Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 469 - Pada saat Malam itu


__ADS_3

Semua murid dan warga yang berada di kota permohonan mulai mengadakan pesta yang begitu besar di pusat kota, awalnya Morgan lah yang membuka acara pesta istirahat untuk para murid yang masih selamatĀ  di titik ini.


Pesta yang sangat meriah, dipenuhi dengan cahaya warna-warni yang menyinari langit-langit bahkan pemandangan dari luar angkasa juga terlihat begitu menakjubkan.


Seluruh murid dan warga mulai melakukan aktivitas biasa mereka seperti berbicara, bergosip, memakan makanan pesta, dan berdansa atau bisa dibilang saling membagi kasih sayang dan cinta.


Kou saat ini sedang menemani Shuan dalam latihan kecilnya, Kou duduk di atas punggung Shuan selagi menikmati hidangan madunya, siang tadi Shuan baru saja berlatih keras dan ia merasa tidak puas sehingga memilih untuk berlatih lagi.


Kou tentunya tidak keberatan walaupun Shuan tidak memiliki waktu baginya, hanya saja Kou terlihat begitu senang melihat pacarnya yang terus bekerja keras.


Shuan baru saja menyelesaikan push-up sebanyak seribu kali, setelah itu Kou berdiri lalu duduk di atas kursi dan menatap Shuan yang mulai mengerikan keringatnya.


Kou yang tadinya sedang fokus menghabisi hidangannya mulai melamun ketika melihat Shuan yang terlihat begitu berbeda sekarang, jauh lebih kuat bahkan ia bisa merasakannya walaupun tidak memiliki kekuatan dan Lenergy.


"Hm...? Kenapa, Kou? Apakah hidangan yang kamu suka itu tidak enak? Kamu sampai melamun..." Shuan mulai menyentuh kedua pipinya sehingga ia kembali fokus, kemudian salah tingkah di hadapannya.


"Aneh..." Shuan duduk di sebelahnya lalu ia mengambil segelas air dingin, Kou mulai merebut gelas itu.


"Tidak boleh..."


"Ehh? Ahh... Tidak baik meminum air dingin ketika selesai latihan ya." Shuan mulai mencari segelas air biasa dan ia melihatnya, dengan cepat ia menarik menggunakan kekuatan dari Golden Earth.


Gelas itu tertarik dengan tumbuhan emas yang keluar melalui tapaknya, Kou tersenyum melihatnya karena Shuan masih menjalani pola hidup sehat, setelah itu ia melihat dirinya melanjutkan latihan dengan mengangkat beban.


"... ..." Kou tetap diam dan fokus menguyah crepes yang ia dapatkan dari Shuan.


"Oi, Shucchi! Apa yang kau lakukan?!" Panggil Minami, Shuan terkejut ketika mendengarnya karena ia melihat Kakaknya datang menghampiri dirinya untuk memarahi tentang sesuatu.


"Kenapa?"


"Sekarang bukan waktunya untuk melanjutkan latihan, kau sudah tiga tahun berlatih di dalam kubus waktu bahkan sampai menguji kekuatan itu dengan Rokuro." Minami mulai merebut semua beban yang Shuan bawa dari ruangan pelatih.


"Legenda juga membutuhkan istirahat, jika kau memaksa diri dengan latih terus menerus maka kau tidak akan bisa menguasai amarah yang mempengaruhi dirimu itu, bodoh!"


"Grgh... Berisik sekali sih..."


"Kau juga harus sadar diri dong! Kou sedang bersamamu! Kau seharusnya berbicara dengan dirinya terus, jangan membiarkan dirinya kesepian seperti itu...!" Minami terus memarahi Shuan dan ia hanya bisa diam sambil mendengar dengan anggukan kecil.


"Maaf ya, Kou. Kalau Shuan tidak menghiraukan diriku lagi, lapor saja padaku." Kata Minami dengan ekspresi yang terlihat khawatir.


"Ahaha... Tidak apa..." Kou tersenyum selagi memejamkan kedua matanya, ia melihat Minami berjalan pergi dan Shuan mulai bangkit dari atas kursi lalu meraih tangan Kou.


"Kou, mau ikut denganku...?"


Kou hanya menatap Shuan dengan tatapan yang bingung, "Sesuatu yang mungkin kau sukai."


Shuan mulai mengambil jas emasnya lalu memasangkannya kepada Kou agar ia bisa terlindungi dengan cuaca yang lumayan dingin ini, tubuhnya sekarang terlindungi dengan kehangatan.

__ADS_1


"Ayo." Shuan mengajak Kou pergi dari tempat pesta itu dan Kou hanya mengangguk, membiarkan dirinya memimpin.


***


Asriel dan Mitsuki saat ini sedang menghabiskan waktu bersama di luar, melihat kembang api yang meledak dimana-mana.


Mereka masih menantikan Minami untuk menyalakan kembang api itu, sayang sekali, ia ingin menyalakannya tepat pada saat tengah malam agar moodnya terasa lebih menyenangkan.


"Sayang sekali ya... Kita harus menunggu selama 4 jam, tempat ini cukup dipenuhi dengan orang-orang yang sedang bersenang-senang." Kata Mitsuki.


"Kita bisa membunuh waktu dengan bersenang-senang juga." Asriel mengeluarkan kembang api kecil yang dapat di lihat dari jarak yang dekat.


"Wah, ide yang bagus." Mitsuki dan Asriel mulai menyalakan kembang api kecil itu lalu mereka melihatnya dari jarak yang dekat.


Terlihat sangat indah, seperti kedamaian yang saat ini menyelimuti Touriverse. Mitsuki mulai mengingat Marie yang tereliminasi karena seorang musuh yang memiliki kekuatan untuk membelah celah.


"Mitsuki, ada apa?"


"Ahh, hanya mengingat Marie... Aku tidak menyangka dia akan di keluarkan begitu cepat, pada awalnya aku menantikan pertarungan ketika turnamen nanti."


"Ahh... Jika kau bersedih seperti itu kesempatan menangmu akan berkurang, lebih baik fokus dengan tujuan ke depan dan memperbaiki kesalahan Marie."


"Mungkin dia akan senang jika kamu bisa mengikuti turnamen itu bahkan menjadi pemenangnya." Perkataan Asriel sudah cukup untuk membuat Mitsuki tersenyum, ia memberi dirinya sebuah kecupan di pipi.


"Terima kasih, Asriel."


***


Minami saat ini tidak begitu tertarik dalam menjalani hubungan rumit yang bernama cinta itu karena ia masih ingin tetap fokus berlatih dan menjadi penerus Megumi, terutama memperbaiki kesalahan yang pernah ia lakukan dulu.


Seperti memberikan banyak kebaikan kepada ketiga saudara Comi itu dan menunjukkan kepada dunia bahwa keturunan Ryouma bukanlah Legenda gagal yang berubah menjadi Legenda jadi-jadian yaitu Neko Legenda.


"Sudah aku bilang beberapa kali, hampir ratusan kali. Aku tidak ingin menjalani hubungan rumit..."


"Aku tidak begitu tertarik dengan yang namanya cinta, lebih baik memiliki teman yang dapat dipercayai dibandingkan pacar. Kita tidak tahu, mereka bisa saja menghancurkan kehidupan kita secara tidak langsung."


Perkataan Minami membuat Hana takut bahwa suatu saat nanti ia bisa saja hancur berkeping-keping ketika diputuskan oleh pacarnya terapi jika melihat dari dekat, hubungan teman-temannya berjalan lancar.


"Hubungan Rokuro dan Haruka---"


"Jangan bawa-bawa mereka, bisa di bilang hubungan mereka berevolusi dari teman masa kecil menjadi pacar. Jika sudah seperti itu maka mereka sudah dipisahkan." Minami mulai mengganti halaman.


"Hei, aku bosan, Minami... Honoka, kemana sih?!" Hana mulai mengganti topik lain, Minami hanya bisa memasang wajah datar.


"Biasanya dia sedang mencari pir..."


"Ahh... Kalau begitu..." Hana mengulurkan lengan kanannya.

__ADS_1


"Mau berdansa denganku, Minami?"


"Hm? Tentu." Minami meraih tangan Hana.


***


Haruka mulai membuka jendela hotel dan ia dikejutkan dengan pemandangan kota permohonan yang begitu indah bahkan Haruka juga terkejut ketika melihat pesta itu berada di jarak yang begitu dekat.


"Lihat, Rokuro, pemandangannya indah sekali." Kata Haruka, Rokuro mulai mendekat dan ia merasa terkesan ketika melihat langit-langit yang dipenuhi dengan cahaya bintang.


"Kau benar... Hukuman ini cukup ketat."


"Apa maksudmu, aku melarang dirimu untuk bertarung ketika hari libur bukan? Lebih dari satu menit... Satu menit itu berharga bagiku tahu!" Haruka mengumbangkan pipinya dan Rokuro mulai memeluknya.


"Iya, iya, aku tahu, berisik. Tidak perlu mengulangnya beberapa kali." Rokuro melepasnya.


"Kenapa harus hotel?"


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu berduaan seperti biasanya... Bisa diĀ  ilang aku saat ini bosan... Hehehe, ingin di manja." Haruka tersenyum malu, Rokuro bisa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Jangan bilang, Haruka, pada saat kita sedang menjadi murid?"


"Hm...? Apa?"


"Tidak ada." Rokuro mengalihkan pandangannya, Haruka mulai mengambil satu botol Vodka yang begitu besar lalu ia membuka penutup botolnya.


"Rokuro, mau minum?"


"Vodka ya, tidak tertarik."


"Heh? Kau sudah tua loh, kau juga bahkan tidak pernah meminumnya sekalipun bukan?"


"Tidak itu artinya tidak, Haruka. Aku tidak ingin mabuk berat karena Vodka karena aku tidak begitu tertarik, kau tahu efek samping Legenda yang mabuk?"


"Tidak... Justru aku sangat menyukai Vodka." Haruka mulai meminum Vodka itu langsung dari dalam botol besar.


"Kita Legenda memiliki efek sampingan terhadap minuman yang memiliki efek mabuk tidak baik bagi kita ras campuran dari berbagai macam---" Rokuro terkejut ketika Haruka menarik dirinya lalu memberinya sebuah kecupan dalam di bibir.


Rokuro bisa merasakan cairan Vodka di dalamnya sehingga ia tidak sengaja meminumnya sampai efeknya aktif dan sangat kuat, ia tidak bisa mengontrol tubuhnya sedangkan Haruka mulai tersenyum dan menatap Rokuro yang terlihat biasa saja.


"Enak kan? Kamu manja, harus di suap---" Rokuro tiba-tiba mengangkat tubuh Haruka lalu menempatinya di atas kasur, ia mulai menahan kedua lengannya sampai Haruka terdiam dan menatap dirinya dengan sebuah senyuman.


"Mulai nakal nih? Siapa yang menyuruhmu begini, Rokuro--- ahhh...!!! Geli! Geli!" Leher Haruka bisa Rokuro hisap sehingga ia tidak bisa melakukan apapun karena gairahnya muncul secara tiba-tiba.


Rokuro mulai mengambil botol Vodka itu lalu meminum semuanya, "Haruka..."


"Hmm... Lakukan yang kau mau..."

__ADS_1


__ADS_2