Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 497 - Seiring Pertarungan Berjalan


__ADS_3

Asriel dan Oskadon mulai saling menatap satu sama lain, walaupun kekuatan Oskadon berada di tingkatan yang berbeda setidaknya ia dapat menahannya menggunakan sihir esnya.


Jika Oskadon memiliki sihir kegelapan infeksi maka ia harus berhati-hati dalam melawannya soal sihir dan kekuatan, Asriel sudah beberapa kali terinfeksi tetapi ia mengubahnya menjadi es untuk menyelamatkan diri.


"Bukannya melarikan diri tetapi kau, bangsa Legenda, lebih memilih untuk terus bertarung walaupun tidak ada harapan?"


"Bukan seorang Legenda jika tidak bertarung, lagi pula kami bertarung untuk memenuhi tujuan dan pengalaman..." Asriel mengepalkan kedua tinjunya yang di selimuti oleh es, bersiap untuk menyerangnya kapan pun.


Oskadon dan Asriel mulai saling memandang satu sama lain dengan ekspresi yang terlihat serius, satu suhu yang begitu ekstrem terlepas dari tubuh Asriel sampai membekukan tulang dan organ Oskadon.


Menyebabkan dirinya tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima satu pukulan es yang mengenai perutnya cukup dalam.


Asriel menggunakan sihir [Broken Atmosfer] yang mampu membuat serangan area efek dimana udara di daerah sekitar musuh membeku dan juga membuat musuh mengalami halusinasi.


Tidak bisa berkonsentrasi dengan serangan musuh. Asriel mampu bergerak bebas dan mengubah dirinya menjadi es untuk mempersempit pergerakan musuh.


Oskadon mulai tertekan karena ia sendiri bisa melihat Asriel mulai bertarung serius, setiap serangan Asriel juga mengandung [Ex Zero], mampu untuk membekukan musuh terutama sarafnya.


Oskadon itu abadi tetapi pergerakannya masih bisa terpengaruh dengan es itu, proses sihir infeksinya juga mendadak mengalami proses yang begitu lama sehingga ia hanya perlu menunggu kekuatan yang datang melalui klonnya.


Setelah Asriel berhasil mengenai perut Oskadon, ia melakukan putaran kecil untuk menghantam wajah Oskadon dengan kekuatan penuh sampai setengah dari wajahnya membeku.


Setiap Oskadon menerima serangan sihir es sampai membeku maka serangan Asriel bertambah lebih kuat dari sebelumnya, satu tendangan mengenai wajah Oskadon sampai menghancurkan setengah dari wajahnya.


Oskadon terdorong ke belakang dengan tubuh yang masih tidak bisa ia kontrol karena terus mengalami pembekuan, Oskadon masuk ke dalam celah kecil yang ia buat lalu muncul di belakang Asriel untuk mengayunkan pedangnya itu.


Pedangnya tiba-tiba membeku sebelum mengenai leher Asriel, ia merasakan suhu dingin di belakangnya sampai kecepatannya meningkat, ia menahan serangan Oskadon lalu membekukannya.


Ia membalas serangan itu dengan menendang wajah Oskadon dan mengepalkan tinju kanannya yang mengandung es keras, ia menghantam perut Oskadon sampai ia mulai memuntahkan organ-organ beku melalui mulutnya.


"Guaaaaagggghhhh...!!!" Oskadon bisa merasakan seluruh tubuhnya telah membuka, tidak bisa melakukan apapun kecuali menunggu.


"Jika saja kau tidak abadi, ini yang aku benci dari iblis. Keabadian yang selalu menyelamatkan mereka tanpa keabadian... Manusia bisa mengalahkan dirimu dengan mudah!"


Perkataan Asriel langsung membuat Oskadon kesal sehingga ia melepaskan gelombang kegelapan yang besar di sekitarnya lalu melancarkan beberapa serangan ke arah dirinya.


Asriel berhasil menahan semua serangan itu selagi melindungi tubuhnya dengan es yang ia ciptakan, setiap es yang ia jadikan sebagai pertahanan berubah menjadi hitam dan Asriel dengan cepat melepasnya sebelum tubuhnya terinfeksi.


Asriel menghentikan semua serangan itu dengan menendang wajah Oskadon sampai ia terhempas ke belakang dan terjatuh, Asriel melesat ke arah Oskadon lalu melancarkan satu tendangan yang mampu menembus perut Oskadon.


"Guggghhh!!!" Oskadon bisa merasakan tubuhnya yang begitu lembek dan lemah karena efek dari sihir area itu.

__ADS_1


Asriel terlihat seperti menguasainya penuh tanpa harus mengkhawatir tentang murid lain yang sedang berlindung terutama lagi Mitsuki mencoba untuk melindungi Kou.


Asriel melompat lalu melakukan satu putaran di campur dengan tendangan yang menghancurkan kepala Oskadon secara keseluruhan, tubuh Oskadon telah hancur sebagian dan Asriel menghantam dadanya sampai hancur juga.


Tubuh Oskadon mulai berserakan dimana-mana sampai ia berhasil memulihkan dirinya lagi karena keabadian, Asriel menunjuk ke depan sehingga tapak tangannya mulai menciptakan es yang menyelimuti tubuh Oskadon.


Asriel mulai mengendalikan tubuhnya seperti boneka karena es yang sudah bersatu dengan tubuh Oskadon, ia mulai berputar lalu melemparnya ke arah asteroid di atasnya.


Oskadon melebarkan mulutnya dan melepaskan gumpalan kegelapan ke arahnya, Asriel melepaskan suhu dingin yang begitu tinggi, berhasil untuk membekukan sihir itu sehingga ia menendangnya ke atas langit.


Bammmm!!!


Oskadon berhasil membuat Asriel terkecoh dengan serangan gumpalan tadi karena ia sekarang berada tepat di hadapannya, mencoba untuk menyerang Asriel tetapi setiap serangannya hanya mengenai patung es yang Asriel buat.


Asriel membekukan kedua lengan Oskadon lalu ia menendang wajahnya sampai ia terpental ke atas, sebuah tangan es menyambut dirinya dari atas sehingga Oskadon terhantam dengan es itu sampai terjatuh di atas daratan.


Oskadon menghilang bersama kegelapan, muncul tepat di belakang Asriel sehingga di sambut dengan sikut es Asriel yang tajam sampai menusuk kepalanya.


Asriel menghantam wajah Oskadon sampai ia terlempar ke belakang, dengan cepat Oskadon terus maju dan mendekati Asriel tetapi Asriel menyentuh wajahnya sampai tubuh Oskadon membeku dan meledak begitu saja.


Asriel melihat Oskadon memulihkan kembali tubuhnya dan Asriel terus menyerang dengan menghantam perutnya sampai berlubang lalu ia menghantam tengkuk Oskadon beberapa kali menggunakan sikutnya.


Tanpa memberi dirinya ampun, Asriel terus melakukannya untuk mengulurkan waktu lebih lama lagi karena keabadian yang dimiliki Oskadon hanya bisa di selesaikan oleh cahaya milik Minami dan Shuan.


Asriel menahan semua dorongan dan tekanan yang di lepas oleh Oskadon sehingga ia melihat dirinya melepaskan berbagai macam sihir kegelapan yang begitu ekstrem dan dahsyat.


Oskadon melepaskan ledakan kegelapan yang mampu menginfeksi berbagai macam murid, untungnya Hana berhasil melindungi sebagiannya di bantu dengan Asriel yang membekukannya.


Dengan cepat Oskadon muncul tepat di hadapan Asriel tetapi ia menyambut dirinya dengan menghantam wajahnya tetapi Oskadon kali ini dapat menyerang balik, ia memukul wajah Asriel cukup keras.


Asriel tercengang ketika merasakan setengah dari wajahnya membeku tetapi dengan kegelapan itu sendiri sehingga setengah dari pandangan mulai buta seketika.


Asriel menendang wajah Oskadon, Oskadon menghantam pinggang Asriel sehingga mereka berdua mengalami pembekuan dengan es putih dan hitam, Asriel menghantam perut Oskadon dengan sangat keras.


Menyebabkan punggung Oskadon diselimuti dengan es yang begitu tajam, Oskadon hanya bisa tersenyum sehingga ia mulai memakan lengan kanan Asriel, mengubahnya menjadi warna hitam sampai ia mula kesakitan.


"A-Apa...?!" Asriel melompat ke belakang, mencoba untuk menyembuhkan lengan bekas gigitan itu yang sudah terinfeksi, ia mencoba untuk membekukannya tetapi es itu hampir saja menusuk wajahnya.


"... ...!" Infeksi yang ia rasakan kali ini jauh lebih kuat, Asriel tidak bisa mengharapkan apapun dari iblis yang akan terus bertambah kuat lagi dan lagi setiap pertarungan berjalan.


Sebagian dari sihir esnya sudah terambil alih sekarang, menjadi milik Oskadon dengan nilai tambah dari kegelapannya itu.

__ADS_1


"Inilah alasan kenapa aku membenci bangsa seperti kalian, walaupun melihat kekacauan dan ancam... Kalian hanya akan terus menyerang seperti orang yang tak tahu diri kapan akan kalah."


"Iblis seperti kami lahir untuk menguasai dan mendapatkan apa yang selalu kami inginkan, sudah jelas terdapat di darah kami masing-masing..."


"Tidak seperti kalian... Legenda yang memiliki tujuan berbeda-beda dengan prinsip yang begitu aneh, sebagai Demon Lord, aku telah menguasai berbagai macam sihir dengan nilai tambah ku sendiri."


"Jika kalian tidak ingin menyerah maka tugas kami sebagai iblis akan mengirim kalian menuju kematian, urusan selanjutnya terdapat di tangan takdir dan dewa kematian." Oskadon menciptakan dua pedang tajam yang mampu menebas Asriel secara langsung.


"Guggghhh..." Asriel berlutut di atas lantai dengan tubuhnya yang memiliki garis hitam sebagai tanda penyerangan Oskadon.


Asriel mencoba untuk menyerang tetapi tangannya yang terinfeksi tiba-tiba mencoba untuk menghentikan dirinya dengan memberikan rasa sakit seperti tulang yang patah.


"Aggghhhhhh...!!!" Lengan hitamnya mulai menonjol beberapa urat sehingga menjatuhkan darah hitam di campur dengan nanah.


"Ya... Aku merasakannya, tubuh abadi ini adalah sumber kekuatan bagi iblis... Bukan hanya sekedar keabadian bisa yang dapat di hancurkan dengan sihir mutlak, ini adalah iblis..."


"Evolusi dari iblis... Benar..." Oskadon mulai menyentuh pipi kanan Asriel menggunakan ujung pedangnya sehingga terbuka sebelah celah di pipinya.


Setelah itu, Oskadon menendang wajah Asriel sampai ia terhempas ke belakang, celah yang terletak di pipinya mulai menutup tergantikan dengan semacam aura putih.


"Nrrgghhh...!" Asriel mencoba untuk memulihkan dirinya sendiri tetapi membutuhkan waktu yang begitu panjang sehingga ia dikejutkan dengan ledakan di hadapannya.


Ledakan yang mampu menghempas Oskadon ke belakang dengan kedua pedangnya yang tiba-tiba meledak begitu saja, Asriel bisa melihat seseorang yang mendarat di hadapannya.


"Bertarung melawan iblis sendiri di pertarungan yang akan berjalan lama itu tidak ada gunanya, Asriel." Ucap seorang pria yang sedang menunjuk Oskadon.


"Bakuzen..."


"Lebih baik kita mengombinasikan es dan ledakan untuk menahannya... Bagaimana?"


"Ya... Mari kita coba..." Asriel kembali bangkit dan Bakuzen mulai meledak lengannya yang terinfeksi agar Asriel bisa menciptakan lengan es yang baru.


Di sisi lainnya, Hana berhasil menjaga jarak dalam bertarung dengan Redagon menggunakan sihir airnya tetapi ia tidak memiliki rasa keyakinan bahwa pertarungan ini dapat menahan sampai waktu yang cukup lama.


Mitsuki mulai mendekati dirinya, "Hana... Biarkan aku membantumu."


"Ehh? Bagaimana dengan Kou?" Tanya Hana sehingga ia melihat Kou berada di atas kursi duduk tanpa memedulikan apapun kecuali murid yang sudah terinfeksi.


Kou hanya mengangguk kepada Hana, memberi dirinya isyarat bahwa ia tidak membutuhkan perlindungan apapun kecuali dirinya sendiri.


"Baikah..."

__ADS_1


"...ayo!"


__ADS_2