Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 28 - Peraturan dan Perkenalan


__ADS_3

Beberapa menit telah terlewati dan pemandu untuk kelas tiga telah datang, ia memegang sebuah buku hologram di tangan kanannya, "Apakah akademi ini dipenuhi dengan teknologi yang mereka sebut dengan nama hologram...? Aneh sekali. Seperti di masa depan saja." Ucap Shira di dalam hatinya, ia mulai melirik ke kiri dan ke kanan untuk melihat semua peserta yang ada di kelas itu dan ternyata ekspresi mereka masih sama.


Shira menghela nafasnya dan mulai teringat Korrina bersama Agfi yang belum datang ke kelas itu, sepertinya mereka berdua benar-benar terlambat. Beberapa menit yang lalu Shira melihat Korrina bersama dengan Agfi, tetapi ketika pembagian kelas telah muncul, mereka berdua hilang entah kemana. Shira hanya bisa diam lalu ia menepatkan dagu-nya di atas meja yang ada di depannya, "Kenapa harus ada acara belajar segala sih... Aku mengharapkan pertarungan yang dipenuhi dengan kekuatan aneh dan kekuatan yang tidak pernah aku ketahui..." Shira menghela nafasnya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu pertanyaan atau bisa di sebut dengan pidato." Ucap si pemandu itu yang mulai menepatkan buku hologram-nya di atas meja yang ada di depan meja semua peserta, ia mulai menghantam meja itu menggunakan kedua telapak tangannya, "Apakah kalian pikir ras seperti kalian itu sama-sama setara dengan kekuatan yang berbeda? Mortal bahkan Dewa dan Dewi tak ada hentinya untuk terus mempermasalahkan pentingnya kesetaraan di antara semua ras maupun itu mortal atau dewa, sama saja."


"Aku adalah pemandu kelas tiga, kalian bisa memanggilku Zuke... Kenapa Zuke? Karena Zuke adalah namaku, kedua orang tuaku sudah pastinya memberi nama itu dan mereka bernama Idrim dan Merna." Pemandu yang memakai baju kerja atau bisa disebut dengan business suit serta dengan kacamata hitam di wajahnya dan pucuk topi untuk menghalang ujung kepalanya memperkenalkan dirinya sebagai Zuke, "HAH! IDRIM! MERNA! Aku akan memanggilmu dengan nama orang tua-mu!" Ucap salah satu peserta yang duduk di barisan meja satu dan dua ke belakang. 


Shira mulai menahan tawa-nya karena biasanya candaan murid atau peserta yang bisa dijuluki murid di akademi itu akan menyebut teman atau seseorang dengan sebutan orang tua-nya jika mereka mengetahui nama orang tau mereka, bahkan guru juga sering diejek dengan panggilan lain misalnya jika guru botak maka sebutannya bisa saja "Bobi" Botak biadab, Zuke menunjuk peserta yang mengejek nama orang tua-nya, "Kamu! Nama kamu siapa?" Tanya Zuke.


"Namaku adalah Shizukaze Shizen dan aku baru saja memanggilmu dengan nama orang tuamu! Idrim! Merna! Hahaha!" Shizen tertawa dan bersikap sangat tidak sopan, "Saya hargai rasa keberanian-mu." Zuke mengangguk lalu ia mulai menekan tombol kecil yang berwarna biru di meja belajarnya lalu muncul-lah beberapa hologram di semua meja peserta dan hologram itu mulai melayang di atas kepala semua peserta, Shizen melirik ke atas dan ia bisa melihat hologram yang menunjukkan angka dua, "Dua...?"


"Angka-angka itu adalah tempat duduk kalian, jadi kalian sudah resmi untuk tetap duduk di tempat kalian masing-masing, tidak boleh pindah. Misalnya kau Shizen memiliki seorang jodoh yang duduk di meja dua lima dan kau duduk di meja dua empat maka kau akan aku hukum." Ucap Zuke, Shizen melirik ke arah meja dua lima dan ia melihat seorang laki-laki yang memakai sebuah kepala serigala di kepalanya, "Hiii... Jijik, itu nanti malah disebut dengan sebutan gay." Ucap Shizen.


"Kok banyak bercanda dan banyak menghabiskan waktu ya..." Shira menepuk wajahnya lalu ia melirik ke atas untuk memastikan dia duduk di meja berapa, "Tiga belas... Meja yang ke tiga belas." Shira mengangguk lalu ia menatap ke bawah dimana ia melihat Megumi yang sedang duduk di meja dua belas.


"Baiklah, berhenti bercanda dan kembali melanjutkan pidato-ku. Ada pepatah, "Seseorang yang terkuat tidak akan selalu diam di yang terkuat dan yang terlemah juga tidak akan selalu diam di yang terlemah. Siapa tahu yang terkuat bisa menjadi yang terlemah dan yang terlemah bisa menjadi yang terkuat. Jadi, hidup dan kekuatan itu akan terus maju tanpa ada sedikit jeda." Ucap Zuke.


"Semua ras dan bahkan dewa sendiri ketika lahir, semuanya setara... Apa ada yang mau komplain tentang dewa yang sudah menjadi dewa ketika masih bayi...? Tidak ada ya? Semua bayi itu setara ketika mereka lahir termasuk ras Legenda yang rumornya ketika bayi itu sudah kuat, tidak... Ada proses-nya, biasanya beberapa hari yang akan terlalui... Bayi-bayi akan berubah dan perbedaan akan muncul dan terlihat dengan mudah."


"Perbedaan itu merupakan hasil usaha akademis seseorang, atau kurangnya kemampuan seseorang. Bagaimanapun juga, mortal dan para dewa-dewi mampu memikirkan diri mereka sendiri. Kesetaraan mungkin sebuah konsep yang palsu, namun ketidaksetaraan kita tetap sesuatu yang sulit di untuk diterima begitu saja."


"Baiklah. Mari mulai ke inti-nya!" Zeku mengambil buku hologram-nya lalu ia membukanya dengan sangat lebar hingga beberapa alfabet mulai keluar dari dalam buku itu dan mulai membentuk sebuah kata di ruangan tersebut, "Canggih sekali... Apakah buku itu berasal dari Xuusuatouri?" Tanya gadis yang duduk di kursi enam belas atau bisa disebut dengan kursi paling depan. 


"Ya... Xuusuatouri adalah semesta yang sangat maju." Alfabet itu mulai membentuk sebuah kata dan Shira bisa melihat kata-kata itu menjelaskan tentang peraturan yang ada di akademi tersebut, "Sebelum kita membaca peraturan, aku lupa untuk memberi sambutan kepada kalian semua peserta." Ucap Zuke yang mulai menatap mereka semua dengan ekspresi yang terlihat serius, "Kalian pasti sudah tahu kenapa kalian mengikuti akademi yang bernama Academy Solicitation ini... Untuk kalian para peserta yang ingin mengikuti Tournament of Solicitation maka kalian harus belajar dan menyelesaikan semua tantangan yang ada di d akademi ini, tantangan-nya akan aku sebutkan satu... Bertarung atau sparring juga itu termasuk dengan tantangan."


"Ada lima kelas dan bisa saja tantangan-nya adalah setiap kelas wajib untuk menyerahkan satu peserta untuk bertarung di arena yang sama. Lima peserta melawan satu sama lain, jadi bisa disebut dengan pertarungan battle royale. Peserta yang gagal dalam melakukan tantangan atau melanggar peraturan maka mereka akan dikeluarkan dari akademi ini secepatnya dan tidak bisa mengikuti turnamen itu." Ucap Zuke.


"Peraturannya mudah untuk dilaksanakan. Sama seperti akademi lainnya, akademi ini menyediakan segalanya yang kalian butuhkan, itu artinya tempat kalian untuk tidur juga ada dan itu bisa di urus nanti ketika kalian sudah mengenal seluruh fasilitas yang dimiliki akademi ini. Tidak boleh ada yang bertarung di area akademi kecuali arena latihan."


"Itu adalah peraturan yang ke satu. Kedua dilarang membunuh atau memperkosa peserta maupun pemandu, itu adalah peraturan yang kalian wajib laksanakan, ketiga tidak boleh berbuat mesum walaupun kalian sudah berpacaran dan menikah, keempat kalian harus mengikuti aturan dan perintah pemandu kalian jika tidak maka kalian bisa saja mendapatkan peringatan dari satu sampai seratus..."


"Kelima, tantangan yang disediakan oleh akademi maupun pemandu harus dilaksanakan, keenam semua peserta diwajibkan untuk datang tepat waktu kalau tidak maka ada hukuman, ketujuh semua peserta yang berada di kelas yang sama diwajibkan untuk bisa di ajak berteman dan di ajak bekerja sama, kedelapan semua peserta tidak boleh meninggalkan akademi ini misalnya pulang menggunakan sihir teleportasi maka itu bisa disebut dengan drop-out, kesembilan seluruh peserta wajib mematuhi semua peraturan yang sama di akademi yang pernah kalian ikuti, aku yakin kalian pernah mengikutinya." Ucap Zuke.


"Kesepuluh... Dilarang melihat hasil pekerjaan orang lain ketika sedang melakukan tes atau ulangan." Ucap Zuke, "Apa kalian..."

__ADS_1


"...MENGERTIIII!?" Teriak Zuke hingga kepalanya membesar dan suaranya mampu mengeluarkan dorongan besar yang mampu membuat semua rambut peserta bergerak, setelah Zuke teriak kepalanya langsung kembali mengecil, "Bau... Mulut-mu bau..." Ucap seorang laki-laki yang sedang duduk di meja sembilan belas, "Aku setuju." Jawab seorang gadis yang sedang duduk di meja dua puluh.


BRAG!!!


Korrina membuka pintu kelas tiga dengan sangat keras, ia datang selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat lelah, "Maaf... Kami telat, hah... hah... hah..." Korrina mulai bernafas berat karena sepertinya ia tidak menghilang karena memiliki urusan penting, Agfi datang lalu ia berjalan menghampiri meja kosong yaitu meja empat belas tanpa mengatakan ucapan maaf kepada Zuke, "Nona Korrina...?" Zuke mulai membulatkan kedua matanya melihat Korrina yang memiliki rambut pendek dan juga ia datang terlambat, Korrina menundukkan kepalanya.


"Tadi aku bersama anakku Agfi memiliki urusan kecil bersama Morgan, jadi maafkan kami berdua karena sudah datang terlambat." Ucap Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat bersalah, secara refleks Zuke mulai menundukkan kepalanya kepada Korrina, seharusnya seorang pemandu tidak boleh membela siapapun maupun dia ini seseorang yang sangat popular, "T-Tidak apa-apa kok, silahkan anda duduk di tempat kosong." Ucap Zuke.


Korrina tersenyum, "Terima kasih." Korrina menghampiri meja lima belas lalu ia duduk di atas kursi selagi mengusap keringat-nya, Korrina mulai melambaikan kedua lengannya kepada semua peserta yang ada di kelas tiga, "Halo semuanya~ Namaku adalah Korrina Ghifari~ Kalian pasti sudah mengenal diriku bukan~?" Tanya Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat sangat ceria.


Semua peserta yang ada di ruangan itu hanya bisa diam, tetapi beberapa peserta mulai ikut melambaikan tangan mereka kepada Korrina, "Sepertinya masih ada peserta yang memiliki hati yang mulia." Shira tersenyum lebar dan ia merasa sangat senang bahwa kelas tiga itu tidak dipenuhi dengan banyak peserta yang memiliki hati dingin.


"Untuk sekarang, kalian dipersilahkan untuk saling memperkenalkan diri karena hari pertama akademi ini penting! Kalian harus mengenal lingkungan akademi." Ucap Zuke, "Silahkan kaliam semua saling memperkenalkan diri, diharapkan untuk kalian semua tidak keluar dari kelas ini. Jika aku kembali maka kita semua harus keluar." Zuke mengambil buku hologram-nya lalu ia berjalan pergi meninggalkan kelas itu.


Seketika Zuke keluar dari kelas, beberapa peserta mulai menaikkan kedua kakinya ke atas meja dan beberapa dari peserta itu mulai mengeluarkan rokok lalu menyalakan rokok itu, setelah itu mereka menghisap rokok yang sudah nyala itu, "Astaga... Kelas yang benar-benar tidak nyaman menurutku." Shira menghela nafasnya pelan. Beberapa peserta lainnya yang sudah mengenal satu sama lain mulai berbicara tentang beberapa hal yang tidak penting dan bukan urusan Shira sama sekali.


Tiba-tiba seorang laki-laki yang memiliki tubuh lumayan kekar seperti petarung sejati mulai bangkit dari kursi sepuluh-nya, ia berjalan ke depan lalu ia mulai menyentuh papan yang ketika disentuh mulai memunculkan hologram, "Semua peserta kelas tiga, apakah saya boleh mengganggu waktu kalian?" Tanya laki-laki itu selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang, ia memiliki rambut hitam yang lumayan panjang dengan poni-nya yang diwarnai hijau.


Semua peserta mulai menatap laki-laki itu dengan tatapan yang terlihat kebingungan, "Namaku adalah Hibiku Zyreon, kalian semua bisa memanggilku Zyreon! Salam kenal!" Zyreon tersenyum, "Untuk kita semua cepat akrab, mari kita semua saling memperkenalkan diri kita!" Beberapa dari peserta itu mulai setuju, "Baiklah, mulai dari meja satu hingga seterusnya!" 


"Aku adalah Souya Naoki! Kalian pasti sudah mengenalku bukan---"


"Si tukang ramen!" Ucap seorang Legenda yang duduk di belakang Naoki, "Ohhh~ Kau pasti sering mengunjungi, toko-ku!" Ucap Naoki selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang, "Kadang... Lanjut kepadaku ya...? Shichiro Haruki, bisa panggil Haruki kok." Ucap Haruki lalu ia menatap jendela kembali, Haruki masih akan tetap mendengar perkenalan terhadap semua peserta, tetapi ia tidak mau menatap penampilan mereka semua.


"Dilanjutkan kepadaku, namaku adalah Isazu Shua, kalian bisa memanggilku Shua. Jangan pernah takut untuk berbicara kepadaku walaupun aku kadang bersikap dingin ya~" Ucap Shua, seorang gadis yang duduk di meja kelima, gadis yang duduk di meja keenam mulai bangkit dari atas kursi selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Hibino Mirai, kalian bisa memanggilku Mirai, tapi jangan panggil aku masa depan ya~ Aku sangat menyukai tumbuhan jadi jangan pernah ada yang menyakiti tumbuhan ya~" Ucap Mirai.


"Masa depan!" Ucap beberapa peserta yang memiliki hati dingin termasuk Shua dan Shizen, "Wahh, pecinta tanaman! Sama denganku~" Ucap Kagura, ia mulai mengacungkan tangan kanannya, Mirai menghela nafas lega karena ia memiliki seorang teman dengan hobi yang sama, Shira membulatkan kedua matanya ketika melihat dua iblis yang duduk di meja tujuh dan delapan, "Ras iblis...? Ini pertama kalinya aku melihat bangsa Iblis."


Dua iblis yang duduk di meja tujuh dan delapan mulai bangkit dengan bersamaan, "Hitomi Yusakage... Namaku itu lumayan panjang jadi mohon dimaklumi. Kami berdua adalah iblis yang berhati murni, jadi kami tidak memiliki rencana jahat atau apapun itu."


"Apa yang dikatakan Yusa benar, kami adalah iblis takdir yang bisa disebut dengan nama Demon Bloodes! Namaku adalah Adara Kyra dan kami berdua adalah iblis yang akan membuat kelas tiga menjadi kelas yang paling bisa dikenal oleh kelas lain serta dengan pemandu lainnya!" Ucap Kyra yang terlihat bersemangat, beberapa peserta mulai bertepuk tangan. Shira hanya bisa tersenyum karena masih ada iblis yang memiliki hati murni sedangkan Korrina terlihat seperti terkejut.


"Demon... Demon... Blood.... es...? Kok namanya tidak terdengar seperti takdir ya...? Ini pertama kalinya aku bertemu dengan iblis yang berjulukan Demon Blood Es." Ucap Korrina yang tidak bisa mengatakan kata Bloodes." Seorang gadis yang duduk di meja sembilan mulai berdiri, "Namaku adalah Fukaru Homura, kalian bisa mengenalku sebagai pengguna api terkuat karena aku sering memenangkan turnamen yang ada di semesta Yuusuatouri." Ucap gadis yang bernama Homura itu, semua peserta mengenal Homura kecuali Shira, mereka semua mulai bertepuk tangan kecuali peserta yang dingin, mereka hanya bertepuk tangan dengan sangat pelan.


"Meja sepuluh itu aku, itu artinya lanjut kepadamu." Ucap Zyreon yang mulai menunjuk Rexa, Rexa mengangguk lalu ia bangkit dari atas kursi, "Namaku---"

__ADS_1


"Meja sebelas itu ditepati oleh anakku yang keempat bernama Rexa Ghifari, aku harap kalian semua bisa berteman baik dengan anakku ya~" Potong Korrina, Rexa mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut. Ia melirik ke arah Korrina dan Korrina ia mulai mengangguk seperti memberi dia jawaban singkat, "Dimengerti." Rexa kembali duduk di atas kursinya, "Meja dua belas dan meja tiga belas ditepati oleh Ryouma Megumi dan Shiratori Shira. Ingat~ Mereka sudah berpacaran jadi jangan coba-coba kalian menjadi seorang pelakor yang mencoba untuk merebut---"


"BAIKLAH!!! ITU INFORMASI YANG TIDAK PENTING, KORRINA!" Teriak Shira, wajahnya mulai berubah menjadi merah tomat, Korrina baru saja sadar ia mengatakan sesuatu yang tidak sopan, "M-Maafkan diriku." Korrina menundukkan kepalanya hingga kening-nya dengan tidak sengaja terkena dengan meja-nya, "Aww...!" Korrina mulai memegang dahinya yang terasa sakit.


"Itu azab-mu!" Ucap Megumi selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat malu, Agfi hanya bisa menghela nafasnya. Agfi mengetahui kenapa Korrina bersikap seperti itu, ia ingin identitas-nya di kenal sebagai seorang gadis yang selalu bercanda jadi peserta yang ada di kelas tiga ini akan mengira bahwa Korrina ini sebenarnya seseorang gadis yang bodoh, "Namaku adalah Agfi Ghifari, anak kedua dari Mama Korrina. Panggil Agfi saja." Ucap Agfi yang memperkenalkan diri dengan ekspresi yang terlihat datar.


Seorang gadis yang memiliki cincin emas di kepalanya mulai bangkit dari kursinya, Shira melihat gadis itu seperti malaikat, "Apakah sekarang aku melihat bangsa malaikat...?" Tanya Shira.


"Halo semuanya~ Aku adalah Hanami Asuka! Kalian bebas untuk berteman denganku dan aku mengijinkan kalian semua untuk membawa-ku jalan-jalan kemanapun kalian mau~ Asuka akan melakukan yang terbaik untuk berteman dengan kalian semua!" Ucap Asuka yang mulai mengacungkan lengan kanannya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat bersemangat, Asuka mulai menunjuk malaikat yang lainnya, ia sedang duduk di meja tujuh belas selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat mematikan. Sepertinya ia tidak mau memperkenalkan dirinya.


"Temanku yang duduk di belakangku bernama Yumesa Chiara, dia ini malaikat yang susah untuk diajak bersosial dan berbicara sih... Aku sarankan kalian semua untuk tidak mengganggu Chiara dan berbicara dengannya, pelan-pelan saja untuk berbicara dengannya." Ucap Asuka, Shira menelan ludah-nya karena ia merasakan aura mematikan di dalam tubuh Chiara, "Seram..."


Gadis yang duduk di meja delapan belas bangkit dari atas kursinya, ia memakai topi penyihir dan itu terlihat pantas baginya, "Perkenalkan para peserta yang ada di kelas tiga, namaku adalah Phoenix Ophilia! Kalian bisa memanggilku Ophi atau Lia... Itu terserah kalian." Ucap Ophilia, ia kembali duduk di atas kursinya, semua peserta mulai menatap Arata.


"Apa yang kalian lihat, hah?!" Tanya Arata yang mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, Shira mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut ketika ia merasakan aura pembunuh Arata yang lebih besar dari Chiara, "Apakah Legenda ini seorang penjahat...?!" Shira mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal lalu ia mengepalkan kedua tinjunya.


"Tenangkan dirimu, Arata" Ucap Ophilia.


Seorang malaikat yang duduk di meja dua puluh mulai bangkit dari kursinya, "Seorang Legenda yang dingin ini adalah kakak-ku, dia bernama Shimatsu Arata, jadi aku sarankan kalian untuk tidak banyak berbicara hal yang menghabiskan waktu bagi dirinya." Ucap gadis itu.


"Namaku adalah Shimatsu Akina, aku ini adalah adik Arata serta aku juga mampu mengontrol Arata. Jika Arata melakukan sesuatu buruk kepada kalian semua maka kalian bisa melaporkannya kepadaku, aku akan membantu kalian." Akina tersenyum lalu ia kembali duduk di kursinya, beberapa peserta mulai menghela nafas lega. Zyreon hanya bisa diam dan melihat semua peserta yang terlihat kuat karena penampilan dan cara mereka berbicara.


"Korrina itu... Aku jadi tidak sempat untuk memperkenalkan diri, baru saja aku ingin memperkenalkan diri dengan cara yang sangat keren..."


Seorang gadis yang duduk di meja dua puluh satu mulai menaikkan kedua kakinya, "Wollandsky Catherine... Namaku terdengar seperti nama manusia, tetapi aku ini seorang Saint Legenda. Salam kenal, itu saja." Catherine terlihat seperti tidak mau menjelaskan semuanya tentang dirinya, seorang laki-laki yang duduk di meja dua puluh dua mulai bangkit dari kursinya, "Ariagaru Hasiyu... Hasiyu saja sudah cukup." Laki-laki yang bernama Hasiyu hanya memperkenalkan dirinya sebentar lalu ia kembali duduk.


Seorang laki-laki yang memiliki beberapa senjata api di pinggang-nya bangkit dari kursi meja dua puluh tiga, "Alexander Gozali, panggil Alexander saja. Seseorang yang mencoba untuk menghabiskan waktuku maka persiapkanlah anggota tubuh kalian yang akan dilubangi dengan peluru-ku." Ucap Alexander yang mengancam mereka, "Sepertinya seorang manusia." Ucap Shira di dalam hatinya.


"WOIIII!!! BANGSAT!!!" Teriak laki-laki yang duduk di meja dua puluh empat, ia menghantam mejanya dengan sangat keras, "Namaku adalah Nakamura Suho!!! Jika kalian para bangsat berani-beraninya mengejekku dan menganggap-ku rendah maka kalian akan siap-siap untuk disiksa habis-habisan oleh Suho yang maha penyiksa!" Ucap Suho, perkenalan Suho mampu membuat Shira menahan tawa-nya karena ia tiba-tiba marah tanpa sebuah alasan.


"Yang terakhir!" Zyreon menunjuk seorang Legenda dimana ia memiliki aksesoris serigala, kepalanya berada di dalam mulut serigala itu, "Akutuka Legetuka..." Legenda itu bangkit dari kursi-nya selagi mengatakan sesuatu yang tidak mereka mengerti termasuk Korrina, "Bahasa Primal Legenda..." Ucap Korrina, dia tahu bahasa itu tetapi dia tidak tahu artinya.


"Lang Fang... Itulah namaku! Aku bisa diajak berteman oleh siapapun kecuali beberapa peserta yang membenci serigala dan pernah membunuh serigala! Akutuka Hajituka Batuka Bertuka...!" Lang mulai menghantam dada-nya sendiri tanpa henti selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius dan mengatakan bahasa yang aneh lagi.


"Seluruh peserta memang berbeda dan kuat... aneh juga bisa termasuk sih." 

__ADS_1


"Setidaknya aku bisa belajar di sini... Aku bisa melihat semua kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki, sepertinya aku akan mendapatkan pengalaman baru di akademi ini! Baiklah!" Shira mengepalkan kedua tinju-nya lalu ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.


__ADS_2