Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 748 - Menuju Perjalanan yang Panjang


__ADS_3

"Apa kok bilang tadi, Liberon? Kau gagal untuk mengalahkan Koizumi dengan sihir tak kasat mata itu...?" Tanya Leon yang mulai menoleh ke belakang.


Dirinya hanya melihat tiga kesatria zodiak tersisa, salah satunya sudah tiada, kemungkinan besar gugur di pertarungan melawan Koizumi, melihatnya saja membuat dirinya yakin bahwa ia tidak dapat diremehkan begitu saja.


"Mories sepertinya gugur... sialan, padahal dia memiliki kekuatan zodiak Aries berdasarkan kekuatan besar yaitu Super Strength, tetapi ia kalah begitu cepat." Leon memegang dagunya.


"Semua kekalahan itu di sebabkan satu hal... rasa amarah yang begitu tinggi... membangkitkan kekuatan besar..."


"... menyebabkan penderitaan abadi untuk Mories... sungguh kejam... Koizumi itu..."


Mereka langsung menatap kepada seorang gadis yang sedang berbicara selagi melakukan meditasi, Leon melihat kedua matanya tertutup sedangkan mata ketiganya yaitu di bagian kening terbuka lebar.


"Sepertinya kau menggunakan salah satu dari kekuatan [Sixth Sense] itu ya... apakah kau mencoba untuk membawa peristiwa masa lalu, Cordelia?"


"Tentu saja... bukannya itu lebih membantu kalian... untuk mencari tahu kekuatan seperti apa yang mereka miliki..." Cordelia bangkit lalu ia menghadapi mereka dan menghilang mata ketiganya.


"Aku sudah melepaskan sebuah roh untuk mengawasi mereka semua, aku yakin salah satunya tidak bisa merasakan keberadaan roh yang sudah di bantu oleh kemampuan tak kasat mata milik Liberon."


"Seperti biasanya, aku selalu bisa mengandalkan dirimu tentang pengintaian dan bahan informasi penting..." Leon mulai menepuk kepala Cordelia.


"Itu artinya aku ingin menyimpan dirimu lebih lama lagi... kemampuan yang kau miliki dapat memberikan diriku kesempatan untuk menang." Leon menyentuh dagu Cordelia lalu menatap kedua tatapannya.


"Hiiiii... kok rasanya geli-geli gimana ya..." Ucap Senzu dengan tubuh yang bergetar ketika melihat seorang pemimpin bersama bawahnya memiliki hubungan dekat seperti pacar.


"Hoeeekkkk...! Jangan bermesraan di markas ini lah...!!!" Senzu mulai muntah asli sampai mengejutkan semua kesatria termasuk Leon dengan tatapan datar karena ia terlalu jujur dengan dirinya sendiri.


"Lebih baik aku mati saja... tidak ada gunanya hidup berdekatan dengan cinta..." Ariana berbaring di atas lantai dengan ekspresi suram.


"Ka-Kapan... Kapan aku bisa memiliki seorang gadis yang mau mencintaiku!?" Kanzer mulai menangis keras.


Para kesatria zodiak seperti biasanya menunjukkan sikap mereka masing-masing, hanya Scorch, Tauros, dan Liberon yang bersikap serius karena mereka lebih mementingkan kondisi dari kelima pemberontak itu.


"Apa yang kau rasakan ketika melawan Shimatsu Koizumi..." Tanya Tauros kepada Liberon.


"Aku sudah melawannya... walaupun sebentar, tetapi ia tidak mau menunjukkan kemampuannya untuk menghentikan waktu." Jawab Scorch lalu ia menatap Liberon yang memasang tatapan kesal.


"Dia sangat kuat dan cerdas... benar-benar seperti senjata mematikan yang di latih dari kecil..." Liberon mengepalkan kedua tinjunya karena kemampuan tak kasat mata itu tidak mampu mengakhiri pertarungan lebih cepat.


"Seharusnya kalian sadar bahwa pemberontak yang di lawan oleh kalian itu adalah campuran dari keturunan Shimatsu dan Comi..." Kalya mulai berbicara di belakang mereka.


"...keduanya sangat gila dalam pertarungan bahkan bisa saja berkembang pesat karena mereka dapat melakukan latihan tanpa henti."


"Shimatsu... keturunan pembantaian... Comi keturunan kutukan... kutukan yang bukan hanya merugikan dirinya melainkan kita semua."


"Aku tahu itu... hanya saja dia memiliki kekuatan dosa kerakusan, di tambah lagi kemampuan waktu yang bertahan selama lima detik..." Kata Scorch.


"Dia benar, sihir Crimson nya juga bahkan menyebabkan tanganku seperti ini..." Liberon menunjukkan lengan kanannya yang memiliki luka bakar berwarna merah.


"Sungguh menyebalkan... aku ingin bertemu dengan pemberontak yang bernama Koizumi... dia pasti tidak akan memiliki kesempatan dengan [Atmokinesis]." Tauros mengeluarkan nafas yang besar melalui zirah kepalanya.


"Jangan terlalu fokus dengan Koizumi." Leon mulai mendekati mereka bersama Cordelia yang sudah mengumpulkan semua informasi tentang rekan Koizumi melalui [Sixth Sense].


"Ada apa, pemimpin? Apakah kau sudah menemukan informasi lain dari keempat bocah yang ikut bersamanya?" Tanya Scorch.


"Kenapa menanyakan hal tersebut kepada diriku? Justru Cordelia yang berhasil menemukannya menggunakan [Psychometri]."


Leon membiarkan Cordelia untuk maju ke depan lalu mengeluarkan sebuah buka dengan pensil yang melayang di belakangnya karena bantuan dari roh yang sudah menemukan informasi mereka.


"Aku sudah melepaskan beberapa roh untuk menjaga mereka... menggunakan Psychometri juga tidak ada masalah..."


"...pensil yang terus menulis ini akan... menjelaskan kita tentang keempat Legenda yang ikut dengannya..." Cordelia mengatakannya selagi memejamkan kedua matanya karena ia jatuh tertidur.


"Psychometri... kemampuan untuk menggali informasi melalui benda apapun..." Kata Liberon sehingga buku itu mulai melayang lalu menunjukkan semua isinya di hadapan mereka.

__ADS_1


"Ternyata mereka juga tidak jauh berbeda dari Koizumi... terutama Hinoka, dia dapat mengubah apapun menjadi ledakan yang menghitung mundur jika menggunakannya dari jarak jauh." Kata Tauros.


"Hei, Tauros, apa yang akan terjadi jika Hinoka meledakkan alat kelaminku?" Tanya Senzu selagi menahan tawanya, ia langsung menerima embusan angin yang melempar dirinya ke belakang.


"Ternyata benar-benar mengerikan... bukan hanya Hinoka tetapi semuanya tidak bisa kita remehkan begitu saja." Kata Viz.


"Ya... kita juga tidak bisa bersembunyi terlalu lama karena mereka akan terus mencari informasi tentang keberadaan kita..." Leon mulai berbicara seperti pemimpin.


"...kita juga perlu menjaga identitas sang penyihir agar ia dapat memperoleh kemudaan untuk melakukan berbagai macam eksperimen."


"Hanya saja... kesulitan yang kita hadapi adalah Shinobu dapat membaca pikiran dan menggali informasi di dalam otak kita tanpa masalah."


"Itulah kenapa kita harus berhati-hati." Peringat Leon sehingga mereka mengangguk, mencoba untuk merancang sebuah rencana agar bisa memusnahkan kelima Legenda yang mencoba untuk menghancurkan reputasi kesatria zodiak.


"Kemana yang lainnya?" Tanya Scorch yang menyadari beberapa kesatria zodiak menghilang.


"Aku memberi mereka misi untuk menahan kelima Legenda itu agar mereka tidak menemukan markas ini..."


"...intinya kita harus mempersiapkan apapun karena memusnahkan kelima Legenda seperti mereka akan memberikan kita banyak imbalan." Leon berjalan pergi.


***


"Hwahhhhh... lelahnya... kenapa kita masih belum sampai di kerajaan selanjutnya?" Tanya Hinoka selagi merentangkan kedua lengannya.


"Jika kita terbang maka semuanya akan berjalan dengan cepat..." Perkataan Hinoka mengandung banyak keluhan sampai Koizumi mulai menyentil keningnya.


"Tidak ada namanya mengeluh untuk harga diri seorang Legenda yang layak, lebih baik kau pulang saja sana sendiri."


"Koizumi, kejam sekali~ Ugghhh... colek~" Hinoka mulai mencolek perut Koizumi sampai menyebabkan tubuhnya tegang seketika lalu ia maju ke depan dan menatap Hinoka dengan tatapan kesal.


"Sekali lagi kau melakukan itu maka aku akan menendang dirimu ke dalam sungai...!" Koizumi mengatakannya dengan ekspresi kesal karena colekan yang Hinoka lakukan terus mengejutkan dirinya.


"Hehehe~ Aku bosan... colek~" Hinoka mencolek pinggang Konomi sampai membuat tubuhnya tegang lalu ia melarikan diri ke arah Koizumi untuk menjaga jarak.


"Hinoka, hentikan...!"


"Ya... jika kau ingin mati kelaparan maka silakan karena kami akan menemukan sesuatu yang cukup baik untuk di makan." Koizumi terus memetik beberapa buah yang ia temukan.


"Lebih baik kamu juga membantu, Hinoka. Kami sudah memetik banyak sekali buah dan sayuran tetapi kamu hanya bermalas-malasan." Kata Konomi.


"Malas sekali... lebih baik aku menendang bokong monster lalu mengubahnya menjadi daging panggang dengan sihir ledakan." Hinoka mencoba untuk mencari monster atau makhluk hidup.


"K-Kenapa kita tidak boleh terbang ya...?" Ako mulai berbicara kepada Shinobu yang sedang membaca buku selagi melangkah ke depan tanpa melihat jalan karena ia juga sedang melakukan latihan dan belajar dalam waktu yang sama.


Ako melihat Shinobu terlihat seperti tidak mendengar dirinya, "Ummm... Shinobu..."


Ako menyentuh punggung Shinobu sampai mengejutkan dirinya, "Eeeppppp...!!!"


Shinobu melompat dan melempar buku yang ia baca secara tidak sengaja sampai menyangkut di atas pohon, "Akan aku ambil~!"


"Ma-Maaf, Shinobu...!" Ako mencoba untuk menundukkan kepalanya sehingga Shinobu juga melakukan hal yang sama sampai ujung kepala mereka saling menabrak.


""Aw!!!""


Shinobu dan Ako menatap satu sama lain lalu mereka mencoba untuk meminta maaf tetapi berakhir terjatuh karena ujung kepala mereka yang saling bertabrakan lagi.


Shinobu langsung terkekeh sehingga Ako juga ikut tertawa karena mereka sama-sama ceroboh, "ehehe... maaf ya..."


Koizumi melihat Shinobu dan Ako menumbuhkan hubungan yang baik, itu adalah pertanda yang cukup hebat karena ia ingin sepupu kecilnya bisa akrab dengan siapa pun lebih cepat.


Shinobu mulai membantu Ako untuk berdiri lalu tubuhnya menerima sebuah pelukan dari belakang oleh Hinoka, "Sepupu kecilku~ sepertinya sudah bisa akrab lebih cepat~"


"Kak Hinoka... bukunya..." Shinobu mulai tersipu lalu ia mengulurkan lengan kanannya ke depan sampai Hinoka memberikan buku tersebut kepada dirinya.

__ADS_1


"Te-Terima kasih..."


"Ucapan terima kasih belum cukup, sini-sini..." Hinoka jongkok lalu ia mendekati Shinobu selagi menunjukkan bibirnya yang siap untuk menerima ciuman darinya.


"Fueeehhhhhh!?"


"Hinoka... jangan mengganggu, Shinobu... dia tidak menyukainya..." Ako mulai melindungi Shinobu dengan menghalang dirinya.


"Hehhhhh... buuuuuuu..." Hinoka menundukkan kepalanya lalu ia melihat kedua gadis kecil itu berjalan pergi selagi membaca buku bersama.


Hinoka melompat tinggi ke atas lalu mendarat di sebelah Koizumi untuk menggenggam tangannya, "Kenapa? Apa yang kau inginkan sekarang...?"


"Kita sudah sampai?"


"Belum..."


"Kenapa kita tidak boleh terbang...!?"


"Terbang akan menyebabkan banyak perhatian di sekeliling alam, jalanan, dan kerajaan jadi kita harus berhati-hati agar bisa di anggap sebagai pengembara."


"Begitu ya---" Perut Hinoka langsung mengeluarkan suara karena ia sudah berjalan selam berjam-jam tanpa mengisi perutnya dengan cabai yang ia jadikan sebagai camilan perjalanan.


"Bisa tahan rasa lapar itu? Sebentar lagi kita akan tiba di kerajaan Lesolvia... terdapat banyak sekali makanan lezat di sana bahkan kita juga bisa menanyakan informasi tentang kesatria Zodiak."


"Tapi aku tidak bisa menahannya, buuuu... kenapa kamu tidak bisa merasakan keberadaan kesatria yang sudah kau lawan itu?!"


"Sulit untuk di lakukan karena mereka memiliki kemampuan yang dapat menyembunyikan keberadaan itu..."


"...aku hanya bisa berharap bahwa kita dapat bertemu dengan salah satu kesatria itu agar Shinobu dapat membacanya seperti buku." Koizumi menyilangkan kedua lengannya.


"Aku benar-benar lapar...!!!" Seru Hinoka sehingga ia melihat Koizumi diam dan membiarkan dirinya terus mengeluh tanpa batas.


"Aku ingin buah---"


"Maaf, Hinoka, Koizumi bilang buah ini untuk kita santap ketika dalam perjalanan di malam hari." Jawab Konomi.


"Buuuu! Buuuu! Ternyata kau berada di sisinya..." Hinoka mulai cemberut sampai ia menyilangkan kedua lengannya lalu menatap Ako dan Shinobu yang sedang membaca buku di belakang.


Hinoka mendekati mereka lalu ia melakukan serangan kejutan dengan memeluk mereka secara bersamaan selagi menggigit pipi mereka satu per satu.


"Kalau begitu, aku terpaksa harus menggunakan makanan darurat seperti mereka!" Hinoka menghisap pipi Ako dan Shinobu sampai mereka menjerit ketakutan.


Konomi dan Koizumi menatap Hinoka dengan tatapan datar lalu mereka menatap satu sama lain.


"... ..."


...


...


...


...


...


"Hacchuuu...! D-Dingin sekali..." Kata Hinoka selain memeluk tubuhnya yang basah kuyup karena dirinya telah di lempar oleh Konomi dan Koizumi ke dalam sungai.


Kedua pipi dan keningnya bahkan mengandung tulisan [Mesum] sampai ia tidak bisa menghapusnya sebelum mereka tiba di dalam kerajaan Lesolvia.


"Buuuuu... kalian k-kejam sekali... Aku kedinginan seperti ini..." Hinoka mengembungkan pipinya.


"Sekali lagi kau macam-macam dengan Shinobu seperti bercanda tentang makanan darurat maka kami akan menjadikan dirimu umpan monster!" Ancam Koizumi.

__ADS_1


"Itu benar...!"


"Heehhhhhhhhh...!!?!??"


__ADS_2