
Hari ke-5
Rexa mulai bisa kembali menggerakkan kaki kanannya untuk sementara, tetapi ia bisa bergerak dengan bantuan tongkat yang ia dapatkan dari Reika. Tongkat itu dapat membuat Rexa berjalan, "Kita memiliki dua hari lagi untuk bertahan sepertinya. Kemarin itu sepertinya wabah racun yang terakhir." Ucap Reika yang mulai keluar dari tenda besi-nya, ia mendapatkannya melalui fasilitas.
"Dua hari tersia-siakan karena wabah racun itu. Bahkan sihir suci milikmu tidak berguna terhadap wabah racun yang kuat itu?" Tanya Shua, Reika hanya bisa mengangguk. Mereka tidak memiliki pilihan lain selagi berlindung di dalam tenda yang terbuat dari besi serta barrier suci yang mengelilinginya. Ketika Reika berjalan keluar, ia melihat barrier itu sudah mulai rapuh dan meleleh.
"Sepertinya pertarungan antara kelas satu dan lima masih belum berakhir." Ucap Yuno, Shua mulai menatap Yuno dengan ekspresi yang terlihat kebingungan karena pertarungan antara kelas satu dan lima berjalan cukup lama juga, ia juga bertanya-tanya kenapa Yuno bisa yakin bahwa pertarungan antara kedua kelas itu masih belum berakhir, "Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa pertarungan itu belum berakhir?" Tanya Shua penasaran.
"Biasanya jika kristal inti mereka hancur maka akan terdengar sebuah pengumuman yang mengatakan bahwa kelas ini telah tereliminasi." Jawab Yuno, Shua mengangguk dan ia langsung mengerti. Ia berjalan keluar lalu mulai menyentuh jam tangannya beberapa kali sehingga jam tangan itu mulai menunjukkan sebuah peta dimana ia melihat Ophilia, Akina dan Megumi sedang jalan menuju tempat persembunyian kelas dua.
Semua ini sudah direncanakan ketika jam tangan mereka kembali pulih, Shua sudah menghubungi mereka bertiga dan memberi mereka tugas untuk mengawasi kelas dua lalu menyerang mereka jika mereka siap, sebagai pemimpin Shua harus mengatur semuanya dan semua peserta yang ia pimpin harus menuruti apa yang dikatakannya.
Shua sudah mencoba untuk menghubungi Mirai, tetapi tidak bisa. Rumor tentang Mirai adalah seorang penghianat mulai membuat Shua dan Rexa yakin bahwa dia benar-benar seorang penghianat yang membuat mereka semua berpisah, Akina sekarang menjadi yakin dan kesal terhadap Mirai yang tidak menunjukkan keberadaannya, bahkan ia tidak bisa menemukan Mirai di peta yang terdapat di jam tangannya.
Shua mulai mencoba untuk menghubungi Asuka karena ia masih belum tahu tentang kondisinya bersama dengan teman-temannya yang lain, ketika ia mencoba untuk menghubunginya, Asuka juga tidak bisa dihubungi. Ophilia sebelumnya pernah menghubungi dan ia langsung menjawab, tetapi sekarang tidak.
"Sepertinya sesuatu buruk terjadi... Semoga saja tidak." Ucap Shua yang mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.
***
Akina dan Ophilia sedang duduk istirahat selagi memakan makan siang mereka, Megumi sadar bahwa tempat yang sedang mereka tepati adalah tempat dimana mereka menemukan fasilitas pertamanya bersama Asuka, ia mulai menghampiri peti yang terbuka itu dan di dalamnya terlihat kosong, "... ..." Megumi mulai berjalan pergi dan menatap ke atas dimana ia melihat sebuah pohon dengan ranting yang terlihat miring.
Megumi mulai memanjat pohon tersebut lalu ia perlahan-lahan mencium aroma dari ranting yang miring itu, "... ..." Megumi mencium aroma seseorang dari ranting tersebut, aroma itu sudah ada lama beberapa hari yang lalu. Hal itu membuat Megumi yakin bahwa ketika ia bersama Asuka bersembunyi di dalam semak-semak, masih terdapat satu orang lagi yang mengawasi mereka semua dan ia yakin itu pasti kelas satu.
Mangsa yang dimakan oleh predator dan predator itu dijadikan mangsa lagi oleh predator yang lebih kuat. Sepertinya Meguni terkecoh karena hal itu, ia mendarat di atas tanah lalu mulai mencari jejak kaki karena ia yakin bahwa orang itu akan meninggalkan jejak kaki, "Jika tidak ada jejak kaki maka..." Megumi mulai berjalan seperti kucing selagi mencoba untuk mencium aroma jejak kaki dan tak lama kemudian ia menemukannya.
Megumi terus mengikuti jejak kaki itu karena ia penasaran jejak kaki itu akan membawanya kemana, tiba-tiba ia berhenti di depan ledakan yang melanda markas kelad tiga. Ia mulai berdiri lalu menatap lubang yang besar itu, "Dan tanpa aku sadari, jejak itu membawaku ke markas dimana kita semua berpisah." Ucap Megumi yang mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat curiga.
__ADS_1
Megumi mulai bergerak di sekitar tempat itu selagi mencari sesuatu yang aneh, "... ..."
Zsshhh...
Meguni berhenti bergerak ketika ia menginjak sesuatu yang halus dan membuat seluruh tubuhnya tegang, "Apa...?" Megumi melirik ke bawah lalu ia menatap sesuatu yang ia injak, "Ahh...! Jangan-jangan...!?"
***
Waktu mulai menjelang ke malam hari, Rexa duduk di depan api unggun selagi memikirkan tentang Mirai dan juga Asuka, "Maaf karena sudah membuatmu repot, Rexa." Ucap Shua karena markas mereka pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kelas dua. Reika bersama yang lainnya sedang mengawasi sekitar tempat di atas pohon dan sebentar lagi adalah bagian Rexa untuk mengawasi.
"Kenapa kau tidak memberitahuku langsung, Shua?" Tanya Rexa.
"Apa?"
"Apakah kau mengetahui pelaku yang menipu kita semua? Sesosok orang yang menghianati kelas tiga dan kelas empat?" Tanya Rexa.
"Tidak tahu---" Rexa mulai melepas jaket Shua dan ia bisa melihat beberapa garis yang berbentuk seperti akar berwarna ungu mulai memenuhi tubuh termasuk perutnya. Mungkin itu semua karena wabah dari racun yang melanda kemarin, Shua sepertinya terkena infeksi di bagian yang lumayan berbahaya yaitu bagian tubuh, "Sepertinya kau hanya harus diam dan tidak perlu melakukan apapun, Shua." Ucap Rexa.
"Kita ini sama-sama perempuan Shua, jadi jangan terlalu dikhawatirkan. Kita khawatirkan tentang kondisimu yang bisa saja mempengaruhi organ tubuhmu." Ucap Rexa, racun itu terlihat seperti racun yang akan menyebar hampir sama seperti virus, ia bisa mengetahui beberapa racun tertentu berkat kakak-nya yaitu Agfi, "Racun seperti ini akan menambah parah jika kau terus bergerak."
Rexa mulai menyentuh perut Shua dan ia merasakan sebuah Lenergy Virus di dalamnya, Lenegy Virus bisa disebut sebagai virus yang memakan Lenergy sampai habis dan berpotensi untuk memakan organ-organ tubuh juga jika Lenergy itu habis, "Jika aku menyerah seperti seorang Legenda yang tidak layak maka aku tidak bisa disebut sebagai ras Legenda atau Saint Legenda." Ucap Shua dengan ekspresi yang terlihat sedih.
"Begitu ya..."
Beberapa menit kemudian, hari sudah malam dan hujan racun mulai turun. Untungnya semua peserta menghalangi racun itu dengan menggunakan fasilitas payung yang dapat melindungi mereka dari racun dan di setiap kelas terdapat seseorang yang mampu menyucikan racun-racun itu menggunakan sihir mereka.
Yuno dan Reika menyebarkan sihir suci mereka yang bernama Purification Armor, sebuah aura berwarna putih yang melindungi seluruh tubuh dari hujan racun. Sihir yang cukup membantu untuk bertahan hidup dan mencari markas inti musuh di cuaca yang seperti ini, "... ..." Rexa berjalan pelan menghampiri markas kelas dua dan ia melihat jelas bahwa mereka semua sedang berkumpul bersama dengan kelas satu.
__ADS_1
"Mereka juga bekerja---"
"Perhatian! Perhatian! Seluruh peserta dari kelas lima telah tereliminasi karena inti kristal-nya sudah terhancurkan." Ucap Lina. Semua peserta yang mendengar itu langsung terkejut karena kelas satu berhasil mengalahkan kelas lima. Semua peserta dari kelas satu dan dua mulai melakukan sebuah pesta dari markas mereka dengan cara mabuk.
Rexa hanya bisa diam selagi menatap mereka semua, ia mulai duduk di atas tanah selagi memegang kaki kanannya, "Mengatasi kelas satu dan dua akan terdengar cukup sulit." Rexa mengintip sedikit lalu ia melihat inti kristal milik kelas dua yang berwarna biru, tetapi Rexa juga melihat bahwa kristal itu dilindungi oleh sebuah barrier, "Jika aku menyerangnya maka... Itu sama saja dengan bunuh diri."
Shua mulai mencari-cari kemana Rexa dan tak lama kemudian ia tidak menemukannya melainkan ia tersesat, ia duduk di atas tanah dan mulai memejamkan kedua matanya. Inti kristal terjaga aman oleh Reika, Yuno, dan Osamu. Tetapi hal itu bisa saja hal yang tidak aman karena Rexa menyerahkan inti kristalnya kepada kelas empat, "Rexa... Dimana kau...?" Tanya Shua selagi bernafas berat karena tubuhnya mulai melemah.
Efek dari racun itu mulai bertambah parah karena Shua terlalu banyak bergerak dan menghabiskan tenaga-nya, ia mulai menatap jam tangannya dan mencoba untuk menghubungi Rexa, tetapi tidak bisa karena Rexa mematikan sistem untuk menghubungi seseorang jadi teman-temannya tidak akan bisa menghubungi Rexa.
Rexa melakukan itu karena ia tidak mau tertangkap basah oleh kelas satu dan dua karena ia berada di dekat markas kelas dua dan satu, "Tubuh lemah ini... Persetan dengan tubuh lemah ini..." Ucap Shua yang perlahan-lahan mulai memaksa tubuhnya untuk bangkit.
***
Asuka melihat dua peserta kelas satu yang sedang duduk beristirahat karena mereka baru saja menang melawan kelas empat, salah satu dari mereka akan menjadi mangsa bagi Asuka sendiri, "... ..." Asuka masih belum bisa bergerak karena ia masih ingin mencari informasi tentang mereka berdua.
"Hah... Hah... Hah... Sepertinya kita berhasil mengalahkan kelas empat. Sialnya mereka terlalu kuat." Ucap seorang peserta dari kelas satu, mereka berdua terlindungi dengan aura suci berkat dari satu peserta malaikat dari kelas satu yang bernama Chiro dan satu lagi adalah seorang iblis yang bernama Gamaro.
"Sudah saatnya kita kembali ke markas---" Asuka menembak sebuah laser berwarna merah muda ke arah mereka dan mereka langsung melompat selagi menghindari serangan, "Kerja bagus kelas satu, sepertinya kalian baru saja mempermudah pekerjaanku dalam menyingkirkan kelas lima." Asuka menghampiri mereka berdua selagi bertepuk tangan.
Mereka berdua mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut karena melihat peserta dari kelas tiga yang datang dengan kondisi yang tidak terluka karena dari tadi Asuka terus mengawasi sampai pertarungan berakhir, dia bahkan menginap dan buang air kecil serta besar di tempat persembunyiannya, "Earth Creation...!!!" Gamaro mulai menciptakan beberapa tombak yang terbuat dari batu lalu ia meluncurkannya ke arah Asuka.
Asuka menunjuk ke depan lalu ia tersenyum sinis, "Rose Protection!" Asuka menciptakan sebuah barrier yang berbentuk bunga sehingga semua tombak batu itu langsung hancur ketika mengenai barrier milik Asuka, "... ...!" Gamaro menunjukkan ekpresi yang terlihat terkejut sehingga Chiro muncul di belakang Asuka dengan sebuah tombak yang terbuat dari air.
"HYDRO SLASH!!!" Chiro mengayunkan sabit-nya, tetapi Asuka menunduk lalu ia menghantam perut Chiro menggunakan tinju kanannya, "Hugh...!!!" Asuka melanjutkan hantamannya dengan memukul perutnya beberapa kali menggunakan kedua tinjunya lalu ia berputar dan menendang wajah Chiro sehingga ia terpental menuju arah Gamaro.
Megumi bersama dengan Akina dan Ophilia tiba di tempat yang sama dengan Asuka, Megumi mulai mengacungkan tangannya untuk memberi signal kepada Akina dan Ophilia untuk berhenti bergerak. Megumi berlutut lalu ia melihat Asuka yang sedang bertarung melawan mereka berdua, tidak bisa disebut bertarung sih karena Asuka menyiksa mereka satu per satu.
__ADS_1
"Kenapa kau mencurigai Asuka...? Lihat... Dia sedang menyiksa peserta dari kelas satu." Ucap Ophilia.
"Lihat saja..." Jawab Megumi selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal.