Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 760 - Asap Hitam


__ADS_3

Hinoka dan Koizumi tergeletak di atas tanah dengan luka meleleh yang berada di beberapa anggota tubuhnya, Gemu dan Gumi mulai menampakkan diri karena mereka sudah pasti tidak akan terjamin selamat.


Luka yang di terima dari pengorbanan katak itu cukup berbahaya, semua gumpalan cairan hitam itu menciptakan gelembung besar yang berhasil menjatuhkan kedua sepupu itu.


"Sekarang kau tidak bisa melakukan apapun..." Gemu melihat Hinoka dan Koizumi meringis kesakitan selagi menahan semua lelehan luka itu.


Tubuh asli mereka bisa merasakannya bahkan sampai mengeluarkan darah sedikit demi sedikit, kedua saudara kembar dan Shinobu yang tidur di tengah mereka masih belum menyadarinya.


Walaupun ekspresi mereka terlihat kesakitan di asli, mereka tetap tidak akan bisa bangun bahkan jika seseorang mencoba untuk membangunkan mereka maka semua itu masih tetap tidak membantu.


"H-Hinoka..." Koizumi memegang erat tangan Hinoka karena ia tidak ingin mati sendirian tanpa sepupu yang harus ia lindungi.


Gemu dan Gumi hanya bisa tersenyum, ukuran tubuh mereka yang sama seperti anak kecil tidak akan mengubah fakta bahwa mereka memiliki sikap pembunuhan yang cukup mengerikan.


Dunia mimpi itu adalah daerah kekuasaan mereka tersendiri sampai tidak ada satu pun yang dapat keluar dari dunia tersebut tanpa kehilangan satu nyawa.


Koizumi mencoba untuk menggunakan sihir waktunya tetapi ia terlalu kesulitan untuk bernafas dan melakukan sesuatu karena racun yang terus melelehkan anggota tubuhnya sedikit demi sedikit.


Hinoka sendiri bahkan terus berpikir agar bisa melarikan diri dari situasi buruk seperti itu, kedua kesatria kembar itu hanya bisa diam dan melihat proses kematian mereka dengan racun dari gelembung katak.


"Bukannya terlihat cukup menyenangkan, Gumi? Melihat kedua gadis bodoh ini mati dalam keadaan meleleh..." Gemu mulai menyentuh cairan hitam itu lalu menuangkannya di wajah Koizumi.


Perlakuan seperti itu benar-benar membakar amarahnya, ia ingin sekali menghukum dirinya dengan melakukan beberapa penyiksaan tetapi tubuhnya terasa sangat berat dan menyakitkan.


Gumi hanya bisa tertawa selagi menyentuh pipi Hinoka yang mulai meleleh, ia menatap kedua tatapan Hinoka yang sempat memerah, entah itu rasa amarah yang lepas atau trauma.


"Gemu! Mundur!" Seru Gumi keras yang melompat ke belakang selagi menarik lengan Gemu.


Hinoka menyentuh tubuh Koizumi sehingga ia langsung menatap dirinya, "Mari kita mati bersama..."


Hinoka menggunakan kemampuan realitas ledakannya untuk menambahkan efek ledakan besar di tubuhnya bersama Koizumi, tidak lama kemudian mereka semua mengeluarkan asap hitam.


"Wahhh... ternyata mencoba untuk melakukan bunuh diri agar penderitaan itu bisa secepatnya berakhir ya..." Gumi memunculkan sebuah tembok tebal untuk menghalang ledakan tersebut.


BAAAMMMM!!!


Tubuh Hinoka dan Koizumi meledak seketika menjadi asap hitam yang besar di hadapan mereka, tembok itu sempat hancur karena ledakan tadi mengandung daya kekuatan yang sangat besar.


Ledakan yang dapat menghancurkan bangunan dengan tingkatan apapun, asapnya juga berjumlah sangat banyak sampai mereka mulai batuk-batuk lalu menjaga jarak dengan melompat tinggi ke belakang.


"Pemimpin Leon pasti akan merasa senang melihat kejadian ini, Gemu~ Kita berhasil mengalahkan salah satu anggota terkuat di antara kelima gadis itu..." Gumi terlihat sangat senang bahkan ia sampai melompat-lompat.


Gemu hanya bisa diam selagi menatap asap-asap itu, semuanya terlihat aman sampai ia mencoba untuk menghubungi Leon dari dunia mimpi itu dengan melakukan telepati.


Ia baru saja sadar bahwa Leon jarang sekali tidur pada malam hari, kemungkinan besar ia sedang memikirkan sebuah rencana untuk pertarungan terakhir jika semua Kesatria tidak berhasil menahan kelima pemberontak kecil itu.


Seharusnya Leon bersantai saja karena masih tersisa banyak sekali kesatria yang rapat mengatasi mereka, Gemu berpikir seperti itu sampai ia duduk di atas tanah sampai matahari terbit dari timur.


"Kita tunggu di sini saja dulu sampai matahari terbit... biasanya pemimpin Leon akan tertidur pada pagi hari untuk beristirahat kecil." Kata Gemu yang mulai mengeluarkan sebuah dadu untuk bermain game.

__ADS_1


"Ayo~ Ayo, kita bermain game~" Gumi duduk di sebelah Gemu lalu ia melihat dua dadu untuk di puter.


"Yang kalah harus mengikuti perintah pemenangan kan?" Tanya Gumi.


"Ya..."


"Seperti biasa ya, jangan curang... kita harus mengocok dadu, angka besar yang kita dapat bisa menjadi pemenang." Gemu mengambil satu dadu lalu ia mengocoknya, setelah itu ia jatuhkan.


Dadu tersebut menunjukkan angka satu, "Ahhhhh! Tidak...!"


"Hahaha! Kamu buruk sekali..." Gumi mengambil dadunya lalu ia mengocoknya, dan melemparnya ke atas daratan sampai angka dadu itu menunjukkan angkasa empat.


Itu artinya Gumi menang dengan adil, "Yey~ Aku menang~"


Terdapat satu dadu mulai terjatuh di atas tanah dan berputar sehingga menunjukkan angka enam, Gumi langsung memasang tatapan kesal kepada saudara kembarnya karena ia curang.


"Kenapa kamu curang, Gemu?! Itu tidak adil...!"


"Heh! Aku kira kamu mengocok lagi dan melanjutkan permainan---"


"Uwahhh~ Aku mendapatkan enam, itu artinya aku menang bukan?"


Gemu dan Gumi melebarkan matanya ketika mendengar suara seseorang yang terdengar tidak asing, mereka menoleh ke belakang lalu di kejutkan oleh Hinoka dan Koizumi yang berdiri selagi menyilangkan lengan mereka.


Koizumi tentunya memasang tatapan yang mematikan karena tidak sabar untuk menyiksa kedua bocah itu, walaupun mereka masih kecil.


Berbeda dengan Hinoka yang memasang senyuman lebar, senyuman itu mengandung tentunya penderitaan yang akan ia berikan kepada mereka berdua.


Tatapannya bahkan tertutup selagi menunjukkan senyuman kecil, "Kalau begitu... yang menang bisa melakukan apapun bukan~?"


"Gumi, cepat lari---"


Koizumi langsung memukul wajah mereka cukup keras sampai meretakkan tulang tengkorak mereka, pergerakannya jauh lebih cepat bahkan jarak mereka sangat dekat.


Tidak ada masalah yang Koizumi hadapi lagi karena pukulan tadi mengandung dosa Greed besar yang menyerap semua Lenergy mereka agar tidak bisa berkuasa kembali di dunia mimpi itu.


Semua Lenergy yang Koizumi lepas mulai ia masukkan ke dalam tubuh Hinoka dengan menggenggam tangannya sampai ia menerima jumlah Lenergy besar yang cukup untuk menghancurkan dunia mimpi yang palsu itu.


"Hweehhhhh---" Gumi mulai menangis tetapi Koizumi langsung menginjak wajahnya agar ia tidak mengeluarkan suara yang menjengkelkan bagi dirinya.


"Brengsek...! Kau... Kau beraninya... melakukan itu kepada gadis kecil seperti kami...?!" Tanya Gemu.


"Aku tidak peduli, lagi pula kalian tetaplah Legenda yang mengaktifkan adrenalin itu... apakah kau dapat mencium semua aroma adrenalin yang terlepas?"


"Aku tidak selembut seperti kedua sepupu dan temanku... bisa di bilang aku berdarah dingin untuk musuh yang aku anggap menjengkelkan." Koizumi memegang erat rambut mereka lalu ia menghantamnya di atas tanah beberapa kali.


"Untungnya aku masih memiliki kartu as di balik bahuku... aku menyimpannya di waktu yang tepat untuk menunjukkannya kepada Koizumi agar ia terkesan..."


"...tetapi sekarang adalah waktu yang sangat pas untuk memperlihatkan, kemampuan ledakan tadi bisa di bilang penyembuhan instan bagi diriku."

__ADS_1


"Jika saja tadi Koizumi tidak memberikan sumber Lenergy kalian kepadaku maka aku bisa saja menanggung risiko untuk tidak bisa bergerak karena sel-sel tubuhku yang menghabiskan waktu panjang untuk menyatu kembali."


"[Restoration Explode], kemampuan realitas ledakan yang bersatu dengan ilusi... itu yang di katakan oleh Mamaku ketika aku berlatih bersama dirinya."


"Aku memasang bom besar di dalam tubuhku, aku juga dapat melakukan kemampuan ini bersama orang yang dekat denganku yaitu menyentuhnya saja sudah cukup untuk mengaktifkan Restoration Explode bersama."


"Koizumi tidak menanggung risiko itu tetapi aku menerima dua kali lipat dari risiko... untungnya kalian baik juga untuk memberikan sumber Lenergy sebesar ini, te-he~"


"Ledakan tadi... menyebabkan banyak asap, sebagian dari asap itu adalah kembali yang berubah menjadi asap hitam untuk sementara, tidak ada yang dapat menghilangkannya."


"Membutuhkan waktu maksimal satu menit untuk asap tersebut membentuk tubuh kita kembali dengan kondisi yang sempurna yaitu pulih."


Kemampuan Hinoka yang tersembunyi itu pernah Cordelia bicarakan tetapi Gemu dan Gumi tidak sempat mengetahuinya karena mereka sudah pergi bersama Tauros untuk mengurus mereka.


Intinya kemampuan tersebut sangat kuat dan dapat mengecoh apapun seperti ilusi, mengetahuinya saja membuat Koizumi merasa sangat bangga kepada sepupunya yang bodoh sampai bisa di andalkan di situasi menyulitkan.


"Tidak buruk, sepupuku... aku memang selalu membanggakan sepupu bodoh yang dapat di andalkan seperti dirimu!" Koizumi tersenyum serius.


"Buuuuuu... bodoh apanya..." Hinoka mundur beberapa langkah, membiarkan Koizumi mengurusi kedua bocah itu dengan menyiksanya satu per satu.


Hinoka menutup kedua matanya karena ia tidak mau melihat darah sama sekali, dalam keadaan asap tadi, Koizumi memperingati sepupunya untuk tidak melihat penyiksaan itu.


Ketika mereka bangun dari dunia mimpi itu, Hinoka hanya boleh membuka matanya ketika Koizumi selesai membersihkan darah yang sudah pasti akan tertera di tubuhnya.


Hinoka bisa mendengar jelas kedua bocah itu menjerit kesakitan sampai meminta bantuan kepada siapa pun tetapi tidak ada yang membantu karena mereka berada di dalam dunia mimpi bagaikan kenyataan.


Koizumi membanting tubuh mereka di atas sekuat tenaga lalu memutuskan kedua lengan dan kakinya, setelah itu ia mengeluarkan sebuah jam pasir untuk menjebak arwah mereka di dalamnya.


"Aku harap kalian dapat menikmati waktu bersama sebagai saudara kembar di dalam dunia kematian yang akan berjalan selama aku masih hidup..." Koizumi menghilangkan jam pasir tersebut.


Koizumi menatap Hinoka yang masih menutup kedua matanya menggunakan tapaknya, ia mulai tersenyum lembut kepada sepupunya yang sangat bisa di andalkan.


Ia mulai mendekati dirinya tanpa sepengetahuan Hinoka yang sudah pasti melamun memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah dirinya bangun dari mimpi yang aneh.


Koizumi tersenyum lalu ia mengelus kepala Hinoka dan memberikan dirinya sebuah kecupan di kening, "Mari pulang, sepupuku."


"Ahhh~ Koizumi menciumku! Itu pasti ciuman pujian dan penuh kasih sayang ya!!!" Hinoka membuka kedua matanya selagi menunjuk Koizumi.


"A-A-Apa?! Jangan salah sangka dulu... aku mencium dirimu hanya untuk berterima kasih karena kemampuan tadi---"


Hinoka langsung mengecup bibir Koizumi cepat sampai mengejutkannya dirinya dan tentunya membuat Koizumi marah besar karena ia tidak mau menerima ciuman bibir lagi dari siapa pun.


"Jangan seenaknya saja!!!" Koizumi menyentil kening Hinoka cukup keras sampai mengeluarkan suara menggema.


"Awwwww!"


"Buuuuuu...!"


"Galak..."

__ADS_1


__ADS_2