Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 822 - Kau akan Mengadu kepada Siapa?


__ADS_3

Jeritan yang dikeluarkan oleh semua pasukan itu cukup keras karena Shinobu yang membunuh mereka tanpa ampun dengan mencincangnya menggunakan kedua cakarnya.


Kepala mereka juga setengahnya hancur karena Shinobu yang langsung menggigit seperti hewan buas, perutnya yang terus bersuara memaksa dirinya untuk memakan mereka karena insting hewan.


Mereka semua mati begitu cepat, tanpa hitungan detik karena kecepatan Shinobu tidak dapat mereka liat, semua mayat itu langsung ia tumpuk.


Dirinya sempat melihat refleksinya melalui genangan air, wajahnya terlihat begitu polos tetapi terdapat banyak sekali noda darah yang tercampur di tubuh dan pakaiannya sendiri.


"... ..." Shinobu menggerakkan ekornya lalu ia bersikap layaknya seperti kucing yang ingin mandi yaitu menjilat semua noda darah itu sampai habis.


Kebetulan terdapat satu kesatria yang terluka parah mulai merangkak mundur, mencoba untuk tidak berurusan dengan Shinobu yang sedang menjilati tubuhnya agar bersih.


Terlihat begitu polos dan damai tetapi jika ia ketahuan saja maka dirinya akan memiliki takdir yang sama dengan mereka, pergerakan sekecil apapun yang ia lakukan mampu terdengar oleh kedua pendengarannya yang sangat tajam.


"Kamu juga ingin... bertemu dengan semua rekan itu 'kan...? Mereka hidup dengan bahagia." Shinobu mulai berbicara selagi membersihkan tubuhnya.


"Hiii...!?"


"Maafkan... maafkan aku..."


"Dimaafkan kok." Shinobu tersenyum polos kepada Kesatria itu sampai membuat dirinya semakin takut karena ia mulai mendekat dengan merangkak ke arah dirinya seperti kucing.


"Kenapa kamu melanjutkan kehidupan di dunia ini...?"


"Ehh...?"


"Kenapa...?"


"Koneko... penasaran..."


"Untuk bertahan hidup...?"


"Untuk bertahan hidup ya... Koneko juga sama..." Shinobu tersenyum lebar, senyuman itu adalah yang terakhir bagi Kesatria itu karena Shinobu langsung menggigit lehernya dan mencabutnya.


Shinobu kembali membersihkan tubuhnya seperti kucing, menghabiskan waktu yang cukup lama karena banyak sekali darah yang mengotori tubuhnya sampai ia sudah merasa kenyang.


Shinobu menggusur semua bekas mayat itu yang sudah hancur untuk pergi menuju lautan yang berada dekat dengan pemakaman itu.


Shinobu bersiul cukup keras sampai memanggil banyak sekali hiu yang mulai melompat keluar dari atas lautan lalu memberi Shinobu salam karena menganggap dirinya sebagai Ibu alam yang mau memberi mereka makanan.


"Selamat makan... nikmatilah..." Shinobu tersenyum lalu melempar semua mayat itu ke dalam mulut hiu-hiu yang sudah membuka mulutnya lebar.


Mereka memakannya dengan satu lahap lalu Shinobu mendekati mereka dan memberinya sebuah usapan, "Setidaknya... hewan juga adalah temanku..."


"...Koneko ingin memiliki banyak kepercayaan... apapun itu... setidaknya rasa percaya saja sudah cukup." Kedua mata Shinobu kembali berubah normal karena ia menghilangkan efek wujud Beast dalam tubuh Legendanya.


***


"Apakah Nobu akan baik-baik saja di luar sana ya...?" Tanya Ako yang saat ini sedang menginap di rumah Koizumi bersama yang lainnya.


"Biarkan saja dirinya bersikap seenaknya seperti itu, Ako. Shinobu memang seperti itu sejak kecil, kadang menyendiri ke alam dan lautan tanpa sepengetahuan ibunya juga." Kata Koizumi sambil menyentuh kartu Hinoka.


"Sikap Neko Legenda memang seperti itu, kemungkinan besar alam dan hutan memang ia anggap sebagai tempat yang nyaman dan damai untuk dirinya bersama seluruh Neko Legenda yang gugur."


"Sayang sekali ya... kita padahal bisa bermain kartu bersama dirinya, ia pasti akan menjadi pemenangan berturut-turut." Hinoka menunjukkan semua kartu itu kepada Koizumi.


"Setelah dia pulang dari hutan selama satu bulan, apakah dia akan bersikap seperti kucing?" Tanya Konomi yang mengingatnya dengan jelas.


"Ahh~ sungguh menggemaskan jika itu terjadi, aku pasti akan mengusap kepalanya terus menerus karena dia menyukainya~"


"Kau hanya menakut-nakuti dirinya, bodoh." Koizumi melompati waktu seketika untuk melihat isi kartu itu, ia bisa melihat lambang iblis dan dirinya segera mengambil kartu yang aman.


"Sial...! Kenapa kamu mengambil kartu yang itu...!?" Tanya Hinoka dengan tatapan yang terlihat kesal.

__ADS_1


Keempat gadis itu menghabiskan liburan mereka dengan menginap dan bermain berbagai macam permainan, Ako selama ini terus mengkhawatirkan Shinobu yang entah sedang apa saat ini.


Satu Minggu sudah terlewati, Shinobu masih duduk di hadapan nisan Tech dengan ekspresi yang terlihat murung seperti biasanya, ia memejamkan kedua matanya untuk beristirahat sampai kedua telinganya mendengar kedamaian.


Suara yang begitu halus untuk di dengar, burung yang bersuara serta embusan angin yang menggerakkan dedaunan pohon sampai ia terus tertidur dengan damai di dalam hutan itu.


Kesepiannya terus ditemani oleh teman hewan liarnya sampai ia tidak begitu keberatan karena setidaknya mereka lah yang mempercayai Shinobu sebagai hewan yang memiliki aura ibu alam.


Shinobu mendengar penyusup lainnya, hampir setiap hari pasukan Kesatria Legenda akan berdatangan untuk menggali kuburan itu tetapi mereka perlu menghadapi hambatan.


"Hahhh... beri aku istirahat." Shinobu bangkit dari atas tanah lalu menoleh ke belakang dan mengubah serangan mereka menjadi daun emas yang mengelilingi tubuhnya.


"Koneko ingin kedamaian... kenapa kalian selalu datang?" Tanya Shinobu dengan tatapan polos.


"Kedamaian bisa menunggu, tetapi tidak untuk penghasilan yang akan membawa kami semua menuju kekuasaan!"


"Apakah kalian melupakan harga diri bangsa Legenda untuk menjadi ras terkuat yang dapat di andalkan dalam apapun...? Bukan hanya kerakusan terhadap berlian?" Tanya Shinobu.


"Semua orang pasti akan menghadapi perubahan, nak. Pikiranmu masih bocah sampai kau tidak akan mengerti dengan perubahan masa depan." Pemimpin itu menunjuk kapalnya kepada Shinobu.


Shinobu tersenyum lebar lalu memejamkan kedua matanya sampai memancarkan aura yang polos, "Begitu ya... perubahan..."


Shinobu membuka kedua matanya sampai mereka dikejutkan dengan kekuatan murni yang meningkat pesat di dalam tubuhnya, kedua matanya berubah menjadi hitam dengan pupil memerah seperti darah.


Shinobu terus mengandalkan kekuatan Beast agar kepolosan dan penahan dirinya bisa di lawan oleh kemurnian dari amarah Beast agar dirinya bisa membunuh mereka tanpa berbelas kasihan atau merasa tertahan.


"Itu dia monsternya...!!! Sudah bangkit...!!!" Pemimpin itu mengayunkan kapaknya kepada Shinobu tetapi ia mengacungkan jari kelingkingnya untuk menahannya.


Jari itu sudah cukup untuk menghancurkan kapak itu menjadi kepingan kecil sampai menakut-nakuti mereka semua, semua daun emas yang mengelilingi tubuhnya melesat masuk ke dalam leher mereka lalu menghancurkannya isi tubuh mereka.


"Hah... Hah... Hah..." Shinobu berlutut di atas tanah lalu berhenti menggunakan kekuatan Beast di wujud Legendanya sebelum tubuhnya hancur karena daya tahan tubuhnya yang kecil masih belum bisa menampung kekuatan dari Beast.


"Koneko... harus bertahan."


Shinobu berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia harus bertahan selama satu bulan, jika satu bulan sudah terlewati maka semua jasad Neko Legenda itu akan berubah menjadi partikel yang mengartikan mereka semua hidup bahagia dalam dunia kematian.


Musim yang sangat pas untuk menikmati makanan apapun terutama lagi untuk Shinobu yaitu seorang Neko Legenda yang akan merasa sangat kelaparan hampir setiap hari di musim sejuk.


"Uck... sakit..." Shinobu menyentuh perutnya yang terasa tertusuk berkali-kali, tubuhnya juga lemas karena suhu yang begitu dingin sampai ia terus menggigil.


Sudah lama sekali ia tidak pulang, itu artinya kedua lengan dan kakinya sudah kehabisan tenaga dan baterai atom di dalamnya sampai ia tidak dapat menciptakan pembakaran yang menghangatkan tubuhnya.


"Hahh... Hahh... Hahh..." Shinobu meniup kedua tapaknya lalu menggeseknya sampai panah sehingga ia memeluk dirinya sendiri dengan selimut daun yang menyelimuti dirinya.


Shinobu bisa mendengar pasukan lainnya mulai berdatangan, kali ini jumlahnya sangat banyak bahkan mereka semua sempat membawa banyak sekali peliharaan agar bisa menyerang Shinobu yang melemah bersama-sama.


Kerajaan dari Letozi sudah merencanakannya sejak awal untuk tidak menyerang Shinobu agar musim sejuk mempengaruhi dirinya bersama dengan pola makannya yang pasti tidak terjaga.


Sekarang adalah waktunya mereka mendapatkan kejayaan tersebut dengan melihat Shinobu yang terus meraba perutnya, ia menoleh ke belakang lalu melihat seorang pemimpin berdiri di hadapannya dengan tatapan puas.


"Malang sekali ya dirimu... tidak memiliki kaki, tangan, dan tentunya mata. Sendirian di hutan, hanya untuk menjaga mayat yang bernilai besar." Kata pemimpin itu.


"Mereka adalah teman... mereka adalah bangsa yang sama... jangan coba-coba untuk mendekat." Ucap Shinobu yang terlihat kesakitan.


"Koneko... akan berjuang...!" Shinobu menghampiri pemimpin itu tetapi pinggang menerima tusuk dari panah yang terlepas dari atas langit sampai wajahnya menerima sebuah pukulan dari pemimpin itu sampai ia terjatuh.


"Lihatlah dirimu... sekarang kau sudah melemah karena tidak menerima gizi dan makanan lezat yang cukup." Pemimpin itu menarik rambut Shinobu lalu mengangkat tubuhnya.


"... ..." Shinobu memasang tatapan yang terlihat lelah kepada pemimpin itu, perutnya menerima satu pukulan dari pemimpin itu lalu ia melemparnya ke depan sampai menabrak batu nisan Tech.


Pemimpin itu mengangkat lengannya untuk menahan semua pasukannya agar tidak langsung menggali kuburan itu sebelum memberikan pelajaran kepada Shinobu yang sudah bersikeras menjaga pemakaman itu.


Shinobu bangkit lalu melihat pemimpin itu mengeluarkan sebuah pedang yang terlihat begitu menyeramkan, "Pedang ini sudah membunuh banyak sekali Neko Legenda..."

__ADS_1


"...pedang yang cukup kuat juga untuk membasmi Dewa karena aku pernah melawannya." Pemimpin itu mengayunkan pedangnya pelan sampai merobek kulit pipi Shinobu lalu mengeluarkan banyak darah.


"Bagaimana...? Sakit bukan...? Rasanya akan terasa begitu menyakitkan sampai terasa hingga kau mati!"


"Kau akan mengadu kepada siapa sekarang!? Tidak ada lagi yang dekat dan dapat melindungi dirimu...!!!" Pemimpin itu mengayunkan pedangnya untuk menebas leher Shinobu.


Namun...


Pedang tersebut langsung hancur seketika menyentuh tubuh seseorang yang muncul tepat di hadapan tanpa kesadaran mereka masing-masing, pedang yang ia pegang hancur tanpa sisa sehingga dirinya memasang tatapan kaget.


"Apa...?!" Pemimpin itu menatap seseorang yang menghancurkan pedang tersebut lalu dikejutkan dengan wajahnya yang tidak asing dan tentunya ukuran tubuhnya yang sempurna.


"Ahh...!? K-Kau...!"


Pria itu tidak memiliki kedua pupil matanya karena kedua matanya memancarkan sinar putih yang cukup untuk menakutkan mereka sampai tidak bisa bergerak sama sekali.


Pria yang memiliki rambut emas dengan Kisetsu emas serta jubah hitam yang menandakan dirinya sebagai pemberontak yang bekerja secara diam-diam telah datang.


...


...


"Shiratori Shira...?!"


"Sudah puas sekarang? Menyiksa cucuku tanpa sepengetahuan diriku." Tanya Shira yang terlihat sangat kesal kepada mereka yang sudah memperlakukan cucunya seperti itu.


Shira langsung mencekik lehernya sampai mulutnya mengeluarkan banyak organ dari dalam perutnya, "Jangan sombong dulu..."


"...bangsa Legenda seperti kalian memang tidak pantas berkeliaran di dunia ini."


"Percuma saja aku melindungi, lebih baik menghancurkannya agar bisa menciptakan sesuatu yang jauh lebih baik dengan populasi sedikit." Kata Shira dengan tatapan mengancam sampai kedua matanya memancarkan sinar cahaya emas.


...


...


"Apa yang selama ini kalian lakukan kepada cucuku?" Tanya Shira yang mendorongnya ke belakang sampai semua pasukan itu mengeluarkan cahaya dari tubuh mereka.


Rasanya sangat menyakitkan sampai mereka semua menjerit keras, meminta ampun dan permohonan kepada Shira sampai menganggap dirinya sebagai seorang dewa karena kekuatan yang sungguh mengerikan.


"Aku tidak membutuhkan permohonan atau ampunan kalian... aku hanya sekedar Legenda biasa yang tidak menginginkan julukan apapun!"


"Sekarang beritahu aku... apa yang kalian lakukan kepada cucuku?" Tanya Shira yang mulai menyilangkan kedua lengannya sampai mereka semua terus menjerit kesakitan dan tidak bisa mati karena Shira sengaja menyiksa mereka.


Mereka tidak menjawab apapun kecuali meminta permohonan ampun kepadanya, "Sekali lagi memohon maka aku akan hancurkan istana kalian..."


Shira mengangkat kepalanya sampai memunculkan kerajaan Letozi dengan daratannya di atas mereka, "Apakah kalian mencinta kerajaan kalian bersama dengan semua penduduk yang ada di dalamnya?"


"Jika aku sudah turun tangan seperti ini... melihat cucuku yang tidak berdaya sampai di siksa, tidak ada yang namanya maaf... bahkan sedikit belas kasihan dan ampunan apapun." Ancam Shira.


"Hidup... Shiratori Shira... sang dewa agung cahaya..."


"Jangan memperlakukan aku seperti dewa atau raja...! Sudah cukup!" Shira  menghela nafasnya sampai mengubah kerajaan Letozi menjadi partikel emas yang merasuki tubuhnya.


Shinobu melihat Shira telah menyelamatkan dirinya bahkan semua pasukan yang berjumlah melebihi seribu tidak mendapatkan kesempatan apapun karena mereka tersiksa dengan cahaya yang terus menyembuhkan dan melukai.


Shira mulai mengepalkan tinju kanannya sampai mengeluarkan cahaya emas yang membentuk bulat sampai bentuk itu terlihat jelas seperti alam semesta emas yang ia ciptakan.


"Vanish."


Shira mengeluarkan perkataan mutlak yang langsung menghapus eksistensi mereka menjadi partikel emas, ia memasukkannya ke dalam alam semesta emas yang ia ciptakan itu.


"Light Reincarnate... Fate Manipulation." Shira langsung menepuk alam semesta itu sampai menghilangkan, mereka yang ia halus telah mengalami reinkarnasi menuju alam semesta emas itu dengan takdir buruk yang tidak akan bisa habis.

__ADS_1


"Sudah satu bulan kan...?" Shira langsung menghadapi Shinobu yang terlihat khawatir karena dirinya bisa saja membuat Shira marah.


"Mari pulang, Shiratori Shinobu."


__ADS_2