
Ketika pertarungan Yuuki melawan Shira selesai, Shira terjatuh pingsan karena ia telah menempuh batasannya dan tidak bisa menghancurkannya lagi, jika ia memaksakan seluruh tubuhnya maka tubuhnya bisa saja hancur karena terlalu memaksakan. Korrina menyarankan Shira untuk beristirahat seperti tidur dan makan banyak-banyak agar ia bisa kembali bertarung dan melakukan kegiatan seperti seorang Legenda. Saat ini Shira sudah beristirahat hampir satu minggu.
Megumi yang sedang memegang sebuah mangkuk yang berisi bubur dan sebuah gelas yang berisi air putih dingin, ia menghampiri kamar tidur dimana Shira sedang berada di tempat itu sedang beristirahat seperti tiduran, "Shira...?" Megumi mulai mengetuk-ngetuk pintu kamar Shira, setelah beberapa ketukan Shira tidak menjawab dan membuka pintu itu, "Shira, apakah kamu ada di dalam?" Tanya Megumi.
Megumi mulai mengetuk pintu itu lagi sehingga pintu itu mulai terbuka, Megumi mulai mengintip sedikit lalu ia menatap kasur Shira yang berantakan, ia menaikkan ekornya tinggi ketika ia tidak melihat Shira, "Shira!?" Megumi menghampiri kasur itu lalu ia mulai menepati makan siang milik Shira di atas meja yang terletak di sebelah kasur itu, ia mulai mencari Shira menggunakan indra penciuman di hidungnya, "... ..."
Kedua telinga Megumi mendengar jelas suara teriakan Shira yang keras, Megumi mulai melirik ke arah jendela yang terbuka lebar, "Sepertinya dia berlatih... Sudah berapa kali Shira kabur demi latihan, apakah dia tidak sadar bahwa Legenda juga membutuhkan istirahat...!?" Tanya Megumi selagi menunjukkan wajah yang kesal, ia menepuk wajahnya sendiri lalu ia melompat keluar dari jendela itu untuk membawa Shira pulang.
Shira saat ini sedang berlatih di atas gunung-gunung yang tinggi, ia sudah benar-benar lelah tetapi ia tidak mau berhenti karena ia ingin untuk menghancurkan batasan yang sebenarnya, "Hah... hah... hah..."
Shira mulai berkeringat cukup banyak hingga bajunya saat ini sudah robek dan hancur bekas dari latihannya yang berat dan menyiksa bagi dirinya, ia berlatih dan belajar dari pengalaman yang ia miliki di semesta yang bernama Yuusuatouri itu. Mulai dari Shira mengerahkan semua sihirnya dan meluncurkannya kepada dirinya sendiri lalu Shira mulai menahan dan menyerang kembali sihir-sihir itu menggunakan seluruh kekuatannya, Shira saat ini hanya fokus kepada kekuatan dan sihir termasuk melatih Lenergy-nya agar Lenergy-nya bisa bertambah besar.
"Hah... hah... hah..." Shira mulai menarik nafas dalam-dalam lalu ia menghembuskan-nya ke depan, ia mulai mengepalkan kedua tinjunya dan setelah itu ia mengangkat kedua lengannya ke atas, "LIGHT OF HOPE...!!!" Teriak Shira keras hingga seluruh tubuhnya langsung dilindungi dengan aura emas cerah yang hampir sama seperti putih dan di ujung-ujung aura itu terdapat warna emas yang menyala hampir sama seperti api.
"GRRRRAAAAAGGGHHHHH!!!" Teriak Shira keras lagi, ia melepaskan gelombang aura emas ke atas langit hingga awan-awan yang ada di atas langit langsung hilang, Shira bahkan melepaskan beberapa dorongan di sekitarnya hingga mampu membuat getaran yang hampir sama seperti gempa bumi.
Light of Hope adalah sihir power-up yang diciptakan oleh Shira sendiri sejak ia selesai melawan Yuuki karena ia sadar bahwa ia membutuhkan sebuah sihir power-up. Namun, Shira adalah satu-satunya Saint Legenda yang berhasil menciptakan sihir power-up itu sendirian tanpa bantuan seseorang karena dia berlatih selama 24 jam penuh.
Ini adalah sihir power-up yang menggandakan Lenergy milik Shira untuk "detak jantung" sehingga meningkatkan kekuatan dan kecepatan Shira sendiri dan memungkinkan ia untuk menimbulkan kerusakan serius pada lawan yang jauh lebih kuat dari mereka. Namun, sisi buruk dari Light of Hope adalah bahwa hal itu membutuhkan korban besar pada tubuh Shira, membuat dirinya sendiri lebih rentan terhadap serangan musuh. Sementara di wujud ini, warna aura pengguna menjadi emas dan kuning keputihan. Sihir ini membutuhkan kontrol Lenergy yang besar untuk menanganinya dengan benar dan jika dia menyerap sinar matahari maka dia juga perlahan-lahan bisa mengontrol sihir ini, jika tidak maka tubuh Shira bisa saja hancur.
Shira mulai menghela nafasnya pelan dan setelah itu ia menatap tinju kanannya, "Baiklah... Aku pasti bisa...!!! LATIHAN INI AKAN MEMBUATKU MAMPU MENGONTROL LIGHT OF HOPE!!!" Teriak Shira keras hingga ia mulai menunjuk ke depan dimana ia mulai menciptakan bola energi cahaya yang sangat besar untuk dijadikan musuhnya, Shira mulai menunjukkan kuda-kuda bertarungnya dan setelah itu ia menunjukkan ekspresi yang terlihat sangat serius.
Shira mulai menaikkan seluruh auranya tinggi hingga perlahan-lahan seluruh tubuh Shira mulai bergetar dengan sendirinya, "... ..." Shira mulai menatap bola cahaya itu yang mulai bergerak mengelilingi tubuh Shira, ia terus memaksakan tubuhnya hingga perlahan-lahan auranya terus membesar tanpa henti hingga membuat gunung-gunung retak dan bergetar dengan sendirinya, "LIGHT OF HOPE ASCENSION...!!! LIMA KALI!!!" Teriak Shira keras hingga ia sekarang mulai bersinar dengan sangat cerah.
Light of Hope bisa terus bertambah kuat dan memiliki beberapa level atau tingkat mulai dari satu hingga seratus, Shira saat ini hanya bisa menggunakan yang ke lima karena tubuhnya hanya bisa bertahan di tingkat kelima, jika Shira langsung menggunakan tingkat ke seratus maka tubuhnya akan hancur layaknya seperti granat, "JYAAAGGHHH!!!" Shira langsung menghantam bola cahaya itu menuju atas langit sehingga bola cahaya itu terpental jauh ke atas langit.
Shira melesat menuju arah bola cahaya itu lalu ia mulai menghantam bola itu menggunakan kedua tinju dan kedua kakinya tanpa henti lalu ia menendangnya ke atas langit dan setelah itu ia mulai menempatkan tangan kanannya di atas kepala dengan telapak tangan kanannya yang menghadap ke target dan jari-jari dari telapak tangan kanannya mulai terbuka lebar sehingga terciptalah bola emas yang bersinar cerah. Ketika Shira mendorong tangan kanannya ke depan, ia menembakkan sinar energi kuning, putih, dan oranye yang melesat menuju arah bola cahaya itu.
BAAAMMMMM!!!
__ADS_1
sinar energi yang Shira tembakan mampu membuat ledakan yang cukup besar sehingga langit-langit sangat ini dipenuhi dengan asap-asap abu kehitaman, "Hah... hah... hah..." Sihir Light of Hope Shira langsung menghilang dan ia perlahan-lahan terjatuh di atas tanah dengan kondisi yang lelah dan keram. Shira mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, tetapi ia tidak bisa karena ia telah memaksakan tubuhnya untuk menghancurkan batasan yang menghalanginya dan lihatlah dirinya sekarang.
"Wahh~ Hebat~" Tiba-tiba Shira mendengar suara Megumi dari arah belakang, ia menatap ke atas dimana Megumi mulai menatapnya dengan ekspresi yang terlihat kagum bahwa ia melihat proses dan hasil latihan Shira yang berjalan cukup lancar, "Megumi..." Shira tersenyum kecil melihatnya lalu Megumi mulai duduk di sebelahnya dan setelah itu ia membantunya untuk duduk.
Megumi mengeluarkan sebuah botol kecil yang terisi darah malaikat, ia membuka penutup botol itu lalu ia membantu Shira untuk meminumnya, Shira tersenyum lalu ia meminum darah itu hingga perlahan-lahan seluruh tubuh dan kondisinya mulai pulih kembali, "Terima kasih, Megumi..." Shira mulai mengepalkan kedua tinjunya beberapa kali dan setelah itu ia menatap Megumi yang kedua matanya terlihat seperti berbinar-binar.
"A-Ada apa?" Tanya Shira.
"Apakah kau sudah memberi nama untuk sihir yang kau tembakan menggunakan satu tangan itu!?" Tanya Megumi selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat bersemangat, Shira menggelengkan kepalanya karena ia masih bingung untuk memberikan nama seperti apa, "Bolehkah aku memberinya nama!?" Tanya Megumi.
"Tentu saja."
"Bagaimana jika aku menamakan sihir tadi itu Megura Light!?" Tanya Megumi selagi menunjukkan wajah yang terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya, Shira hanya bisa tersenyum lalu ia bangkit dari atas tanah dan setelah itu ia mulai menatap langit-langit, "Megumi, ayo pergi." Ucap Shira.
Megumi mengangguk lalu Shira mulai mengangkat Megumi hingga wajahnya mulai memerah ketika ia digendong oleh Shira dengan gaya seperti menggendong seorang putri, "S-Shira, apa yang kau lakukan...!? T-Turunkan aku...!!!" Teriak Megumi selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat malu. Shira hanya bisa tersenyum, "Kau akan menyukainya---"
Megumi langsung melompat tinggi ke atas dan meninggalkan Shira sendirian. SWOOSH! Shira menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal dan setelah itu ia mulai menepuk wajahnya, "Seharusnya aku melakukannya pelan-pelan." Shira terbang ke atas langit lalu ia melesat menuju arah kastil milik Yuuki.
"Porugi." Korrina mulai menjentikkan jarinya hingga Porugi langsung muncul di belakangnya, "Apa yang bisa aku bantu, nona...?" Tanya Porugi.
"Tolong bawakan baju dan celana baru untuk Shira." Suruh Korrina hingga Porugi mulai menundukkan kepalanya kepada Shira, tetapi Megumi mengangkat tangan kanannya, "Kami ingin pergi untuk membeli beberapa pakaian baru." Ucap Megumi hingga Korrina langsung tersenyum dan setelah itu mengangguk lalu ia mulai menghampiri Porugi dan menyuruhnya untuk mengambil beberapa Legend's Diamond agar Shira dan Megumi bisa membeli sebuah pakaian yang cocok untuk mereka masing-masing.
Porugi mengangguk lalu ia menatap Shira, "Sebelah sini, Shira." Ucap Porugi yang mulai menyuruhnya untuk mengikuti dirinya, Shira mengangguk lalu ia mengikuti Porugi dari belakang.
Di saat itulah Porugi menyediakan pakaian pas untuk Shira dan ia menerima apapun yang ada asalkan ia memakai pakaian yang bisa menghalang aurat-nya. Porugi juga tidak lupa untuk memberi Shira beberapa Legend's Diamond yang berjumlah banyak sekali, "Ehh...? Untuk apa ini...? Banyak sekali...?" Tanya Shira yang mulai memegang sebuah karung yang berisi Legend's Diamond, Porugi mulai mengeluarkan kartu yang berwarna emas ia langsung mengambil karung itu lagi dan ia memberikan kartu emas itu kepada Shira.
Shira mengambilnya lalu ia menatapnya, "Apakah ini semacam kartu kredit...?" Shira mulai teringat sesuatu ketika ia menatap kartu emas itu, ia mulai teringat sebuah alat elektronik yang melayani nasabah bank untuk mengambil uang dan mengecek rekening tabungan mereka tanpa perlu dilayani oleh seseorang, "Gunakan kartu itu sepuasnya karena kartu itu dapat membeli apapun di kota Ghisaru ini, kau harus berterima kasih kepada nona Korrina nanti ketika kau pulang." Ucap Porugi dan Shira langsung mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Shira dan Megumi berencana untuk berbelanja, secara tidak langsung Shira mulai memikirkan bahwa mereka berdua seperti akan pergi kencan bersamaan. Shira mulai menatap dirinya sendiri di depan cermin lalu ia mulai merapikan rambut poninya dan setelah itu ia berjalan pergi meninggalkan kamarnya untuk menemui Megumi yang sedang menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
Shira melihat Megumi yang sedang duduk selagi mengusap-usap ekornya, "Maaf karena telah membuatmu menunggu lama, Megumi." Ucap Shira. Shira memiliki beberapa hal terakhir yang harus dia urus sebelum dia bergabung dengan Megumi, yang sedang menunggu di ruang tamu.
"Humph..." Megumi menatap Shira dengan ekspresi yang terlihat seperti terkejut dan ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata ketika ia melihat Shira yang memakai pakaian yang sangat rapih, "Ada apa...?" Tanya Shira karena ia menyadari ekspresi Megumi yang terlihat berbeda.
"Tidak ada... Aku selalu saja melihatmu berpakaian berbeda." Jawab Megumi. Shira berpura-pura tidak mengetahuinya, ia menjawab, "oh, sungguh" Shira mulai menatap dirinya sendiri yang berpakaian cukup rapih, hari ini adalah hari dimana Shira dan Megumi akan berkencan secara tidak langsung. Mungkin hanya Shira saja yang menyadari, tetapi fakta-nya Megumi juga menyadari bahwa mereka akan pergi kencan secara tidak langsung.
Mereka tidak pernah pergi berjalan dan berbelanja bersama, tetapi mereka tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu sendirian bersama. Jadi shira memutuskan dia ingin berpakaian sedikit lebih bagus dari biasanya, sementara Megumi menggerutu, "yakin," dia menatap dirinya sendiri, "Hmmm... Sepertinya aku akan cari pakaian yang lebih bagus dari yang aku gunakan sekarang." Ucap Megumi yang mulai menurunkan kedua telinga-nya.
"Bukankah apa yang kamu kenakan bagus? Kamu terlihat bagus, dan itu cocok untukmu, Megumi." Shira tersenyum.
"Di pikir-pikir kamu pernah mengatakan ingin menonton sebuah film tentang perang antara ras Legenda dan ras iblis bukan...? Lebih baik kita bergegas sebelum tiket untuk menonton film itu habis." Ucap Shira selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius. Megumi mengangguk, ia tahu bahwa mereka benar-benar tidak memiliki banyak waktu.
"Baiklah, mari kita bergegas pergi." Megumi tersenyum lalu ia menggerakkan ekornya, Shira mengangguk lalu mereka berjalan pergi dan mulai melihat Korrina yang sedang berdiri di depan mereka, "Hati-hati ya~" Ucap Korrina dan mereka berdua hanya bisa mengangguk lalu bergerak melewati Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang, "Baiklah... Saatnya bekerja..." Ekspresi Korrina mulai berubah yang tadinya terlihat senang dan sekarang terlihat menyeramkan.
Shira dan Megumi tiba di kota Ghisaru, mereka melihat banyak sekali Legenda yang sedang melakukan aktivitas mereka sendiri. Kota Ghisaru ini sangat ramai sekali bahkan kebanyakan Legenda terkadang sering tersesat termasuk dengan seorang Legenda yang berumur di bawah dua belas tahun, "Ramai sekali..." Ucap Megumi yang sedang membuka mulutnya.
Hari ini adalah hari minggu, jadi sudah jelas bahwa kota Ghisaru akan dipenuhi dengan Legenda yang sedang berlibur atau beristirahat dengan menghabiskan waktu berbelanja, dengan melihatnya saja Shira bisa merasakan beban dari semua Legenda itu, "Tempat ini sangat berkelas." Megumi menghela nafasnya pelan.
Mereka saat ini berada di kota Ghisaru bagian barat dimana bagian barat dari kota ini melayani fashion dengan lebih dari sekedar desain bangunan. Semua orang yang datang dan pergi sudah berdandan penuh dengan hiasan, melihat hal itu Shira mulai berpikir bahwa kota bagian barat ini dipenuhi dengan Legenda yang kaya.
Sejak Yuuki membawa Shira ke sini, Shira telah datang ke kota Ghifaru bagian barat ini secara teratur untuk melihat berbagai toko selain dari pusat perbelanjaan bawah tanah yang menjual bahan makanan. Ketika Shira datang dengan Yuuki, kota bagian barat itu terlihat agak sunyi dan tenang. Hari-hari itu tampaknya menjadi pengecualian, bukan norma.
"Ini bukan perasaan santai di kampung halamanku." Ucap batin Shira.
"Megumi, kamu tinggal di alam semesta ini sejak kecil, bukan? Jadi kau terbiasa dengan tempat seperti ini?" Tanya Shira. Shira membayangkan ada banyak kota dengan pusat perbelanjaan seperti ini
"Ibu dan saudara perempuanku akan pergi ... Aku juga mengunjungi mereka, tapi ... Sudah lama sekali." Ucap Megumi yang mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat khawatir, "T-Tapi... Sungguh menakjubkan berada di sini berkencan bersamamu, Shira!" Megumi mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat senang kembali hingga membuat Shira tersipu merah.
"Ya 'kan!?" Shira merasa cukup senang bahwa Megumi baru saja mengatakan berkencan. Tidak ada keraguan tentang itu, ini bukan hal yang biasa dilakukan setiap hari, bagi legenda, yang selalu berlatih dan bertarung, tempat seperti ini memberi perasaan segar untuk bangsa seperti Legenda.
__ADS_1