Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 799 - Penyihir Suara


__ADS_3

"Putri kecil." Panggil Tech.


Shinobu yang sedang membaca buku di perpustakaannya mulai menatap Tech yang datang dengan secangkir susu hangat untuk dirinya, "Seperti biasanya, selamat atas kerja keras Anda."


"Mm~ Tech, lihat-lihat... Koneko sedang mempelajari ilmu yang dapat membantuku untuk bertarung dengan Keris lebih baik." Shinobu menunjukkan sebuah buku hitam yang diikat dengan rantai kepada Tech.


Tech dapat mendeteksi buku tersebut terlalu bahaya dan brutal untuk dirinya tetapi mengetahui beberapa orang yang mulai gugur perlahan-lahan karena bunuh diri membuat dirinya tidak mereka keberatan.


Lagi pula jalan yang Shinobu pilih tidak bisa diubah oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri, Tech hanya perlu bersama dengannya sampai Shinobu menjadi sesosok Legenda yang hebat di masa depan.


"Dimana Anda menemukan buku tersebut, putri kecil?"


"Indonesia... Koneko sempat berbicara dengan beberapa Manusia di sana untuk mempelajari ilmu Keris ini, Koneko ingin bisa melakukan apapun seperti Multi talenta."


"Buku tentang ilmu hitam..." Ucap Shinobu.


Shinobu kembali membaca buku tersebut sampai kedua mata Tech yang dapat melihat apapun berkaitan hal mistis atau Lenergy sempat melihat arwah emas mirip Kou yang memeluk dirinya dari belakang.


"Ternyata Anda selalu menjaganya ya... nona Kou... itulah kenapa putri kecil tidak bisa kehilangan sisi polosnya itu, saya akan terus tetap berada di sisinya." Ungkap Tech.


Shinobu menutup buku tersebut lalu ia mulai terbang ke arah rak buku bagian atas untuk mengambil buku lainnya yang belum ia baca.


"Akademi masih di tutup sampai sekarang ya...?"


"Mm, sudah tiga hari... populasi terus berkurang, hanya tiga hari saja sudah cukup karena besok semuanya akan berjalan lancar."


"Kenapa Anda bisa tahu?"


"The Mind tidak dapat bertahan lama untuk menyimpan kutukan tersebut... Koneko sudah puas untuk bisa membawa Dewa kematian dan tentunya mereka yang terus berdosa."


"Melakukan hal seperti itu secara tidak langsung... entah kenapa kurang memuaskan sampai Koneko ingin melakukannya sendirian." Shinobu mendarat di atas tanah.


"Rasanya... membunuh itu tidak buruk juga." Shinobu tersenyum polos.


"Koneko ingin membantu lebih..."


***


"Kakak! Kakak! Kakak!!!"


Terdengar suara seorang gadis yang panik, ia mulai mendobrak setiap pintu yang menghalangi jalannya sendiri sampai ia tiba di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan ramuan, kawah, dan buku.


"Ada apa, adik kecilku? Kenapa kamu datang dengan ekspresi ketakutan seperti itu...?" Tanya penyihir yang sedang mengocok beberapa ramuan.


"Ini buruk... perpustakaan sekarang mendadak sepi seketika, tidak ada satu pun orang yang mau membaca buku lagi...!!!" Kata Aerith yang sudah tidak mendapatkan uang apapun.


"Jadi? Kenapa kamu harus sedih seperti itu...? Bukannya kamu sudah memperoleh banyak sekali berlian dan mata uang dari berbagai macam alam semesta?"


"Benar juga... tapi... aku butuh lebih banyak uang agar bisa membeli satu semesta di luar Touriverse...!!!" Seru Aerith yang memiliki cita-cita untuk membeli satu alam semesta menggunakan semua uangnya.


"Apakah mungkin si sialan Shinobu Koneko menipu diriku...? Kasus bunuh diri yang menjatuhkan banyak nyawa entah kenapa semua itu karena jurnal yang ia berikan kepadaku."


"Wah, wah, dia yang sudah membantu dirimu dengan memberikan kekayaan tetapi kamu tetap memperlakukan dirinya seperti sampah...?" Penyihir itu menempati dua botol ramuan di atas meja lalu menatap adiknya.


"Sudahlah, buku memang tidak bisa laku untuk selamanya... kasus bunuh diri itu juga menyebabkan semua buku terasa sangat berbahaya."


"Benar juga..."


"Aku akan pergi keluar sekarang, sudah lama sekali diriku tidak melihat pemandangan luar sana yang begitu cerah karena matahari." Penyihir tersebut mengambil topinya lalu mengenakannya.


"Kakak tidak mau membantu diriku menggapai kekayaan?"


"Mm? Tidak bisa, aku terlalu sibuk mengurusi ramuan, buku sihir, dan lainnya. Era seperti ini... kamu masih mementingkan uang?" Penyihir itu hanya bisa menertawakan adiknya.


"Dengar ya... Kakak sudah merancang semuanya sejak kecil, seorang Magus yang dulunya mengasuh kita tidak mampu melaksanakan apa yang ia inginkan."

__ADS_1


"Melihat semua kekacauan yang sering terjadi di Touriverse, entah kenapa... waktunya tidak akan bertahan lama, aku dapat menjalankan rencanaku sendiri."


Penyihir tersebut menjentikkan jarinya sampai kedua tapaknya menginjak sebuah sapu sihir, "Lagi pula... Kakak tidak memiliki waktu dengan permainan itu."


"Mengumpulkan dan melihat banyak kekacauan akan terasa lebih nikmat... bukannya begitu...? Kakak juga ingin mengumpulkan beberapa penyihir dari ras yang berbeda."


"Ras Legenda jarang menyebut diri mereka dengan penyihir karena rata-rata mereka adalah seorang petarung yang dapat melakukan apapun ketika berlatih, berusaha keras, dan mengalami berbagai macam pertarungan."


"Hanya kita... penyihir Legenda yang bisa disebut langka, bukannya terasa begitu nikmat...? Merasakannya secara batin... aku ingin mengumpulkan mayat-mayat itu untuk eksperimen juga."


Penyihir itu mengeluarkan suara merdunya sampai tubuhnya memancarkan cahaya ungu yang mulai memindahkan dirinya ke suatu tempat.


"Tunggu sebentar, Kakak...!"


"Hei, Kakak...!!!"


Aerith mencoba untuk mendekati saudaranya yang mulai menghilang seketika, "Dia pergi begitu saja..."


"...cih, jarang sekali aku melihat dirinya pergi keluar seperti ini. Biasanya dia hanya diam di tempat ini untuk melakukan berbagai macam eksperimen."


"Kakak Anastasia bodoh."


Beberapa menit kemudian, penyihir yang disebut dengan nama Anastasia oleh Aerith adalah nama aslinya, bisa dibilang ia lumayan terkenal di sebuah planet Legenda yang bernama [Lezattos].


Sebuah planet dipenuhi dengan Legenda yang terobsesi dengan sihir sampai mereka dalam latihan untuk menjadi seorang penyihir, hanya saja mereka tidak mendapatkan bimbingan cukup dari Anastasia.


Pada akhirnya, mereka semuanya hanya dijadikan sebagai budak oleh Anastasia sampai belum ada satu pun Legenda yang menyadari sisi kegelapan dari planet tersebut yang penuh dengan Legenda 'palsu'.


"Baiklah... sudah waktunya aku berhadapan secara langsung dengan Shinobu Koneko..."


"...aku tidak sabar untuk melihat kucing kecil dan polos seperti dirinya." Anastasia tersenyum sampai ia mulai mengeluarkan suara merdu yang mempercepat pergerakan sapu itu sampai melampaui kecepatan cahaya.


Perjalanan yang berasal dari planet jauh dari Legenia tidak memakan waktu selama satu detik untuk sampai, hampir sama seperti lompatan cahaya pesawat luar angkasa tetapi jauh lebih cepat dan instan.


Anastasia mulai terbang lebih rendah sampai ia melihat kerajaan yang ramai sekali, dari arah kejauhan hidungnya dapat mencium aroma mayat yang berserakan dimana-mana.


Anastasia mengeluarkan tongkat sihirnya lalu ia menggambar lambang nota lagu sampai semua nota itu mulai berubah menjadi senar yang menarik seluruh mayat.


Semua mayat tersebut diikat dengan senar lalu menghilang begitu saja dengan cepat karena sihir yang dirapalkan oleh Anastasia, ia mulai bergerak masuk ke dalam kerajaan Ghisaru untuk mencari keberadaan Shinobu.


Kebetulan Anastasia berpapasan dengan Arata dan Haruki yang baru saja pulang dari misi mereka, mereka saling berlewatan sehingga Haruki berhenti berjalan seketika lalu menoleh ke belakang.


"Seorang penyihir? Jarang sekali aku melihat penyihir mengunjungi kerajaan ini..."


"Melihat dari penampilannya, dia adalah Legenda langka yang memilih jalan menjadi seorang penyihir." Jawab Arata yang terus bergerak menuju restorannya.


Tongkat sihir yang Anastasia pegang langsung berubah bentuk menjadi biola yang langsung ia mainkan sampai mengeluarkan suara merdu yang menarik perhatian mereka semua.


Semua Legenda yang berada di sekeliling wilayah tersebut mulai menonton Anastasia memainkan sebuah musik merdu yang cukup menenangkan jiwa dan hati mereka.


Para kesatria yang kelelahan menjalani tugasnya seketika kembali bersikap seperti biasanya, bugar dan bertambah semangat sampai semua orang mulai bertepuk tangan ketika Anastasia berhenti memainkan musiknya.


"Hebat sekali! Jarang sekali aku melihat seorang penyihir musik yang hebat...!"


"Penyihir Legenda yang berasal dari Planet Lezattos ya..."


"Rambut ungunya itu... entah kenapa mengingatkan diriku kepada seorang pustakawan yang bernama Aerith, dia menjual jual terhebat juga."


"Hehehe, itu karena aku adalah Kakaknya. Aku hanya sekedar penyihir pengembara yang datang untuk memainkan berbagai macam musik."


"Penyihir suara, Anastasia De Vorde." Anastasia memperkenalkan dirinya dengan menciptakan aura nota musik ungu di sekelilingnya.


""Hohhhhh...!!!""


Mereka semua langsung bertepuk tangan lagi sampai para pria seketika jatuh cinta dengan suaranya itu sampai para gadis juga menggemari dirinya yang memiliki suara begitu merdu dan menenangkan.

__ADS_1


Performa yang Anastasia lakukan tadi sempat menarik perhatian banyak sekali Legenda sehingga ia kebetulan melihat Shinobu yang menonton dari jarak jauh dengan tatapan penasaran karena ia sendiri melihat seorang penyihir.


Jenis apapun itu, seorang penyihir bisa di bilang musuh utamanya karena sudah menyebabkan para Zodiac Crusaders terbunuh, bukan hanya itu saja tetapi kebangkitan Magnus pasti disebabkan oleh seorang penyihir.


Anastasia mulai menggerakkan sapunya untuk mendekati Shinobu sehingga ia langsung memasang tatapan panik dan malu seketika karena penyihir tersebut menyadari keberadaannya yang terus memperhatikan.


"Wah, wah... kamu gadis yang imut ya, ini pertama kalinya aku melihat Neko Legenda seimut dirimu." Anastasia langsung memuji Shinobu.


Suaranya yang mengandung sihir sudah cukup untuk mengubah pikiran Shinobu seketika sampai ia melupakan tentang kewaspadaan sebelumnya tentang penyihir apapun yang berbahaya.


"Ugh... kenapa dia mendekati makhluk rendah itu...?"


"Apakah Anastasia tidak mengetahui riwayat Legenda sampah seperti dirinya...?"


"Anastasia, saya sarankan untuk tidak mendekati makhluk serendah dirinya... dia dapat membunuhmu kapan saja dengan wujud monster itu." Ucap seorang Legenda yang mendekat dirinya.


"Wah... tidak boleh seperti itu, kalian seharusnya tidak memperlakukan gadis semalang ini dengan perkataan seperti itu." Anastasia mulai mengelus kepala Shinobu yang terasa begitu halus karena rambut emasnya.


"Kita sebagai bangsa Legenda seharusnya menganggap apapun satu derajat... tidak ada yang dipenuhi kekurangan atau kelebihan, semuanya sama."


"Aku mengatakan ini dalam waktu yang salah, tidak peduli era apa yang sedang kita hadapi saat ini tetapi Neko Legenda juga memiliki kehidupan... mereka itu jinak jika kalian memperlakukannya dengan benar."


"Mereka membutuhkan kasih sayang... mereka membutuhkan kedamaian untuk diri mereka sendiri karena sering dianggap sebagai makhluk sampah, rendah, dan monster."


Shinobu benar-benar dikejutkan dengan penyihir tersebut yang membela dirinya, semua Legenda seketika membeku sampai tidak bisa melawan apapun dengan perkataan.


Suara Anastasia yang begitu lembut terus mempengaruhi kepala mereka sampai perkataannya mengandung banyak rasa kepercayaan yang begitu besar sampai Shinobu hanya bisa diam selagi memegang roknya.


"Maka dari itu... kalian tidak boleh memperlakukan Shinobu Koneko seperti sampah... Malang sekali kucing kecil ini..."


"...dia sudah sering merasakan kematian dan siksaan karena semua orang yang menganggap bangsa Neko Legenda itu berbahaya."


Anastasia mulai jongkok lalu memberikan Shinobu sebuah pelukan dan membisikan dirinya dengan sebuah kata 'semuanya akan baik-baik saja' sampai ia mulai mengangguk dan tersenyum kecil.


Perkataan Anastasia sudah cukup untuk membuat mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi, mereka mendapatkan sedikit kepercayaan untuk Shinobu dan bangsa Legenda lainnya karena perkataan tadi itu.


Suara Anatasia yang dapat melakukan apapun sampai cukup untuk mengumpulkan sebuah kepercayaan terhadap Shinobu dan Neko Legenda lainnya untuk penduduk kerajaan Legenia.


"Kalau begitu... ya... maafkan kami."


Mereka semua satu per satu mulai meminta maaf kepada Shinobu seketika sampai ia memasang tatapan kaget karena mereka menundukkan kepalanya kepada dirinya sendiri.


"Fuehhh...!? Ti-Tidak perlu... aku baik-baik saja..." Shinobu mulai salah tingkah seketika sampai pipinya memerah karena ia tidak menyangka akan mendapatkan banyak ucapan maaf dari mereka.


Beberapa menit kemudian, kumpulan Legenda itu mulai bubar seketika sampai menyisakan hanya Shinobu dan Anastasia yang bersebelahan, Shinobu mulai menatap penyihir itu dengan senyuman polos.


"Suara Kakak sangat merdu... terima kasih..." Senyuman Shinobu terasa seperti memancarkan cahaya cerah kepada Anastasia sehingga ia ikut kaget.


Senyuman yang tidak bisa ia tahan, Anastasia langsung memberikan dirinya sebuah pelukan yang dicampur dengan usapan kepala sampai Shinobu hanya bisa terkekeh.


"Kucing kecil... kamu sangat imut ya, tetaplah polos seperti ini, hehehe." Kata Anastasia.


"E-Ehh...? Aku tidak mengerti..." Kata Shinobu sehingga ia melihat Anastasia turun dari sapunya.


"Kakak hanya sekedar penyihir pengembara yang datang untuk bermain musik di hadapan para penduduk..."


"...sepertinya mereka sangat menyukainya. Apakah kamu juga suka, Shinobu Koneko?" Tanya Anastasia.


"Mm~ Anuu... cukup merdu dan menenangkan di sini." Jawab Shinobu sambil menyentuh dadanya sendiri.


"Wah, wah, senang sekali mendengarnya... mendapatkan sebuah pujian dari kucing kecil yang begitu imut~"


"Perkenalkan, penyihir suara... Anastasia De Vorde." Anastasia mengulurkan lengannya kepada Shinobu.


"Shinobu Koneko..." Shinobu tersenyum lalu ia mulai berjabat tangan dengan Anastasia.

__ADS_1


"...salam kenal ya."


__ADS_2