
Satu bulan akhirnya telah selesai, Shinobu bangkit dari atas tanah lalu melihat kuburan Kou mengeluarkan partikel emas yang beterbangan ke atas langit, itu artinya tubuhnya telah menghilang di dunia ini.
"Semoga bisa hidup tenang di atas sana, Mama." Shinobu menundukkan kepalanya lalu mencabut beberapa rumput yang tumbuh di kuburan itu lalu memberinya beberapa daun emas lalu menyiramnya dengan cairan madu.
Shinobu berjalan pergi meninggalkan kuburan itu lalu ia berpapasan secara langsung dengan kedua sepupu dan temannya yang sedang menantikan kepulangannya karena sudah satu bulan.
"Fueehhh...!? Kenapa kalian d-datang?!" Shinobu tersipu merah ketika mereka semua datang selagi membawakan dirinya banyak makanan dan camilan.
"Kami merindukan dirimu tentunya, sudah satu bulan kita tidak bertemu dan bermain seperti biasanya..." Kata Koizumi yang mulai mendekati dirinya lalu memberinya sebuah pelukan.
"J-Jangan memeluk diriku, Kakak... aku belum mandi selama satu bulan loh..."
"Tidak, aroma masih tetap wangi seperti sinar matahari di pagi hari... aku juga mencium bau bunga sakura, sudah waktunya untuk itu ya." Koizumi mencium pipi Shinobu sampai ia tersipu merah.
Koizumi menunjukkan kasih sayangnya kepada Shinobu karena rasa rindunya sudah tidak bisa di tahan lagi sampai ia sadar bahwa dirinya telah melampaui batas.
"J-Jangan salah paham ya... ciuman tadi hanya sekedar... ucapan selamat datang." Koizumi melepas pelukan Shinobu karena ia juga perlu membagi dirinya dengan yang lain.
"Shinobu~ Syukurlah... aku sangat merindukan dirimu...! Aku tidak memiliki teman membaca selain dirimu..." Ako memeluk Shinobu erat sampai ia melihat Ako membawakan banyak buku untuknya.
"B-Banyak sekali..."
"Hm! Aku menemukan banyak sekali buku yang bagus... mungkin... kita bisa membacanya bersama-sama." Ako menunjukkan semua buku itu kepada Shinobu sehingga kedua matanya berbinar-binar seketika.
"Whoaa...! E-Edisi terbatas...?!" Shinobu mengambil buku tersebut lalu melihatnya, ia membuka satu halaman sehingga semua pengetahuan itu sudah masuk ke dalam dirinya.
"Sudah." Shinobu memberikan buku itu kepada Ako sehingga ia memasang tatapan kaget karena ia baru saja membacanya selama tiga detik dan semua informasi di dalam buku itu sudah ia ingat.
"Hehhh...!? Jangan meninggalkan diriku seperti itu...! Ayo baca bersama-sama...!"
"Iya... Ayo..." Shinobu mengangguk dengan sebuah senyuman tertera di wajahnya, setelah itu ia melihat Konomi mulai memberi durinya sebuah botol minum.
"Minumlah, mungkin kamu akan kembali merasa bugar. Satu bulan ini kamu meninggalkan banyak sesi latihan dan pembelajaran bukan?" Tanya Konomi.
"Benar juga... terima kasih, nanti aku bayar..." Shinobu mengambil botol tersebut lalu ia meminumnya sampai tubuhnya kembali terasa ringan, yang tadinya dipenuhi dengan rasa pegal dan nyeri sekarang kembali seperti biasa.
Ia juga mulai bisa merasakan Lenergy kembali, itu artinya tidak lama lagi ia pasti akan sembuh dari penyakit respon Lenergy yang lama itu lalu bisa melanjutkan latihan selagi melakukan eksperimen untuk menciptakan lebih banyak alat.
"Terima kasih." Shinobu terkekeh lalu menerima sebuah pelukan erat dari Hinoka yang mulai mencium pipinya lebih lama.
"Mmmm... K-Kakak..." Wajah Shinobu memerah seketika Hinoka terus mencium sampai membuat Koizumi cemburu seketika karena ia masih belum menghabiskan waktunya lebih lama bersama sepupunya sendiri.
"Hinoka, jangan mengambil Shinobu sendirian seperti itu..." Ako mengembungkan pipinya karena ia perlu memberi dirinya buku yang lain.
"Iya... kita harus membagi dirinya." Kata Konomi.
"Heh? Bagi?" Shinobu memasang tatapan kaget, Hinoka langsung mengangkat tubuhnya yang begitu ringan lalu melarikan diri dari mereka untuk memilikinya sendirian.
"Kejar dia!!!" Seru Koizumi keras.
Mereka bertiga langsung mengejar Hinoka yang menculik Shinobu, mereka semua tentukan bersenang-senang seperti lima sahabat dekat yang tidak akan bisa dipisahkan begitu saja.
Shinobu hanya bisa tertawa kecil dan sadar bahwa dirinya sudah cukup bahagia untuk bisa memiliki dua sepupu yang baik hati dan dua teman yang peduli, semua itu sudah cukup.
"Mungkin ini yang terbaik... berlebihan itu tidak baik..." Ungkap Shinobu selagi tersenyum sehingga tubuhnya langsung di angkat oleh Koizumi yang berhasil menangkapnya.
***
[???]
Zangetsu melihat sebuah otak muncul di atas langit, otak yang berukuran sangat besar sampai yakin otak tersebut bersalah dari tubuh mayat atau Holy Corpse Zangges, itu artinya Kou telah gugur dari dunia ini.
Kebetulan Zenzaku masih tertidur karena menggunakan banyak kekuatan yang berlebihan dari lengannya itu, Zangetsu hanya bisa diam lalu menyentuh otak itu sampai ia terdorong ke belakang seketika.
"A-Apa ini...?" Zangetsu menatap kedua tapaknya sampai otaknya mendapatkan banyak kumpulan informasi, entah kenapa ia mendadak menjadi maha tahu tentang segala cara untuk menghancurkan Touriverse.
__ADS_1
Tetapi semua itu tidak penting karena keturunan Comi hanya tersisa satu lagi yaitu Haruka, seorang Legenda yang selalu ia ingin bunuh sejak kelahiran dirinya yang sudah mengubah semuanya secara bercabang.
"Dengan menyentuh Holy Corpse bagian otak... entah kenapa aku mendapatkan banyak informasi yang terus terkumpul, rasanya otakku bertambah besar dan berat untuk di angkat."
Kening dan kepala Zangetsu menonjolkan banyak urat yang berdenyut seketika sampai ia mulai menatap menuju semua alam semesta terutama Haruka yang sedang minum Vodka sendirian di dalam rumahnya.
"Honoka Comi... Kou Comi... telah mati dan gugur."
"Selanjutnya adalah dirimu, Haruka Comi. Kau... Kau yang seharusnya mati lebih awal agar semua hal ini tidak terjadi, semuanya sudah terlambat."
"Aku harus bisa menghentikan dirimu...! Ya...!!! Ya...!!! Otakku terus berdenyut... Aku merasa pintar...!!! Otak besar...!!!" Zangetsu yang mulai tertawa terbahak-bahak sampai ia bertambah gila ketika uratnya terus berdenyut.
"Kenapa diriku gagal menyingkirkan Legenda seperti dirimu...!? Kau menghapus harga dirimu sebagai Dewi waktu dan di reinkarnasi menjadi keturunan Comi...!?"
"Hahaha...! Hahaha...!!! Bagaimana...!? Bagaimana caranya aku bisa kembali hidup jika tubuhku sudah hancur oleh si sialan Shiratori Shira itu!!!" Zangetsu mulai menggaruk kepalanya beberapa kali selagi memikirkan sesuatu.
"Aku memerlukan sesuatu... setidaknya biarkan aku memiliki kembali tubuh itu untuk bisa berkeliaran di dunia apapun...!"
Zangetsu menatap Zenzaku sampai ia melihat lengan dari Holy Corpse itu terlihat cukup menggoda bagi dirinya, ia mendekati Zenzaku lalu terkejut ketika melihat lengan itu berubah menjadi batu seketika.
"Apa...!?"
***
"Te-he~"
"Te-he dengkulmu..." Kata Koizumi karena mereka menghabiskan waktu selama setengah jam saling mengejar satu sama lain untuk merebut Shinobu.
Namun, Koizumi menemukan solusi bahwa Shinobu adalah milik mereka semua, tidak ada yang namanya menerima tanpa membagi.
Mereka semua beristirahat di bawah pohon sakura selagi menikmati piknik yang sudah di rencanakan oleh Konomi, hari ini mereka perlu menikmati setiap waktu dan hari dengan kesenangan.
"Seru juga ya~" Hinoka mulai memberi Shinobu sebuah jus jeruk sampai ia menerimanya lalu meminumnya.
"Ampun~!"
Ako mulai duduk di sebelah Shinobu lalu memberikan dirinya beberapa buku yang ia pinjam di dalam perpustakaan sampai Shinobu terlihat tertarik begitu cepat karena semua buku itu dapat ia jadikan sebagai referensi.
Shinobu dan Ako langsung membacanya bersama sedangkan mereka menikmati piknik itu dengan mencicipi beberapa makanan.
Hinoka tentunya melahap habis semua makanan pedas, Koizumi sedang bergelantungan di atas pohon dengan kedua kakinya yang menahan ranting pohon itu lalu tubuhnya mulai ia angkat seperti melaksanakan sedikit pull-up tetapi terbalik.
Konomi sedang mencampur beberapa ramuan untuk menciptakan botol pemulihan yang lebih efektif lagi, piknik ini bisa di bilang cukup menenangkan jiwa dan pikiran.
Ako dan Shinobu bahkan sampai tertawa ketika membaca buku berisi puncak komedi, di balik piknik itu terdapat Shira, Arata, dan Haruki yang sedang memperhatikan bahwa mereka semua akan baik-baik saja.
"Kenapa kalian datang juga?" Tanya Shira dengan tatapan datar karena ia awalnya berniat untuk menyambut Shinobu tetapi di dahulukan oleh semua temannya.
"Aku ingin melihat kondisinya seperti apa--- tidak, Kuro sebenarnya ingin melihat Shinobu." Kata Arata.
"Tutup mulutmu, Arata." Kata Kuro.
"Ako dan Konomi sempat menceritakan kondisi Shinobu kepadaku, sepertinya dia benar-benar malang untuk menerima semua tindasan dan hinaan itu."
"Brengsek... ternyata kalian mencoba untuk mengincar cucuku ya, kalian sekarang menjadi pedofil?!" Tanya Shira yang mulai menunjuk mereka dengan tatapan mengancam.
"... ..."
"... ..."
Arata dan Haruki menatap satu sama lain dengan tatapan datar, "Lihatlah siapa yang berbicara, Arata."
"Aku mengingat dia menerima banyak kesalahpahaman sampai beberapa kali di masukan ke dalam penjara karena melecehkan Neko Legenda kecil berambut hitam."
"Sampai punya anak dua segala... apakah dia memperkosa dirinya?"
__ADS_1
Shira memasang tatapan kaget seketika sampai ia mulai tersipu, "Baiklah, kalian memang sialan."
""Hahaha! Kau tidak berubah seperti biasanya, Shira.""
"Melihat mereka semua bersenang-senang seperti itu bersama Shinobu sudah cukup, lebih baik kita biarkan saja dirinya kepada cucu kalian." Shira langsung berhadapan dengan mereka.
"Terima kasih." Shira menundukkan kepalanya sampai mengejutkan mereka berdua seketika.
"Kenapa kau menundukkan kepalamu seperti itu? Sudah sewajarnya bukan, lagi pula aku jarang melihat dirimu sopan santun seperti itu." Kata Arata.
"Itu benar... biasanya kau tidak sopan dan keras kepala." Kata Haruki.
"Terima kasih atas pujiannya para Kakek sialan."
"Kau juga Kakek-kakek..."
Tech mulai mendarat di atas tanah lalu melihat Shinobu yang sedang membaca buku bersama Ako, ia baru saja menyelesaikan sebuah alat baru untuk dirinya kenakan selama seumur hidup.
Alat yang di buat oleh Kou sejak awal tetapi Tech yang berhasil menyempurnakan semua itu sampai sudah siap untuk Shinobu kenakan, ia mulai mendekati dirinya dengan menyambut mereka dengan ucapan permisi kecil.
"Putri kecil."
"Uwaahhhh!!!" Shinobu terkejut lalu membawa Tech ke tempat yang lebih jauh.
"J-Jangan... Jangan memanggilku putri kecil di hadapan mereka..."
"Ahh, maafkan saya, kalau begitu saya perlu panggil Anda seperti apa di hadapan mereka?"
"Shinobu saja... Koneko juga boleh..."
"Saya tidak bisa memanggil seorang putri dengan namanya."
"Kalau begitu... apa ya..."
"Nona."
"Aku masih kecil..."
"Nyonya?"
"Ti-Tidak pantas..."
"Nobu."
"Ehh?"
"Saya panggil Nobu saja."
"Nobu dalam arti Shinobu dengan Abi yang di hilangkan."
"Kalau begitu, apa yang kamu perlukan dariku?" Tanya Shinobu sehingga ia melihat Tech memberi dirinya sebuah bola mata buatan yang sangat baru dan sempurna.
Tidak ada lagi warna hitam melainkan Shinobu sendiri bisa melihat bola mati itu seperti bola mata asli, "Ehh...? Sudah jadi? Mata baruku?"
"Iya, silakan di pakai." Kata Tech sehingga Shinobu mengambilnya lalu membuka mata kirinya yang terus ia tutup.
Setelah itu ia pakai sampai mata buatannya mulai bergerak sendiri sampai Shinobu mendapatkan akses seketika, ia dapat melihat apapun dengan jelas sehingga dirinya langsung tersenyum lebar seketika.
"Terima kasih, Tech!" Shinobu memeluk erat.
"Sama-sama, Nobu."
"Mungkin panggil aku putri kecil ketika sendirian..."
"Baiklah, putri kecil."
__ADS_1