Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 505 - Penginapan Besar


__ADS_3

Hari yang begitu santai untuk hari ini sampai tidak ada gangguan sama sekali yang datang melainkan perasaan untuk bersenang-senang dan bercanda.


Mansion itu sekarang dipenuhi dengan teman-teman yang Haruka ajak karena isinya begitu luas jadi masih bisa menampung beberapa orang bahkan mereka juga berencana untuk menginap.


Ruangan tamu Mansion itu sangat besar bahkan semua orang mulai memainkan permainan seperti kartu, semua orang berkumpul dan membuat lingkaran di tengah-tengah.


"Aku tidak menyangka satu hari ini akan berjalan lancar ya, di kota permohonan yang asalnya dipenuhi dengan pembunuh." Kata Hana sambil melihat-lihat kartunya.


"Semuanya mungkin sudah sadar diri, akademi seharusnya di jalani tanpa konflik atau masalah yang besar, sekarang aku merasa lebih nyaman menginap di sini." Kata Asriel sambil mengeluarkan kartu lima di hadapannya.


"Hmph, pilihan yang bagus, Asriel... Biarkan aku menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya dalam permainan kartu ini...!" Ucap Honoka selagi memegang erat kartunya, ia mulai melempar kartu tambah empat.


"Sekarang, Kakak, ambil 4 kartu atau timpa lagi dengan kartu yang sama...!" Honoka menunjuk Haruka sehingga Haruka tersenyum jahat, melihat salah satu kartunya berubah menjadi kartu yang sama dengan Honoka.


"Kalau begitu, aku akan melakukan serangan kombinasi bersama Honoka dengan menimpa kartu yang sama... Itu artinya kau akan mengambil delapan kartu, Rokuro!" Seru Haruka sehingga ia menempati kartu itu di atas kartu Honoka.


"Ahh... Kebetulan, aku memiliki kartu tambah empat yang sama." Rokuro menempati kartu tambah empat di atas kartu milik Haruka.


"Selanjutnya yang tidak memiliki kartu tambah empat akan mendapatkan 12 kartu...!"


Semua orang hampir memiliki kartu tambah 4 dan 2, seseorang yang tidak memiliki kartu tambah lagi akan menerima sebanyak 20 kartu dan itu adalah Hana yang tidak memiliki kartu tambah sama sekali.


"Heh... T-Tidak ada..." Hana mulai panik, padahal kartunya hanya tersisa dua lagi dan ia mulai menatap seluruh teman-temannya yang menahan tawa.


"Ugh... Sial..." Hana mengambil 20 kartu untuk mengikuti peraturan.


Permainan terus berlanjut sampai tersisa hanya dua orang yaitu Haruka dan Rokuro, hanya tersisa 6 kartu lagi untuk Haruka sedangkan Rokuro tiga.


Permainan kartu yang begitu sengit bahkan semua orang terus melihatnya dan salah satunya sudah mengetahui siapa yang akan menang, Haruka hanya bisa menunjukkan senyumannya kepada Rokuro.


"Sekarang giliran ku, Haruka..." Rokuro menempati kartu lima, sekarang giliran Haruka untuk melakukan sesuatu agar bisa membuang enam kartu tersisa itu.


"Pilihan yang bagus, Rokuro... tetapi peraturan dari sebuah permainan itu sama mutlaknya dengan sihir mutlak apapun." Kata Haruka, Rokuro bisa merasakan sebuah kekalahan ketika Haruka mengatakan itu.


"Kalau begitu, mari kita mulai dengan serangan kombinasi, Rokuro...!" Haruka memegang erat kartunya lalu ia mengangkatnya ke atas.


"Enam kartu tersisa..." Haruka menempati kartu yang dapat melewati seseorang dalam menempatinya kartunya, Rokuro bisa melihatnya dengan jelas ketika Haruka dan Honoka terus tertawa berduaan.

__ADS_1


Rencana yang begitu licik tetapi ia biarkan saja mereka bersenang-senang untuk melupakan konflik yang terjadi kemarin.


"Lima kartu tersisa..." Haruka menghentikan waktu sehingga Honoka mulai tertawa terbahak-bahak, mengetahui semua kartu yang dimiliki Haruka adalah melewati dan tambahan kartu.


"Empat kartu tersisa..."


"Tiga kartu tersisa..."


"Dua kartu tersisa..."


"Satu kartu tersisa... Jika kamu menyadarinya Rokuro, pasti kamu akan mengatakan sesuatu yang mutlak untuk menghentikan diriku tetapi..."


"...percuma saja!!!" Seru Haruka keras sehingga ia menempati kartu yang terakhir yaitu tambah empat, waktu kembali berjalan dan mereka semua dikejutkan dengan Haruka yang memiliki banyak kartu melewati bagian musuh.


"Sudah ku duga... keberuntungan saat ini tidak sedang bersamaku."


Permainan berakhir begitu saja dengan Rokuro yang mendapatkan hukuman untuk menggunakan ikatan rambut berlambang waktu yang selalu Haruka gunakan, Haruka memasangnya di rambut Rokuro.


"Hahaha, cocok sekali untukmu. Sekarang kita memiliki ikatan yang sama..." Haruka mengeluarkan ikatan berlambang jam dan ia menggunakannya di poninya sendiri.


"Yah... Seorang Legenda harus bisa menghadapi kekalahan itu, selanjutnya aku tidak akan kalah melawan dirimu." Ucap Rokuro.


Tidak begitu berbahaya karena mereka semua menahan diri untuk melakukannya, untuk Rokuro dan Shuan, mereka tidak menahan diri sama sekali melainkan saling melukai dengan bantal yang mereka pegang.


Beberapa menit kemudian, perang bantal berakhir begitu saja sehingga sebagian dari mereka sudah tertidur pulas di atas karpet yang Haruka pasang untuk di jadikan sebagai tempat tidur penginapan besar.


Shuan tidak bisa tidur sama sekali karena rasa khawatirnya soal Kou yang saat ini mungkin sedang bekerja keras, ia mulai bangkit dari atas lantai dan mencoba untuk tidak sengaja menginjak seseorang.


Shuan bisa melihat mereka semua tertidur dengan pulas, penginapan ini hanya kekurangan satu orang yaitu Minami, ia tidak bisa dihubungi sama sekali karena sedang tidur selama 1 hari penuh di dalam kamarnya sendiri.


Shuan menatap Rokuro yang menghilang entah kemana bahkan Haruka juga tidak ada, seperti biasanya mereka kadang menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.


"Tengah malam seperti ini pasti mereka sedang berkencan..." Shuan menghampiri ruang kerja Kou lalu mengetuk pintunya pelan.


Ketukan itu tidak mendapatkan jawaban apapun dari Kou sehingga Shuan membuka pintu itu pelan-pelan lalu ia melihat Kou yang tertidur di atas meja.


"Kou...?" Shuan langsung masuk ke dalam ruangan itu lalu meraba keningnya yang terasa sedikit hangat, untuk sekarang ia merasa lega karena kondisi Kou baik-baik saja untuk sekarang.

__ADS_1


Shuan bahkan dikejutkan dengan Kouko yang masih bekerja tanpa menampakkan dirinya, ia mulai berbicara dengannya sebentar bahwa ia inginkan membawa Kou ke kamarnya agar bisa tidur dengan tenang.


Shuan mengangkat tubuh Kou yang sangat ringan lalu berjalan pergi menuju kamarnya yang berada di sebelah ruang kerja itu, ia menoleh ke belakang dan melihat Kouko yang mengikuti dirinya seperti hantu.


Shuan masuk ke dalam kamar Kou yang terlihat begitu indah, semuanya bertema dengan luar angkasa bahkan ia bisa melihat lampu kamarnya itu terlihat seperti matahari.


"Aku tidak membutuhkan gadis feminin atau apapun itu... setidaknya Kou cukup, dia memiliki senyuman harapan yang tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun." Shuan menempati Kou di atas kasur lalu memberi dirinya kecupan di bibir.


Kouko mulai menjaga di sebelah Kou dengan tatapan datar dan Shuan mulai memastikan dirinya, ia jarang sekali melihat Kouko menampakkan dirinya di hadapannya bahkan selama ini Kou memang memiliki penjaga hantu.


"Kouko... Apakah kau bisa mengerti apa yang ku katakan? Coba mengangguk jika mengerti..." Tanya Shuan dan Kouko langsung mengangguk pelan.


"Apakah kau selama ini selalu menjaga dirinya?"


Kouko mengangguk, membuat Shuan merasa sedikit lega dan ia ingin menanyakannya lebih lanjut lagi tetapi Kouko tidak bisa berbicara atau menjelaskan sesuatu yang sangat rumit.


Shuan melihat tempat yang lumayan kosong di kasur Kou dan ia ingin menggunakannya agar bisa tidur bersebelahan bersamanya dan saling membagi kehangatan seperti pelukan.


Sebelum itu, Shuan memiliki rasa penasaran di dalam pikirannya sehingga ia mencoba untuk mengintip di balik rok Kou tetapi ia malah terkena hantam oleh Kouko.


"Ahh... Refleks biasa..." Shuan terkekeh pelan lalu berbaring di sebelah Kou, perasaan baru mulai ia rasakan dan itu terasa sangat dingin sehingga firasatnya mulai memburuk seketika.


"... ..." Shuan memberi Kou sebuah pelukan lalu ia memejamkan kedua matanya, tidak membutuhkan 1 menit untuk ia tertidur pulas karena pandangannya mulai menggelap seketika.


Tubuh Shuan tiba-tiba lumpuh seketika bahkan arwahnya terasa seperti di tarik dari puncak kepalanya, Shuan langsung sadar tetapi kedua pandangannya hanya melihat suasana yang dipenuhi dengan warna putih.


Setelah itu, tubuhnya terasa di tarik ke atas dengan kecepatan maksimal sehingga Shuan mencoba untuk berteriak tetapi mulutnya terasa di tahan oleh sesuatu.


Shuan tiba-tiba terjatuh di atas awan emas yang terasa sangat padat, pandangannya sekarang melihat awan emas di atas langit dengan ketiga saudara Comi yang sedang melihat.


Shuan sempat terkejut karena apa yang ia lihat terasa seperti realitas asli, bukan sekedar mimpi sehingga ia bangkit selagi memastikan sekeliling aman.


Ia menoleh ke atas, melihat Haruka, Honoka, dan Kou seperti mengenakan pakaian yang begitu suci, seperti berada di surga yang pernah Kou ceritakan kepadanya.


"Kou...?" Shuan mencoba untuk meraih dirinya tetapi ia tidak bisa terbang sama sekali, ia mulai menatap ke depan dan melihat sesosok misterius berjubah putih yang sedang membelakangi dirinya.


"S-Siapa kau...?!"

__ADS_1


"Jika kau berani tunjukkan wajahmu itu!"


__ADS_2