
Konomi melompat ke belakang dan menangkis semua panah rasi bintang yang meluncur ke arah dirinya melalui luar angkasa, serangan yang di lakukan oleh kesatria Sagitarius bernama Senzu.
Kemampuan yang dapat mengendalikan bintang menjadi rasi bintang yang berlambang Sagitarius, Sagitarius yang memegang sebuah busur lalu menariknya sampai melepaskan panah yang sangat besar.
Konomi mengumpulkan banyak tenaga, kekuatan, dan Lenergy untuk melepaskan serangan tombak yang dapat mementalkannya menuju luar angkasa kembali.
Jika ia membiarkan panah itu menyentuh daratan maka akan terjadi ledakan besar yang mampu melempar dirinya ke arah lain, tidak lama kemudian Konomi tidak akan membiarkan dirinya menyerang lagi.
"Inferno Maelstorm!" Konomi memutarkan tombaknya yang terbakar seketika dengan api merah kekuningan.
Konomi melepaskan kemampuan sihir masif yang dapat menciptakan badai hujan api yang dapat melukai siapa pun yang berada di dalam badai tersebut.
Menyesuaikan dengan ukuran tabung kaca berisi cairan merah yang dilempar ke target. Tabung berukuran kecil akan menciptakan badai dengan radius 150 meter, ukuran sedang akan memiliki radius 200 meter dan ukuran besar akan memiliki radius 250 meter.
Senzu melakukan teleportasi selama lima kali, Konomi langsung menggunakan kemampuan alami yang dapat membaca dan menganalisis sesuatu.
Dengan cepat Konomi mundur ke belakang lalu melempar tombaknya ke depan selagi melihat Senzu yang melakukan teleportasi sebanyak 5 meter, itu artinya ia tidak dapat berpindah jauh.
Hanya saja Konomi perlu berhati-hati tentang sentuhan Senzu yang dapat memindahkan dirinya ke tempat lain, sama halnya dengan ia yang memindahkan Shinobu langsung ke dalam kerajaan Leonial.
Senzu mencoba untuk mendekati Konomi selagi mengisi Lenergy berjumlah besar di lambang rasi bintang itu agar lambang Sagitarius tersebut dapat melepaskan panah dengan kekuatan dahsyat.
Konomi menurunkan jari telunjuknya sampai tombak itu masuk ke dalam tanah, kemudian ia menggunakan kemampuan yang dapat memunculkan senjata Railgun yang dapat menembakan peluru energi dengan daya serangan yang cukup besar
Konomi mengarah Railgun itu ke arah Senzu sampai ia mulai menghampiri sendiri peluru energi itu dengan sihir teleportasinya, walaupun dia dapat melakukan teleportasi selama lima meter dengan kecepatan penuh.
Konomi menerima kesulitan yang besar karena setiap serangan yang ia lakukan selalu ia hindari sampai dirinya perlu melakukan prediksi terhadap kemunculan Senzu dengan teleportasinya itu.
Senzu tersenyum serius lalu ia menjentikkan jarinya sampai melakukan teleportasi ke arah semua tembakan laser itu sampai semua serangan tersebut langsung muncul di belakang Konomi.
Konomi melihat Senzu memindahkan sihir teleportasinya kepada sesuatu, itu artinya ia tidak dapat menyerang dan tentunya Senzu sudah mempersiapkan serangan besar melalui rasi bintang itu.
Senzu mengharapkan serangan yang ia lancarkan mengenai tepat sasaran yaitu kepala Konomi tetapi harapannya terlalu tinggi sehingga punggungnya menerima tusukan dari tombak yang keluar melalui daratan.
Bukan itu saja tetapi Konomi juga menerima serangan peluru energinya di punggung sampai ia terdorong ke depan lalu terjatuh dengan luka bakar yang lumayan besar karena ia tidak menyangka sihir teleportasi Senzu tidak dapat ia rasakan secara alami.
"Sial... aku sempat tidak merasakannya tetapi sihir teleportasi yang memindahkan sihirku itu..."
"...sempat ia ubah menjadi panah rasi bintang yang cukup menyakitkan... untung hanya menyentuh tulangku, bukan mematahkannya." Konomi kembali bangkit lalu memegang panah yang menusuk punggungnya.
Konomi menatap panah itu yang berubah kembali menjadi laser menipis, "Mengubah serangan apapun menjadi panah rasi bintang dengan tambahan efek sihir yang di ubah."
"Sihir teleportasi... Sagitarius memanah... perubahan serangan panah rasi bintang... aku mengerti." Konomi mengeluarkan sebuah botol yang berisi pemulihan.
Pemulihan yang cukup untuk menghilang sedikit rasakan sakit, ia melihat Senzu memasang tatapan kesal bahkan zirah bagian kepalanya terbuka.
Menunjukkan ekspresi Senzu yang sangat kesal karena ia lengah dengan satu tombak, ia memegang erat tombak tersebut lalu melepasnya sampai bekas luka itu mengeluarkan darah deras seperti air terjun.
"Nrrgghhh... Shichiro Konomi... berani-beraninya kau melukai kesatria sepertiku...!" Senzu mengeluarkan sebuah busur yang ia ciptakan melalui rasi bintang.
Konomi menarik tombaknya lalu ia melakukan kuda-kuda bertarungnya, walaupun punggungnya masih menerima rasa perih dan kesakitan, ia akan terus maju untuk mengalahkan Senzu.
"Kekuatanmu hebat, hanya saja pengalamanmu cukup menyedihkan..." Kata Konomi.
"Jangan banyak bicara, bocah ingusan."
***
Hinoka melihat kesatria Capricorn yang bernama Kalya mulai maju ke depan, tidak memedulikan ledakan yang Hinoka lepaskan melalui daratan karena semua kesakitan yang ia terima terasa geli.
Hinoka hanya bisa memasang tatapan yang terlihat kaget karena setiap serangan yang di lakukan oleh dirinya tidak mampu untuk melukainya sampai ia mencoba untuk mengubahnya menjadi bom.
__ADS_1
Bom yang meledakkan di dalam tubuh Kalya memisahkan tubuhnya, hal yang mengejutkannya adalah tubuh itu masih tersisa sampai membentuk kembali menjadi dirinya.
Hinoka memasang tatapan kaget ketika melihat Kalya memiliki zirah kepala kambing mengerikan, hampir terlihat seperti lambang iblis, kemungkinan besar dia abadi.
Hinoka menghantam daratan lalu ia mengambil beberapa batu kecil yang langsung di lempar ke depan sampai ia mengubahnya menjadi molotov yang membakar tubuh Kalya.
Kalya langsung maju ke depan dan mengarahkan kepalanya kepada Hinoka, Hinoka melompat ke atas langit lalu ia menunjuk kesatria itu menggunakan kedua tapaknya.
Kalya melompat tinggi ke arah Hinoka sampai ia mulai melancarkan satu pukulan tetapi Hinoka berhasil menangkap pukulan itu lalu meledakkannya dengan daya ledakan dari jarak dekat.
Mereka terdorong ke belakang, Hinoka mulai memunculkan sebuah granat yang ia ubah menjadi kapak besar, setiap serangan yang mengenai targetnya akan melepaskan ledakan yang mampu untuk menghancurkan gunung.
Kalya maju ke depan lalu ia mengeluarkan sebuah rantai yang langsung di ayunkan ke arah Hinoka, dengan cepat ia menghindari semua serangan itu lalu melempar kapak tersebut ke arah Kalya.
Kalya menahannya menggunakan kedua tangannya tetapi Hinoka langsung meledakkan kapak itu dari jarak yang sangat dekat sehingga menimbulkan asap yang begitu banyak.
Hinoka mendarat di atas tanah lalu ia menginjak daratan dengan penuh tenaga sampai mengeluarkan banyak batu-batuan yang langsung ia lempar menggunakan dorongan Lenergy.
Semua batu-batu itu berubah menjadi granat yang Hinoka ubah menggunakan realitas, Hinoka melihat batu besar di belakangnya lalu ia mengangkatnya dan melemparnya ke arah Kalya.
Batu besar itu langsung berubah menjadi roket besar yang menyebabkan daya ledakan lebih besar lagi sampai menekan daratan dengan angin yang begitu kencang.
"... ..." Hinoka menghela nafas lega tetapi ia dikejutkan dengan sambutan Kalya yang mulai memegang wajahnya erat sampai ia menghantam tubuhnya di atas.
"Brengsek...?! Sebenarnya kau apa...!?" Tanya Hinoka karena setiap ledakan yang mengenai tubuh Kalya masih belum cukup untuk membunuh dirinya.
"Serap."
Hinoka melebarkan matanya ketika wajahnya menerima kesakitan yang begitu panas ketika tapak Kalya seperti menyerap sesuatu dari tubuhnya itu.
"Kau... Kau pasti bukan Legenda ya..." Hinoka memegang erat kedua lengan Kalya sampai ia memasang tatapan kesal karena Lenergy yang ia simpan di dalam tubuhnya mulai di curi oleh Kalya.
"Cobalah untuk menyerap diriku lagi..." Hinoka memasang tataan kesal sehingga ia mulai melakukan kuda-kuda bertarungnya ketika berhadapan melawan Kalya.
"...penyerapan itu berkaitan dengan sesuatu, aku merasakannya.
***
"Oi, bangun" Seorang penjaga menampar wajah Shinobu sampai ia membuka kedua matanya dengan kaget lalu menatap ke depan.
Melihat Leon yang sedang menunggu Shinobu bangun karena ia ingin menanyakan berbagai macam hal kepada dirinya, dengan cara kasar oleh bawahannya sudah cukup.
"Lapor, pemimpin Leon, dia akhirnya sudah bangun dan perlu berhati-hati bahwa ia---"
"Berhenti berbicara dan segera mendekati semua sandera itu." Leon bergerak mendekati Shinobu sambil berdiri di sebelahnya yang tidak berdaya karena kedua lengan dan kakinya telah di pisahkan.
Leon menyimpan lengan dan kaki buatan milik Shinobu di daerah yang aman sampai ia juga mulai mencabut mata kirinya agar ia tidak melakukan sesuatu yang mengejutkan.
Semuanya telah di rampas oleh Leon sampai ia sekarang hanya melihat Shinobu sebagai kucing rendahan yang dipenuhi kekurangan buruk tetapi ia bisa membaca ekspresi terlihat sangat polos.
"Aku lengah ya..." Shinobu melihat semua sandera itu terlihat seperti meminta tolong kepada para penjaga yang sedang menjaga mereka untuk kabur.
"A-Anuuuu...!" Shinobu menaikkan suaranya untuk berbicara kepada mereka, semua sandera itu menatap dirinya dengan tatapan ketakutan karena tidak mau mati.
"Maafkan aku... seharusnya aku tidak memperburuk situasi..." Shinobu lagi-lagi berminta maaf, melihatnya saja membuat Leon memiliki rasa simpati bagi dirinya.
"Benarkah, Shinobu? Setelah mereka mengkhianati dirimu sampai menyakitkan dirimu sampai merendahkanmu tetapi kau tetap meminta maaf dan merasa malang kepada mereka?"
"Aku tidak begitu peduli... hanya saja aku... aku tidak ingin mereka menderita seperti itu sampai di sandera..."
"...aku memiliki keinginan besar, tidak peduli imbalan atau pembalasan yang mereka berikan kepadaku. Aku ingin mereka senang dan bebas..."
__ADS_1
"Walaupun membantu tidak akan memberikan diriku apapun... tidak ada untungnya... t-tapi aku bisa melihat merasa senang."
"Di masa seperti ini... sulit juga untuk membantu karena... tugasku sebenarnya adalah pemberontak..."
"...sungguh menyulitkan tetapi aku coba sekuat mungkin untuk bisa... untuk bisa membahagiakan mereka demi keinginanku yang sangat besar." Shinobu tersenyum sampai wajahnya menerima satu pukulan dari Leon.
"Kau tidak berguna... sejak kecil kau sudah diperlakukan buruk oleh takdir, dunia dan semua orang... tetapi kau tetap memberikan harapan dan kebahagiaan itu?"
"Apakah kau tidak berpikir untuk membunuh mereka dan melawan semua penderitaan itu...? Dasar tidak berguna." Leon menyilangkan kedua lengannya, meminta salah satu penjaga untuk membawa seorang gadis yang hamil.
"Tidak apa... walaupun aku di perlakukan seperti itu, setidaknya penderitaan mereka selesai... anuu..."
"...apakah ini kebenaran yang selalu kamu ingin katakan padaku?" Tanya Shinobu sampai dagunya di pegang erat oleh Leon yang mulai memaksa dirinya untuk menatap wanita hamil di hadapannya.
"Leon... kita bisa berbincang tentang semua ini... tolong jangan melakukan sesuatu kepadanya..." Shinobu menatap Leon dengan ekspresi takut.
"Astaga, kau masih memiliki rasa belas kasihan? Bukannya kau berada di situasi buruk seperti ini karena mereka yang membuat dirimu lengah?"
"Itu semua salahku... aku tidak menyadari soal riwayatku sendiri... ahahaha... seharusnya aku pergi ketika semua penjaga itu kalah."
"...walaupun aku lahir tidak normal seperti ini dan bisa di sebut sebagai ras terendah, tolong maafkan---" Shinobu terus meminta maaf kepada wanita itu.
"Omong KOSONG...!!! Semua ini salahmu...!!! Jika saja kau tidak datang maka kami semua tidak akan merasakan penyiksaan dan hukuman mati seperti ini...!" Teriak wanita itu.
"Suamiku mati karena dirimu...! Dia di bunuh oleh mereka...!!! Semua sandera yang datang ke dalam istana ini dibunuh karena kau yang mencoba untuk menyelamatkan kami!!!"
"Seharusnya kau sendiri sadar...! Di antara penyanderaan atau hal mengerikan lainnya... kau jauh lebih mengerikan dan merugikan!!!"
Shinobu memasang tatapan kaget, hatinya terus di tusuk oleh pedang, mulut itu bisa di bilang senjata menyakitkan yang dapat melukai seseorang di dalam hati sampai Shinobu tanpa henti terus menerima serangan mulut semua orang.
"M-Maaf... anuuu... seharusnya aku tidak melakukan itu..."
Shinobu merasa tidak berdaya karena ia membutuhkan tangan dan kakinya untuk melakukan sesuatu kepada wanita itu dengan memindahkan dirinya tetapi The Mind tidak bisa ia gunakan sementara.
"Maaf tidak akan memperbaiki sesuatu yang rusak...!!! Suamiku mati karena dirimu...!!! Keluargaku juga di bunuh oleh bangsa seperti kalian...!!!" Teriak wanita itu.
Shinobu memasang tatapan bersalah sampai ia menundukkan kepalanya, "Maaf..."
"Leon... tolong lepaskan dia... terdapat kehidupan baru di dalam perutnya... anuu... biarkan kehidupan itu bisa merasakan kebebasan---" Wajah Shinobu menerima pukulan lainnya dari Leon.
"Bunuh dia."
Wanita itu langsung memasang tatapan kaget, "TI-TIDAAAKK!!!"
"Kau terus bersikap baik seperti itu, Shinobu. Bayaran yang kau dapat adalah keburukan, biarkan aku membalasnya untukmu!" Kata Leon yang mencoba untuk menyadari Shinobu.
"T-Tidak! Tolong jangan---" Penjaga di belakang wanita itu mulai mengayunkan satu tongkat penuh tenaga sampai mengenai punggungnya.
Satu serangan tongkat itu langsung menghancurkan isi tubuhnya sampai tubuh bagian depan wanita itu mulai keluar sampai isi perut dan tubuhnya termasuk darah mulai mengenai tubuh dan wajah Shinobu.
Melihatnya saja membuat dirinya merasa semakin bersalah sehingga semua sandera terlihat ketakutan, "M-Maaf..."
Tubuhnya Shinobu dipenuhi dengan darah dan isi perut dari wanita tersebut bahkan ia melihat janin itu di hadapannya yang langsung di injak oleh penjaga tersebut.
"...selanjutnya! Jika kau tidak mau berubah maka aku akan membunuh mereka di hadapanmu agar kau merasa bersalah."
"Solusinya adalah kau mau berubah dan sekali saja menyiksa atau memberikan apa yang mereka sebenarnya inginkan yaitu pembunuhan."
"Tidak bisa..."
"...t-tolong hentikan."
__ADS_1