Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 1005 - Kesetiaan Pertemanan


__ADS_3

Semua teman-teman Korrina meninggalkan dirinya sendiri yang berlutut di hadapan ketiga batu nisan itu dengan ekspresi yang terlihat sangat menyesali perbuatan dirinya dulu sekali.


Dirinya ditinggal sendirian, ketika ia baru saja pulang dari perjalanan yang panjang sekali dirinya terpaksa menerima banyak perubahan yang menyakitkan termasuk dengan ketiga anaknya yang sudah gugur.


"Maafkan Mama... anak-anak..." Korrina terus meminta maaf tanpa berhenti di hadapan ketiga batu nisan itu selagi menyebutkan berbagai macam penyesalan.


Ophilia yang bersembunyi di balik pohon terus memperhatikan dirinya sampai ia tidak bisa meninggalkan teman masa kecilnya terus seperti itu ketika ia sudah mengalami perjalanan yang sangat sulit dan melelahkan.


"Padahal aku baru saja menerima kembali ingatanku tentang teman masa kecilku..."


"...apakah aku tidak bisa membantu dirinya?" Ophilia tidak ingin mengulangi hal yang sama seperti Shinobu yang menghabiskan satu bulan duduk di hadapan batu nisan Kou.


Tetesan air hujan mulai menyentuh kepalanya sampai ia langsung menoleh ke atas untuk melihat awan yang begitu gelap sampai menurunkan hujan deras.


Ophilia mulai menoleh kepada Korrina yang tidak bergerak sama sekali karena ia tidak memedulikan apapun selain penyesalan yang sudah ia lakukan ratusan tahun lamanya yaitu pergi meninggalkan mereka.


"Aku masih berhutang kepada dirinya..."


"...bukan hanya itu saja, tetapi anak-anaknya sudah membantu diriku ketika aku sedang dalam kesulitan." Ophilia mengingat Kou yang berhasil membawa dirinya kembali menuju cahaya.


"Maafkan aku---" Korrina dikejutkan dengan sebuah jaket yang menghalangi kepalanya sampai ia langsung menoleh kepada Ophilia yang berdiri di sebelahnya.


"Apa yang kau lakukan...?"


"Kenapa kau masih di sini...?"


"Seperti yang kau katakan sebelumnya, lebih baik kita penuhi mental dan perasaan kita dengan sesuatu yang menenangkan..."


"...jika kau merasakan kesedihan dalam waktu yang cukup lama maka ketika kau berperang dalam Ragnarok hasilnya bisa saja kacau karena kau dibebankan dengan kesedihanmu sendiri."


"Aku ingin membalas semua kebaikan yang kau lakukan padaku sejak kita masih kecil, Korrina..."


"Kau masih mengingatnya ya..."


"Tentu saja! Kau adalah teman pertamaku, bagaimana bisa aku melupakan sesosok gadis yang sangat keras kepada dulu?!"


"Bukan hanya keras kepala tetapi egois juga... tetapi itu tetap tidak mengubah pandangan diriku tentangmu teman masa kecilku yang sangat pengertian."


"Korrina... sejak kamu pergi."


"Aku tidak mencoba untuk adu nasib atau semacamnya... tetapi mungkin kamu perlu mendengar alasan kenapa aku perlu membalas dirimu." Ophilia duduk di sebelah Korrina.


"Aku dijadikan sebagai tumbal untuk membangkitkan Bamushigaru... Zoiru berhasil membangkitkan makhluk sihir itu karena diriku yang seharusnya mengendalikan seluruh makhluk sihir!"


"Setelah masalah itu selesai, semua orang mengetahui kebenaran tentang diriku yang menjadi puncak dari masalah itu karena keturunan dari Phoenix..."


"...semua orang membenci diriku, kebencianku juga menyebar kepada keturunan Shimatsu karena kita lah yang dijadikan sebagai pusat masalah dari kebangkitan Bamushigaru."


"Di saat itu... aku juga merasakan hal yang sama denganmu yaitu tersesat dalam sebuah ruangan ketiadaan sampai tidak ada satu pun jalan yang tersedia untukku..."


"...satu-satunya jalan untuk mengakhiri semua itu adalah bunuh diri dan tidak pernah melihat lagi sebuah dunia yang ditimpa dengan berbagai macam masalah seperti labirin."


"... ..." Korrina terus mendengar dirinya selagi memperhatikan ketiga batu nisan itu.


"Tetapi jalan sesat itu telah tertutup kembali karena perbuatan seseorang... seseorang yang begitu mulai akan kebaikan." Ophilia menatap batu nisan milik Kou lalu ia mengusapnya pelan-pelan.


"Dia yang sudah membantu diriku... mengubah segalanya sampai menggunakan The Mind untuk melupakan semua kebencian yang tertera kepada keturunan Phoenix dan Shimatsu..."


"...anakmu dan dirimu yang sudah memberikan diriku banyak sekali harapan sampai aku terus melangkah maju untuk hidup di dunia kejam ini."


"Setidaknya biarkan aku membantu dirimu... seperti dulu sekali, dimana kita saling membantu satu sama lain..."


"...sebuah pertemanan yang terlupakan sampai kita terlihat seperti sekedar orang asing yang baru saja bertemu lalu sok akrab."


"Ophilia..."

__ADS_1


"Aku ingin membantu dirimu, aku sudah muak menjadi korban yang terus dibantu oleh keturunan Comi sampai aku sendiri tidak mengetahui solusi yang baik untuk membawa kalian kembali menuju jalan yang benar."


"Jika kamu terus seperti ini maka ketiga putrimu tidak akan bisa beristirahat dengan tenang..."


"...semua perjuangan yang mereka lakukan, ketiga putrimu mempercayai dirimu bahwa kamu akan kembali suatu saat nanti."


"Kembali dengan wajah ceria dan senang untuk melihat perubahan Touriverse yang masih memiliki beberapa kepositifan."


"Mereka sekarang pasti sudah merasa senang untuk beristirahat, dan kau juga seharusnya percaya bahwa surga itu ada bukan?"


"Surga yang diraih oleh ketiga putrimu... aku yakin mereka bertemu dengan dirimu di atas sana untuk menggantikan semua hari kosong tanpa kehadiran seorang ibu yang begitu kuat dan tangguh..."


"...sendirian." Ophilia mulai mengulurkan lengannya pelan-pelan kepada Korrina sampai ia mulai menangis pelan-pelan karena masih menyesali perbuatannya itu.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Korrina... penyesalan memang tidak akan bisa kita lihat dari awal ataupun prosesnya melainkan kita hanya perlu menunggu dengan hasilnya..."


Ophilia berhasil mengelus kepala Korrina pelan-pelan sampai ia menangis untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama di hadapan batu nisan itu.


"Aku buruk sekali... padahal awalnya aku tidak ingin menangis dan terlihat lebih buruk di hadapan dirimu bersama anak-anakku..."


"...tetapi perkataanmu itu... berhasil menghancurkan pertahanan yang aku selalu pasang selama ini untuk tidak menangis berlebihan..." Ucap Korrina selagi menghapus air matanya tetapi ia terus menangis.


"Tetaplah optimis meski itu berarti, teruslah hidup demi mereka juga yang selalu membanggakan ibu mereka sampai akhir."


"Ya... itu yang aku selalu katakan kepada mereka..."


"...tetaplah menjalankan hidup walaupun itu berat, relakan mereka yang sudah gugur menjadi seorang bangsa Legenda yang layak." Korrina menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya dengan ikhlas.


"Mungkin terakhir kali aku berbicara dengan mereka adalah ketika... pesta ulang tahun Kou, tidak dihitung dengan diriku yang meriah surga lalu bertemu mereka."


Korrina berhasil melepaskan semua beban itu berkat perkataan Ophilia serta semua pengalaman yang pernah ia rasakan dalam waktu lama sekali karena sudah hidup jutaan abad lamanya.


Sebelum merelakan semuanya, Korrina memeluk batu nisan itu satu per satu lalu memberinya sebuah kecupan terakhir dan berkata, "Mama pulang..."


"...dan maafkan Mama karena sudah meninggalkan kalian terlalu lama, semoga di atas sana kalian bisa mengisi waktu kosong kalian tanpa diriku..."


Korrina kembali menaikkan pertahanannya lalu ia menghapus air matanya yang berhenti mengalir karena ia berhasil melepaskannya, ia sudah memiliki kebiasaan kehilangan banyak orang penting.


Korrina menatap Ophilia dengan ekspresi yang terlihat seperti pasrah tetapi Ophilia langsung memeluk dirinya, "Selamat datang kembali, Korrina..."


"Ophilia..." Korrina memejamkan kedua matanya lalu Ophilia dikejutkan dengan tubuhnya yang lemas mungkin karena dirinya baru saja pulang dan belum melakukan apapun selain menerima berita buruk.


***


"Kau memang tidak memiliki perubahan apapun soal dirimu sendiri, astaga... kau bahkan terlihat lebih kurus dari biasanya." Kata Ophilia selagi membuat sebuah bubur.


"Ahahaha... apakah aku bisa disalahkan karena hal tersebut? Lagi pula aku tidak memiliki banyak waktu untuk makan dalam perjalananku itu."


Ophilia mendatangi Korrina yang sedang duduk di atas kasur selagi melihat keluar jendela, "Kalau begitu kau perlu mengisi perutmu dengan sesuatu yang hangat."


Ophilia duduk di atas kursi lalu ia melihat Korrina mencoba untuk mengambil mangkuk itu dengan kedua tangannya yang lemas tetapi Ophilia langsung mengambil satu sendok penuh dengan bubur.


"Aku akan menyuapi dirimu."


Korrina langsung menerima suapan dari Ophilia lalu ia dapat merasakan kelezatan yang belum pernah ia rasakan dalam waktu lama sekali, "Mmm... terlalu asin..."


"Setidaknya kau dapat mengatakan kebohongan yang terlihat baik, Korrina..." Ophilia langsung tertawa karena ia mengingat dirinya pernah disuapi bubur buatan Korrina yang sangat asin.


"Kamu mengingatnya ya...?"


"Bagaimana bisa aku melupakan bubur buatanmu itu yang sangat asin..."


"Kamu banyak maunya ya ketika sakit..." Korrina terkekeh pelan sampai Ophilia dapat melihat perkembangan yang baik untuk dirinya.


Beberapa menit kemudian, Ophilia mulai merawat Korrina yang belum melakukan apapun setelah ia kembali bahkan sekarang dirinya sedang membasuh punggungnya dengan sebuah sabun.

__ADS_1


"Apakah kamu keberatan?" Tanya Korrina.


"Tidak sama sekali, lagi pula ini tugasku juga untuk membantu seorang teman masa kecil yang baru saja pulang." Ophilia membasahi punggung Korrina.


"Rasanya cukup tenang... mungkin aku bisa dimanja lebih jauh lagi oke dirimu, Ophilia..." Korrina tersenyum pelan lalu punggungnya menerima air yang sangat dingin.


"Oi! Aku hanya bercanda!"


"Maaf, itu tadi kesalahanku... aku tidak merasa keberatan sama sekali karena kau memang baru saja pulang sampai terpaksa menerima banyak sekali hal yang menyakitkan."


Ophilia mulai membantu Korrina membasahi rambut merahnya yang sudah memanjang, "Rambutmu tidak sependek dulu ya... kau bahkan menggunakan gaya rambut yang berbeda."


"Begitulah, lebih nyaman seperti itu ketika bertarung..."


"Gaya rambut itu terlihat begitu tua... dalam maksud cocok untuk dirimu yang sudah menjadi nenek sekarang." Ophilia terkekeh.


"Aku masih belum terbiasa di panggil dengan sebutan itu."


"Hehhh...? Padahal kita ini berumur jutaan abad tahun loh." Ophilia terkekeh.


Mereka berdua kembali seperti biasanya yaitu kedua teman kecil yang saling membagi lelucon dan tertawa bersama untuk melupakan semua beban yang dirasakan.


"Ophilia." Panggil Korrina yang langsung menatap Ophilia.


"Ada apa?"


"Terima kasih..."


"Ehh...?"


Korrina tersenyum lembut kepada Ophilia sampai ia tersipu seketika melihat senyuman yang baru sekali darinya, "Terima kasih..."


"...karena selalu ada untuk diriku sampai mencoba untuk menemaniku dan menghiburku dalam waktu yang sulit."


"Tidak pernah berubah ya... dari kita masih kecil sampai sekarang, kau terus mencoba untuk menghibur diriku."


"Tenang saja, itu adalah tugasku sebagai teman masa--- Ehh! Jangan pelukan ketika kita telanjang di dalam kamar mandi!" Ophilia dikejutkan dengan Korrina yang memeluk dirinya.


"Tidak apa, kita kan sama-sama gadis."


"Itu bukanlah sebuah alasan yang dapat membiarkan hal ini terjadi...!"


***


"Kamu mau secangkir teh?" Tawar Ophilia karena ia tahu temannya menyukai teh.


"Tidak, aku hanya perlu meminta dua hal saja..."


"Apa itu?"


"Bir dan rokok, tolong ya~"


"Apa yang terjadi dengan temanku sekarang... dia malah menyukai kedua benda yang sangat berbahaya."


"Kedua hal tersebut dapat membuat diriku tenang sampai aku bisa memikirkan kembali solusi dalam Ragnarok."


"Kalau begitu baiklah..."


Beberapa menit kemudian, Korrina mulai menyalakan rokoknya lalu menghisapnya sampai ia kembali berpikir jernih dengan beban yang sudah ia lepaskan berkat bantuan Ophilia.


"Baiklah..." Korrina menghembus keluar asap rokok yang ia hisap lalu menatap Ophilia.


"Ophilia."


"Ada apa?"

__ADS_1


"Dimana Shira, Arata, dan Haruki saat ini...?"


__ADS_2