Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 849 - Musnahkan semua Grimoire!


__ADS_3

Koizumi dan Konomi yang berhasil melarikan diri langsung bertemu dengan yang lainnya seperti Ako, Hinoka, dan Anastasia yang baru saja selesai memeriksa setiap negara untuk mencari Grimoire yang para kandidat itu simpan.


"Dimana Koneko...? Apakah kalian meninggalkan dirinya sendirian?" Tanya Anastasia yang terlihat khawatir.


"Dia masih melanjutkan misinya untuk menyamar bersama para kandidat sialan itu, untuk sekarang kita perlu melacak semua Grimoire yang sudah Ako buang."


"Ako, apakah kau sudah menemukan semuanya?" Tanya Koizumi sampai jawaban yang ia dapatkan hanya sebuah anggukan karena ia sendiri tidak begitu mengetahui lokasinya dimana saja.


"Apakah Nobu benar-benar menyarankan diriku untuk melempar semua Grimoire itu secara asal...? Aku tidak bisa merasakan sumber energi sihir apapun di luar sana." Kata Ako.


"Tenang saja, Ako. Shinobu sudah memberi kita sebuah solusi untuk menemukan Grimoire itu lebih cepat." Konomi mengeluarkan sebuah kertas yang ia dapat dari Shinobu.


"Kertas ini hampir seperti magnet... kertas yang terbuat dari sumber Lenergy yang dapat melacak sihir energi yang besar seperti Grimoire." Konomi mengangkat kertasnya itu sampai tertarik menuju semesta Yuutouri.


"Ternyata kamu melemparnya sangat jauh ya sampai salah satu dari Grimoire tersebut berada di dalam planet Bumi."


"Bisa berbahaya jika kita membiarkannya begitu saja, lebih baik kita bergegas dengan cepat untuk mengakhirinya lalu melanjutkan tugas baru yaitu pembantaian!"


Koizumi dan Konomi mulai pergi ke arah yang berbeda dengan mereka bertiga untuk mencari Grimoire yang menarik kertas tersebut, Konomi sempat memberikan kertas itu juga kepada Ako sampai ia bersama Anastasia dan Hinoka mulai mencarinya bersama.


***


Shinobu dan Keith tiba dalam kuil angin, cuaca saat ini terasa cukup menyegarkan karena gemuruh angin serta embusan yang menggerakkan rambut emasnya itu.


Keith memasang tatapan kaget ketika melihat ekspresi Shinobu terlihat begitu polos sampai rambut emasnya sempat memancarkan cahaya yang begitu indah sampai ia mulai mengusap kedua matanya.


"Mmm...?" Shinobu menatap Keith dengan tatapan penasaran sampai ia melihat dirinya mulai salah tingkah ketika Shinobu menatap dirinya dengan kepala yang sedikit dimiringkan.


"Ahh... tidak apa-apa, rambutmu terluka cukup mencolok sampai mataku terus tertarik olehnya, hampir seperti sinar matahari yang memancarkan cahaya di pagi hari ya."


Shinobu tersipu seketika, "Anu... itu... rambutku memang sepeti itu... anu... keturunan Shiratori seperti ini, jadi ya..."


"...rambut Koneko pasti akan menjadi... sumber cahaya lainnya." Shinobu memasang tatapan yang malu sampai ia menatap arah lain sampai Keith hanya bisa terkekeh pelan.


"Ahaha... aku menyukainya kok, rambut itu lah salah satu alasan yang cukup untuk menerangi diriku bersama hariku yang dulu sangat buruk." Kata Keith selagi mengelus kepalanya sendiri.


"Mm... maaf, jika terlalu mencolok."


Keith mencoba untuk memikirkan sebuah topik pembicaraan agar bisa berbicara dengan Shinobu untuk mempererat hubungan, mengetahui dirinya memiliki riwayat yang lebih menyedihkan dibandingkan dirinya.


Menyebabkan Keith ingin sekali melindungi dirinya dari dekat dengan berbicara secara langsung seperti bertatapan lalu mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan lamaran.


Beval sempat bilang bahwa melamar seorang gadis akan mendapatkan berkah yang cukup besar dari Dewa Erion, ia sendiri benar-benar sudah terjatuh akan cinta untuk Shinobu.


Perkataan terakhir yang ia dengar sebelum mengembara sendirian adalah dari ibunya untuk dirinya memilih gadis yang benar dan carilah sumber kebahagiaan di dalam sana sampai ia mulai mengepalkan kedua tinjunya.


"Shinobu...!"


"Mm?" Shinobu menatap Keith sampai ekspresinya berubah menjadi sangat malu seketika sampai ia mulai menatap arah lain.


"Tidak apa..."


"Kalian sudah sampai ya." Beval baru saja memasuki kuil, ia melihat mereka berdua masih bersikap seperti biasanya yaitu saling berinteraksi atas satu sama lain.


"Apakah kita mulai sekarang saja? Ritual perpindahan antar kepercayaan." Beval mulai mengajak mereka masuk ke dalam ruangan yang memiliki banyak tulisan dan lambang kuno yang berkaitan dengan angin.

__ADS_1


Shinobu bisa merasakan Lenergy yang begitu besar di dalamnya, bukan hanya Lenergy saja tetapi seluruh sumber energi dari ras yang berbeda bisa ia rasakan sampai terdapat energi sihir dari luar alam semesta Touriverse.


Shinobu mendapatkan banyak referensi dan inspirasi yang harus ia tulis dalam jurnalnya sendiri, ia mulai menulisnya dalam pikirannya sendiri untuk mengingat apa yang harus ia lakukan setelah semuanya selesai.


Beval mulai duduk di atas sirkuit sihir hijau muda yang masih mengeluarkan banyak sekali angin serta energi sihir, "Aku ingin kamu berbicara secara langsung dengan Dewa Erion."


"Apakah kau bersedia, Shinobu Koneko?"


"Mm... Koneko akan berjuang." Shinobu mengangguk sampai Beval mulai melakukan meditasi sampai tubuhnya perlahan-lahan mengeluarkan aura hijau muda yang begitu cerah.


Shinobu akan mendapatkan pengalaman baru untuk bertemu dengan Dewa itu secara langsung, ia melihat Beval membuka kedua matanya yang memancarkan cahaya hijau muda yang bersinar.


Ia juga tidak bisa melihat pupilnya tetapi ritualnya hampir setara dengan pemanggilan setan dan iblis, mengorbankan sebuah tubuh agar bisa memanggil seseorang ke dalam tubuh tersebut untuk mengendalikannya sebentar.


"Pseudo ya..." Ungkap Shinobu yang mendapatkan inspirasi baru lainnya sampai ia melihat Beval menunjuk ke depan.


"Aku adalah eksistensi dari angin itu sendiri... Dewa Erion, Beval yang sudah menjadikan cawan untuk diriku gunakan agar bisa berbicara dengan pengikut terakhir Shinji." Suara Beval mulai berubah, terdengar cukup dalam sampai menggema.


"Itu benar, aku adalah Shiratori Shinobu." Jawab Shinobu yang menyebutkan nama marganya sendiri sampai Erion terlihat kaget.


"Tidak salah lagi... dari rambut, mata, dan tentunya cahaya yang selalu keluar dari dalam tubuhmu tanpa habis itu, kau memang keturunan Shiratori."


"Shiratori dengan garis yang melewati Dewa... tidak seperti adiknya Shinji yaitu Shukaku yang memiliki garis melewati Mortal, sungguh menyedihkan."


"Kalau tidak salah, kau juga memiliki garis darah keturunan Comi...? Kulitmu itu, aku bisa melihatnya bahwa semuanya sama."


"Itu benar... Aku juga bisa disebut sebagai Koneko Comi, tetapi aku tidak memiliki sikap lain... hanya satu, tidak seperti Eternal atau Alter-Ego." Jawab Shinobu.


"Kau memang sangat cocok untuk menjadi Dewi selanjutnya... Dewi agung cahaya yang dapat menggantikan teman lamaku bernama Shinji yang terobsesi dengan tantangan apapun."


"...maka dari itu, aku ingin menyembah dirimu, Dewa Erion. Jadikan lah diriku sebagai pengikutmu yang bisa dipercayai!" Shinobu berlutut di hadapan Erion.


Erion hanya bisa tersenyum karena ia mengingat jelas bahwa dirinya menginginkan Shinji melakukan hal yang dilakukan oleh Shinobu, salah satu kepuasannya sudah terpenuhi sampai ia mulai menyentuh kepalanya.


"God Lenergy... banyak sekali..." Ungkap Shinobu yang merasakan sumber God Lenergy tak terbatas di dalam tubuh Beval yang dijadikan sebagai cawan.


"Kalau begitu ucapkan semua hal yang berkaitan dengan kepercayaan angin... semoga angin memberkati dirimu karena kebebasan dari angin akan menyelamatkan dirimu."


"Angin akan membawakan dirimu ke dalam kebebasan dimana kau tidak bisa merasakan yang namanya kesakitan dan penderitaan atas kebencian mereka padamu..."


Shinobu memendam rasa kesalnya ketika Erion mengungkit kembali masa lalunya dan penderitaan yang tidak mau ia dengar lagi karena rasanya cukup sensitif untuk hati dan emosinya karena segel yang Kou pasang sudah hancur oleh tangisannya sendiri.


"Hidup abadi Dewa Erion..."


"...tidak ada yang namanya kekuasaan tanpa berkah dan kebebasan yang diberikan oleh Dewa Erion." Shinobu mulai menyembah Erion secara langsung untuk menyelesaikan ritual perpindahan terhadap kepercayaan.


***


"Konomi, di sini." Panggil Koizumi yang melihat Grimoire itu mendarat di atas tanah, ia mulai mendekatinya dan ternyata Grimoire yang ia temukan adalah Grimoire of Ice.


Koizumi mulai membukanya sampai wajahnya menerima embusan es yang begitu dingin, buku tersebut ketika dipegang terasa sangat dingin sampai setiap halaman yang terbuka terus mengeluarkan suhu dingin yang menyebabkan wilayah di sekitar mereka penuh dengan salju.


"Kau perlu membuka halaman terakhir untuk melepaskan mantra penghancur atas Grimoire tersebut." Kata Konomi.


"Aku sedang mencoba membuka semua halaman ini satu per satu...! Semuanya terhalang oleh es yang begitu keras sampai wajahku bisa saja membeku!"

__ADS_1


"Sialan! Buku yang menyebalkan...!" Koizumi menghentikan waktu lalu ia membakar kedua matanya menggunakan api Crimson lalu ia melelehkan semua es yang terdapat pada buku tersebut.


Waktu kembali berjalan, Koizumi melempar buku tersebut ke depan sampai halaman dari buku tersebut melepaskan suhu es yang begitu besar sampai menciptakan kristal es di atas langit.


"Ahh! Kamu menghentikan waktu ya..."


"Jika aku tidak menghentikan waktu maka tubuhku pasti akan membeku, sepertinya setiap Grimoire memang memiliki keamanannya sendiri." Koizumi kembali mendekati Grimoire tersebut lalu menghentikan waktu lagi untuk melelehkan semua halaman itu.


Koizumi sudah melatih penghentian waktunya selama enam tahun, itu artinya durasi kemampuan waktunya sekarang bertambah lima detik dengan total sepuluh detik penghentian waktu yang dapat ia gunakan.


Koizumi menghantam buku tersebut sampai waktu kembali berjalan, buku sihir itu menyentuh daratan sampai menyebabkan banyak sekali kristal es yang sangat keras.


"Menyebalkan sekali... berapa cobaan yang harus aku lakukan untuk membuka halaman terakhir!?" Tanya Koizumi yang mulai mengambil buku tersebut.


"Koizumi!!!" Konomi langsung melepaskan kristal es melalui tapaknya untuk menghentikan serangan yang terlepas dari buku tersebut.


"... ...!!!" Koizumi menoleh ke belakang dengan belati yang sudah ia tarik dari sarungnya, dengan cepat ia mengayunkan belati itu sampai melepaskan tebasan gelombang Crimson yang menghancurkan apapun di depannya.


"Jangan bermain kasar seperti itu, gadis-gadis." Terdengar suara seorang gadis dari dalam asap putih itu, Koizumi menghentikan waktu lalu ia menghantam Grimoire tersebut ke atas langit dan menyelimutinya dengan gelembung merah.


Koizumi berjalan mendekati asap tersebut lalu ia bisa melihat Lucia yang berhasil menahan semua serangan tebasan tadi menggunakan payungnya sendiri.


"Waktu kembali berjalan!" Ketika waktu kembali berjalan seperti biasnya, Koizumi melancarkan satu tebasan yang langsung tertahan oleh kristal es yang keluar melalui pipi Lucia.


"Astaga... ternyata kamu memang gadis remaja yang suka main kasar terlebih dahulu."


"Ya, sangat kasar sampai aku ingin menghajar dirimu!" Koizumi menghantam kristal es itu menggunakan pukulan apinya lalu ia melancarkan satu tebasan melalui belatinya.


Lucia menangkisnya menggunakan payungnya lalu ia berselancar ke belakang selagi menahan tebasan lainnya dari Koizumi menggunakan payung yang sudah terbuka.


Konomi muncul di belakang Lucia lalu ia melancarkan satu tusukan ke depan tetapi Lucia menumbuhkan kristal besar dari punggungnya sampai menahan tusukan itu.


"Baiklah, aku akan bermain kasar juga dengan kalian." Lucia mengangkat jarinya lalu menarik kembali Grimoire itu sampai ia melepaskan suhu dingin yang dijadikan sebuah ledakan aura besar.


"Kalian perlu mengetahui fakta yang penting... menghancurkan Grimoire of Ice itu bukanlah sesuatu yang mudah." Kata Lucia dimana Grimoire tersebut mengetahui pemiliknya.


Buku sihir itu terbuka lebar dengan halaman yang terus bergantian, ledakan aura tadi menyebabkan setengah dari tubuh Konomi dan Koizumi membeku cukup keras menjadi kristal.


...


...


"Hancurkan Grimoire itu adalah keutamaan yang pertama!" Peringat Shinobu.


"Kalian tidak memiliki kesempatan bertarung melawan kandidat dewa yang menerima Grimoire, aku yakin mereka semua sudah mahir menggunakannya karena latihan."


"Untuk sekarang...! Fokus dengan menghancurkan Grimoire itu!"


...


...


Konomi dan Koizumi menatap satu sama lain lalu mereka mengangguk karena menyetujui satu hal yaitu merebut Grimoire yang berada di tangan Lucia lalu menghancurkannya.


"Grimoire itu..."

__ADS_1


"...adalah prioritas utama kita."


__ADS_2