
"... ..." Kou melihat banyak sekali penghuni Touriverse datang untuk melihat pemakaman Minami, seorang Neko Legenda pertama yang mencetak sejarah untuk menyelamatkan seluruh alam semesta.
Hari ini cuaca terlihat mendung, tidak lama kemudian semua awan hitam itu menurunkan hujan deras dan badai yang sangat besar.
Momen menyakitkan seperti ini dimana banyak sekali nyawa yang gugur, cuaca malah bertambah buruk, entah kenapa masalah Zoiru jauh lebih mengerikan di bandingkan yang lain.
Kou mengambil tongkat teknologi di sebelahnya untuk membantu dirinya jalan karena kaki kirinya sekarang sudah tidak berfungsi lagi karena menanggung risiko menggunakan The Mind.
Kou melihat Shuan sedang duduk di atas kursi selagi memegang kepalanya, merasakan penyesalan yang sangat besar karena ia tidak sempat mengatakan maaf dan terima kasih kepada Kakaknya sendiri.
"Aku terlambat..."
"Terlambat...?"
"Aku terlambat untuk berterima kasih kepada dirinya yang sudah mau melihat Legenda keras kepala dan penuh kegagalan seperti diriku ini...!" Kata Shuan yang mulai meneteskan beberapa air mata.
"Aku juga sempat... mengatakan sesuatu yang buruk kepada Kakak..." Shuan mulai memegang rambutnya erat karena rasa penyesalan itu yang sudah tidak bisa di perbaiki karena Minami telah tiada.
"Aku sudah kesal... Muak... Aku adalah kegagalan yang begitu besar...!"
"Shuan---"
"SUDAH CUKUP!!! AKU TIDAK INGIN MENDENGAR PERKATAAN APAPUN DARIMU, MINAMI!!!" Suara Shuan terdengar sangat dalam sekarang.
"TERUSLAH MENGATAKAN HAL YANG SAMA, AKU MUAK...! AKU MEMBENCI KAU, MATI SANA!!!"
"Perkataanku... yang terpengaruh amarah benar-benar terjadi... Kakakku mati... tidak menerima rasa terima kasih dan permintaan maaf yang benar dariku." Shuan mulai menangis penuh dengan rasa penyesalan.
"Dia sudah menyayangi diriku tetapi aku sejak di akademi... bodoh sekali sampai harus membencinya seperti itu..."
"...semuanya sudah terlambat, aku memang adik yang buruk... aku masih menyakiti perasaan Kakakku...!" Shuan mulai mencabut rambutnya pelan tetapi Kou menghentikan dirinya dengan memeluk kepalanya erat.
"Sshhhh... tidak ada gunanya jika kamu terus menyalahkan dirimu, tidak juga kata terlambat untuk meminta maaf dan berterima kasih..." Kata Kou sambil mengelus kepalanya.
"Nyonya, semuanya sudah berkumpul untuk menantikan pemakaman pahlawan Shiratori Minami." Tech memasuki ruangan dan Kou mulai mengangguk lalu ia mencoba untuk membantu Shuan berdiri.
"Sudah ya... jangan terus bersedih seperti ini, Minami bisa saja marah dan sedih di atas sana loh..." Kou meraih tangan Kou lalu menempatinya di pipinya sendiri.
Shuan hanya bisa diam karena perkataan Kou tidak cukup untuk memperbaiki rasa penyesalan dan bersalah besar yang ia miliki ketika mengetahui Minami tidak akan bersama dirinya lagi.
Shuan bangkit dengan tatapan yang terlihat mati, Kou mencoba untuk menenangkan dirinya dengan membantu Shuan mendatangi ruangan pemakaman besar yang dipenuhi penonton.
***
Kou mulai memegang erat foto Minami lalu ia mulai berbicara, "Dalam kesempatan ini, mari kita berbelasungkawa..."
"...berduka yang sangat dalam atas kepergian seorang Neko Legenda yang telah menjadi pahlawan, Shiratori Minami adalah Neko Legenda yang berbakat dengan potensi besar..."
"...bakat dan potensinya mampu membuat dirinya di lihat lebih tinggi oleh semua orang sebagai ras yang dulunya sangat di benci sampai di buru."
"Seorang Legenda yang luhur dan gigih... dan juga, sebagai Legenda yang berbudi, dia telah memenuhi harga dirinya secara keseluruhan."
"Pengorbanan yang mulia akan terukir dalam benak kita selamanya... semoga kehidupan selanjutnya, Shiratori Minami dapat hidup dengan tenang melihat kita semua dari atas sana."
"Untuk seterusnya, dia akan mengawasi kita dari atas... semoga saja dalam surga." Kou menundukkan kepalanya lalu ia menempati foto Minami di atas peti emas di belakangnya yang dipenuhi dengan dedaunan emas dan bunga emas.
Kou berjalan keluar untuk mengumpulkan bunga lainnya sebagai perpisahan terakhir karena Minami sendiri adalah teman terbaiknya.
Walaupun pernah membentak dan memarahi dirinya, Kou tidak memiliki rasa dendam apapun kecuali senang ketika berada di sekelilingnya.
"Apakah kau dengar...? Korban gugur akan sedikit jika dia tidak menjadi tumbal untuk membangkitkan Bamushigaru."
Kou tiba-tiba mendengar suara seseorang di sebelah halamannya, ia mulai menguping dan ternyata banyak sekali orang yang sedang membicarakan Ophilia sebagai inti masalah.
Semua kacau dan hilang di sebabkan oleh Ophilia karena sudah menjadi tumbal untuk membangkitkan Bamushigaru bahkan Kou sendiri langsung merasa khawatir seketika.
Rasa benci terhadap keturunan Phoenix telah bermunculan bahkan keturunan Shimatsu juga akan terpengaruh karena sudah dekat dan seperti keluarga sedarah.
__ADS_1
"... ..." Kou berjalan pergi lalu mengambil bunga Crimson terakhir, mencoba untuk tidak menghiraukan gosip mereka.
Kou kembali melakukan pidato di hadapan semua penghuni yang datang untuk menyaksikan pemakaman itu.
"Ketika kehilangan nyawa anak-anak yang berharga... pastilah berat bagi keluarga dan kerabat... saya mewakili keluarga Shiratori, turut berbelasungkawa." Kou menundukkan kepalanya.
Upacara pelepasan bunga di mulai, semua orang mendapatkan giliran untuk memasukkan satu bunga ke dalam peti emas yang terdapat banyak sekali foto Minami di mulai dari bayi sampai dewasa sekarang.
Foto terakhirnya menunjukkan dirinya mengajak seluruh bangsa Neko Legenda sebagai seorang guru, semua petualangan dan pertarungan yang Minami rasakan harus berakhir sekarang juga.
Kou melihat giliran keluarga Shimatsu sekarang, dirinya sempat melihat Ophilia sedang mendorong kursi roda dimana Arata duduk di atas sana dengan tubuh yang masih terasa nyeri.
Penampilan Ophilia juga bahkan di tutup agar tidak ada satu pun orang yang mengenal dirinya sebagai inti dari kebangkitan Bamushigaru, ia merasa semakin khawatir seketika sehingga Hana mulai menghampiri peti itu.
Rokuro tidak datang karena ia sekarang berada di rumah sakit, menantikan kelahiran anak pertamanya, ia bersama Haruka tidak bisa datang karena kendala itu.
Honoka dan Bakuzen juga sama, Kou juga membiarkan mereka pergi karena ia ingin kedua keluarga itu bisa merasa bahagia tanpa harus mengingat kesakitan dan penderitaan dari ancaman Bamushigaru.
Kou melihat Hana terus memperhatikan peti itu dengan kedua tatapannya yang mati, hilang semangat sampai ia tidak tahu harus apa tanpa sahabatnya Minami.
Kou mendekati Hana dengan sebuah senyuman di wajahnya, "Hana..."
Hana menatap Kou, "Oh... Kou..."
"Harus tetap kuat ya... Legenda tidak akan pernah mati, aku yakin arwah dan harapan Minami berpindah kepada dirimu." Kou mulai mengusap punggung Hana.
"Hm..."
Hana mencoba untuk menempati bunga kesukaan Minami yaitu bunga matahari di dekat fotonya tetapi ia terus merasakan penolakan sampai dirinya tidak menerima kepergian Minami.
"Aku ingin mati... dan bertemu dengannya..." Ucap Hana pelan dengan kedua matanya yang mengalirkan air mata deras.
"Minami tidak akan suka jika kau melakukannya dengan sengaja... kau juga tidak akan mungkin masuk surga melainkan neraka karena sudah melakukan perbuatan seperti itu." Kata Kou.
"Aku tahu kamu sangat menyayangi Minami... aku juga sama, Hana. Sudah saatnya untuk maju dan melanjutkan tujuan kita..."
"Tujuanku adalah membuat Minami senang... aku ingin tetap bersama dirinya sampai akhir..." Hana mulai menutup kedua matanya menggunakan lengan kanannya.
"Bersabarlah... tetap tenang, tunjukkan harga dirimu sebagai Legenda dan menerimanya... Legenda tidak akan pernah mati." Kou mulai membantu Hana untuk memasukkan bunga itu ke dalam peti tersebut.
"Aku yakin dia akan kembali... seperti dulu, ketika melawan Kuharu... dia pasti akan mengejutkan kita lagi." Hana melihat sekeliling dan Kou mulai memegang tangannya erat.
"Kamu harus melupakannya... jika kau terus memikirkannya dan tidak menerimanya maka pikiran dan mentalmu bisa hancur... kamu bisa saja depresi..." Ucap Kou, mencoba untuk memenangkan Hana.
"... ...!" Kou terdorong ke belakang ketika tubuh Hana melepaskan dorongan besar sampai menyebabkan badai yang terjadi bertambah sangat ekstrem sampai menyebabkan angin topan dimana-mana.
"AAAHHHHHHHHH...!!!" Hana menangis dengan menjerit keras karena tidak bisa menahan emosinya yang tak terkendalikan lagi.
"KENAPA HARUS ADA YANG NAMANYA ANCAMAN DAN KONFLIK YANG TERUS MUNCUL PADA SAAT KEADAAN DAMAI SEPERTI INI...!?"
"MINAMI SUDAH BERJUANG KERAS... SEHARUSNYA DIA BISA MENGALAHKAN ZOIRU DENGAN GOLDEN SPIRIT TANPA HARUS MENGORBANKAN DIRI SEPERTI ITU...!!!"
"KENAPA...!? KENAPA HARUS MINAMI!? KENAPA HARUS MINAMI YANG GUGUR...!!!"
"AKU INGIN BERTEMU DENGAN MINAMI... AKU INGIN TETAP BERSAMANYA...!!! AKU TIDAK MAU DIA HIDUP TENANG SENDIRIAN DI SANA...!!!"
"MINAMIIIIIII...!!!"
Kou menatap Hana, membuat dirinya langsung jatuh dan tertidur karena kemampuan The Mind agar bisa menenangkan dirinya, ia segera meminta Tech untuk membawanya ke tempat duduknya.
Kou juga sempat mendengar gosip lain bahwa Hana sangat berisik, seharusnya menyalahkan ibunya yang sudah menyebabkan semua kekacauan itu tetapi yang ia lakukan hanya teriak-teriak tidak jelas.
Itu yang Kou dengar sampai ia merasa bersalah jika tidak membantu, tugasnya sebagai ratu Touriverse harus bisa di laksanakan untuk kebaikan semua orang.
***
Peti Minami telah di kubur, lokasinya berada di kuburan semua pahlawan yang sudah berjuang di saat perang melawan Rxeonal dan Zangetsu, Minami mendapat posisi yang paling tinggi karena sudah menjadi pahlawan terhebat.
__ADS_1
Di Neko Isle juga sampai terpampang patung emas Minami yang sedang melakukan pose dua jari damai, bukan hanya pulau itu saja tetapi setiap desa dan kota mulai bermunculan.
Semua patung itu menunjukkan rasa kehormatan penuh terhadap Minami yang berhasil menghancurkan kutukan dan kerendahan dari bangsa Neko Legenda untuk menjadi pahlawan yang dikenang.
Kou mulai merasa kelelahan terus memegang tongkat itu untuk membantu dirinya berjalan, ia sempat melihat Shuan saat ini duduk di atas sofa selagi memegang kepalanya.
"Shuan..."
Shuan melirik kepada Kou, "Meskipun merasakan ketakutan dan kesedihan... kamu harus bisa maju, melanjutkan apa yang Minami inginkan."
"Dia pernah bilang bukan...? Minami tidak ingin kamu sebagai adiknya untuk terus sedih dan depresi seperti itu, kamu lebih baik dari ini."
"Aku tidak akan bisa mengikuti jejak Kakakku sendiri... dia sangat hebat... dia mampu bangkit walaupun terpuruk beberapa kali karena keadaan di sekitarnya itu..." Jawab Shuan.
"Walaupun terus di hina dan mendapatkan perlakukan buruk dari Legenda yang dulunya membenci bangsa Neko Legenda... dia tetap bangkit dan memenuhi harga dirinya untuk meneruskan jejak Ayah dan Ibu..."
"Bandingkan saja dengan diriku yang baru saja terpuruk... sudah pasti akan hilang kendali, merasa stres dan marah sampai ingin membunuh seseorang tanpa alasan."
"Semua kekuatan yang aku dapatkan..
tidak mungkin bisa di dapatkan jika Kakak tidak membantu diriku sejak di akademi..."
"...menemani dan memperhatikan diriku berlatih sejak di akademi dan kuil itu... terus mengatakan kebanggaan bahwa dirinya akan terus merasa bangga kepadanya sendiri."
"Melihat dirinya... hilang selamanya... aku tidak akan bisa... mengikuti jejaknya, aku akan berlatih sendiri lagi..." Shuan mulai menangis selagi memegang erat rambutnya itu.
Kou mendekati Shuan lalu ia memeluk kepalanya, memberi dirinya sebuah usapan di kepala untuk mencoba menenangkan dirinya.
"Aku memang penuh kegagalan..." Shuan menangis sangat keras karena tidak bisa meminta maaf dan berterima kasih kepada Minami.
"Minami akan terus membanggakan dirimu di atas sana..." Kou memegang kedua pipi Shuan lalu ia menatap kedua matanya.
"Shuan... hari ini bukan hari amanku... melihat kedua kakakku sudah mau melahirkan..."
"...aku sudah siap..." Kata Kou dengan nada yang gugup.
"Kou...?"
"Aku... ingin anakmu juga..."
***
Kelahiran anak Haruka dan Honoka telah selesai, anak Haruka lahir terlebih dahulu sedangkan anak Honoka lahir satu jaman setelah anak Haruka sudah keluar.
Haruka saat ini berbaring di atas kasur, masih merasa sakit untuk pertama kalinya melahirkan seorang anak yang ternyata lebih sulit yang ia perkirakan.
"Haruka... kamu berhasil... lihat... gadis kecil yang sehat, rambutnya bahkan mirip sepertimu." Kata Rokuro selagi menggendong bayi kecil nya, ia mulai mendekatinya kepada Haruka.
"Astaga... dia imut sekali... bayiku..." Rokuro menempati bayinya di sebelah Haruka lalu ia mulai mencolek pipinya sampai baginya mulai tersenyum kecil dengan kedua mata yang masih tertutup.
"Imut sekali... Awww... putriku..." Haruka mengecup pipi bayinya.
"Jadi... kamu sudah memiliki nama untuk putri kita?" Tanya Rokuro.
"Hm...!"
"Shimatsu Koizumi!"
***
"Sudah-sudah... hehehe..." Honoka tersenyum selagi menenangkan bayinya yang terus menangis, Bakuzen mendampinginya dirinya di sebelah.
"Walaupun sekecil ini... rambut poninya sudah menghalangi mata kanannya..." Honoka terkekeh dan mulai mengusap kepala bayinya.
"Nama apa yang cocok untuk putri kita, Honoka...?"
"Aku sudah menentukannya sejak awal..."
__ADS_1
"... Shizukaze Hinoka."
""Selamat datang di Touriverse, Koizumi/Hinoka.""