Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 385 - Itukah Tujuanmu?


__ADS_3

Hari ini bisa dibilang sebagai hari yang cukup menyenangkan dan mendamaikan karena kedatangan dari musim sejuk, semua orang menghabiskan waktu mereka masing-masing dengan bersenang-senang terutama pasangan yang sudah pastinya bercinta dengan satu sama lain. Di larut malam ini, semua orang beristirahat karena menantikan hari esok yaitu perayaan keluarga atau bisa dibilang sebagai orang tua, gabungan dari hari Ayah dan Ibu.


Semua orang yang berada di dalam rumah sudah tertidur sedangkan Shuan dan Minami saat ini sedang menikmati susu hangat di atas atap selagi melihat bintang-bintang, mereka masih bangun karena memiliki suatu alasan untuk membicarakan sesuatu tentang tujuan. Bukan hanya mereka saja yang masih bangun tetapi Kou saat ini sedang berbaring di atas kasur dengan Honoka di sebelah-nya yang sedang memeluk dirinya.


Kou merasa penasaran karena kejadian tentang dirinya bersama Shuan di tepi lautan itu membuat hatinya terus berdetak cepat, perkataan Korrina ternyata benar sehingga itu membuat Kou terus tersenyum sendiri karena merasa senang tanpa suatu alasan. Hari ini merasa lelah karena suhu dingin itu tidak baik untuk dirinya tetapi berkat Shuan, tubuhnya masih terasa hangat sampai sekarang sehingga ia mulai tersipu seketika.


Kou merasa senang akhir-akhir ini, setidaknya rasa rindunya bisa ditahan untuk sekarang karena Korrina pernah bilang kepada dirinya untuk berjanji tidak bersedih dan menangis karena merindukan-nya. Kou memiliki banyak teman untuk saling berbagai perasaan, dengan begitu saka, ia bisa terus berusaha untuk tetap hidup dengan kondisinya yang tidak normal.


Selain itu, Shuan juga mendukung dirinya bahkan ia satu-satunya laki-laki yang membuat jantungnya berdetak cepat. Ia tidak boleh merasa sedih lagi karena banyak teman di sekitarnya yang terus mendukung bahkan Shuan sudah mau menghentikan latihannya sebentar hanya untuk bersenang-senang dan mengajak dirinya ke tempat rahasia yang terlihat begitu indah karena pemandangan dari ombak laut di tambah dengan cahaya bintang dan bulan.


"...shu... an..." Kou mencoba untuk berbicara dan ia entah kenapa berhasil, akhir-akhir ini Kou bisa mengatakan sesuatu sedikit demi sedikit tetapi membutuhkan waktu yang lama untuk berbicara seperti biasa, mengatakan namanya saja sudah cukup untuk membuat dirinya menutup wajahnya dengan kedua tapaknya, saat itulah Kou benar-benar ingin merasakan kedekatan lebih lanjut lagi dengan Shuan agar ia bisa menahan rasa kesepian dan rindunya.


Tapi ia tidak ingin merepotkan dirinya juga yang memiliki mimpi besar menjadi seorang Legenda layak untuk mengalahkan Minami dan Shira, tanpa disadari rasa cinta itu muncul di dalam dirinya, mungkin karena rasa kebaikan Shuan, cintanya masih bisa dibilang proses karena belum mengenal dekat dirinya tetapi masih bisa dibilang memalukan-nya sehingga Kou menutup wajahnya dengan bantal karena tidak bisa menahan semua rasa malu itu, ketika Shuan membagikan kehangatannya itu, ia menyadarinya.


Meski begitu, ia mengingat perkataan Honoka bahwa keturunan Comi lah yang melakukan pergerakan pertama dalam segi apapun, itu artinya ia harus mengajak dirinya lagi duluan jika ingin menghabiskan waktu bersama. Kalau bisa lebih lama lagi dengan Shuan, meski begitu masih tetap memalukan dan bahkan Shuan memiliki banyak pekerjaan seperti membantu orang tuanya besok dan bahkan berlatih dengan Shira.


Kou baru saja memikirkan sesuatu yang penting, jika Shuan mendukung dirinya maka ia harus melakukan hal yang sama yaitu mendukungnya dalam latihan untuk menjadi seorang Legenda yang kuat, dengan dukungan mungkin akan sangat efektif untuk membuat dirinya berkembang jauh lebih cepat lagi dari sebelumnya. Kou setuju dengan pilihannya itu, ia lakukan untuk seseorang yang sudah mau mendukung dan mempercayai dirinya.


"... ..." Kou tersenyum lalu ia memeluk Honoka agar bisa tertidur lebih cepat lagi dengan menyembunyikan wajahnya di dadanya.

__ADS_1


***


Shuan dan Minami saat ini masih berada di atas atap selagi menikmati pemandangan dengan secangkir susu hangat, susu hangat adalah minum favorit mereka karena mereka masih bisa bilang sebagai kucing. Mereka terus memperbincangkan tentang sesuatu yang berkaitan dengan tujuan tetapi Shuan terus membicarakan tentang Kou karena ia ingin mengetahui tentang dirinya lebih dekat lagi sehingga membuat Minami merasa sedih seketika karena mengingat kejadian sejak itu.


Shuan menyadari sesuatu tentang ekspresi Minami yang terlihat begitu sedih, awalnya tadi ia banyak berbicara tetapi sekarang ia hanya bisa diam tanpa mengatakan satupun kata yang keluar dari mulutnya. Shuan berhenti berbicara lalu ia menempati cangkir-nya di atas meja dan ia mulai mengusap kepala Minami untuk menenangkan dirinya sehingga itu cukup efektif untuk membuat dirinya tersenyum kepadanya.


"Terima kasih, Shucchi..."


"Apakah kamu mengingat kejadian yang pernah kau bicarakan kepadaku? Ada apa...? Apa yang telah kau lakukan kepada Kou?"


"Ceritanya lumayan panjang, intinya aku melarang dirimu untuk mengamuk, Shucchi. Sangat berbahaya untuk Neko Legenda seperti kita yang tidak bisa mengendalikan rasa amarah, ditambah lagi kau ini dingin dan selalu saja memasang ekspresi masa bodoh di sekitarmu itu. Intinya, aku dulu pernah menyakiti dirinya sampai membuatnya menangis... itu semua karena kebodohanku sih karena sudah kehilangan seorang teman." Minami menempati cangkir-nya di atas meja lalu ia menatap ke atas langit karena mengingat Okaho.


"Apa yang terjadi...?"


"Aku tidak bisa memaafkan diriku, Shucchi. Sudah terlambat, aku melukai Kou secara keseluruhan karena amarahku sendiri... mental-nya mungkin rusak karena amarahku, aku sendiri hanya bisa merasakan kesedihan setiap harinya karena mengetahui fakta lainnya tentang dirinya. Kamu sudah mendengar tentang kutukan Comi yang bisa dibilang sebagai kutukan abadi bukan...? Bukan Eternal tetapi kutukan yang mempengaruhi tubuh mereka..."


"Aku tahu..."


"Semua keturunan Comi memiliki tanda kutukan garis merah yang memiliki motif bunga atau motif yang berkaitan dengan keindahan lainnya... garis itu bisa dibilang kutukan kematian untuk orang tertentu, Honoka dan Haruka bahkan Korrina sendiri tidak terpengaruh dengan kutukan itu karena kekuatan yang mereka miliki dapat menahannya jadi kutukan itu bisa dibilang hiasan untuk mereka sedangkan Kou..." Ketika mendengar nama Kou, Shuan langsung berdiri atas kursi dan mendekati Minami karena ia belum pernah memberitahu kutukan ini kepada dirinya.

__ADS_1


"Apa... kenapa kau memberitahuku sekarang...?"


"Itu hanya membuatku semakin sedih dengan tambahan tidak ingin memaafkan diriku lebih lanjut lagi karena sudah melukai dirinya. Aku berpikir bahwa semua perbuatan dan ucapan maafku tidak cukup baginya walaupun ia sudah menerimaku seperti biasanya tetapi aku masih memiliki rasa bersalah dan hampa... Dengar, Kou itu memiliki fisik yang sangat lemah dan ia tidak memiliki kekuatan atau sihir karena berada di tingkatan nol, ia hanya bisa melindungi dirinya sendiri karena kemampuan natural [The Mind] yang satu tingkat dengan segalanya ditambah dengan kutukan Eternal."


"Dengar... kutukan Kou itu sangat mempengaruhi dirinya dan fisiknya yang lemah, garis kutukan itu memiliki motif bunga indah di bagian dadanya dan gadis yang sangat dekat dengan posisi dari jantungnya itu, Kou masih mati kapanpun karena gagal jantung... disebabkan oleh kutukan tersebut..." Shuan melebarkan matanya sehingga ia mulai menghantam meja dengan ekspresi yang kesal, ia tidak menyangka bahwa kutukan ini benar-benar serius bagi Kou sehingga ia tidak ingin penyakit gagal jantung itu terjadi kepadanya.


"Apakah tidak ada harapan untuknya...? Semua yang kau katakan itu berada di luar logika-ku... tidak mungkin Kou akan meninggalkan karena gagal jantung, seluruh keturunan Comi memiliki sejarah masing-masing yang berbeda 'kan? Aku yakin Kou berbeda... dia memiliki harapan."


"Shuan, sejak kau masih bayi, Kou mengalami operasi jantung, jantung lemahnya saat ini sudah diganti oleh jantung miliki seorang dewi agung waktu yang bernama Kuharu. Jantung dewi itu memiliki daya tahan besar untuk dipasang di dalam dirinya sehingga menahan kutukan tersebut untuk menggagalkan jantungnya, hasilnya juga cukup baik karena penyakitnya tidak selalu kambuh... intinya itu... itu adalah alasan kenapa aku tidak memaafkan diriku..."


"...tujuanku itu besar dan itu adalah menyelamatkan serta melindungi dirinya. Tidak jauh lagi,  aku hanya ingin mengucapkan maafku dengan benar agar aku bisa merasa lebih tenang..." Minami mengambil cangkir-nya lalu ia meminumnya sampai habis, membuat Shuan terus berdiri tegak dengan pernyataan yang terus bermunculan di dalam pikirannya, ia tidak tahu harus apa tetapi setidaknya tujuan yang baru saja Minami katakan mampu membuat Shuan mengetahui tujuan yang ia ingin laksanakan sampai akhir.


"Mari kita tidur, kita bisa terlambat besok loh... bukannya besok kita berjanji untuk membeli sesuatu untuk Mama dan Papa?" Minami berdiri dari atas kursi lalu ia mengambil cangkir kosong miliknya sehingga Shuan mulai menepuk bahu kirinya sampai ia menoleh ke belakang dan melihat Shuan dengan raut wajah kesal.


"Kakak... aku mengerti... akhirnya aku mengerti tentang maksud dari sebuah tujuan! Jika Ayah dan Kakak memiliki tujuan penting dan besar maka aku juga punya... setidaknya aku ingin memiliki kekuatan yang cukup untuk melaksanakannya!" Shuan memikirkan tujuannya selagi mengingat kembali tentang keindahan dari cahaya yang sudah menyinari Kou, ditambah lagi senyuman-nya itu mampu menyinari seluruh dunia, senyuman yang harus dilindungi dan terus dimunculkan di wajahnya dengan kesenangan.


"Aku ingin melindungi Kou! Aku ingin melindungi senyumannya--- seluruhnya... aku akan melawan hukum dari kutukan Comi sialan itu dengan menjaga dirinya agar ia bisa hidup dengan tenang di masa depan, itu adalah tujuanku! Sebagai temannya aku harus bisa melakukan sesuatu yang membahagiakan bagi dirinya!" Seru Shuan keras sehingga membuat Minami terkejut, ia tidak menyangka Shuan akan melakukan sejauh itu kepada Kou, ia tersenyum lebar dan bersyukur ketika mendengarnya karena tujuan itu sangat postif.


"Itukah tujuanmu...?"

__ADS_1


__ADS_2