Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 995 - Penghakiman


__ADS_3

Sejak Anastasia berhasil menghapus konsep sihir dengan bantuan dari Eldritch yang sudah mengumpulkan semua esensi kekacauan, karena berhasil menghapus konsep sihir di seluruh dunia yang eksis.


Dan efek tambahannya adalah memberikan kebebasan untuk semua perbatasan terhadap layer serta singularitas yang sekarang sudah tidak dibatasi oleh apapun sampai penghuni itu sekarang bisa bebas.


Zenzaku bangun dari tidurnya, ia bisa melihat beberapa Holy Corpse yang sudah bermunculan di sebelahnya, walaupun semuanya hanya bagian tulang setidaknya ia sudah melangkah lebih dekat menuju dirinya yang asli.


"Aku berhasil membunuh Haruka Comi." Zangetsu melempar jantung Holy Corpse kepada Zenzaku yang langsung mengambilnya sampai ia hanya bisa tersenyum.


"Apakah Anastasia memberikan dirimu sebuah bantuan agar kau bisa membunuh dirinya?" Tanya Zenzaku yang sudah mengetahui jelas bahwa ketiga keturunan Comi telah sepenuhnya gugur.


Ketiga Holy Corpse bagian otak, jantung, dan kedua paru-paru telah berhasil Zenzaku peroleh sampai dirinya sekarang tidak perlu khawatir dengan yang dinamakan kematian ketika sudah menerima jantung dari Holy Corpse.


"Semuanya sudah memasuki fase yang begitu menarik, aku hanya perlu membiarkan mereka melakukan pekerjaanku yang cukup menyusahkan..."


"...dengan ini aku menyetujui yang namanya Ragnarok, antara kedua alam semesta yang menduduki layer paling tinggi." Ucap Zenzaku yang langsung memicu pembukaan portal tepat di belakangnya.


Zangetsu melebarkan kedua matanya ketika Zenzaku baru saja mengucapkan sesuatu yang dapat memicu kehadiran seseorang dalam situasi yang bisa dibilang buruk ini.


"Kebebasan sudah diberikan oleh Eldritch tersebut... itu artinya kau baru saja...!" Zangetsu melirik ke belakang lalu ia melihat seorang gadis berjalan keluar dengan rambut putih yang begitu panjang.


Gadis itu bisa dibilang sebagai Dewi yang menginjak puncak atas ketika ia berhasil masuk ke dalam wilayah yang diduduki oleh Zangetsu dan Zenzaku, dari pakaiannya saja ia terlihat seperti mirip sekali dengan Dewi perang.


"Wah, wah, wah, sudah lama sekali aku tidak menduduki tempat seperti ini..."


"...sungguh perasaan yang begitu nostalgia sekali." Dewi itu melangkah ke depan lalu mendekati Zangetsu yang memasang tatapan kesal ketika melihat kehadiran dirinya.


"Oh, halo, gadis yang terjebak di dalam singularitas hanya untuk mengendalikan peperangan Ragnarok di layer yang lebih rendah dari Kountraverse." Kata Zangetsu.


"Wah, wah, menyambut seseorang yang lebih tua darimu seperti itu ya."


"Apakah kamu sudah tumbuh menjadi Dewa yang kalah oleh seorang mortal rendahan, adik kecilku?" Dewi itu langsung mencekik leher Zangetsu.


Zangetsu tidak bisa bergerak sama sekali ketika menerima cekikan tersebut, perasannya juga tertusuk oleh sesuatu yang begitu tajam ketika Dewi yang memanggil dirinya sebagai adik mengetahui Zangetsu kalah oleh Shira.


"Untungnya Shira tidak membunuh dirimu yang asli ya...? Hanya sekedar Avatar atau wadah yang kau lepaskan di Touriverse untuk merombak dunia tersebut agar layak memasuki lapisan luarnya." Dewi tersebut langsung melepas Zangetsu.


"Kau mengetahuinya..."


"Tentu... dalam singularitas, aku dapat melihat apapun yang aku ingin karena dunia tersebut sudah masuk ke dalam imajinasi dan pikiranku sendiri." Dewi itu melangkah menuju Zenzaku lalu ia berlutut di hadapannya untuk menunjukkan rasa loyal.


"Putrimu sudah kembali dari dunianya... mengadakan Ragnarok dengan semua penghuni yang berada di bawah Touriverse dan Kountraverse terasa cukup membosankan..."


"...berkat bantuan dari Eldritch yang bernama Eo'syl, kebebasan sudah diberikan sampai aku tidak perlu khawatir dengan yang dinamakan hukum pemberian Kakek Zangges."


"Zephyra... Oh, Zephyra... gadis kecil Ayah yang begitu menurut, sejak kecil kamu memang suka permainan catur dan peperangan ya."


"Bahkan semua catur yang kau mainkan sekarang adalah memaksa seluruh penghuni layer yang lebih rendah untuk mengadakan Ragnarok juga agar bisa saling merebut layer."


"Ya... Aku... seorang Dewi penghakiman, Zephyra."


"Aku telah kembali untuk mengadakan Ragnarok yang seharusnya terjadi untuk mengimbangi layer tersebut." Dewi yang bernama Zephyra kembali bangkit.


"Kau mengorbankan harga dirimu sebagai Dewa yang menduduki segala dunia, hanya untuk menjadi seorang Dewi penghakiman yang mengendalikan peperangan antar seluruh layer?" Tanya Zangetsu.


"Kamu tidak akan mengerti, adik kecilku."

__ADS_1


"Peperangan itu penting... peperangan lah yang memutuskan mereka di berbagai tingkatan yang berbeda, hanya dua hal yang bisa kau ketahui dalam Ragnarok."


"Kau bertarung untuk melindungi kedudukan itu atau kau bertarung hanya untuk bertahan hidup dari peperangan yang hebat ini." Zephyra menjentikkan jarinya sampai memotong dimensi di hadapannya.


Dimensi itu menunjukkan Ragnarok kedua yang terjadi cukup lama sekali, mereka dapat melihat banyak sekali penghuni dari layer berbeda mulai berperang dengan gila sampai jumlah korban yang berjatuhan tidak bisa dijelaskan lagi.


"Mereka yang menang... panas untuk mendapatkan apa yang selalu mereka inginkan seperti tingkatan layer yang lebih atas!"


"Kountraverse memiliki tekad seperti itu, mereka ingin menduduki layer yang lebih tinggi dari Touriverse karena dunia mereka bisa dibilang sangat aman dibandingkan Touriverse yang terjatuh ke dalam Endless Cycle!"


"Bukannya waktu sudah dekat...? Dekat akan sesuatu yang tidak ingin kalian lihat... layer yang diduduki Touriverse akan memuncak lebih tinggi sampai tidak terikat dengan layer itu sendiri."


"Itulah kenapa..."


"...sebagai Dewi penghakiman yang memutuskan Ragnarok! Hari dimana para Dewa memperebutkan ras lain, tetapi sekarang aku yang akan menambah sesuatu menarik...!"


"Hari dimana kedua dunia mencoba untuk memperebutkan layer tertinggi!" Zephyra mengangkat kedua lengannya lalu mereka bisa melihat dua layer yang menunjukkan Touriverse dan Kountraverse.


"Sekarang... aku hanya perlu memproses kan sesuatu terlebih dahulu terus mengajak seluruh Dewa dari kedua layer itu untuk menjalankan tradisi yang dilakukan ratusan abad sekali!"


"Ragnarok!"


***


Wilayah yang saat ini Korrina duduki berkemungkinan berada di singularitas yang lebih tinggi atau lebih hebatnya lagi bisa saja tidak terikat dengan singularitas yang menganggap layer sebagai hal kecil.


Sekali Korrina melangkah ke depan, dirinya dikejutkan dengan kehadiran batu yang begitu besar dan berjumlah tak terhitung di sekitarnya, semua batu itu terletak di seluruh ruangan ketiadaan itu.


Kedua tapaknya juga menginjak batu penuh tulisan itu, di sebelahnya juga ia dapat melihatnya termasuk ketika melihat ke atas juga.


Sekali dia mencoba untuk melangkah lagi maka semua tulisan dari batu itu akan berganti sampai Korrina mengira bahwa dirinya telah tersedot ke dalam ruangan yang mengendalikan segala takdir yaitu "Stone of Fate".


"...ini pertama kalinya aku melihat batu takdir sedekat ini dan sejelas ini." Korrina mulai menyentuh batu tersebut untuk membaca satu takdir yang sudah terjadi selama ratusan tahun yang lalu dimana ia harus pergi dari Touriverse untuk mencegah Ragnarok.


Korrina juga melihat takdir yang ia jalani ketika mencoba untuk keluar dari Touriverse, semuanya memberikan jawaban yang berbeda karena takdir itu juga bukan hanya terikat kepada dunia inti yang saat ini duduki.


Tetapi seluruh batu takdir itu sudah menentukan takdir tak terhitung dan tak terbatas terhadap seluruh penghuni dari dunia berbeda, maupun itu layer berbeda atau alur waktu yang tidak terbatas.


Batu takdir akan selalu ada dan menentukan takdir dari segalanya, yang tidak terikat dari batu tersebut hanya mereka yang sudah menduduki wilayah yang Zenzaku tempati saat ini.


Ketika Korrina sudah mengerti tentang wilayah yang menyediakan seluruh takdir itu, dirinya mengalami berpindah menuju tempat yang tidak bisa ketahui dengan jelas karena pandangannya masih tetap memperlihatkan batu takdir itu.


"Ini cukup mengerikan..."


"...apakah aku melihat takdir itu sendiri?" Batin Korrina.


Pandangan teralihkan kepada sebuah batu yang cukup mencolok bagi dirinya, ia mulai melangkah menuju batu tersebut lalu membaca tulisan kuno dan tidak jelas itu tetapi ia bisa membacanya pelan-pelan.


"Tidak..."


"...ada..."


"...yang dinamakan..."


"...kedamaian abadi..."

__ADS_1


"...untuk seluruh penghuni layer..."


"...mereka..."


"...terkutuk..."


"...dengan yang..."


"...dinamakan..."


"...sebagai..."


"...Endless Cycle..."


Korrina mulai menggabungkan semua kata yang ia baca satu per satu sampai dirinya memasang tatapan kaget karena tulisan yang terakhir yaitu [Endless Cycle] memiliki warna merah berbeda dari lainnya.


"Te-Ternyata benar... memang tidak ada yang dinamakan kedamaian abadi, Endless Cycle..."


"...jangan batu sialan ini yang memutuskan hal ini seenaknya, memangnya kami ini boneka yang kau kendalikan." Korrina mengepalkan kedua tinjunya karena refleks dari kesalnya.


Korrina melancarkan satu pukulan ke arah batu itu tetapi alam sadarnya kembali berpindah menuju Domain yang berada di Kountraverse, dirinya seketika melupakan tentang wilayah itu tetapi tidak untuk takdir yang sudah dirinya baca.


"Sialan... aku sudah tidak mengerti lagi..."


"...memangnya aku mencoba untuk mengincar jawaban seperti apa?" Korrina menyentuh kepalanya sendiri lalu ia mengingat sesuatu yang lebih penting.


"Eldritch itu... kenapa aku bisa merasakan pengubahan konsep itu, bukannya aku yang sudah menghancurkan Eldritch tersebut."


"Sekarang aku mengingatnya... Endless Cycle berkaitan dengan seluruh masalah yang akan terjadi secara berturut-turut..."


"...Ragnarok... sejak kecil aku mengingat perkataan seseorang bahwa Ragnarok tidak bisa dihindari dengan cara apapun..."


"...sama mutlaknya dengan takdir yang menduduki wilayah itu, apakah pembantaiannya massal akan terjadi lagi dan lagi?"


"Semua orang terpaksa berpartisipasi dalam Ragnarok hanya untuk bertahan hidup... itu adalah sebagian niat terpenting sampai mereka melupakan hal yang dinamakan sebagai kesatuan."


"Sial... apa yang harus aku lakukan sekarang...? Aku tidak ingin melibatkan mereka semua dengan Ragnarok." Korrina mengingat seluruh teman-temannya di Touriverse.


Korrina menarik keluar katananya lalu ia menatapnya, "Aku harus menghancurkannya..."


"...layer ini, setidaknya berikan aku waktu untuk mencegah Ragnarok dengan menghancurkan Kountraverse!"


***


Sekarang


Tujuan yang Korrina bisa dibilang setengahnya berhasil karena ia berhasil menembus wilayah dimana para Dewa menjaga Kountraverse, hanya saja ia berhasil dihentikan oleh seorang Dewa yang memegang Kountraverse secara keseluruhan.


Korrina melangkah maju menuju inti pusat yang dapat membawa dirinya kembali menuju layer yang lebih atas yaitu Touriverse, tetapi ia perlu berhati-hati untuk tidak berhadapan dengan Dewa Kountraverse.


Ketika Korrina mencoba untuk melangkah lebih jauh lagi, ia dapat merasakan serangan mendekati dirinya tetapi ia berhasil melompat ke sebelah kanan sampai lengan kirinya tetap terkena serangan itu.


"Nrgghh..." Lengan kiri Korrina berubah menjadi materi gelap tetapi ia langsung memutuskan lengannya sebelum materi gelap itu mempengaruhi tubuhnya.


Korrina melihat Dewa itu mendarat tepat di hadapannya dengan ekspresi serius, "Sudah saatnya, Legenda."

__ADS_1


"Kau sudah berkeliaran dimana-mana sampai menyebabkan banyak masalah terlalu lama di Kountraverse..." Dewa itu memutarkan kedua pisau yang terbuat dari materi gelap lalu ia menggabungkannya menjadi tombak.


"Aku tidak sabar melihat Dewi Touriverse mati sebelum Ragnarok di mulai..."


__ADS_2