Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 459 - Kepedulian Seorang Kakak


__ADS_3

Pertemuan Minami dengan murid misterius berakhir dengan cepat, Shuan masih merasa emosi karena ia seperti dipermalukan oleh murid itu karena memiliki kekuatan yang belum cukup kuat dan terkontrol, Shuan sudah berpikir bahwa ia akan menghajar dirinya jika ia sudah berada di level yang lebih tinggi dari Kakak dan Murid itu tadi.


Keheningan muncul seketika Minami dan Shuan berjalan pelan di tengah lorong yang begitu sepi, Minami melirik sebentar kepada Shuan yang saat ini masih merasa kesal, kejadian tadi tidak bisa ia lupakan begitu saja dan sejujurnya Minami juga menginginkan adiknya secepatnya menyusul kekuatan yang ia miliki.


Rasa kesalnya yang berlebihan itu membuat Shuan hampir saja menabrak seorang guru, untungnya Minami menarik ekornya sehingga ia kembali fokus lagi tetapi amarahnya semakin terbakar sampai ia mencoba untuk melukai Minami, dengan cepat ia menahan kedua lengannya.


"Amarah dari ras Neko Legenda mempengaruhi dirimu lagi... satu-satunya kekurangan yang kau miliki adalah amarahmu sendiri, kau mau terbawa kesal dengan apapun itu sampai murid tadi menganggap dirimu lemah karena kekuatanmu yang tidak bisa kau kontrol." Minami melepas tangan Shuan dan mereka mulai saling menatap satu sama lain.


"Bukan urusanmu... aku sudah beberapa kali mencoba untuk bersabar tetapi si sialan itu mempermainkan diriku, apakah kau pernah merasakan bagaimana rasanya harga dirimu sebagai seorang Legenda hancur---"


"Sering... malahan setiap hari aku merasakan itu tanpa henti, buktinya aku masih biasa saja ini. Kemarahan yang aku miliki juga tidak dapat mempengaruhi diriku lagi karena sudah aku kuasai dengan cepat..." Jawaban Minami sudah cukup untuk membuat Shuan terdiam, ia sendiri mengerti karena Minami jauh lebih berpengalaman darinya.


Lahir sejak era perang dimana Rxeonal memimpin seluruh pasukan di akhiri dengan penyerangan cucu dari seorang dewa segalanya yang bernama Zangetsu, semua itu pernah Minami rasakan sampai ia harus bertahan hidup sendirian karena Shira terlalu sibuk mengurusi musuh utamanya, ia juga tentunya perlu fokus dengan melindungi ibunya sendiri.


"Bagaimana bisa harga dirimu hancur...? Kau tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk di kehidupanmu bahkan Ayah dan Ibu sangat menyayangi dirimu lebih dari apapun atas usaha yang kau dapatkan..."


"Kau tidak mengetahui diriku, Shucchi... dulunya aku ceroboh sepertimu, semua orang memulai dari nol bukan seratus. Mereka yang memulai dari seratus hanyalah sampah yang tidak akan bisa di daur ulang karena terlalu ceroboh dan naif." Minami menatap Shuan dengan tatapan tenangnya, adiknya masih belum mengerti tentang berbagai macam hal di dunia ini sampai ia meraih tangannya.


"Apakah kamu cemburu kepadaku, Shucchi?"


"Tidak... hanya saja aku tidak mengerti... aku sendiri sudah berusaha seperti Ayah tetapi aku masih berada di bawahmu sampai Ayah dan Ibu terus memandang dirimu..."


"Itu tidak benar, justru mereka memiliki harapan yang begitu besar untuk dirimu, hanya kau lah Shiratori Shuan yang pantas untuk menjadi penerus Papa... ia sendiri sangat mempercayai dirimu di masa depan akan memiliki kekuatan yang setara dengan dirinya."

__ADS_1


"Kau tidak perlu memasukkan diriku karena sejak kecil bakatku hanya berkaitan dengan tumbuhan dan alam atau semacamnya sehingga aku memutuskan untuk bertarung agar bisa melindungi Mama dan Papa... termasuk dirimu juga..." Minami memeluk Shuan erat sampai ia merasakan sesuatu yang menekan di dalam hatinya ketika ia menerima pelukan tersebut.


"Jadi... mulai dari sekarang, aku menginginkan dirimu untuk bisa mengontrol tubuh dan amarahmu itu agar kau bisa menginjak tahap seperti diriku. Amarah Neko Legenda yang sudah dikuasai dapat membantu dirimu untuk membangkitkan potensi dari Golden Solar System..." Minami mengusap-usap kepalanya.


"Aku lebih menonjol dengan Mama, seorang Neko Legenda yang begitu lembut sampai beliau hanya ingin hidup damai tanpa berurusan dengan pertarungan karena sudah tugasnya sebagai seorang Ibu untuk mendukung kita... sedangkan sekarang aku hanya ingin memperbaiki semua kesalahanku sendiri ditambah lagi dengan membantu dirimu." Minami memberi kecupan di bagian kepala Shuan.


Minami terus mencoba untuk menyadari Shuan yang masih harus belajar karena ia sendiri tidak begitu berpengalaman tentang kekuatan, kemampuan dan cara bertarung lainnya jadi karena masih sempat, ia akan mengajarkan semua yang ia ketahui berdasarkan pengalaman dan Ayahnya.


"Kesalahan yang Kakak miliki sudah bertumpuk-tumpuk dan sebagiannya tidak bisa diperbaiki karena terlambat... salah satunya adalah gadis yang kau cintai itu, Kou... Kakak pernah menghancurkan hatinya sejak dulu karena dikuasai oleh amarah itu sendiri." Minami mengajak Shuan untuk duduk di atas atap sekolah yang saat ini sepi.


Semua kesalahannya mulai ia ceritakan bahkan Shuan sudah beberapa kali mendengarnya, kesalahan terbesar Minami ketika melukai hati Kou. Untuk hari ini terasa lebih berbeda dari sebelumnya karena semua perkataan Shuan mampu menyentuh hatinya sampai ia mengalami proses kesadaran dengan cepat.


Minami dan Shuan duduk bersebelahan selagi menatap langit-langit, untuk hari ini akademi sepertinya menghadapi waktu bebas karena Minami bersama temannya baru saja menyelesaikan ujian itu. Shuan terus mendengarkan nasehat Minami dengan menunjukkan ekspresi kali ini, berbeda dengan sebelumnya dan dulu yang selalu terlihat kesal.


"...kau juga tidak harus mengandalkan siapapun kecuali dirimu, teruslah bekerja keras dan berusaha karena kedua kata kunci itu menunjukkan keluarga kita sebagai keturunan Shiratori." Minami mengusap kepala Shuan membuat dirinya terdiam lalu memegang erat tangannya, kali ini ia tidak ingin melepas tangan itu.


"Aku tidak bisa melakukannya... sudah beberapa kali... secara bertahap dan proses, amarah itu selalu menguasai diriku sampai amarah yang berada di dalamku hanya membuatku menjadi orang bodoh saja. Kita sama-sama memiliki masalah dengan Kou ya..."


"Waktu itu seharusnya aku lebih baik memiliki menjaga dirinya di bandingkan mencintai dirinya secara berlebihan, penyakit yang ia miliki harus aku urus ketika turnamen ini selesai... aku harus bisa menang tetapi aku sendiri tidak memiliki rasa keyakinan untuk bisa berhasil melakukan apa yang tujuanku inginkan."


Minami tersenyum selagi mengangguk beberapa kali, mendengar isi hati Shuan yang sebenarnya bahwa selama ini ia juga terus mencoba beberapa jalan tanpa harus menyerah, hari ini cukup berbeda bagi Shuan sampai Minami ingin terus mendengar curhatnya sampai selesai.


"Lebih baik memilih sesuatu dengan pelan-pelan saja..."

__ADS_1


"Rasa ragu itu mendekati dengan menyerah, Shucchi..."


"Aku tahu kau memiliki kekuatan dan kemampuan yang jauh lebih hebat dibandingkan diriku dan Papa, Shucchi... aku tahu itu, cahaya melalui tata surya itu hebat bahkan kemampuan yang di miliki dari setiap Golden Solar System itu berbeda-beda..."


"...ingatlah usaha dan latihan yang selalu kau lakukan, percayai lah dirimu sendiri. Ingatlah apa yang selalu aku ajarkan kepadamu, kekuatan dan kemampuanmu itu tidak pernah bertambah melainkan berkurang karena rasa khawatir dan kurang percaya diri..."


"...jangan terus mengingat beban yang kau rasakan, lupakan saja dan bawa relaks. Jika Shucchi dapat menguasai relaksasi maka potensi yang lebih misterius akan muncul... itu adalah kunci potensi dari kita sebagai bangsa Neko Legenda yang seharusnya tidak pernah di rendahkan!"


Kata-kata yang keluar melalui mulut Minami cukup manjur untuk dijadikan sebagai motivasi bagi Shuan sampai ia menunjukkan ekspresi penuh tekad selagi mengepalkan kedua tinjunya penuh rasa semangat untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih hebat dibandingkan ayahnya sendiri.


"Aku mengerti apa yang kau coba katakan, Kakak. Sekarang aku mengerti arti dari kekuatan yang seharusnya aku incar sejak awal... kedua tangan ini setidaknya dapat membantu diriku untuk meraih apa yang aku sebenarnya inginkan!"


"Kakak... semua kesalahan yang aku lakukan selalu saja berkaitan dengan terbawa suasana---"


"Hei, sudah berapa kali Kakak harus mengatakannya, Shucchi? Kita semua pasti akan merasakan hal negatif seperti itu tetapi apa yang kita lakukan itu hampir sama dengan pergerakan yang mampu... terkadang kehidupan itu memang tidak pasti untuk memiliki rasa penyesalan."


"Ya, tapi..."


"Jika kau ingin menyalahkan seseorang tentang semua kesalahan yang kau lakukan, salahkan lah seseorang yang mengaitkan semua itu dengan dirimu. Penyakit Kou sebenarnya muncul karena keturunan Comi yang sebelumnya jadi kau tidak perlu menyalahkan diri secara terus menerus."


"Buatlah orang itu menyadari bahwa berurusan dengan seseorang yang sudah memiliki hubungan dekat dengan Comi adalah pergerakan yang salah, kita semua ada untuk satu sama lain sebagai teman terutama keluarga dekat." Shuan melebarkan matanya lalu ia mengangguk dengan tatapan penuh tekad.


"Aku akan coba...!"

__ADS_1


__ADS_2