Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 127 - Hadiah


__ADS_3

"Apa yang kau katakan, Mama...?" Tanya Haruka yang terlihat kebingungan.


Korrina tiba-tiba menyalahkan dirinya ketika mengetahui bahwa Shiratori Shiro adalah ras Eternal dari Shiratori Shira, sepertinya waktu itu... Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah Korrina memberikan Shira sebuah penyembuhan dengan metode memberi dirinya rambut pirang Korrina yang berjumlah cukup banyak.


"Sepertinya Shira bisa mendapatkan sisi Eternal itu karena diriku, waktu itu lengan Shira sempat patah dan tidak bisa disembuhkan oleh sihir apapun kecuali rambut-ku, aku memberikan dirinya beberapa dari rambut-ku sampai rambut-ku pendek karena dirinya..."


Haruka mulai mengerti apa yang Korrina coba katakan, rambut itu mulai bersatu dengan DNA Shira bahkan sampai menyebabkan sebuah kutukan Eternal yang menempel di dalam dirinya, Haruka segera menenangkan dirinya dan memeluknya dengan erat agar ia bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Maaf, Mama panik tadi." Korrina menghela nafas-nya dengan pelan lalu ia menatap layar virtual di depan-nya yang masih menunjukkan Shizen mencoba sekuat mungkin untuk tidak menahan tangisan-nya melihat mereka berdua yang benar-benar dekat.


"Shizen, berhati-hatilah disana bersama Yuuna, kumpulkanlah informasi sebanyak-banyaknya dan pulanglah dengan selamat!" Seru Korrina.


"Akan kami laksanakan." Shizen mengangguk lalu ia mematikan layar virtual itu.


"Mama..." Panggil Haruka dan Korrina segera menatap wajah Haruka."Mmm...?"


Haruka mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada dirinya tetapi ia belum siap untuk mengatakan-nya kepada Korrina karena waktu-nya masih belum tepat untuk memberitahu dirinya bahwa dirinya ini adalah Haruka yang tereinkarnasi dari dimensi palsu, sama hal-nya seperti Shiratori Shiro.


Jika Haruka memberitahu Korrina sekarang maka sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi dan Haruka tidak mau mengambil resiko-nya, ia takut bahwa Korrina akan marah dan menangis tetapi ketika Haruka berpikir lebih logis lagi... Ia memang benar-benar anak kandung Korrina di dimensi asli ini berbeda dari dimensi palsu dimana dirinya adalah anak yang diadopsi oleh Alvin.


"Kenapa, sayang?" Korrina berlutut dan tiba-tiba Andrian membuka pintu ruangan tersebut dan membuat mereka segera mengalihkan pandangan kepada Andrian.


"Korrina, apakah kau memiliki waktu untuk berbicara?" Tanya Andrian.


"Hmm? Iya." Korrina mengangguk dan Haruka menghela nafas-nya dengan lega karena Andrian datang dalam waktu yang tepat.


Ketika Korrina dan Andrian pergi meninggalkan ruangan itu, Haruka segera menarik lengan Korrina karena ia tidak mau dirinya pergi berduaan bersama seorang laki-laki. Korrina dan Andrian segera melirik kepada Haruka yang terlihat cemberut karena ia tidak mau Korrina direbut oleh siapapun.


"Tidak boleh membawa Mama sendirian! Berbicaralah disini!" Seru Haruka.


"Ehh...? Baiklah."

__ADS_1


"Maaf ya... Haruka mulai menempel kepada-ku seperti lem." Korrina terkekeh pelan.


***


"Sebenarnya Mbah Sakti ingin memberikan-mu sebuah hadiah karena dia merasa bersalah telah membuat-mu ketakutan dengan makhluk gaib yang ada di indonesia." Andrian mulai mengeluarkan boks panjang dimana luar-nya dilapisi dengan emas.


"Jangan membahas hal itu lagi!" Jawab Korrina dengan panik, ia segera menatap boks tersebut dengan ekspresi yang terlihat kebingungan.


"Apa yang sebenarnya kau bawa...?' Tanya Korrina.


"Mbah Sakti dan diriku ingin berterima kasih kepada dirimu karena sudah melindungi negara Indonesia dari serangan iblis, perisai yang kau ciptakan itu berguna juga untuk mengusir seluruh iblis yang mencoba untuk masuk ke dalam negara itu." Andrian menyimpan boks itu di atas meja kerja Korrina lalu ia mengeluarkan boks lain-nya.


"Kau tidak perlu berterima kasih sebesar itu sampai repot-repot memberikan diriku---"


Andrian mulai menunjukkan beberapa baju yang memiliki motif batik yang ia beli untuk Korrina dan anak-nya Haruka, Korrina segera melebarkan matanya dan mulai merebut semua baju itu lalu menendang Andrian keluar dari ruangan-nya karena ia ingin secepatnya menggunakan semua baju bermotif batik itu.


Beberapa menit kemudian, Andrian masuk kembali ke dalam ruangan itu dan melihat Korrina bersama Haruka yang sama-sama menggunakan baju batik yang baru saja ia beli. Mereka terlihat cocok dan juga serasi seperti ibu dan anak, mereka juga bahkan terlihat seperti orang yang berasal dari Indonesia.


"Sepertinya baju ini terasa cukup nyaman untuk digunakan." Kata Korrina sambil menatap cermin di depan-nya, Korrina sampai memeluk erat Haruka sampai ia kehabisan nafas karena batik yang digunakan oleh dirinya terlihat imut sekali.


"Maaaa... Nafas... Nafas...!" Haruka menepuk-nepuk punggung Korrina.


Beberapa menit kemudian Korrina mulai menatap seluruh boks itu yang memiliki warna emas di luar-nya, "Dengar... Mbah Sakti dan aku sudah setuju untuk memberikan dirimu senjata tradisional yang pernah digunakan oleh negara Indonesia, senjata ini bisa disebut sebagai senjata kebanggaan kami semua sampai semua senjata itu membawa kita menuju kemerdekaan."


"Kau membawa-ku senjata yang berasal dari Indonesia!?" Korrina terlihat kaget ketika boks itu berisi senjata tradisional Indonesia, ia pernah dengar dari beberapa orang Indonesia bahwa senjata Indonesia itu memiliki kekuatan mistik dan sakral sampai bisa membunuh musuh dengan satu tusukan.


"Ssshhh... Jangan terlalu berisik, aku tidak membawakan hadiah apapun untuk semua orang kecuali dirimu dan Haruka." Ucap Andrian dimana ia mulai membuka semua penutup boks itu, Korrina dan Haruka mulai terkesan ketika melihat semua senjata tradisional itu mengkilat dan melepaskan kekuatan sakral yang terasa.


"Mama! Aku merasa sihir Sacred yang kuat di dalam senjata-senjata itu." Haruka tersenyum.


"Hm! Benar." Jawab Korrina.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa menggunakan senjata-senjata sakral ini... Mbah Sakti memberitahu diriku bahwa senjata ini hanya bisa diangkat oleh seseorang yang memiliki kesempurnaan terdapat ilmu sakral di dalam dirinya, semua orang bisa mengangkat-nya sih tetapi senjata itu malah akan berubah menjadi senjata yang tidak berguna..." Kata Andrian.


"Jadi kau mencoba untuk menjelaskan diriku bahwa aku sudah memiliki ilmu sakral yang besar...?" Tanya Korrina.


"Mbah Sakti mengatakan-nya sendiri, ketika kau selesai melakukan tarian tradisional Indonesia... Mbah Sakti merasakan keberadaan seseorang yang sangat sakral yaitu dirimu, Korrina. Kau bahkan pernah bilang bahwa kau memiliki sihir Sacred dimana sihir itu sekarang sudah sempurna berkat tarian itu." Ucap Andrian.


"Kau benar juga..." Andrian segara mengambil dua senjata yang terlihat pedang.


"Kedua senjata ini bernama Keris dan Rencong. Aku mulai dari rencong yang bisa menumpas musuh. Mata rencong biasa dibuat melengkung dan berbentuk menyerupai huruf "L". Rencong biasanya memiliki panjang berkisar 10- 50 cm. Kini rencong telah beralih fungsi menjadi cindera mata dan menjadi simbol keberkelasan seseorang di Aceh..." Andrian segera memberi rencong kepada Korrina dan ia mulai mengambil-nya.


Korrina tiba-tiba mengalirkan seluruh aura Sacred-nya ke dalam rencong itu dengan sendiri-nya sampai ia tidak sadar bahwa dia baru saja mengalirkan sebuah energi Sacred ke dalam rencang itu sampai bilah pedang itu mulai diselimuti dengan aura biru tua serta terdapat beberapa garis biru muda di sekitar-nya.


"Sepertinya rencong itu benar-benar mengetahui pemilik baru-nya... Dengan menggunakan Rencong maka seluruh ras akan menganggap-mu sebagai ratu atau orang yang berada tingkat tinggi, berkesempatan besar pasukan iblis itu ketika kalah akan bersujud kepada-mu..."


"H-Hebat juga." Korrina segera menyimpan rencong itu kembali ke dalam tempat-nya karena ia tidak tertarik untuk melihat seseorang bersujud kepada-nya, "Aku tidak ingin dianggap seperti ratu atau dewi, aku ingin senjata yang menarik...!"


"Kalau begitu bagaimana dengan senjata yang paling mematikan dan sakral bernama Keris ini?" Tanya Andrian yang mulai memegang erat sebuah keris dan menunjukkan-nya kepada Korrina.


"Keris ya...? Nama dan bentuk yang unik." Korrina mengambil keris tersebut sampai senjata itu mulai mengalami proses yang sama seperti rencong tadi.


"aku suka bentuk-nya." Korrina mulai mengayunkan keris itu beberapa kali sampai bilah pedang-nya melepaskan beberapa cahaya suci di sekitarnya.


"Keris justru dibuat tidak terlalu panjang. Namun yang unik dari senjata khas Jawa Tengah ini adalah ukiran gagangnya dan bentuk matanya yang meliuk-liuk. Sebab bentuknya yang meliuk, keris menjadi begitu menyakitkan bila tertancap karena dapat merobek isian tubuh. Ada sebuah fakta unik tentang keris, yaitu lekukannya yang harus selalu berjumlah ganjil." Kata Andrian.


Korrina merasa sangat senang dan ia ingin menunda hadiah-nya untuk lain hari karena ia ingin berlatih menggunakan senjata keris itu, Korrina berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada Andrian dan ia hanya bisa terkekeh lalu berjabat tangan dengan Korrina. Beberapa menit kemudian Andrian pergi meninggalkan ruangan itu karena urusan-nya sudah selesai.


Korrina segera menepatkan sarung keris-nya di pinggang kirinya lalu ia menatap cermin dan tersenyum lebar, "Aku mencintai Indonesia~"


"Mama tidak mencintai Haruka?!" Seru Haruka sampai membuat Korrina segera mengalihkan pandangan-nya kepada Haruka yang terlihat sedih.


"Tapi Mama lebih mencintai Haruka~~~" Korrina segera memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Walaupun Haruka dan Korrina sudah kehilangan banyak anggota keluarga tetapi hubungan mereka masih ketat, Haruka sudah menangis sepuas mungkin di depan kuburan Alvin dan setelah itu Korrina mengajak dirinya untuk menari tarian Indonesia bersama dirinya agar sihir Sacred Haruka bisa menginjak tingkat kesempurnaan.


"Terima kasih, takdir... Karena sudah memberi-ku anak mulia seperti dirinya..." Ungkap Korrina.


__ADS_2