
"Dasar keturunan Comi tidak berguna...!!!" Minami terus mengatakan sesuatu yang membuat hati Kou hancur berantakan, walaupun ia seorang Legenda setengah hantu, ia masih memiliki perasaan seperti seorang anak kecil dan seseorang yang tidak berdosa. Kou hanya bisa menangis sambil menatap Minami karena Korrina memberitahu dirinya bahwa ia hanya boleh menangis jika ia benar-benar bersalah, tataplah orang itu dan menangis selagi mengatakan permintaan maaf.
Minami tidak mengeluarkan kata apa-apa lagi, perkataannya sudah cukup menyinggung perasaan Kou sehingga ia sendiri tidak sadar karena amarah yang terus mempengaruhi dirinya itu. Semuanya benar-benar salah di pandangan Minami entah kenapa, ia sendiri bahkan tidak berpikir dua kali untuk menunjukkan cakar-nya kepada Kou lalu mengayunkan-nya tetapi Minami melebarkan matanya ketika melihat Kou memiliki garis merah di seluruh wajahnya yang melambang penyakit lain muncul.
"Jangan kau menunjukkan sesuatu yang membuat pantas untuk diberi belas kasihan...!!! Apakah kau mencoba untuk membuat diriku merasa kasihan kepadamu hanya untuk menunjukkan penyakit itu 'kah!?!?" Seru Minami keras, ia masih tetap akan memberi dirinya pelajaran tetapi seseorang mulai menghentikan dirinya dengan menggenggam erat kedua lengannya, "Apa yang kau lakukan kepada seorang gadis kecil seperti dirinya!? Apakah kau memiliki harga diri atau akal sehat untuk mencoba melukai gadis lemah sepertinya!?"
Minami melebarkan matanya ketika melihat seorang dewi yang yang memiliki rambut panjang merah dan kedua mata hijau pekat datang hanya untuk menghentikan dirinya yang hampir saja melukai Kou yang sedang merasa kesakitan karena penyakitnya itu. Dewi itu mendorong mundur Minami lalu mengangkat tubuh mungil Kou dan memberikan dirinya sebuah tepukan pelan di punggungnya, mencoba untuk menenangkan dirinya yang masih menangis sampai sekarang.
"Apa yang kau mau!? Jangan bawa dia dariku!" Kata Minami sambil menunjukkan ekspresi yang kesal, "Apakah kamu melupakan peran yang kau harus jalani sebagai seorang teman yang terus mendukung seorang teman yang memiliki banyak kekurangan...? Apakah kau pantas dipanggil teman jika memperlakukan dirinya seperti itu."
Minami terdiam ketika mendengar itu, ia sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi dan apa yang sedang ia lakukan. Hatinya terasa sakit tetapi Kou mungkin merasakan kesakitan secara keseluruhan karena sudah memperlakukan dirinya seperti itu, entah kenapa ia tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang berbeda karena amarah dan rasa sedih yang terus ia rasakan sejak dulu. Kou mencoba untuk turun dari dewi itu, ia menghampiri Minami sambil berlutut dan bersujud kepada dirinya.
Kou tidak bisa mengatakan apapun tetapi mulutnya mencoba untuk mengatakan sesuatu, mereka tidak bisa mendengar dan mengetahui apa yang coba ia katakan. Minami bangkit dari atas tanah lalu ia melebarkan matanya ketika Kou mengeluarkan banyak darah dari mata, hidung, dan mulutnya. Kou yang sedang bersujud bangkit sambil merapatkan giginya dan memegang erat dadanya yang terasa sakit, ekspresi-nya terlihat kesakitan, "Kou!? Apalagi yang kau rasakan, hah!?"
__ADS_1
Minami mendekati Kou lalu ia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan memegang erat kedua bahunya tetapi Kou mundur ke belakang beberapa langkah sambil berlutut dan memegang erat dadanya yang terasa sesak dan kesakitan. Tubuhnya yang dipenuhi dengan garis dan lambang merah itu benar-benar mempengaruhi dirinya, ia mulai menggaruk tubuhnya beberapa kali sampai kulitnya mengeluarkan darah.
Minami dan dewi berambut merah itu tercengang melihat Kou menyakiti dirinya sendiri, "Oi, Kou! Apa yang kau lakukan!? Hentikan semua tindakan bodoh yang kau coba lakukan itu...!!!" Minami mulai khawatir, ia mendekati Kou lalu memegang erat kedua lengannya sehingga ia bisa merasakan kekuatan dan tenaga besar di dalam dirinya yang mencoba untuk memberontak dan terus melukai dirinya sendiri, Kou terlihat kesakitan dan Minami mencoba untuk menghentikan dirinya dengan sebuah pelukan.
"Hentikan, bodoh, maafkan aku... maafkan apa yang aku katakan tadi, itu... itu... aku tidak bermaksud..." Minami mulai merasa bersalah tetapi permintaan maaf-nya tidak terlihat ikhlas, entah kenapa amarah yang baru saja ia lepaskan itu tidak bisa ia rasakan lagi ketika melihat Kou kesakitan seperti itu, mencoba untuk melukai fisiknya yang lemah. Minami ikut terluka karena lengan dan kaki Kou terus ia gerakan, mencoba untuk menghentikan rasa sakit itu dengan menyakiti dirinya.
Minami rela membiarkan semuanya terjadi sampai ia yang dilukai oleh Kou, gejala itu berakhir selama beberapa menit dan Kou terlihat kesakitan bahkan ekspresi-nya terlihat datar dengan kedua mata yang terlihat mati. Ia masih menangis selagi menatap Minami tetapi Minami berhenti memeluk dirinya lalu menatap dewi berambut merah yang terlihat kebingungan dan ketakutan itu, "Apakah kau bisa mengantar kami...? Hanya sebentar, biarkan gadis ini beristirahat di tempat yang aman."
"Aku tahu itu... penyakit tadi... aku tidak menyangka akan dimiliki oleh gadis kecil seperti dirinya." Dewi itu mengetahui penyakit yang dimiliki oleh Kou sehingga Minami tidak terlalu peduli untuk menanyakannya sebelum Kou beristirahat dan diam di tempat yang aman karena ia akan menyelesaikan semua ini untuk pindah ke masa lainnya, sekali ini bertemu dengan Kuharu maka ia benar-benar akan menghajar dirinya secara habis-habisan.
Mereka terlihat seperti melakukan aktivitas yang berbeda dan semoga saja masa ini tidak hancur karena ia membunuh beberapa pasukan Mortal dan beberapa Dewa dan Dewi yang terlihat lemah. Mereka semua tiba di dalam kediaman yang terlihat cukup nyaman, Dewi itu mengajak Minami dan Kou masuk ke dalam ruangan yang tidak pernah di pakai dan ruangan itu terlihat cukup nyaman karena memiliki kasur yang lumayan besar, "Semua ini cukup..."
Dewi yang sedang menggendong Kou mulai menempati dirinya di atas kasur, Minami menatap Kou dengan ekspresi yang terlihat biasa, ekspresi-nya masih terlihat kesal dan Kou bisa melihatnya sehingga ia mencoba untuk menghampiri dirinya tetapi dewi itu memberitahu dirinya bahwa Minami memaafkan-nya, Minami mengepalkan kedua tinjunya karena ia merasakan sesuatu yang mengganggu, "Aku akan pergi, tidak lama, kau juga Kou."
__ADS_1
Dengan perkataan singkat itu, Minami berubah menjadi cahaya dan menghilang begitu saja sehingga dewi itu menatap Kou dengan ekspresi yang terlihat bersalah. Kou hanya bisa duduk di atas kasur sambil meraba dadanya menggunakan kedua tapaknya, merasa bersalah karena beberapa orang pernah mengatakan hal seperti itu kepada dirinya bahwa ia penuh dengan beban sampai menyusahkan mereka, "... ..."
"Apakah masih sakit?" Tanya Dewi itu, Kou menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. Dewi itu melihat Kou sebagai seorang mortal tetapi di dalam dirinya, ia mengetahui sesuatu bahwa Kou di hasilkan oleh seorang Mortal dan Dewa yang menikah secara silang. Melihat rambut merah dan kedua matanya yang emas itu mengingatkan dirinya kepada seseorang sehingga iris mata hijau-nya itu mulai memancarkan cahaya hijau, "Ternyata benar ya..."
"Bolehkah aku mengetahui namamu, gadis kecil? Tidak perlu khawatir dengan diriku ya, bukan orang jahat kok, namaku Yuriko. Mungkin hari ini aku akan mengasuh dirimu karena temanmu itu... Minami ya sepertinya memiliki sesuatu yang penting." Dewi itu memperkenalkan dirinya dengan nama Yuriko, Kou hanya bisa diam dan mencoba untuk mengatakan sesuatu tetapi Yuriko memberi dirinya sebuah catatan dan pensil agar ia bisa menulis disana.
Kou memegang pensil itu dengan lemas lalu ia menulis namanya sendiri, Yuriko meminta beberapa pembantu untuk mempersiapkan makanan untuk anak kecil yang sedang sakit bahkan ia meminta beberapa obat dan penawar untuk penyakit yang di alami oleh Kou, "Namamu adalah Kou ya... Kou saja?"
Kou mengangguk, entah kenapa Yuriko ingin menanyakan sesuatu yang lebih tetapi Kou mulai mengangguk karena ia bisa membaca perasaan dan pikirannya menggunakan kekuatannya itu, "Kenapa kamu berada di sini bersama dirinya...? Orang tuamu kemana?"
Kou menulis sesuatu tentang Alvin yang sudah mati dan Korrina yang pergi jauh, entah kapan akan pulang. Ia juga memberitahu Yuriko bahwa seluruh saudaranya sibuk terutama keturunan Comi lainnya seperti nenek-nya dan kedua bibi-nya. Kou mencoba untuk tidak memberitahu Yuriko tentang tujuan dia berada di tempat ini tetapi ia lebih baik memberitahu-nya saja karena informasi itu tidak begitu penting sehingga Kou berbaring di atas kasur sambil menatap atap dengan tatapan yang terlihat lelah.
"Selamat tidur... nanti aku bangunkan ketika makananmu sudah siap ya, kamu juga harus minum obat." Kata Yuriko, Kou tersenyum kecil lalu ia mengangguk pelan dan memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
"ternyata benar-benar dia... ya...?"