
"Tebal sekali... Aku tidak tahan!" Honoka menghantam tembok hitam di hadapannya karena mereka masih belum menemukan jalan untuk melarikan dirinya.
Haruka sendiri bahkan kebingungan dengan wilayah kegelapan pekat ini, entah kenapa ia sendiri merasa dibodohi tetapi entah dengan apa, ia mulai mencoba untuk menghentikan waktu dan ia bisa merasakan dunia luar tidak berpengaruh dengan penghentian itu.
"Kou... Aku khawatir dengan Kou..." Ucap Honoka, ia baru saja ingat bahwa Kou sendirian bersama yang lainnya tetapi ia mengkhawatirkan satu hal dari musuh bahwa mereka dapat menemukan rahasia dari kekuatannya itu.
Haruka mulai mengeluarkan kubus waktu yang sudah retak, sebentar lagi keempat saudara Shiratori itu akan keluar dan sepertinya Haruka tidak memiliki pilihan lain selain menunggu mereka selesai.
"Honoka..."
"Apa..."
"Tidak seperti keturunan Shiratori, kita tidak begitu menonjol dalam sihir cahaya atau harapan, walaupun kita memiliki Sacred juga... Masih tidak ada gunanya karena kita lebih menonjol dengan Crimson." Haruka melepaskan kubus tersebut.
Kubus itu melayang di atas langit dan berputar pelan, Haruka dan Honoka hanya bisa menunggu sampai waktunya tiba, berharap agar situasi bisa terkontrol di luar sana terutama Kou yang nyawanya sangat terancam karena ia tidak memiliki kekuatan.
"Sial... Bangsa iblis apapun itu, aku tidak mempercayai mereka..." Honoka menepuk wajahnya pelan.
"Mungkin sekarang atau dekat... Kita akan berurusan dengan bangsa iblis untuk yang terakhir kalinya." Ucap Haruka dengan kedua matanya yang menunjuk jarum jam berputar cepat.
"Kakak mencoba untuk melihat masa depan?"
"Semuanya gelap... Seperti biasanya, faktor melalui area sihir di sekitar kita..."
"Hahhhh..."
***
Asriel memejamkan kedua matanya, ia mencoba untuk fokus dalam mengontrol suhu es di sekitarnya agar ia bisa melindungi dirinya dari infeksi sihir kegelapan yang dimiliki Oskadon.
Oskadon melesat ke arah Asriel lalu melancarkan beberapa serangan menggunakan kedua pedangnya tetapi Asriel menahan semua serangan itu menggunakan kedua pedang es yang mampu membekukan setiap celah dan serangan dari kedua pedang itu.
"Beritahu aku, Legenda, seberapa lamanya kalian akan bertahan... Melanjutkan semua pertarungan ini?!"
"Aku sendiri tidak tahu... Tetapi jika aku membiarkan dirimu melepaskan kegelapan itu lebih lanjut lagi maka aku sudah tidak bisa memanggil diriku dengan sebutan Legenda."
"Iblis seperti kami hanya akan terus meningkat seiring pertarungan dan peperangan berlanjut, semakin besar kekuatan maka semakin mudah aku memberikan dirimu kekuatan..."
"Walaupun kalau memiliki peningkatan besar bahkan di juluki sebagai ancaman yang paling besar bagiku, Legenda akan terus maju..." Asriel melepaskan suhu yang lebih dingin lagi.
Oskadon mengubah semua suhu itu menjadi api hitam yang ia lempar ke arah Asriel tetapi Bakuzen datang lalu meledakkannya, ledakan itu terlihat berbeda dan penuh kontrol bahkan Asriel bisa mempercayainya.
"Sihir ledakan itu... Apakah dapat melukai rekan-rekanmu dengan itu?" Tanya Asriel.
__ADS_1
"Aku dalam kontrol penuh soal ledakan itu walaupun membutuhkan beberapa waktu... Setidaknya satu nuklir ledakan hanya memberi kehancuran kepada iblis itu." Bakuzen menunjukkan sebuah aura putih yang melambangkan kesucian.
"Kau... Bagaimana bisa mendapatkan aura seperti itu?"
"Honoka memberikannya sebelumnya... Untuk berjaga-jaga karena ia sendiri mengetahui soal ledakanku, coba bayangkan saja apa yang akan terjadi jika di gabungkan."
"Kalau begitu... Aku serahkan kepadamu." Ucap Asriel, mencoba untuk memulihkan lengan kanannya yang masih terasa sakit.
Bakuzen melesat ke arah Oskadon, diam-diam melepaskan beberapa bubuk mesiu untuk di jadikan sebagai jebakan, setelah itu ia mulai melancarkan beberapa serangan ke arahnya.
Setiap serangan itu mengandung ledakan tetapi Oskadon tidak merasakan kesakitan apapun jadi ia menerimanya dengan ekspresi yang terlihat tidak tertarik.
"Walaupun menerima pukulan ledakan ini... Dia masih bisa bertahan, apakah aku harus menunggu Asriel untuk menyelesaikan semua perangkap ini?!" Ungkap Bakuzen.
Saking bosannya, Oskadon hanya perlu menyentuh perut Bakuzen sampai ia lumpuh seketika dan tengkuknya menerima satu serangan sikut yang menghempas dirinya ke depan.
Oskadon menunjuk Bakuzen, mencoba untuk menginfeksi dirinya tetapi wajahnya menerima satu tendangan es dari Asriel sehingga ia terhempas ke belakang dengan tubuh yang setengah membeku.
Oskadon menghancurkan esnya lalu ia melancarkan satu tekanan ke depan yang menyebabkan perut Asriel berlubang seperti di tusuk, Asriel merapatkan giginya mencoba untuk bertarung kembali tetapi ia malah terhempas ke belakang.
Oskadon melompat ke arah Asriel, mencoba untuk menghantam wajahnya tetapi ia berhasil melindungi dirinya sendiri dengan menciptakan tembok es yang begitu besar.
Tembok yang Oskadon pukul mulai mengandung bubuk mesiu yang menyebabkan ledakan besar bahkan sampai mendorong dirinya ke belakang, tubuhnya menerima beberapa kerusakan karena ledakan itu.
Di lanjutkan dengan meraih kaki Bakuzen yang mencoba untuk menendang ke arah dirinya sendiri, setelah itu ia melakukan satu putaran dan melempar Bakuzen ke barat.
Bakuzen menyeimbangkan tubuhnya dan kembali terbang ke arah Oskadon, amarah Oskadon terbakar sehingga ia mulai melancarkan beberapa serangannya ke arahnya tetapi setiap serangannya menciptakan ledakan kepada dirinya sendiri.
"... ...!" Oskadon mulai menyadari bubuk mesiu yang melayang di sekitar, setiap ia melepaskan kekuatan atau sihir maka semua bubuk mesiu itu akan meledak dengan kekuatan yang sama seperti Oskadon.
"Sihir ledakan yang cukup menyusahkan... Aku sekarang mengerti kenapa ledakannya sangat kuat, setiap serangan yang aku lakukan dekat dengan mesiu itu maka..."
"...ledakan itu juga akan memiliki kekuatan yang sama denganku." Oskadon terlalu banyak berpikir sehingga satu pukulan mengenai perutnya, menyebabkan ledakan yang begitu dahsyat di dalam tubuhnya.
Baammmm!!!
Asriel tercengang ketika melihat ledakan berskala besar dari jarak yang begitu besar, seketika keberadaan Oskadon menghilang tetapi kembali muncul karena keabadiannya itu.
"Ck... Ledakan tadi masih belum cukup untuk menghapus dirimu dari dunia ini kah? Apakah kau membutuhkan lebih banyak ledakan...!?" Bakuzen merasa muak ketika melihat Oskadon masih bisa bertahan.
Kali ini, ia mulai menyerang Oskadon secara agresif dengan mendekati dirinya lalu melancarkan beberapa serangan yang mengandung ledakan sampai membuat Oskadon terkecoh dan kebingungan.
Bakuzen menempel satu bubuk mesiu di perut Oskadon lalu ia melompat ke atas dan mencoba untuk meledakkan kepalanya tetapi Oskadon lebih cepat dalam melancarkan serangan.
__ADS_1
Serangan itu gagal ketika perutnya menimbulkan ledakan besar sampai organ tubuhnya mulai berjatuhan dari dalam perutnya.
"Sihir ledakan akan terus membuat dirimu kebingungan... Walaupun kau ini abadi, biarkan aku menyediakan dirimu kesakitan melalui ledakan---" Bakuzen terhempas ke belakang ketika Oskadon mengamuk dengan melepaskan teriakan besar.
Bakuzen melakukan putaran ke belakang lalu ia melempar satu gumpalan merah ke arah Oskadon tetapi Oskadon menyerap semua sihir dan bubuk mesiu itu menggunakan celah yang ia buka.
Oskadon melancarkan beberapa serangan yang mampu melukai Bakuzen cukup parah, tidak ada lagi halangan seperti ledakan yang bisa menghentikan dirinya.
Bakuzen menendang Oskadon ke atas lalu ia muncul tepat di sebelahnya dengan menghantam perutnya sampai Bakuzen terjatuh di atas tanah, melihat satu gumpalan kegelapan yang mengenai tubuhnya dan membawa dirinya ke atas.
Bakuzen menghancurkan gumpalan kegelapan itu menggunakan sihir ledakannya agar tubuhnya tidak terinfeksi dengan kegelapan itu.
Asriel bisa melihatnya dan ia mencoba untuk melakukan sesuatu tetapi terlambat.
Sihir esnya masih ia tahan untuk dijadikan sebagai pengukur waktu agar Minami dan Shuan bisa secepat datang sebelum terlambat.
Bakuzen bangkit di atas daratan dengan tatapan yang terlihat kesal, ia mulai menunjuk ke depan dengan sirkuit sihir merah yang berputar-putar, menciptakan satu gumpalan merah yang mengandung ledakan besar.
Asriel mulai berlutut di atas tanah, berpura-pura kesakitan agar Oskadon tidak mengetahui rencana yang baru saja mereka rancang sebelumnya.
"Iblis! Apakah kau memiliki harga diri yang begitu tinggi untuk menerima satu serangan ini...!? Jika tidak maka kau sama dengan kami, Legenda!" Bakuzen mencoba untuk melakukan provokasi kepadanya agar ia mencoba untuk tidak menghindari serangan itu.
"Hmph... Mulutmu terasa seperti ledakan juga, bukanya melarikan diri tetapi kau malah terus melawan... Mencoba untuk meledakkan diriku yang abadi---"
Oskadon tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan perkataannya karena Bakuzen langsung melempar satu gumpalan sihir ledakan ke arah Oskadon yang merasa direndahkan karena memotong pembicaraannya.
"Jika kalian memang menginginkan cara seperti itu maka... Tidak perlu lagi berbelas kasihan kepada nyawa yang tak berguna sama sekali..." Oskadon menunjuk ke depan, mencoba untuk mengambil alih sihir tersebut.
"Meledak lah dan bersatu dengan ledakan tersebut..." Bakuzen menjentikkan jarinya, menyebabkan gumpalan itu menimbulkan ledakan yang berskala begitu besar.
"Desperia Frost-Bound!" Asriel menepuk daratan menggunakan kedua tapak esnya.
Sihir Asriel melepaskan satu serangan area besar tajam es yang diselimuti dengan pelapis alkimia yang mampu untuk menggagalkan sihir musuh dan memiliki daya serangan yang besar.
Mampu untuk membekukan ledakan tersebut sehingga menjebak Oskadon di dalam es tebal yang berlapis-lapis, ledakan yang berskala besar itu bisa di lihat oleh semua orang bahkan wujud dari es itu terlihat begitu indah.
"Hah... Hah... Hah..."
"Setidaknya ia terjebak di dalam itu, sekarang hanya perlu menunggu mereka." Ucap Asriel.
"Kerja yang bagus, Asriel."
"Kau juga sama..."
__ADS_1