
Minami membawa empat murid itu yang menyerang mereka secara ilegal dengan mengubahnya menjadi hewan semut agar mereka tidak bisa diketahui oleh murid yang berasal dari kelas 1B dan 3C, Honoka dan Minami sempat menggunakan jalan pintas untuk menyamar agar tidak ada satupun orang yang curiga karena ia sendiri merasa takut bahwa seseorang selama ini mengawasi mereka dari jauh jadi Minami tidak memiliki pilihan lain untuk menyamar menggunakan jubah yang diciptakan oleh Honoka.
Beberapa menit kemudian, Minami masuk ke dalam ruangan kepala akademi dan ia bisa melihat Morgan yang baru saja selesai membereskan semua dokumen-nya. Morgan terlihat begitu terkejut ketika melihat Minami, anak dari mantan pemenang Solicitation yang datang dengan ekspresi yang terlihat lelah dan kesal. Ia melempar semua semut emas itu lalu mengubahnya kembali menjadi empat murid.
Morgan langsung tercengang ketika melihatnya, Honoka mendekati dirinya lalu mengeluarkan sebuah kartu sebagai bukti penyerangan ilegal, semua pertarungan terekam dan tindakan mereka juga bahkan sampai membuat Morgan jijik, peserta yang ia undang sepertinya melakukan tindakan yang membuat dirinya kecewa, semua bukti ini sudah cukup untuk membuat Morgan mengeluarkan keempat murid itu, ia juga sempat tersenyum.
"Sepertinya kalian memang hebat dan mahir dalam menjalani ujian yang tidak bisa dilihat begitu saja... ujian untuk tetap bertahan di akademi, resiko membunuh dan kelicikan begitu besar, kau tahu? Selamat, sepertinya semua bukti itu sudah cukup... jika kalian tidak mendapatkan bukti maka keempat murid ini bisa saja melaporkan informasi tentang identitas kalian berdua." Kata Morgan.
"Kami sudah memberi mereka pelajaran yang pantas... jika anda ingin mengeluarkan mereka maka itu sudah membuat kami cukup senang itu artinya 1B sekarang hanya memiliki 9 murid sedangkan 3C hanya tersisa---"
"3C hanya tersisa 5 sekarang... karena sebagian-nya dikeluarkan pada angkatan kedua karena poin mereka yang kurang, sekarang kalian bisa pergi dan menikmati poin yang sudah aku berikan kepada kalian. Laporan selesai dan jangan sampai kalian masuk terlambat, maaf juga atas semua keributan yang dibuat oleh mereka..." Morgan tersenyum, menunjukkan rasa hormat yang begitu besar kepada Honoka dan Minami yang sedang memeriksa poin yang baru saja diberikan oleh Morgan.
"4 juta poin...!?" Honoka tercengang ketika melihatnya.
"Itu artinya melaporkan satu orang yang melanggar tata tertib akan memberikan kita satu juta?"
"Tidak juga, murid yang melanggar peraturan dan berhasil dilaporkan oleh murid lainnya bisa saja mendapatkan 100.000 poin jika murid yang dilaporkan itu tidak melanggar terlalu besar... 1.000.000 yang kalian dapatkan itu berkat laporan atas tindakan yang sudah melampaui batas seperti mereka yang mencoba untuk membunuh kalian semua." Morgan kembali duduk di kursi-nya, Honoka masih belum puas dengan jawaban-nya karena ia masih ingin menanyakan berbagai macam pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya itu.
"Pak Morgan, apakah aku bisa menanyakan beberapa pertanyaan?"
"Oh, tentu saja... kamu adalah anak Korrina Comi, seseorang yang begitu membanggakan bahkan sekarang sudah menjadi sesosok Legenda yang dikenal oleh seluruh alam semesta."
__ADS_1
"Beberapa murid bisa saja menggunakan laporan palsu, apakah kamu yakin untuk mempercayai kami dengan mudah?"
"Itu juga bisa disebut sebagai ujian, Honoka, semua murid saat ini di tes selama 24 jam penuh, memperlihatkan seberapa jauh kemampuan dan kecerdasan yang mereka miliki. Sekali kau berada di wilayah kota permohonan ini maka semua yang kalian lakukan adalah salah satu dari ujian dan tes bagi kami, seberapa jauh pola pikiran kalian... dan apakah kalian sanggup untuk terus mengikuti semua ujian ini? Kami hanya mengikuti peraturan yang tertera dan melihat siapa murid yang layak untuk bisa terdaftar di turnamen."
Honoka dan Minami tidak bisa mengatakan apapun, semua yang merasakan rasakan terasa seperti ujian hidup bahkan Morgan tidak bertanggung jawab dengan pembunuh atau apapun itu, jika diketahui siapa pelaku yang membunuh korban maka ia akan mengurusi-nya. Morgan sendiri sudah bilang bahwa mereka tidak akan bisa kembali, sesuatu yang sudah dipilih harus dilaksanakan dan Morgan memberi mereka satu kesempatan, apakah benar-benar ingin menjadi murid akademi permohonan? Itu yang ia katakan sehingga semua murid tidak memikirkan lebih lanjut lagi, langsung menerima saja.
"B-Begitu ya..."
"Jangan bilang kau ingin menyerah, Honoka? Beberapa murid bisa menyerah, hanya perlu memilih pilihan menyerah di kartu itu.. pilihan yang hanya bisa disentuh oleh orang pemilik kartu itu agar tidak terjadi kelicikan."
"Tidak... hanya saja, aku khawatir dengan yang lainnya. Tidak mampu melindungi diri mereka masing-masing, keempat murid ini sudah cukup untuk membuat kita tertekan penuh dengan kesulitan. Jika Minami tidak memiliki sihir cahaya maka semuanya akan berakhir, kita pasti akan berada di surga." Honoka tersenyum pahit, untung saja ia pergi bersama Minami ketika ingin membeli sebuah kopi, lain kali ia harus berhati-hati dan mencoba sebisa mungkin untuk menemani teman-temannya agar tidak terseret ke dalam bahaya.
"Apakah itu saja pertanyaan yang kau ingin berikan kepadaku, Honoka?"
"Benar sekali, sihir segel area yang begitu kuat, kami sudah mempelajari-nya selama bertahun-tahun agar bisa menciptakan Solicitation yang terakhir ini menjadi Solicitation yang paling ketat dan sulit untuk dilaksanakan... sihir segel itu melarang kalian untuk melakukan perpindahan dalam jarak yang jauh, merasakan keberadaan juga tidak bisa, melarang kalian untuk terbang juga, banyak sekali..."
"...intinya kecerdasan dan kemampuan yang kalian miliki adalah satu-satunya cara untuk membantu kalian bisa bertahan di ujian dari akademi ini, kami semua menilai dan melihat... tenang saja, semuanya akan berjalan dengan lancar jika kalian dapat menggunakan otak kalian dengan baik... merasakan sesuatu yang salah saja sedikit maka sihir segel itu yang menyebabkannya tetapi pertarungan kalian melawan Hazel dan Ronaku yang sangat hebat dalam pertarungan jarak jauh membuatku terkejut." Morgan tersenyum lalu bertepuk tangan.
"Tidak salah lagi, kalian memang penerus orang tua kalian. Minami, aku bisa melihat Megumi di dalam dirimu sedangkan Honoka... aku sudah pasti melihat jelas rencana yang selalu Korrina pikirkan untuk bisa membawa dirinya ke puncak kemenangan, aku memperhatikan semuanya dan aku akan bertindak jika seseorang ingin melapor." Perkataan Morgan tadi sudah jelas bahwa kemampuan yang ia miliki itu tidak pernah diketahui oleh siapapun, Honoka dan Minami menundukkan kepalanya dan berencana untuk kembali ke hotel mereka.
MInami berjalan keluar bersama Honoka dengan informasi penting yang sudah mereka dapatkan, waktu yang pas untuk melaporkan semua informasi itu kepada teman-temannya. Minami sempat melihat ekspresi Honoka yang terlihat sedih, sepertinya Morgan melakukan menyentuh perasaan Honoka dengna mengatakan Korrina beberapa kali, rasa rindu-nya muncul seketika dan Minami mulai menggerakkan ekornya untuk meraih tangan Honoka.
__ADS_1
"Honoka."
"Hmm?"
"Tersenyum lah, aku yakin Korrina melihat rencanamu tadi di atas sana... aku yakin itu, bersedih di saat melelahkan seperti ini hanya akan memperburuk keadaan. Lebih baik kita beristirahat dan menikmati secangkir kopi yang mahal, yuk?" Minami tersenyum lalu ia menempati tapak tangan Honoka di atas kepalanya sehingga ia kembali tersenyum dan menunjukkan kebahagian-nya, ia sempat memeluk Minami erat karena sahabatnya benar-benar hebat dalam membuat seseorang untuk merasakan kebahagian lebih cepat.
"Kita sudah mendapatkan banyak poin, itu artinya... membeli kopi yang sangat mahal juga bisa, mari kita pergi sekarang juga!" Honoka menarik tangan Minami lalu mereka berdua lari menuju toko kopi itu yang dekat, sepertinya mereka tadi tersesat karena efek dari pergerakan daratan itu dan sekarang semuanya aman karena Minami tidak melihat apapun
Mereka masuk ke dalam toko kopi itu dan melihat beberapa murid yang berkencan dan berbicara, ramai sekali bahkan sampai membuat perasaan Minami yang terasa lelah karena pertarungan tadi menjadi damai begitu saja. Minami masih bisa melihat Haruka dan Rokuro yang saat ini sedang bermesraan, cinta memang mengubah segalanya bahkan ia tidak begitu tertarik dengan cinta.
Minami dan Honoka memesan satu kopi dingin yang sangat mahal lalu mereka menikmatinya dengan duduk di teras, udara terasa begitu sejuk bahkan hembusan angin membuat kedua telinga mereka terasa nyaman. Pemandangan yang mereka lihat juga terlihat begitu indah, membuat semua rasa lelah dan amarah itu hilang seketika ketika mereka meminum kopi itu, Honoka mulai menyentuh tangan Minami sehingga Minami mulai memasang ekspresi ketakutan.
"T-Tolong, jangan di saat-saat damai seperti ini, Honoka...! M-Mengerikan!"
"Heh? Aku mencoba untuk mengambil ini loh..." Honoka menunjuk tisu yang tidak sengaja di pegang oleh Minami, mereka langsung tertawa kepada satu sama lain, entah kenapa menikmati kopi dingin dengan suhu sejuk yang menyerang tubuh mereka membuat semuanya terasa begitu damai bahkan kejadian yang tadi dirasakan juga menghilang seketika, hubungan pertemanan mereka juga bertambah ketat karena menghabiskan waktu bersama.
"Menghabiskan waktu bersama sahabat lebih menyenangkan ya...?" Kata Honoka.
"Hehehe... begitulah, semuanya terasa damai dan mungkin poin ini akan aku berikan sebagiannya kepada teman-teman terutama Kou dan Haruka, identitas kalian terlalu di kenal ya...?"
"Begitulah, Mamaku memang hebat."
__ADS_1
"Kau juga sama hebatnya..."
""Hahaha~""