang aku lebih mengutamakan untuk menerima segala cahaya agar bisa menjadi perwujudan dari cahaya itu sendiri agar semua kekuatan yang aku butuhkan bisa digunakan berdasarkan usahaku."
***
Korrina duduk di atas kursinya selagi menghadapi berbagai macam catur serta tumpukan kertas, ia sudah menghabiskan waktu selama dua hari penuh hanya untuk menyiapkan berbagai macam formasi dan strategi.
Sisanya bisa diserahkan kepada Shinobu yang akan menyetujuinya, tetapi saat ini mereka semua masih sibuk sampai ia hanya bisa bekerja sendirian bersama Ophilia yang datang membawakan dirinya sebuah bir.
"Mungkin kamu membutuhkan sedikit istirahat kecil karena sudah memenuhi ruangan ini dengan banyak sekali catur, simulasi teknologi, dan catatan."
"Ahahaha, aku hanya terlalu mengkhawatirkan generasi ini untuk menghadapi perang akbar itu, intinya kita semua harus bisa bertahan." Korrina memeluk meja lalu ia bangkit dari atas kursi untuk melakukan sedikit peregangan.
"Dua hari lagi ya, waktu memang berlalu begitu cepat ketika kau bersenang-senang dan bekerja keras." Korrina mengambil segelas bir itu lalu meminumnya sampai habis.
Ophilia hanya bisa memperhatikan Korrina yang tidak mengalami perubahan sama sekali, ia sudah pasti akan terlibat dengan masalah besar seperti ini salah satunya adalah Ragnarok ke satu dan kedua dimana ia yang merancang strategi itu.
"Korrina, apakah kamu menyadari semua perubahan yang ada di hadapan kita semua?" Tanya Ophilia.
"Ya... sejak aku dulu aku tidak berharap terlalu banyak soal kemenangan atau kedamaian, awalnya aku pikir akhir dari kehidupan adalah dimana Ragnarok telah muncul."
"Tetapi yang bertahan akan selalu melanjutkan tekad dan harga diri mereka yang sudah gugur dalam perjuangan untuk membawa layernya menuju puncak kemenangan yang tinggi."
Korrina menyalakan rokoknya lalu ia mengalihkan pandangannya keluar jendela hanya untuk melihat pemandangan cara, "Mereka yang gugur tidak akan bisa melihat pemandangan seindah ini."
__ADS_1
"Maka dari itu aku hanya perlu berjuang sekeras mungkin untuk memenuhi tanggung jawab diriku yang selalu ditinggalkan..."
"...walaupun cukup menyedihkan dan aneh sekali tetapi ini yang terakhir kalinya aku mengakui dirimu sebagai seorang Dewi Kountraverse untuk membantu penghuninya meraih kemenangan."
"Kamu memang seperti itu ya... melakukan apapun sebisa mungkin dalam keadaan darurat, dulu juga aku tidak begitu menyangka bahwa kamu adalah seorang Dewi Touriverse."
"Mungkin semua itu masuk akal karena kamu sendiri yang memberikan pesan itu kepada Zoiru sampai seluruh penghuni Touriverse dulunya bersemangat untuk bertarung demi meraih kemenangan."
"Tetapi sekarang bisa dibilang sangat miris ketika mengetahui semua penghuni Touriverse menanggapi penghuninya sendiri sebagai musuh utama bukan mereka yang sudah memperlakukan kita seperti budak."
Korrina menatap Ophilia dengan tatapan bersyukur, "Aku hanya bisa merasa senang untuk bertahan bersama dirimu dari era kuno sampai era modern ini..."
"...bukannya terasa sangat gila? Kita yang berumur jutaan tahun lebih masih bisa menghembus nafas hanya untuk melihat perubahan yang terjadi secara baik dan buruk?" Tanya Korrina yang mencoba untuk tetap positif.
"Kau benar... kita juga perlu bertahan setelah Ragnarok ketiga selesai, aku bisa menyerahkan sisanya padamu dan Shinobu yang sudah pasti bisa membantu penghuni Touriverse bebas dari perbudakan layer."
Korrina duduk kembali di atas kursi untuk melanjutkan tugasnya merancang strategi serta melakukan simulasi pikiran dengan membayangkan medan tempur.
"Mungkin kamu membutuhkan waktu sendirian untuk mengurusinya, aku tidak ingin mengganggu dirimu yang selalu fokus dalam keadaan seperti ini."
Ophilia melangkah pergi meninggalkan Korrina yang sempat mengucapkan selamat tinggal kepada dirinya, ia langsung menghentikan langkahnya itu untuk melirik ke belakang.
"Korrina, mungkin aku membutuhkan waktumu selama beberapa detik saja..." Ophilia tersenyum kepada Korrina yang menatap dirinya dengan ekspresi bingung.
"Hah...?"
"Aku pikir... aku perlu memberitahu dirimu tentang sesuatu yang penting, sesuatu yang seharusnya kau dengar selalu karena sudah menanggung semua kesakitan itu sendirian."
"Aku bangga padamu..."
Korrina sempat tersentuh dengan kata-kata tersebut yang belum pernah ia dengar dalam waktu cukup lama sekali, "... ..."
"Melihat dirimu dulu dan sekarang... entah kenapa aku merasa sangat bangga padamu, dan aku menyayangimu sebagai teman masa kecil..."
"...yang sudah selalu bersama hampir seumur hidup saling mendukung satu sama lain, inilah hasil yang kita dapatkan dari perjalanan nol sampai titik ini."
"Sekarang, kembalilah bekerja." Ophilia pergi meninggalkan ruangan tersebut sampai Korrina hanya bisa diam lalu mengangguk pelan sehingga ia kembali mengerjakan formasi dan strateginya.
***
Hanya tersisa satu hari lagi sebelum mereka semua terseret menuju ruangan ketiadaan untuk melakukan perang akbar agar mereka bisa saling menghakimi satu sama lain dengan cara membunuh.
Mereka semua sudah berkumpul di hadapan istana, mendengarkan semua formasi dan strategi yang sudah Korrina ciptakan serta disetujui oleh Shinobu.
Mereka terus mendengarnya tanpa henti sehingga yang paling utama dalam perang Ragnarok adalah bekerja sama agar bisa mempermudahkah pertarungan mereka ketika mencoba untuk melawan seseorang yang kuat.
__ADS_1
"Dengan bangsa Giblis serta pasukan Mecha Neko bersamaan dengan seluruh robot dari Xuusuatouri yang memimpin barisan depan maka kita bisa langsung fokus menyerang barisan tengah musuh..."
"...rata-rata pasukan depan kita hanya memerlukan beberapa orang yang sanggup untuk menerima serangan sebanyak dan sekuat apapun."
"Tetapi yang membuatku khawatir adalah barisan paling belakang dimana bangsa Malaikat, Elf, Mermaid, dan Dryad mencoba untuk mendukung barisan depan."
"Kedua belah pihak memiliki jumlah yang tak terhitung jadi satu-satunya cara kita bertahan adalah menjaga setiap posisi dan mempersiapkan diri untuk menyambut serangan apapun itu..."
"Maupun kau berjuang secara individu atau beregu, aku tidak begitu yakin kita semua dapat bertahan cukup lama..."
"...kematian memiliki kesempatan yang besar untuk mendatangi kita tetapi jangan kalian takut dengan kematian karena mati dalam sebuah perang adalah mereka yang dipenuhi dengan kebanggaan!!!"
Korrina mulai menyemangati seluruh bangsa Legenda yang tidak kenal takut akan kematian karena sudah terbiasa berperang dalam situasi apapun, untuk sekarang ia hanya bisa memberikan formasi itu kepada Legenda terlebih dahulu.
Sisanya adalah besok dimana Korrina dan Shinobu akan menghadapi seluruh penghuni Touriverse untuk membahas kembali formasi serta memberikan mereka semua semangat dalam perang akbar.
Tidak ada satupun orang yang mengeluarkan keluh kesah apapun ketika mendengar rencana Korrina, bisa dibilang rencananya bermain aman untuk barisan belakang tetapi untuk barisan depan terpaksa harus mengorbankan diri.
Dan itu rata-ratanya adalah pasukan yang tidak memiliki nyawa berharga seperti robot, Astral, dan lain-lain. Mereka semua bisa mengacaukan formasi musuh barisan depan terutama lagi lima Gildritch yang Shinobu bawa.
"Pasukan barisan depan yang memiliki ukuran besar juga masih bisa dilawan balik dengan Beast Mecha Neko dan Gildritch." Korrina menunjukkan gambaran yang dapat mereka lihat.
Dengan bantuan teknologi Xuusuatouri, Korrina dapat memperlihatkan medan perang virtual dimana pasukan dari kedua sisi saling berhadapan.
"Bangsa Golem juga bisa menjadi bantuan yang cukup efektif untuk menghentikan pasukan Serpentine yang memiliki peliharaan ularnya yang dapat membesar."
"Mungkin itu saja yang bisa aku bahas, kita sebagai bangsa Legenda dapat memilih posisi apapun terutama lagi menjaga posisi paling belakang yaitu melindungi anak-anak dan bayi." Korrina bertepuk tangan sampai mematikan teknologi tersebut.
Mereka semua diberikan waktu untuk berdiskusi sampai sebagiannya juga merasa bangga terhadap satu sama lain berkat perkembangan yang dapat di rasakan, "Kak Koizumi terlihat sangat berbeda..."
"...terutama lagi cincin merah ini." Shinobu dapat melihat cincin di jari Koizumi sampai ia hanya bisa menjawabnya dengan sebuah usapan di bagian kepala.
"Aku juga menyadari perkembangan besarmu, setelah kita berhasil memenangkan Ragnarok maka aku tidak sabar untuk menghadapi dirimu..."
"Mmm~ kalau begitu, Koneko ingin meminta bantuan kepada Kakak."
"Bantuan apa itu?"
"Sebagian dari penghuni neraka adalah mereka yang sudah mati, arwah dari penghuni yang mati akan menembus semua dosa perbuatan mereka dengan menerima siksaan dalam neraka."
"Karena mereka semua sudah menjadi pasukan Kakak maka aku ingin membawa seseorang..." Kata Shinobu.
"Dan siapa orang yang kau bicarakan ini?"
__ADS_1
"Demetrio."