Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 609 - Temple of Light


__ADS_3

"Tidak... itu tidak mungkin... itu sangat mustahil...! Semuanya hancur dan mati begitu saja karena seorang dewa...!? Tidak mungkin...!" Shuan mengepalkan kedua tinjunya.


Ia merasa sangat kesal sampai tidak bisa menerima penderitaan yang Shou rasakan sekarang, masalah satu ini jauh lebih mengerikan di bandingkan apapun jika Zoiru dapat menghabiskan siapa pun dalam hitungan detik.


"Dalam analisis ku, bisa di bilang Zoiru adalah satu-satunya Dewa Agung yang memulai dari nol sampai hasil yang ia dapatkan sekarang hanya digunakan untuk dirinya sendiri..."


"...bersama dengan Bamushigaru. Perintah Zangetsu dan Zenzaku bahkan sampai di tolak mentah-mentah olehnya, yang ia inginkan hanyalah kebebasan untuk sahabatnya sendiri." Kata Kou.


"Aku cukup terkejut, Kou... kau bisa mengetahui dirinya." Minami menatap Kou, ia mencoba untuk memikirkan sesuatu agar bisa menghentikan Zoiru ketika datang kembali.


"Hmm... aku hanya bisa membantu kalian semua dengan informasi dan pengetahuan yang aku dapatkan, sedikit rencana dan strategi juga mungkin." Kou duduk di atas kursi.


"Aku harus melakukan sesuatu... Ayah sedang tidak ada maka sebisa mungkin aku harus mencegah---" Shuan mencoba untuk mengurusi masalah Zoiru tetapi ia dihentikan oleh Kou dengan memeluknya erat.


"Tidak...!!! Jangan...! Untuk sekarang jangan berurusan apapun dengan Zoiru, kau akan mati...!" Kou mengembung kan kedua pipinya, Minami bisa mengerti karena ia sendiri tidak begitu yakin bisa menang.


Walaupun dia pernah mengalahkan seorang Dewi agung waktu, dirinya tidak merasa yakin akan bisa menang ketika Kou menjelaskan dewa seperti Zoiru, dia memiliki kehormatan dan harga diri yang begitu tinggi.


Tetapi jika dia marah dan tidak puas maka apa yang akan ia lakukan hanya menyiksa musuhnya dan menghidupkannya lagi menggunakan sihir sumpah Oath yang dapat melakukan reinkarnasi.


Pertama kalinya Minami merasa gugup dan tidak percaya diri seperti dulu, mungkin karena mengetahui sebuah kemampuan baru dari cahaya dan alam karena kuil itu, ia perlahan-lahan lebih menghadapi realitas yang sulit.


"Kau tidak akan bisa menang...! Arata sendiri bahkan hampir saja terbunuh bertarung dengannya!" Seru Kou sampai mengejutkan Shuan dan Minami seketika.


Shuan dan Minami mengetahui jelas bahwa Arata berada di level yang tidak jauh dengan Shira, Kou juga memberitahu mereka bahwa serangan kekuatan maksimalnya tidak mampu untuk menghentikan Zoiru.


"Tidak mungkin... ini benar-benar kesialan..." Shuan mengepalkan kedua tinjunya, merasa kesal dengan masalah yang sedang Touriverse hadapi.


Minami menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia menghembusnya pelan, "Kalau begitu, kita hanya perlu mempersiapkan diri untuk menyambut dirinya kembali."


"Minami benar... aku sendiri sedang merancang berbagai macam rencana dan strategi alternatif untuk menghentikan Zoiru ketika ia selesai mengumpulkan semua tahapan itu." Kata Kou sambil memegang kacamatanya.


Ia meminta Tech untuk memperingati seluruh penduduk agar tetap diam dan tidak melakukan sesuatu yang gegabah ketika melihat seorang dewa agung Zoiru, jika mereka di anggap sebagai esensi lezat maka mereka harus bisa melindungi diri mereka sendiri.


Mungkin arti yang Zoiru maksud soal tidak berurusan kembali dengan Touriverse adalah yang asli, karena yang palsu tidak termasuk jadi ia memilihnya sebagai sumber esensi lezat untuk Bamushi.


Kou baru saja mendapatkan kesalahan yang cukup fatal soal itu, ia harus bisa meminta maaf kepada Shou karena ia telah kehilangan semuanya, jika saja ia bersumpah kepada Zoiru untuk tidak mengurusi semata palsu.


Semuanya akan berjalan lancar dan lambat untuk Zoiru, Kou menyesal sekarang sehingga Minami mulai mengelus kepala Kou untuk menunjukkan rasa terima kasihnya.


"Terima kasih, Kou. Semua informasi itu akan aku olah ulangan dengan latihan yang baru... untuk sekarang, mari ikut denganku menuju Temple of Light." Kata Minami sambil menatap Shuan dan Kou.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Shou?" Tanya Kou.


"Biarkan dia tidur dengan damai... aku tidak ingin membangunkan dia dulu, setidaknya Shou harus mendapatkan tidur yang panjang agar bisa tenang." Minami berjalan pergi meninggalkan rumahnya.


Shuan dan Kou mulai mengikuti Minami, mereka bertujuan untuk pergi menuju kuil cahaya untuk memperlihatkan berbagai macam hal hang menarik di dalamnya sampai membuat Kou tertarik karena ia mendapatkan pengetahuan lainnya.


Beberapa menit kemudian, Minami melompat ke dalam gunung itu yang memiliki banyak tumbuhan emas di dalamnya, ia mendarat di atas tumpukkan daun emas dan Shuan mendarat di atas bunga matahari bersama dengan Kou di pangkuannya.


"Aku sendiri tidak akan menyangka kuil cahaya berada di pulau ini... mungkin sejak dulu, Neko Legend Island memang ada tetapi sebagai tempat rahasia untuk kuil cahaya." Minami berjalan lurus.


Minami sudah menguasai semua ritual atau trial yang di sediakan oleh kuil itu sehingga ia mendapatkan mengendalikannya dengan mudah sekarang berkat ketenangan dirinya yang melebihi alam.


Minami menjentikkan jarinya untuk memunculkan pintu emas besar yang membawa mereka menuju kuil cahaya dengan isinya yang dipenuhi alam berwarna emas.


"Kebetulan yang tidak di sangka... tetapi aku masih tidak menerima kau berlatih sendirian." Shuan menyilangkan kedua lengannya.


"Ahahaha~ maaf-maaf, aku hanya tidak ingin mengganggu waktu kalian sebagai pengantin baru." Minami membuka pintu kuil itu dengan sangat lebar.


Pintu yang terbuka itu langsung memancarkan cahaya yang begitu cerah sampai membuat Shuan dan Kou sempat menutup kedua mata mereka lalu membukanya kembali.


"Uwahhhhh...!!!" Kou merasa kagum melihat isi kuil itu ternyata terlihat seperti alam emas, apa yang ia pikirkan adalah ruangan kuno dengan tembok yang kotor tetapi semuanya berbeda.


"Aku pikir semua kuil sihir akan terlihat kotor dan kuno tetapi... kuil cahaya terlihat sangat indah." Kou melihat-lihat pohon emas di sekitarnya yang mengandung beberapa tulisan.


"Ya kan? Sebenarnya kuil cahaya dan alam itu di satukan... aku mengetahuinya dari tulisan yang terkadang di setiap pohon emas itu." Minami menunjuk semua pohon emas di sekeliling mereka.


"Aku mengerti sekarang... ternyata semua kuil memiliki desain unik yang berbeda, pohon yang memiliki banyak tulisan ini adalah bagaikan tembok yang menjelaskan sejarah dan kemampuan." Kou menyentuh pohon di sebelahnya.


Shuan menemukan sejarah dari pembentukan kuil alam dan cahaya, ternyata apa yang Minami katakan benar bahwa keduanya bersatu karena memiliki kesamaan yang cocok.


"Bukan hanya pohon tetapi ranting dan dedaunan emas yang terus berjatuhan ini memiliki tulisan juga, sebagiannya menjelaskan tentang sejarah dan cara untuk menguasai kemampuan." Minami mengambil satu daun emas.


"Wah... jika aku tahu ini dari awal, mungkin aku akan tinggal di tempat ini untuk selamanya." Shuan menoleh ke atas dan ia bisa melihat langit emas yang begitu cerah.


"Kau tidak akan bisa bertahan lama di sini, Shuan. Kau belum menguasai kemampuan cahaya dan alam..." Peringat Minami, Kou dan Shuan langsung menatap dirinya.


"Apa maksudmu, Kakak?"


"Setiap kuil menyediakan berbagai macam tantangan untuk menunjukkan kelayakan seseorang yang berani-beraninya masuk ke dalam kuil sihir." Minami mulai mengajak mereka menuju ruangan tengah.


"Untungnya semua ritual, trial, dan tentunya tantangan telah aku selesaikan. Otomatis kalian tidak akan terpengaruh dengan konsekuensinya." Minami menyentuh patung di hadapannya.

__ADS_1


Patung yang terbuat dari kayu emas, berbentuk seperti elang yang melebarkan kedua sayapnya yang sangat besar bahkan sampai membuat Kou kagum melihatnya.


"Konsekuensi...?"


"Jika kau berada di kuil ini selama satu jam lebih maka cahaya di sekelilingmu akan mengubah dirimu menjadi cahaya yang tak akan pernah bisa kembali." Jawab Minami.


Shuan langsung kaget ketika mendengarnya, perasaan lemah dan kegagalannya kembali muncul tetapi Kou menghentikannya dengan meraih lengan Shuan lalu menempatinya di atas patung elang itu.


"Kamu tidak perlu terpuruk dengan rasa kegagalan, Shuan. Lihat lah elang ini dan bayangkan sesuatu soal cara mereka terbang..." Kata Kou, Shuan mengerti dengan perkataannya sampai ia mengangguk.


"Walaupun kita terus terjatuh... jadilah seperti elang yang akan terus melebarkan kedua sayapnya untuk mencoba terbang ke langit yang lebih tinggi." Tubuh Shuan langsung melancarkan cahaya merah sampai mengejutkan Kou.


"Shuan...! Itu sihir Crimson...!" Kou terkejut ketika melihatnya sehingga Minami sekarang yakin bahwa Shuan tidak akan bisa melanjutkan latihan cahayanya dengan gabungan sihir Crimson itu.


Tetapi Minami mencoba untuk melatih dirinya tentang berbagai macam kemampuan yang dapat ia kuasai, misalnya Golden Neutron itu, ia harus segera menyempurnakannya agar bisa berada di tingkatan yang lebih tinggi dari Shira.


"Baiklah, Shuan, bagaimana jika kita coba berlatih sebentar saja?" Tanya Minami, ia mulai menatap Kou untuk meminta izin kepadanya tetapi ia sudah melihat Kou tersenyum.


"Boleh kok." Kou mulai menghampiri patung elang itu untuk mempelajarinya dengan menyentuh kacamatanya agar dapat melakukan beberapa analisa.


"Setiap kuil juga ternyata memiliki patung yang kadang bisa disebut sebagai Guardian... tetapi istilah itu sudah menghilang ketika para dewa agung memanggilnya makhluk sihir."


"Tunggu, apalah elang ini juga bisa di sebut sebagai makhluk sihir?" Tanya Shuan.


"Hm, benar." Kou mengangguk.


"Aku kira kau akan langsung mengetahuinya ketika aku sempat mengeluarkan sayap elang emas sejak itu..." Minami menghela nafasnya.


"Aku lupa..." Shuan menyilangkan kedua lengannya.


"Elang ini... bisa di bilang cukup malu karena ia berada bersama kita di alam yang sama, membutuhkan proses sampai ia mendarat di atas patung itu." Minami tersenyum.


"Kau tahu kan arti dari nama keturunan kita, Shiratori yang mengartikan elang putih..." Minami mulai menepuk patung tersebut.


"Elang ini benar-benar menyimbolkan kita semua, tetaplah bangkit dan mengibarkan sayap untuk terbang lebih tinggi, melewati semua langit yang tidak ada batasnya." Minami tersenyum.


Shuan mengerti sekarang, kuil ternyata bisa di jadikan sebagai tempat yang cukup menyenangkan untuk berlatih dan melancarkan sesuatu yang baru.


"Nama elang ini..." Lensa kacamata Kou mulai memunculkan arah panah tepat di perut elang itu terdapat sebuah tulisan.


"...Akariagaru?"

__ADS_1


__ADS_2