
Morgan baru saja mengumumkan beberapa murid yang gugur lagi, sepertinya angkatan satu hanya tersisa dua kelas lagi sedangkan angkatan dua hanya tersisa empat kelas dan angkatan juga memiliki sisa kelas yang sama yaitu empat.
Cranell ketika mengetahui Graylad yang sudah kalah entah kenapa membuat dirinya bertambah kesal karena ia baru saja kehilangan seorang bawahan yang begitu kuat karena kemampuan yang ia miliki, sekarang ia hanya perlu mengandalkan teman lainnya dengan mencari Shelter.
Kebetulan Shelter itu mereka temukan dan Cranell mulai memperoleh Shelter itu menjadi tempat tinggalnya, mereka beristirahat di dalam Shelter itu selama dua hari.
Dua hari telah berlalu dan tidak ada satu pun kelas yang menginjak peringkat, mereka masih tetap fokus mengumpulkan poin terutama Minami dan yang lainnya, saat ini berada di wilayah yang berbeda seperti padang pasir yang begitu panas.
Mereka sudah menemukan beberapa harta karun dan poin yang perlu dikumpulkan, poin yang mereka perolehi masih berada di titik 389 juta lebih, hanya tersisa lima hari lagi untuk mengumpulkan satu miliar.
Jika mereka mendapatkan lebih banyak poin atau menyingkirkan kelas lainnya maka kesempatan menang mereka bisa saja meningkat.
Hanya saja akhir-akhir ini mereka masih belum menemukan musuh atau harta karun yang memiliki nilai poin tinggi karena sendiri mulai khawatir dengan pengumpulan poin ini yang tidak akan berjalan dengan baik.
Saat ini tidak ada satu pun bendera yang belum diperoleh oleh siapa pun, biasanya Morgan akan mengumumkannya terutama Hana sudah mendengar dua kelas yang baru saja memperoleh Shelter.
Itu artinya hanya tiga Shelter tersisa dan lima bendera yang entah di mana letaknya. Minami terus memeriksa sekitar wilayah dengan melepaskan beberapa elang emas tetapi ia tidak bisa melihat apa pun.
Entah kenapa wilayah ini terasa lebih berbeda dibandingkan dengan peta dan informasi yang ia ketahu.
"Sepertinya dua hari yang lalu, aku baru saja mengetahui kemampuan yang dimiliki seorang Raijuu yang bernama Cranell..."
"...ketika ia selesai berbicara dengan Graylad, ia menghilang begitu saja dan tidak meninggalkan jejak apa pun." Lyazen memulai pembicaraan.
Perjalanan mereka kali ini akan berjalan cukup panjang jadi lebih baik menjelaskan beberapa informasi penting saja.
"Menghilang...?" Hana mulai menulis seluruh informasi itu di dalam buku catatannya, Minami hanya bisa memegang dagunya karena ia pernah mendengar kemampuan yang berkaitan dengan menghilang.
Hampir sama seperti sihir yang berkaitan dimensi tetapi ia juga harus tetap waspada karena kemampuan yang tidak jelas bisa saja memberikan dampak yang sangat buruk, intinya Minami hanya ingin bisa mengumpulkan poin saat ini tanpa bertarung lagi seperti dua hari terakhir.
"Ahh... dipikirkan kembali, Honoka belum kembali ya?" Tanya Marie.
Perkataannya itu membuat Hana langsung khawatir, dua hari ini ia tidak pernah kembali memberi kabar bahkan sampai membuat Minami menatap langit-langit bahwa dirinya pasti merencanakan sesuatu di luar naluri dan pikiran mereka.
Seorang gadis keturunan Comi yang dapat mengendalikan realitas pasti memiliki rencana yang begitu hebat sehingga Minami mulai mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan ini.
"Tidak ada yang harus kita khawatirkan tentang Honoka, aku mempercayai dirinya dan jika kalian membiarkan Honoka pergi berarti kalian sama saja seperti diriku..."
"...mempercayai dirinya bahwa ia akan kembali membawa sesuatu yang lebih baik."
"Kita hanya perlu waspada dengan hari terakhir, katanya kita dapat menulis nama pemimpin untuk mendapatkan poin yang jumlah besar sedangkan pemimpin yang ditebak akan mengalami pengurangan poin."
"Cukup mengerikan juga ya..." Kata Hana.
***
Wilayah pegunungan yang dipenuhi dengan lahar, seorang ras Elf yang memimpin kelas 3E mulai mengajak seluruh murid-muridnya untuk mendekati bendera yang mereka lihat di atas gunung berapi itu.
__ADS_1
Seperti gunung yang meletus itu tidak mampu menghancurkan bendera yang sudah diselimuti dengan sihir pelindung, pemimpin itu bernama [Goulm Thrink] dan ia bersama keempat muridnya saat ini sedang mendaki gunung yang masih aktif.
Thrink melihat gunung itu melepaskan api lahar dan batu meteor yang mencoba untuk menghentikan mereka.
Ia mulai memejamkan kedua matanya lalu membukanya dengan lebar untuk menggunakan sihir telekinesis yang dapat menyingkirkan seluruh api lahar dan batu meteor itu, mereka sudah berada di dekat dengan bendera itu dan hanya perlu mengambilnya saja.
"Sepertinya memiliki sihir telekinesis tidak buruk juga ya, Thrink. Kau sungguh hebat." Salah satu temannya mulai memuji dirinya, membuat Thrink tersenyum lalu memegang bendera itu yang terasa berat.
Ketika ia mencoba untuk mengangkatnya ternyata bendera itu memiliki berat yang cukup besar sehingga ia membutuhkan bantuan murid lainnya untuk mengangkat bendera itu bersama-sama dan ternyata berhasil.
"Berat juga ya... walaupun bentuknya terlihat seperti bendera, berat yang dimiliki sangat besar dan berlebihan sampai aku tidak bisa mengangkatnya sendirian."
"Jika kita sudah mendapatkan bendera ini maka kita akan mendapatkan bonus poin yang besar, kita hanya perlu mencari Shelter untuk dikibarkan sekarang." Thrink tersenyum kepada teman-temannya, membuat mereka bersemangat.
Thrink mulai meminta salah satu murid yang mengenakan kacamata untuk melihat situasi, murid itu mulai memperingati Thrink bahwa di wilayah padang pasir terlihat bendera yang berkibar dan seseorang berada di dekatnya.
Hana bersama seluruh muridnya sehingga membuat Thrink kesal ketika melihat murid-murid angkatan satu masih bertahan di ujian ini walaupun sudah 2 hari.
"Hmmm... Jade, apakah kau bisa menggunakan buku informasi yang kita dapatkan untuk melihat identitas mereka?"
"Tentu saja... banyak sekali, aku akan memulainya dari Honoka dulu yang saat ini tidak berada bersama mereka, dia pergi entah ke mana bahkan tidak ada satu pun murid yang mengetahui keberadaannya."
"Jadi... kemampuan Honoka itu---"
Thrink melebarkan matanya ketika Jade menghilang begitu saja tanpa sebuah gejala apa pun, Thrink tercengang ketika melihat bahkan sebagian muridnya mulai ketakutan ketika melihat Jade menghilang begitu saja.
Thrink mulai memperingati mereka semua bahwa terdapat serangan, ia memiliki firasat bahwa seorang murid mulai menyerang dengan kemampuan yang tidak bisa dilihat begitu saja.
"Anggap saja kalian itu seperti tikus percobaan yang dimasukkan ke dalam sampah untuk merebut kemenangan semacam makanan yang begitu lezat."
Terdengar suara gadis yang berasal dari bawah, Thrink menoleh ke bawah dan dikejutkan dengan Honoka yang muncul entah dimana.
Thrink bersama seluruh teman-temannya mulai menyerang Honoka tetapi semua serangan yang mereka lakukan tidak memberi dirinya efek apa pun.
Ia tercengang ketika melihat tubuh Honoka mengeluarkan sedikit aura biru muda yang menyelimuti tubuhnya bahwa ia saat ini berada di ruangan realitas yang berbeda yaitu surga tetapi mereka bisa melihat dirinya.
Hanya saja serangan atau apa pun yang berkaitan untuk mencoba menyentuhnya tidak akan bisa dilakukan.
Seorang murid melompat menuju arah Honoka dan menembus tubuhnya, setelah itu tubuhnya mulai berubah menjadi pasir dan membuat mereka semua tercengang ketika melihatnya.
Honoka tersenyum serius ketika melihat semua murid itu ternyata keras kepala juga untuk menyerang dirinya yang berada di tingkatan surga.
Thrink mulai menunjuk dirinya dan mencoba untuk menggunakan sihir telekinesis tetapi sihirnya hanya membuat Honoka mendekati dirinya sehingga ia sekarang berdiri tepat di belakangnya.
"Kalian bisa lari dan keluar dari dalam tempat sampah itu... meninggalkan makanan yang lezat itu, ya, bendera tersebut."
"Domba tersesat seperti dirimu malang sekali ya, jika saja tidak bertemu dengan diriku maka kau juga akan mati..."
__ADS_1
"Apa yang kau lihat... apa yang teman kau rasakan... adalah surga... surga bagi mereka yang memandang surga dengan cara yang berbeda-beda." Bisik Honoka.
"Ini adalah kemampuan dari Heaven's Reality... semua realitas adalah kekuasaan yang aku miliki dan berubah menjadi surga."
"Surga yang dipandang dengan cara berbeda-beda, hanya diriku saja yang dapat melakukan apa pun di dalam realitas surga tersebut. Kau tidak mau melawannya lebih lanjut bukan...?"
"Anak surga seperti diriku dapat membawa dirimu ke dalam surga... surga bagi pendosa adalah...?"
"...neraka ya?"
Thrink melebarkan matanya ketika melihat kedua lengannya perlahan-lahan berubah menjadi air lahan bahkan wajahnya terasa seperti meleleh.
Apa yang ia rasakan saat ini adalah kepanasan yang dapat membuat dirinya menjerit kesakitan.
Tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi lahar karena aura biru yang dilepaskan oleh Honoka telah menyebar ke mana-mana bahkan tidak ada yang menyadarinya, khusus mereka yang sudah menggapai surga saja.
"Heaven's Reality."
Honoka mengambil bendera itu lalu mengubahnya menjadi batu, setelah itu ia menyimpan batu itu ke dalam sakunya dan melanjutkan perjalanan.
Ia sempat melihat Minami dan Hana saat ini sedang mengangkat bendera lainnya dan itu adalah tanda yang bagus
"Kerja yang bagus, teman-teman... mari bawa nama kita langsung ke dalam turnamen..."
Honoka melompat masuk ke dalam api lahar itu lalu ia menghilang begitu saja, saat ini Thrink dan seluruh murid-murid melihat seluruh wilayah mulai hancur dan melayang sehingga digantikan dengan cahaya putih yang menyinari pandangan mereka.
"Apa yang kau lihat adalah surga... surga itu hanya akan memperlihatkan pandangan yang kalian anggap tentang surga itu..."
"Tidak ada yang bisa bebas... tidak ada yang bisa menyerang... semua yang terdapat di dalamnya hanya lah kedamaian yang pantas untuk menyelimuti seluruh dunia termasuk kejahatan yang berkeliaran dimana-mana."
Thrink masih bisa mendengar suara Honoka, ia sempat melihat seorang gadis berambut merah panjang menyambut dirinya di hadapan.
"...apa yang aku lihat---" Thrink memuntahkan darah yang berjumlah besar melalui mulutnya ketika gadis di hadapannya menunjuk keningnya menggunakan jari telunjuk itu.
"Seluruh lubang yang ia dapatkan mulai mengeluarkan darah tanpa henti, ia tidak bisa menjerit bahkan melakukan apa pun saja tidak biasa.
Apa yang ia lihat bukan surga melainkan neraka yang sangat mengerikan.
"Aaaahhhhhhhhh!!!"
"Ehh...?" Thrink terkejut ketika dirinya berada di hadapan Morgan yang terlihat kebingungan.
"...apa? aku...? aku kalah...?"
"Kau menyerah ya..."
Morgan mulai berbicara, ia sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi, tadinya ia hanya melihat Thrink yang sedang menatap sesuatu tetapi itu entah apa.
__ADS_1
Ketika ia mengedipkan matanya Thrink sudah berada di belakangnya, menjerit penuh ketakutan.
"...sayang sekali."