
"Hei..."
Ophilia yang sedang diam di atas kursi selagi membaca bukunya mulai mendengar suara laki-laki kecil di hadapannya, ia berhenti membaca buku kamu menatap laki-laki itu.
"Ahh... kamu... yang tadi itu ya." Ophilia menutup bukunya dan ia mulai mengharapkan sesuatu darinya bahwa ia mau mengajak dirinya untuk bermain di ruangan yang cukup membosankan ini.
"Ada apa...?"
"Kamu tadi terlihat seperti mencoba untuk menghancurkan tabung yang berisi gadis kecil di dalamnya, apa dia sahabatmu?" Tanya laki-laki itu.
"Iya... sahabat dekat yang sudah mau mengerti diriku, dia juga orang yang baik karena sudah mau menemani diriku dan bertemu denganmu." Ophilia mengingat kembali sahabatnya yang terkurung di dalam tabung.
"Sepertinya buruk, dia berada dalam proses eksperimen yang dapat mengubah dirinya menjadi makhluk sihir itu..."
"Tidak... itu sangat mengerikan, dia sudah menderita sejak kecil sampai harus mengikuti banyak eksperimen dan menjadi tikus percobaan..."
"...dan sekarang? Dia akan berubah menjadi monster..." Ophilia menundukkan kepalanya, ekspresinya terlihat murung sampai kedua matanya meneteskan banyak air mata.
"Tidak perlu menangis... sebagai sahabatnya, kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" Laki-laki itu mulai mengulurkan lengan kanannya.
"Baiklah, aku akan membatu. Seharusnya semua orang mengerti logika bahwa seorang Legenda dan makhluk sihir tidak dapat di sama kan."
"Namaku Zoiru... senang bisa bertemu denganmu." Laki-laki kecil itu memperkenalkan dirinya dan mulai berjabat tangan dengan Ophilia.
"Ophilia..." Ophilia tersenyum dan Zoiru mulai menarik dirinya menuju ruangan eksperimen itu yang saat ini sedang sepi karena Kirua mengajak seluruh dewa dan dewi itu untuk mengunjungi ruangan makhluk sihir.
"Itu dia..." Ophilia berlari menuju tabung yang berisi sahabatnya di dalam, ia bisa melihat dirinya sedang tertidur dengan ekspresi yang terlihat kesakitan.
Ophilia mencoba untuk mencari tombol yang dapat membuka tabung itu tetapi ia tidak menemukannya sama sekali, Zoiru mulai melihat sekeliling dan ia bisa menemukan ruangan kontrol.
"Ophilia." Panggil Zoiru, ia mengambil sebuah kursi lalu mendekatinya dengan meja yang lumayan tinggi, ia naik ke atas kursi tersebut sampai dirinya melihat banyak sekali tombol.
"Ophilia, siapa nama dia...?"
Ophilia menatap tabung itu, "Korrina Comi..."
Zoiru menekan tombol yang memiliki nama itu sehingga tabung tersebut mulai terbuka dan menjatuhkan Korrina kepada Ophilia yang berhasil menangkap dirinya dengan penuh tenaga.
Ruangan itu tidak membunyikan bel sama sekali karena Kirua meninggalkan ruangan itu tanpa menyalakan sistem keamanan karena terlalu sibuk mengurusi hal lain bersama seluruh dewa dan dewi agung itu.
"... ..." Korrina membuka kedua matanya lalu ia menatap Ophilia yang memberi dirinya sebuah pelukan.
"Kamu baik-baik saja...?" Ophilia menatap Korrina yang berada di pelukannya dan ia tidak menjawab sama sekali, hanya bisa diam dan menatap dirinya dengan kedua tatapan mati.
Zoiru melihat Ophilia telah di satukan kembali dengan sahabatnya, sekarang giliran dirinya untuk membebaskan makhluk sihir yang ia anggap sebagai sahabatnya sendiri dan itu adalah...
Zoiru menekan tombol dengan nama Bamushigaru sampai tabung yang besar itu mulai terbuka dan Bamushigaru langsung melebarkan kedua matanya.
"Grrgggghhh...!!!" Mulut Bamushigaru mulai berbusa dan Zoiru langsung tersebut lebar, melihat sesuatu yang begitu menakjubkan darinya.
"Bamushigaru---"
"GROOOAAAAGGGGHHHHH!!!" Bamushigaru mengamuk keras sampai menghancurkan seluruh tabung di sekelilingnya bahkan alat yang dapat mengontrol sistem keamanan dan tabung itu.
Raungan naga Bamushigaru bisa terdengar jelas oleh para dewa dan Dewi, mereka menatap satu sama lain lalu bergegas menuju ruangan makhluk sihir itu untuk melihat keadaan.
Bamushigaru menatap tajam Ophilia dan Korrina, ia menganggap mereka sebagai hidangan pembuka yang terlihat sangat lezat.
Bamushigaru membuka mulutnya lebar lalu melesat menuju arah Ophilia dan Korrina yang tidak memiliki perlindungan apapun.
"Ti-Tidak...!!!" Ophilia maju ke depan, mencoba untuk melindungi sahabatnya yang tidak berdaya.
Swosh!
__ADS_1
Ophilia yang sedang menutup kedua matanya mulai pelan-pelan membukanya kembali sehingga ia dikejutkan dengan Zoiru yang berdiri di hadapannya selagi menunjuk Bamushigaru menggunakan tapak tangannya.
Bamushigaru langsung berhenti dan menuruti perintahnya, "Grrrggghhh..."
"Mereka bukan makanan..."
"Mereka adalah..."
"...temanku."
***
Zoiru menampar wajah Ophilia sampai bangun dari mimpinya, ia menatap ke depan dan melihat Zoiru berdiri tegak di hadapannya selagi menyilangkan kedua lengannya.
"Ternyata kau... Zoiru...!" Ophilia merapatkan giginya, merasa kesal ketika mengetahui eksperimen makhluk sihir berakhir kacau karena dirinya yang melepaskan Bamushigaru.
"Hohhhhh... kau masih mengingat teman masa kecilmu ya...? Apakah semua ingatanmu yang di hilangkan oleh dewa Sacred itu sudah kembali?" Tanya Zoiru.
"Apa yang kau rencanakan... lepaskan aku..." Kata Ophilia, kedua lengan dan kakinya di ikat ketat oleh rantai yang terbuat dari daging.
"Planet yang menghilang itu... semua itu di sebabkan dirimu...?" Ophilia menatap kesal Zoiru, merasa tidak percaya dengan perubahan Zoiru.
"Zuusuatouri? Ya, aku menghancurkan planet yang berisi dengan badut Iblis dan tentunya ratu Selvia yang terhormat, mereka semua mati..."
"Kau... brengsek... kepalamu terbentur atau bagaimana...? Dulunya kau sangat baik untuk membantu diriku melepaskan sahabatku!" Ophilia mengepalkan kedua tinjunya.
"Itu dulu, aku memang baik sampai sekarang, Ophilia. Hanya saja mereka tidak mengerti apa yang aku inginkan... aku sudah menanyakannya dengan lembut."
"Apa yang aku dapatkan? Jawaban kasar yang membuat semua sikap baikku hilang begitu saja..." Zoiru berlutut di hadapan Ophilia lalu ia menyentuh pipinya.
"Kamu tumbuh menjadi gadis yang cantik ternyata... sayang sekali, kau sudah direbut oleh seseorang dan aku tidak menyukai gadis bekas sepertimu." Zoiru kembali bangkit.
"Zoiru... aku kira kita teman... kau... aku... dan Korrina."
"Pertemanan kita hanya berjalan sebentar, ketika Bamushigaru lepas, semua dewa dan Dewi marah besar sampai Ayah Korrina menghapus sebagian dari ingatan kita."
"Kau sangat bodoh untuk melepaskan makhluk sihir bahaya seperti Bamushi---" Wajah Ophilia menerima satu tendangan dari Zoiru.
"Dilarang mengatakan sesuatu yang buruk kepada sahabatku, dia sedang sekarat dan lebih baik kau mengatakan sesuatu yang terhormat untuk dirinya..." Zoiru menurunkan kembali kakinya.
"Apakah kau pernah mendengar istilah dengan teman tidak akan pernah bertahan selamanya?"
"Sialan... jika saja aku tidak berpapasan denganmu sejak itu, mungkin aku bisa melepaskan Korrina sendirian..."
"Kau masih berteman dengan gadis terkutuk sepertinya? Justru masalah muncul karena keberadaan dirinya bersamamu, Ophilia."
"Dia adalah sahabatku! Jangan coba-coba untuk mengatakan teman masa kecilmu juga!" Ophilia melepaskan Phoenix melalui tubuhnya yang menyerang Zoiru sampai terhempas ke belakang.
"Kau ingin cara yang kasar? Baiklah, Ophilia, teman masa kecilmu!" Zoiru tersenyum serius lalu ia melepaskan Bamushi untuk melawan Phoenix.
"Aku belum memulai topik yang aku inginkan tetapi kau sudah memulai sesuatu yang omong kosong..." Zoiru memegang erat kerah baju Ophilia.
"Hentikan semua omong kosong ini, kalian keturunan Phoenix sangat keras kepala, aku meminta dengan baik dan apa yang aku dapatkan adalah suara keledai kalian!" Zoiru menghantam wajah Ophilia.
Ophilia melihat Phoenix berhasil di kalahkan oleh Bamushi, Bamushi menghantam tubuh Phoenix menuju daratan lalu ia menindih tubuhnya menggunakan ukuran tubuh yang membesar.
"Beritahu aku, Ophilia..."
"...apa yang kau ketahui soal kebangkitan makhluk sihir? Kau mengetahuinya bukan?" Tanya Zoiru sampai mengejutkan Ophilia.
"Kau ingin mengulangi perbuatanmu sejak kecil...?"
"Ya... jika Bamushigaru tetap berada di Realm of Oath maka dia akan mati dan punah karena tidak menerima asupan makanan apapun selama jutaan tahun lamanya."
__ADS_1
"Aku ingin membangkitkan dirinya agar aku bisa menyelamatkan nyawa sahabatku..." Zoiru mengangkat tubuh Ophilia dengan menarik kerah bajunya.
"Berbicaralah dengan baik karena aku sudah memintanya dengan baik, Ophilia!!!"
"Tidak akan... kau hanya akan... mengorbankan lebih banyak nyawa lagi. Kau sudah membasmi bangsa iblis dan salah satu ratu iblis terbaik, apakah itu bisa di bilang baik...?"
"Hohhhhh... jadi kau ingin bermain seperti itu ya, Ophilia?" Zoiru tersenyum serius karena ia sendiri tidak merasa bersalah sama sekali soal korban yang berjatuhan.
"Coba kau bayangkan seperti ini saja logikanya, Ophilia, apa yang harus kau lakukan jika seseorang mengganggu dirimu ketika sedang melakukan perbuatan yang baik?"
Ophilia terdiam seketika, tidak tahu harus menjawab apa karena ia sendiri tidak mengerti dengan pola pikiran Zoiru yang cukup rumit baginya.
"Aku hanya ingin mencari makanan untuk Bamushi dan apa yang aku dapatkan hanya gangguan dari semua orang yang mencoba untuk membunuhku..."
"...semua orang bebas untuk bertindak termasuk dewa dan dewi sepertiku karena aku sendiri memiliki tujuan yang jelas dan padat bahwa aku harus mengembalikan keseimbangan rantai makanan dari makhluk sihir."
"Tidak ada niat untuk membunuh penghuni melainkan mereka sendiri yang memulainya, jika aku membiarkannya saja maka... harga diriku sebagai dewa agung akan hancur!" Zoiru membanting tubuh Ophilia di atas daratan.
"Aaaccckkkk...!!!" Mulut Ophilia mengeluarkan banyak darah.
"Kau tidak ingin berbicara?"
"Jika aku berbicara... itu sama saja... aku menyebabkan kehancuran besar untuk segala alam semesta dan dimensi." Ucap Ophilia dengan suara pelan karena ia sudah menerima banyak kerusakan karena bantingan tadi.
"Baiklah, Ophilia, opini yang bagus..."
"...sekarang menderita." Zoiru menendang punggung Ophilia sampai ia terjatuh di hadapan Kirua yang tubuhnya dipenuhi dengan bekas gigitan dari Bam Bam.
Tubuhnya saat ini masih menerima banyak kesakitan sampai Kirua tidak bisa berteriak atau mengeluarkan satu pun suara, rasa sakit itu mulai terbiasa untuknya.
"Pa... Papa!?" Ophilia melebarkan kedua matanya melihat Kirua terlihat sangat menderita.
Kirua terlihat seperti mati di dalam, mentalnya benar-benar hancur karena terus menerima siksaan itu sehingga Ophilia merapatkan giginya sampai emosi amarah terbakar di dalam hatinya.
Ophilia sendiri masih memiliki kesadaran penuh jadi ia tidak mencoba untuk menyingkirkan semua pasukan Bam Bam itu atau ia akan menerima serangan dari mereka.
"Awalnya aku mencoba untuk menanyakannya baik-baik kepada ibumu..."
"...terus ayahmu dan sekarang kau. Ketiganya menjawab hal yang sama, mengandung sesuatu yang kasar dan tidak sopan sampai membuatku kesal." Zoiru bersiul untuk menghentikan semua pasukan Bam Bam itu.
"Papa...! Papa!!!" Ophilia memeluk Kirua erat selagi menangis keras karena ia merasa tidak tega melihat Kirua di siksa seperti itu.
"Semua ini kesalahan kalian semua... kalian tidak jauh luput dalam membuat masalah dan solusinya sendiri tidak ingin diberikan kepadaku!" Seru Zoiru dengan tatapan kesal.
"Mama... dimana Mama, Papa?" Tanya Ophilia selagi menyentuh kedua pipinya.
Kirua tidak menjawab sama sekali, ia terlihat mati di kedua matanya sehingga Ophilia terus menangis sehingga Zoiru mulai menarik kedua ekor rambutnya.
"Kau ingin tahu kemana ibumu pergi...?" Zoiru menusuk punggung Ophilia menggunakan pedang taring yang ia ciptakan, ujung pedang itu sampai keluar melalui perutnya.
"AAAGGGHHHH...!!!" Ophilia memuntahkan banyak darah sampai tubuhnya menerima banyak kesakitan ketika terkena tusuk oleh taring itu.
Ophilia memegang erat taring itu dengan kedua tapaknya yang langsung berdarah, "Brengsek kau... Zoiru..."
"Kau lihat taring yang menusukmu ini? Ibumu telah di hancurkan oleh Bamushi dan sekarang ia mungkin sudah menjadi kotoran di dalam perut Bamushi!" Zoiru tersenyum.
Tubuh Ophilia merinding seketika dan ia mulai menutup kedua matanya yang mengeluarkan banyak air mata.
"Grrgghhh...!!! Nrggghhh...!!!"
"Brengsek...!"
"Kau benar-benar brengsek...!!!"
__ADS_1
"ZOIRU...!!!" Ophilia melebarkan kedua matanya sehingga kedua pupilnya memunculkan lambang [Wrath], ia sampai menatap Zoiru dan membuat dirinya merinding seketika.
"Huh...?"