Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 557 - Menculik Pencipta Es dan Salju


__ADS_3

"Ammm... Mmmm..." Kou tersenyum lebar ketika merasakan kelezatan yang meledak di dalam mulutnya, Hana sempat mengganti hidangan tikus itu menjadi hidangan ayam madu yang asli.


Hana bisa melihat Kou terlihat menikmati makanan ayam madu itu, ia mulai menata makanan tikus lainnya untuk diberikan kepada koki Neko Legenda lainnya.


"Satu sudah kau habiskan, sisanya sembilan. Memangnya berapa koki yang ingin mencicipinya?" Tanya Hana.


"Hanya lima tetapi empat piring ini mungkin bisa aku berikan kepada para penduduk atau langsung makan semuanya saja!" Kata Minami dan Hana mulai menepuk kepalanya pelan.


"Ini baru hidangan pertama, banyak sekali hidangan yang kau inginkan bukan? Setidaknya sesuatu yang berkaitan dengan ikan, jangan tikus lagi." Hana menghela nafasnya.


"Ikan yang di hancurkan, menghasilkan sebuah krim lezat yang dapat di jadikan sebagai camilan untuk mengganjal perut." Kata Minami, ia mulai mengambil sebuah plastik yang berisi banyak ikan di dalam.


"Ahh..." Entah kenapa Hana mulai mengingat sebuah makanan kucing yang suka ia berikan kepada kucing liar, bentuknya kecil dan kucing biasanya akan menjilat ujungnya itu.


"Apakah kalian akan memakan krim ikan itu dengan menjilatinya?"


"Mungkin? Aku memakannya seperti Legenda biasa sih tetapi bagi Neko Legenda lainnya, entah lah. Bahkan toilet di sini beda, kau ingin tahu?" Tanya Minami sambil menatap Kou yang sedang sibuk makan.


"P-Pasir?"


"Ya... Jika kau ingin buang air besar atau kecil, lebih baik jangan lakukan di pulau ini karena setiap toilet hanya terisi dengan pasir besar yang bisa di gali." Minami mulai mengelus kepala Kou.


Hana merasa dikejutkan dengan 'Culture Shock' dan ia mencoba untuk menghormati bangsa Neko Legenda yang memiliki kehidupan berbeda dengan Legenda biasa.


Mereka lebih menonjol dengan sikap hewan sedangkan Legenda biasa lebih menonjol dengan manusia. Ia juga mencoba untuk terbiasa hidup di pulau ini dengan melihat para penduduk yang terlihat ramah dan baik.


"Bagaimana dengan para penduduk? Apakah mereka menyimpan sebuah dendam kepada Legenda biasa?" Tanya Hana, ia kembali bekerja dengan mencuci semua ikan itu.


"Iya, mereka ramah kok karena aku sempat memberitahu mereka semua bahwa teman yang aku bawa bukanlah Legenda yang ingin menyiksa atau menyakiti bangsaku sendiri." Minami tersenyum.


"Syukurlah... aku senang mendengarnya, soal bangsa Neko Legenda dan tentunya dirimu yang mau bertanggung jawab terhadap semua ini." Hana mulai memotong semua ikan itu menjadi potongan kecil.


"Hana...! Ayam madu ternyata terasa sangat lezat! Aku ingin kamu membuat hidangan lainnya yang berkaitan dengan madu tetapi jangan sekarang..." Kou membersihkan piringnya.


"Aku senang kamu menyukainya, Kou. Tetapi, Haruru memperingati diriku bahwa kau tidak boleh kelebihan mengonsumsi madu." Jawab Hana.


"Awww..." Kou menundukkan kepalanya lalu ia mulai menyentuh kacamatanya yang mengeluarkan sebuah kubus kecil, ia mengambilnya dan kubis itu langsung membesar.


"Ini, Hana, aku akan membayarmu." Kou menjatuhkan beberapa Legend's Diamond yang memiliki nilai harga besar, satunya bahkan dapat membeli sebuah pulau atau wilayah.


"Heh!? Kamu tidak perlu membayar diriku, kita kan teman jadi aku tidak membutuhkan berlian itu, gratis kok gratis.


"Hehhh... Ambil saja, kamu sudah berusaha dan sebuah usaha membutuhkan hasilnya..."


"Aku juga ingin memberinya kepadamu sejak awal karena sudah mau membantu bangsa Neko Legenda..." Kou memasukkan semua berlian itu ke dalam saku celana Hana.


"Kamu yakin...? Kamu tidak akan rugi? Aku yakin semua berlian itu terbatas."


"Tidak terbatas bagiku kok, aku bahkan setiap hari selalu menyumbang dan memberikan semua Legend's Diamond untuk sumbangan dan mereka yang membutuhkannya." Kata Kou sambil meminum air putihnya.


"Hebat ya, Kou. Kamu kaya sekali... Ratu Touriverse memang hebat."


"Harta keturunanku harta bagi semua orang yang membutuhkannya juga. Lagi pula Mamaku sendiri yang sudah mengumpulkannya, aku hanya meneruskan pekerjaannya." Kou mulai menonton Hana yang sedang memasak.


"Aku tinggal sebentar ya... ingin melihat keadaan di luar sana." Kata Minami, ia menghilang lalu muncul di atas patung itu dan dikejutkan dengan banyak bangunan baru.

__ADS_1


"Mereka bekerja cukup cepat... inilah yang harus di banggakan bagi bangsaku, aku hanya tidak mengerti apa yang terjadi sejak itu..."


"...aku tidak akan mengulang sejarah lagi." Minami melompat ke depan lalu ia mendarat di atas tanah untuk menghampiri Meko yang sedang melihat cetak biru.


"Meko." Panggil Minami.


"Ah, ibu alam, bisa di lihat bangunan baru itu. Kita sebentar lagi akan menyelesaikan desa baru yang jauh lebih besar dan indah untuk di pandang..."


"Bukan hanya itu saja tetapi banyak sekali kebutuhan yang sudah muncul termasuk fasilitas berbeda-beda, penduduk lainnya terlihat senang bahkan mereka sudah memiliki pekerjaan tersendiri."


Meko mulai menunjukkan cetak biru itu kepada Minami, "Sisanya hanya bagian barat, bukannya ibu alam membutuhkan wilayah es dan salju untuk bangsa Neko Legenda lainnya yang suka musim itu?"


"Itu benar, aku ingin pulau ini memiliki musim yang berbeda di wilayah itu tersendiri, hanya saja kemampuanku tidak dapat menciptakan musim salju yang dapat bertahan lama." Kata Minami, ia mulai berpikir sejenak.


"Di pusat desa kita akan mengalami musim panas untuk selama-lamanya, sebelah timur musim semi, sebelah selatan musim gugur, dan sebelah utara musim hujan."


Minami seketika mengingat Asriel dan Mitsuki yang dapat menggunakan sihir es, mungkin sihir mereka dapat digunakan untuk menciptakan musim sejuk dan salju yang bertahan selamanya.


"Kalau begitu aku akan urus soal musim salju dan sejuk itu, tunggu ya." Minami menghilang cepat lalu muncul di belakang Kou.


"Kou---" Minami melebarkan matanya ketika melihat Hana yang sedang menyuapi Kou krim ikan itu.


"Hana, apa yang kamu lakukan!? Kau tidak boleh menyuapi Kou sesuatu yang mentah..."


"Apa? Aku menyuapinya susu hangat."


"Oh..." Minami melihat Hana baru saja selesai membuat sebuah hidangan susu yang terlihat lezat bahkan aromanya sampai menarik dirinya.


"Boleh aku coba juga?" Tanya Minami.


"Ahhh..." Minami membuka mulutnya lebar, mengeluarkan lidahnya membuat Hana tersipu merah karena pikirannya langsung buyar ketika melihatnya.


"Kau mau di suapi juga...?"


"Mmm-hm."


Hana mulai menyuapi Minami dengan memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya, karena terlalu panik Hana tidak sengaja menumpahkan beberapa susu yang mengenai dada dan pipinya.


"Banyak sekali yang keluar..."


"Minami!!! Hentikan!!!" Seru Hana.


"Mm...? Kenapa? Kau sendiri yang menumpahkannya kenapa kau yang marah?" Tanya Minami, ia mulai menatap Kou yang sedang tertawa.


"Kou, mau ikut?"


"Kemana?"


"Menculik korban lagi tentunya, desa sebentar lagi akan selesai dan aku membutuhkan sentuhan terakhir yang dapat di lakukan oleh orang lain."


"Ayo! Ayo! Menculik! Menculik! Menculik!" Kou menaiki punggung Minami lagi.


"Sebentar ya, Hana... Tidak sepertinya salah."


"Aku pergi dulu, istriku." Minami mengedipkan mata kanannya lalu menghilang begitu cepat, membuat Hana tersipu merah ketika mendengarnya.

__ADS_1


***


"Kenapa Minami menganggap Hana seperti istri? Apakah kamu mencintainya?" Tanya Kou.


"Iya, sangat mencintainya seperti teman, aku juga mencintaimu, Kou. Mau jadi istri keduaku?"


"Boleh~"


"Kalau begitu, mari kita bekerja sama dalam menculik dua Legenda Jenius yang mungkin akan menolak permintaanku." Kata Minami, ia melihat Mitsuki dan Asriel bergerak menuju taman.


"Sepertinya mereka sedang berkencan, apakah waktu itu yang cocok untuk mengganggu mereka sekarang?" Tanya Kou.


"Kencan bisa menunggu, pulauku tidak." Minami mulai menghampiri Mitsuki dan Asriel yang terlihat mesra, saling berbagi es krim.


"Asriel! Mitsuki! Bisa aku ganggu waktu kalian sebentar?" Tanya Minami, ia mencoba untuk menanyakannya dengan baik-baik.


"Minami?! Aku kira kau tidak akan pernah kembali..." Mitsuki sempat terkejut ketika melihat Minami.


"Pulaunya masih tetap berada di Legenia dan aku dapat melakukan perpindahan selama satu detik..."


"...intinya hari ini sampai besok aku masih bebas, lebih baik mengurusi desanya dulu dan setelah itu aku akan melatih semua bangsa Neko Legenda." Kata Minami.


"Jadi... apa yang kamu butuhkan dari kami? Hanya menyapa?"


"Tidak, aku ingin mengajak kalian pergi menuju Neko Island untuk menciptakan sebuah musim salju dan wilayah sejuk, mau?" Tanya Minami.


"Maksudmu?" Mitsuki memiringkan kepalanya.


"Sepertinya kami harus---"


"Sudahlah ikut dulu, kencan bisa menunggu, pulauku tidak." Minami menyentuh kepala Asriel dan Mitsuki lalu ia berpindah tempat lagi dengan cepat sampai mereka semua muncul di desa bagian timur.


"Pekerjaannya mudah kok, hanya membekukan wilayah ini menjadi es, jangan lupa juga untuk menyelimuti daratannya dengan salju." Kata Minami.


Terdengar cukup sulit dan menyusahkan bagi mereka berdua karena wilayahnya sangat luas dan besar, Minami bisa melihat tatapan malas dan keberatan dari mereka berdua.


"Kou."


"Apakah harus sekarang---" Asriel menoleh kepada Minami dan ia dikejutkan dengan tatapan sedih Kou bahkan Mitsuki langsung maju ke depan untuk mengisi Lenergynya.


"Asriel..."


"K-Kenapa?"


"...aku mohon...!" Kata Kou pelan, Asriel yang awalnya ingin menolak langsung berubah menjadi setuju ketika mendengar respons dan tatapan Kou.


"Baiklah, akan aku lakukan... Minami, aku bisa mengisi Lenergy ku bukan? Tubuhku masih terasa kaku dan keram karena turnamen itu." Asriel maju ke depan.


"Tenang saja, bisa aku urus." Jawab Minami, ia menoleh kepada Kou lalu ia mengepalkan tinju kanannya.


Kou langsung meninju tinju Minami bahwa ia berhasil mengubah pikiran mereka tanpa menggunakan The Mind.


"Sebentar lagi, desa yang berada di dalam pulau Neko Island yaitu Neko Isle akan jadi...!"


"Mari kita berjuang lebih keras lagi, Kou!"

__ADS_1


"Ya!"


__ADS_2