Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 782 - Aku sudah Tidak Mengerti dengan Jalan apa yang harus aku Pilih


__ADS_3

Shinobu bersama teman dan sepupunya melihat perpustakaan itu menjual banyak sekali jurnal yang di miliki oleh dirinya sampai ia sendiri tidak bisa berkata-kata ketika melihatnya.


Terdapat rasa tidak menerima yang besar di dalam dirinya tetapi pikirannya yang begitu luas membantu Shinobu mengetahui fakta yang cocok bahwa semua jurnal yang ia tulis akhirnya dapat di kenal oleh semua orang.


Mereka semua sudah pasti akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat sampai ia sendiri tidak perlu di ketahui oleh mereka karena dirinya yang tidak pantas.


"Ya sudahlah... tidak apa-apa, biarkan mereka menikmati isi dari jurnal itu, aku tidak keberatan sama sekali."


Perkataan Shinobu seketika mengejutkan mereka karena jurnal yang ia tulis sebenarnya sangat bagus dan bermakna positif sampai ia bisa saja di angkat menjadi ratu Touriverse yang dapat mempersatukan semua orang kembali.


"A-Apa maksudmu...?! Kau menulisnya dengan tujuanmu sendiri bukan? Bukannya kamu ingin menjadi seorang jurnalis yang di kenal oleh semua orang sampai mendapatkan kepercayaan mereka!?"


Koizumi berbicara dengan nada yang keras sampai Shinobu hanya bisa diam karena ia sendiri sudah menyadarinya beberapa kali bahwa jurnal seperti itu tidak dapat di pegang oleh siapa pun yang mengetahui dirinya.


Riwayat dan julukan seseorang sangatlah penting sampai Shinobu menerima keadaan tidak adil dengan ikhlas karena ia sendiri sadar bahwa dirinya dipenuhi dengan kesalahan sampai semua orang tidak ingin menganggapnya lagi.


"Tidak ada salahnya... anu... memang aku sendiri yang menjadi penyebabnya..."


"...mereka tidak mau membeli atau menerima jurnal itu dariku yang berpenampilan seperti ini, lebih baik di wariskan saja kepada yang lain."


"Tapi, Shinobu... mereka tidak akan mengetahui siapa orang jenius yang menulis semua itu! Mereka seharusnya mengetahui jelas perjuangan dan usahamu itu...!"


"Mm, tidak apa-apa... awalnya aku tidak ingin di kenal hanya sekedar jurnal, aku menulis sesuai dengan hobi yang aku suka sampai semua ini hanya sekedar sampingan."


"Aku menjual semua itu secara paksa agar bisa menghabiskan berlian agar bisa bertahan hidup... ya sudahlah, biarkan saja." Shinobu menundukkan kepalanya, merasa sedih tetapi ekspresinya tetap menunjukkan senyuman.


Koizumi mengepalkan kedua tinjunya lalu ia segera masuk ke dalam perpustakaan itu, beberapa penjaga mengenali dirinya dan mencoba untuk menghentikannya tetapi Koizumi sudah masuk ke dalam dengan lompatan waktu.


"Oi, apa maksudnya semua ini?! Kenapa kau merebut hak milik sepupu kecilku!?" Tanya Koizumi dengan tatapan kesal.


Pustakawan yang sedang membaca buku itu seketika menatap Koizumi dengan tatapan tajam sampai Koizumi bisa merasakan sumber Lenergy besar di dalam tatapan itu.


Kemungkinan besar pustakawan ini benar-benar Legenda yang tidak biasa, sumber Lenergy sebesar itu sampai Koizumi sudah menyiapkan sebuah serangan.


"Aku tidak menyangka kau akan datang langsung kepada diriku... memangnya kamu tidak mengerti dengan situasi yang di hadapi oleh Shinobu Koneko?" Tanya pustakawan itu.


"Gadis baik dan lemah seperti dirinya tidak memiliki tempat di dunia dan masa ini... bisa di bilang ia telah menjadi satu-satunya masalah serta kutukan yang perlu di singkirkan."


"Coba pikirkan kembali, memangnya semua jurnal ini bisa laris karena apa? Karena diriku yang menjualnya sedangkan ketika Shinobu mencoba untuk menjualnya, semuanya terasa begitu sepi."


"Apakah sampai situ kau sudah mengerti? Shinobu sendiri bahkan menerima apapun itu sampai ia bisa saja memberikan jurnal lainnya kepadaku..."


"Brengsek, berani-beraninya kau berbicara seperti itu kepadaku...!!!" Koizumi mencoba untuk menghajar pustakawan itu tetapi ia melebarkan matanya ketika merasakan sesuatu yang janggal.


"Perasaan... apa ini...?" Koizumi melancarkan satu pukulan kepada pustakawan itu tetapi tinjunya di tahan oleh sebuah tongkat sihir sampai ia bisa menebak bahwa pustakawan ini adalah seorang penyihir.


"Kau sudah mendapatkan jawaban itu bukan? Sekarang pergi lah."


"Kenapa aku tidak bisa menghentikan waktu...?" Ungkap Koizumi sehingga ia melirik ke belakang dan melihat Shinobu mulai menggunakan The Mind sampai Koizumi berjalan keluar dari tempat itu.


"Kakak... sudahlah, aku tidak begitu bersedih dan kesal... aku memang sudah sadar diri dengan mengaca di hadapan cermin."


"Aku memang tidak pantas..."


"... ..." Koizumi hanya bisa diam, ia ingin sekali berbicara secara kasar tetapi pasti kepadanya tetapi ia mendadak di hentikan oleh sesuatu.


"Sejak kecil, kau selalu saja seperti ini... menyalahkan dirimu... menerima semua perubahan begitu cepat... apakah kamu tidak ingin melawan mereka?!"


"Untuk apa aku melawan mereka... tidak ada untungnya, memang aku sendiri yang salah. Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun melainkan menerima segalanya." Kata Shinobu.

__ADS_1


Hanya Koizumi dan Shinobu yang mengalami perdebatan kecil, yang lainnya hanya bisa melihat sampai mereka sadar bahwa Shinobu sekarang kebanyakan berbicara tanpa menunjukkan rasa malu.


Ternyata perkataannya serius, jika ia banyak berbicara seperti itu maka situasi yang ia hadapi benar-benar menyakitkan bagi dirinya sehingga perdebatan itu berhenti ketika Shinobu mulai memegang erat tangan Koizumi.


"Tidak perlu melawannya... aku tidak ingin Kakak terjatuh ke dalam masalahku sendiri, biarkan aku saja... anu... yang menyelesaikan semua ini."


"Kakak harus belajar dan berlatih lebih keras untuk mengikuti kelas khusus bukan...? Tidak ada untungnya untuk membahas semua ini."


"Biarkan saja berlalu... ya...?" Shinobu tersenyum lembut kepada Koizumi sampai ia terdiam seketika, tidak tahu harus apa kecuali mengajak dirinya untuk bertarung.


"Kalau begitu bantu aku... kau ingin aku berlatih dan belajar? Jika itu maumu maka bertarung lah dengan diriku dalam latih tanding."


Shinobu memasang tatapan bingung seketika, ketakutan yang tidak ingin rasakan telah muncul yaitu melakukan pertandingan kecil dengan sesama orang yang dekat.


Entah kenapa ia merasa tidak enak dan lemah seketika bertarung dengan seseorang yang berbeda di dekatnya, ia terpaksa harus menahan diri demi memuaskan keinginan mereka untuk menang.


Pikiran Shinobu yang sudah di bantu The Mind tetap saja mengalami beberapa bimbang dan bingung sampai ia tidak tahu harus apa bisa memuaskan keinginan mereka.


Koizumi melihat Shinobu sempat menatap arah lain, ia langsung mengangguk pelan bahwa dirinya juga ingin melakukannya demi membuat Koizumi senang.


"Koizumi, apakah kamu yakin... ingin latih tanding dengan Shinobu di situasi seperti ini?" Tanya Ako.


"Tentu saja, akademi pemberontak sudah dekat sekali sampai aku ingin melihat Shinobu sudah menginjak tingkatan mana." Koizumi terbang pergi meninggalkan kerajaan itu untuk mengunjungi tempat latihan biasa mereka.


Mereka semua ikut pergi kecuali Shinobu yang terus merenung, ia segera terbang mengikuti mereka sampai Tech bisa merasakan kebingungan Shinobu.


"Apakah Anda baik-baik saja, putri kecil...?"


"Aku bingung... aku tidak tahu harus apa..."


"Kalau begitu, tenangkan pikiran Anda."


"Jangan mencoreng harga dirimu... aku tidak suka melihatnya seperti itu, maupun itu kau adalah sepupu atau seseorang yang dekat denganku..."


"...pertarungan adalah pertarungan, harga diri seorang Legenda yang perlu kau ingat!" Koizumi meregangkan tubuhnya dan melakukan sedikit pemanasan.


Shinobu menatap Koizumi dengan tatapan gugup, ia tidak memiliki niat untuk bertarung seketika sampai ia merasa bahwa dirinya bertambah lembek sejak pertarungan melawan Leon yang berakhir karena rasa percaya yang hilang.


"Jangan banyak melamun, anggap saja aku ini bos terakhir, lalu jangan pernah menahan diri." Koizumi mulai menarik belatinya dan menatap tajam Shinobu.


"Fueehhh...!? Tunggu... Aku belum siap...!"


"Cepatlah sedikit, kalau ini pertarungan sungguhan mungkin belati ini sudah ada di antara lehermu." Koizumi mengarah belati itu kepada lehernya.


Shinobu hanya bisa diam, terpaksa harus menerima itu dengan tatapan sedih yang berubah cepat menjadi polos kembali, "...baiklah."


"Ingat Shinobu, jangan sekali-kali pun kau menahan diri melawan diriku." Koizumi melesat secara zig-zag ke arah Shinobu dan langsung mengayunkan belatinya dengan kecepatan suara.


"... ...!" Shinobu melesat ke belakang lalu menembak beberapa Golden Repulsor ke arah Koizumi.


"Masih kurang!" Koizumi dengan mudahnya menebas semua tembakan Shinobu dan melemparkan belatinya ke arah Shinobu.


"Ahh...!" Shinobu langsung menunduk.


"Gerakanmu masih kaku!" Koizumi muncul tepat di atas Shinobu dan menyiku punggungnya dengan keras sampai Shinobu terhantam ke daratan sampai daratan itu retak.


"Agh...!"


Shinobu melancarkan sebuah tendangan ke arah Koizumi lalu melakukan satu putaran yang membantu dirinya untuk berdiri.

__ADS_1


Shinobu masih menahan diri karena ia takut bahwa dirinya melukai Koizumi, pikirannya di tabrak dengan berbagai macam kebingungan serta perasaannya di penuh ketakutan yang tidak membantu dirinya sama sekali.


"Tendangan yang lemah, ternyata kau masih saja menahan diri." Koizumi mengambil kembali belatinya dan menunjuk Shinobu dengan belatinya.


"Haruskah aku lebih keras lagi kepadamu, Shinobu Koneko?!" Koizumi kembali melesat ke arah Shinobu dan memukul perut Shinobu menggunakan gagang belatinya.


"Hugghhh...!" Shinobu memuntahkan beberapa darah lalu ia melancarkan satu pukulan ke arah wajahnya.


Shinobu terus menahan diri sampai Koizumi tidak melihat kekuatan cahaya emas dan peningkatan itu, dia benar-benar menahan diri sampai Koizumi merasa bahwa dirinya mencoba untuk merendahkan dirinya sendiri.


"Ada apa, Shinobu?! Kemana kekuatan yang kau pakai saat melawan para kesatria itu?!"


Shinobu melepaskan pembakaran besar melalui sikutnya sampai memperbesar tekanan pukulannya.


"Aku tidak ingin bertarung dengan Kakak..."


"...Kau tidak ingin bertarung denganku? Begitu ya, jadi kau tidak ingin bertarung ya." Koizumi kali ini mengarahkan tangan Shinobu tepat di kepalanya.


"Kalau kau tidak ingin bertarung melawanku, maka tembak aku sebagai musuh yang sudah kelelahan karena trik kabur mu itu."


"Tidak... untuk apa aku harus melukai mereka yang sudah kelelahan..."


"Hentikan... Aku tidak mau melanjutkannya..."


Shinobu terlihat gugup dan ketakutan karena ia benar-benar tidak ingin bertarung dengan seseorang yang dekat dengannya.


"Cepat tembak aku!! Di zaman seperti ini jika kau melepaskan mangsamu maka kau yang akan di mangsa! Cepat tembakan Golden Repulsor itu kepada kepalaku!!!" Koizumi menarik sedikit lengannya dan kali ini tangan Shinobu menyentuh keningnya.


"Tidak...!!!"


"..." Koizumi hanya bisa diam ketika melihat sifat naif Shinobu, di saat yang bersamaan Koizumi merasakan hawa keberadaan seseorang yang dia kenal.


"Cukup di situ saja, Koizumi." Sebuah genangan air tiba-tiba saja menjadi seorang perempuan dengan pakaian Legenda pemberontak.


"Tante Hana, apa selama ini Tante menonton kita?" Koizumi menghilangkan Replay dirinya dan menghampiri Hana.


"Lebih tepatnya aku sedang menonton proses perkembangan putri dari sahabatku." Hana mulai menatap Shinobu dengan kecewa, dia tidak menyangka putri dari sahabatnya akan mengecewakan seperti ini.


"... ..." Shinobu menundukkan kepalanya.


"Aku tidak mau bertarung melawanmu... tunda saja ya, lebih baik aku belajar saja."


"Koneko... tidak begitu menyukai pertarungan..."


"Sejak insiden kematian pemimpin Leon... tanpa disadari aku membunuh seorang keluarga..."


"...Shinobu Koneko, padahal waktu itu diriku dan Ibumu berharap besar kau akan menjadi legenda yang kuat dan layak sama seperti sahabatku Minami, ternyata tidak ya."


"Karena kau yang seperti ini, maka kau tidak layak untuk memakai semua ini." Hana dengan cepat melepas ikat kepala, selendang, dan kacamata pemberian dari Kou.


"Aku tidak menyalahkan dirimu yang masih lemah dan tidak ingin bertarung, hanya saja semua ini hanya layak di pakai oleh seorang Neko Legend yang sudah siap bertarung dan siap untuk menghadapi semua rintangan."


"Bukan oleh seorang Neko Legend yang bahkan menyesal membunuh musuhnya sendiri."


"Jika kau ingin mengambil ini semua maka lawan diriku tanpa menahan diri sedikit pun."


Shinobu hanya bisa diam, "... ..."


"Aku sudah tidak mengerti dengan jalan apa yang harus aku pilih..."

__ADS_1


__ADS_2