
"Serius? Zaman seperti ini masih ada yang menyembah dewa...? Tunggu, bukannya semua Legenda tidak memiliki kepercayaan apapun kepada Dewa, kebanyakan percaya kepada seorang pemimpin dan raja."
"Ada kok, zaman dulu sekali dimana semua kebahagiaan itu tercapai melalui berkah dewa itu... rata-rata mereka menyembah dewa elemen karena setiap elemen itu memiliki makna terhadap beberapa hal."
Shinobu meluncurkan tangan kanannya menuju ruangan bawah tanah untuk mengambil buku sejarah di dalam perpustakaan, setelah itu ia langsung membukanya dan menunjukkan setiap elemen kepada mereka.
"Angin, bumi, api, air, es, listrik, alam, cahaya, dan kegelapan. Dua puluh persen dari Legenda menyembah sebagian dari Dewa-Dewi itu sampai mereka hidup dengan damai."
"Kepercayaan Dewa elemen mereka yang berbeda tidak memicu perang apapun melainkan sikap toleransi yang bagus, hanya saja mereka membenci Legenda yang tidak memiliki kepercayaan terhadap Dewa."
"Untuk Legenda yang percaya kepada raja dan kaisar masih bisa mereka maklum, kalau tidak salah negara Mitch itu dipenuhi dengan peraturan yang berkaitan soal kebebasan."
"Angin itu bebas, semua penduduk yang berada di negara itu mungkin bebas untuk melakukan apapun dengan ketenangan." Shinobu menutup buku itu.
Shira hanya mengangguk, dirinya tidak perlu memberi Shinobu sebuah edukasi atau ilmu pengetahuan karena ia sendiri sudah pintar dalam segala hal.
"Dewa elemen... kalau di pikir-pikir mereka tidak pernah menampakkan wujud mereka." Kata Konomi.
"Itu benar... mereka semua terjebak di dalam wilayah sihir mereka sendiri seperti Realm of Wind dan yang lainnya." Shinobu mulai meluncurkan tangannya untuk menyimpan buku itu kembali.
"Kenapa bisa di segel...?" Tanya Ako.
"Soal itu---" Shira yang mencoba untuk menjelaskan langsung dipotong oleh Shinobu yang menjawabnya lebih cepat karena ia sudah mengetahui sejarah tentang penyegelan Dewa Agung.
"Penyegelan terjadi ketika perang antara dewa elemen dan bangsa Legenda yang tidak ingin diperbudak oleh dewa itu sendiri..."
"...mereka tidak membutuhkan bantuan apapun dari Dewa-Dewi, melihat semua pengikutnya juga memaksa Legenda lainnya untuk masuk ke dalam kepercayaan masing-masing cukup menyebalkan."
"Pada akhirnya, semuanya berperang... pemenangnya adalah Legenda yang tidak memiliki kepercayaan sama sekali, mereka berkata bahwa kepercayaan mereka hanya satu yaitu harga diri mereka."
"Begitu ya... Legenda memang hebat, konflik dan masalah apapun akan selalu diselesaikan dengan cara yang kasar seperti bertarung dan berperang." Kata Koizumi.
"Kenapa sekarang Legenda yang memiliki kepercayaan terhadap dewa elemen itu mulai bermunculan?" Tanya Konomi.
"Mereka pikir menyembah dan menerima berkat dari Dewa-Dewi seperti itu akan menjaminkan sebuah keselamatan..."
"...dengan alasan mereka pasti akan menjadi budak yang harus melakukan apapun. Semua Dewa dan Dewi agung itu dapat menghubungi mereka semua melalui telepati."
"Semakin mereka percaya kepada Dewa atau Dewi itu maka hubungan akan semakin ketat sampai mereka pikir semuanya berkat dari dewa itu sendiri semua yang tercipta itu disebabkan oleh dirinya."
"Fanatik ya..." Koizumi menghela nafasnya, ia tidak begitu tertarik dengan Dewa apapun karena ia hanya percaya pada harga dirinya sendiri.
"Bisa seperti itu ya... aneh juga."
"Mm, jika ingin menjadi salah satu dari Legenda yang memiliki rasa kepercayaan kepada mereka maka perlu mengenakan sebuah lencana, menulis kontrak, serta menyembah patung yang memiliki lambang elemen itu."
"Itu yang aku baca dari sejarah kepercayaan dewa dan elemen." Mereka langsung bertepuk tangan kepada Shinobu yang mengetahui apapun.
Shinobu langsung tersipu merah sehingga ia menundukkan kepalanya karena ia tidak begitu terbiasa menerima pujian besar seperti itu, Shira sendiri bahkan tidak kebagian untuk menjelaskan.
"Semua Dewa dan Dewi agung masih hidup?" Tanya Hinoka.
"Ya... mereka semua menikmati kehidupan mereka di dalam Realm itu sendiri, melihat perkembangan Legenda yang memiliki kepercayaan terhadap Dewa memberi mereka banyak keuntungan." Kata Shira.
"Kenapa kau tidak membantai mereka semua? Paman bisa mengunjungi berbagai macam dimensi dan wilayah bukan?"
"Itu bukan urusanku, lagi pula aku tidak memiliki waktu mengurusi mereka. Mungkin kalian mau menggantikan pekerjaan kami." Shira sengaja mengatakannya karena ia ingin menyerahkan semua itu kepada generasi selanjutnya.
"Menarik sekali! Tentunya aku mau." Koizumi terlihat bersemangat untuk membasmi seorang Dewa agar dirinya bisa mendapatkan pengakuan dari Arata.
"Tidak sampai kalian sudah berumur remaja, masa kecil kalian perlu diisi dengan banyak pengalaman dan latihan yang membawa kalian menuju tingkatan para Dewa-Dewi." Kata Shira.
__ADS_1
""Yaaaahhhh...""
Shinobu hanya bisa terkekeh pelan melihat mereka semua terlihat kecewa, sepertinya Dewa dan Dewi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti bahkan Shinobu sendiri terlihat tidak tertarik sama sekali.
"Ahh, Paman Shira sering bekerja dalam Realm of Light kan?" Hinoka mulai menatap Shira.
"Itu benar."
"Apakah paman bertemu dengan Dewa agung cahaya di sana?"
Shira langsung memasang tatapan kaget sampai ikut mengejutkan mereka semua, panggilan atau nama dari Dewa tersebut tidak boleh sembarangan disebutkan karena Shira sendiri sering mendapatkan peringatan dari Shukaku.
"Dewa itu berada di tingkatan yang berbeda dengan Dewa atau Dewi agung elemen lainnya... untuk saat ini ia masih tersegel dalam sebuah patung emas." Kata Shira selagi menyilangkan kedua lengannya.
"Dewa agung cahaya itu adalah pamanku yang bernama Shiratori Shinji." Pekerjaannya langsung mengejutkan mereka semua karena Shinji kemungkinan dewa pertama dari keturunan Shiratori.
"Apakah dia Shiratori yang terangkat menjadi dewa?" Tanya Shinobu.
"Itu benar."
"Pembahasan tentang sejarahnya sudah selesai? Sudah waktunya untuk mengemas barang kalian dan menikmati liburan di negara itu." Kata Shira.
"Tentunya aku akan memberi kalian sebuah peringatan... jangan bermacam-macam dengan mereka semua atau memancing hal sensitif yang berkaitan dengan kepercayaan mereka masing-masing."
"Tingkatan kalian berada jauh lebih rendah dibandingkan mereka semua, ingat itu. Jika seorang pendeta atau Legenda yang sangat menganut kepercayaan itu mendatangi kalian lalu menawarkan edukasi kepercayaan maka segera tolak."
"Jika mereka memaksa maka kabur secepat mungkin... mereka memiliki hukum dan peraturan sendiri, ingat itu. Intinya kalian akan baik-baik saja asal tidak berbuat onar."
"Kalian masih anak-anak, mereka tidak mengincar seseorang seperti kalian... hanya Legenda dewasa dan tentunya berpengalaman tinggi soal pertarungan."
"Hanya memastikan saja agar kalian tidak terjatuh dengan tipuan apapun, misalnya seseorang memberi kalian sebuah kertas yang harus di isi dengan nama kalian..."
"...berhati-hati lah, mereka sebenarnya menjebak kalian untuk mengisi kontrak yang dapat memasukkan kalian menuju kepercayaan itu dalam tahapan awal."
"Kita pergi siang saja... perlu beberapa persiapan." Kata Koizumi.
"Benar juga~ aku akan mempersiapkan banyak hal dalam liburan yang dipenuhi dengan kesenangan!" Ucap Hinoka yang terlihat sangat bersemangat.
"Kalau begitu, kita perlu menyiapkan beberapa rencana juga." Kata Konomi.
"Nobu... kamu sudah memiliki rencananya?" Tanya Ako.
"Tentu... makan--- tidak, anu... maksudku... bersenang-senang sampai hari dan waktu berlalu begitu cepat?" Tanya Shinobu.
"Benar sekali! Ternyata Koneko memang mengerti tentang kesenangan ya~" Hinoka langsung memeluk dirinya sampai ia terkekeh pelan.
Mereka semua langsung pulang secepat mungkin untuk mempersiapkan berbagai macam hal untuk liburan di planet yang penuh dengan kesantaian dan tentunya tempat yang cocok untuk berlibur di musim sejuk.
"Shinobu." Panggil Shira yang masih meminum kopi hangatnya.
"Kakek... sudah berapa banyak cangkir kopi yang Kakek minum sampai habis...? Tidak baik untuk kesehatan..." Shinobu melihat banyak sekali cangkir kosong di tempat cuci piring.
"Rasanya meminum kopi seharian sudah menunjukkan karakteristik diriku sebagai seorang Kakek, entah kenapa kopi rasanya cukup menenangkan di musim seperti ini."
"Tidak boleh banyak-banyak..." Shinobu mengembungkan pipinya.
"Kalau begitu Kakek minum susu coklat saja, oh iya... setelah kamu selesai menikmatinya maka aku ingin membawamu menuju Realm of Light."
"Ehh? Kenapa?"
"Kakek ingin melatih dirimu... setidaknya sampai kamu mengerti." Kata Shira yang ingin memulai tahapan awal sebelum melanjutkannya menuju latihan yang sangat sulit.
__ADS_1
Intinya Shira akan mencoba untuk mengubah pola pikiran Shinobu, mengubah dirinya menjadi seorang Legenda yang menganggap apapun baik bagi dirinya sampai ia tidak perlu menahan diri dalam melakukan keburukan atau kebaikan apapun.
"Kakek mau melatihku...?"
"Bisa di bilang begitu, mulai dari nol dulu saja. Perkataan yang dapat kau jadikan sebagai latihan untuk kehidupan dan pikiranmu." Kata Shira yang mulai menghabiskan kopinya.
"Mm, Koneko akan berjuang!"
"Hahaha, itu dia semangat Shiratori." Shira langsung menepuk pelan kepalanya.
"Kalau begitu, Kakek akan menunggu di kabin hangat ini selama tiga hari. Menikmati waktu dengan secangkir kopi dan susu hangat selagi membaca koran."
"Seperti Kakek-kakek..."
"Aku memang seorang Kakek, umurku ratusan tahun lebih." Shinobu langsung tertawa dengan leluconnya itu, entah kenapa dirinya jauh lebih terbuka kepada Shira.
"Setidaknya proses itu ada... aku bisa melihat dirinya terbuka terus kepadaku, itu jarang sekali." Shira langsung menyeduh coklat hangat untuk ia minum.
"Sudah mempersiapkan semuanya?"
"Mm! Tinggal menunggu yang lain... Kakek sudah tahu semua tempat di kabin ini kan?" Tanya Shinobu.
"Tentu... Kakek kan sudah bilang akan merawat dirimu sampai kamu siap, Nenekmu saat ini yang menggantikan pekerjaanku di Realm of Light."
"Begitu ya... semangat-semangat." Shinobu mengatakannya selagi mengangguk sebanyak dua kali sampai membuat Shira tersenyum.
"Anu... Koneko..." Shinobu langsung tersipu merah, ia menyentuh kedua jarinya secara bersamaan selagi menundukkan kepalanya karena ia ingin memberitahu sesuatu.
"Koneko... anu... aku... aku ingin menjadi sesosok Legenda... seperti Kakek."
"Sangat menginspirasi... Koneko ingin melebihinya sampai melampaui ekspektasi Kakek terhadapku... maka dari itu..." Shinobu langsung memasang tatapan yang mengandung banyak sekali semangat dan tekad.
"...Koneko... akan berjuang!" Shinobu mengatakannya selagi mengepalkan tinju kanannya sampai Shira merasakan semangat murni Shiratori yang bersinar sangat cerah.
"Kakek akan menunggunya, menjadi diriku tidak mudah."
Shira langsung mengingat semua peristiwa pahit dirinya sampai ia bersama Shinobu memiliki kesamaan di masa kecil yaitu penderitaan dan penindasan karena berbeda.
"Kalau begitu, selamat menikmati liburanmu." Shira mengacak-acak rambut Shinobu sampai ia terkekeh lalu mengangguk.
Ekornya bergerak sangat cepat bahkan ia langsung meregangkan tubuhnya seperti seekor kucing, sangat fleksibel sampai pandangan Shira sempat melihat kucing emas kecil yang sedang meregangkan tubuh kecilnya.
"Apakah kau membawa camilan?" Tanya Shira.
"Tidak..."
"Musim sejuk seperti ini, kau harus bisa mengisi perutmu yang akan cepat kosong. Musim sejuk artinya makan sebanyak-banyaknya sampai menghasilkan kekuatan untuk kita."
Shinobu langsung kaget ketika melihat Shira memiliki satu kantung berisi Whiskas di tangan kanannya, ia mengambilnya begitu cepat sampai Shinobu tidak dapat melihat atau mendeteksi dirinya.
"Kakek cepat sekali ya." Shinobu menerima kantung berisi Whiskas itu lalu ia menyimpannya di dalam salah satu lengannya yang memiliki ruangan luas.
"Suatu saat nanti kau akan jauh lebih cepat dariku... baiklah, kau sudah sepenuhnya siap." Shira mengacungkan jempolnya.
Shinobu tersenyum lalu ia memanjat tubuh Shira yang sangat tinggi dan kekarnya sampai ia langsung memberi Kakeknya sebuah kecupan di pipinya lalu mendarat di atas tanah.
"Koneko..." Shinobu mulai mengenakan ikat kepalanya yang berwarna merah dengan selendangnya juga.
"...akan berjuang!" Shinobu langsung menghilang dengan menipiskan tubuhnya seperti cahaya yang terhalang awan.
Shira hanya bisa terkekeh pelan karena dirinya mengingat Megumi yang sering mengkhayal ketika mengenakan ikat kepala dan selendang itu sampai ia sadar Shuan tidak memiliki kemiripan apapun dengannya kecuali warna rambutnya.
__ADS_1
"Dia lebih mirip dengan Kou..."
"...sedikit sekali dengan putraku."