
Shira melihat Shinobu yang begitu berantakan dan malang, seperti orang yang tidak mampu karena terus ditindas sampai dirinya tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan sesuatu yang positif kepada dunia ini.
"Hei, kamu baik-baik saja?" Tanya Shira yang mencoba untuk membantu Shinobu bangkit tetapi ia menggelengkan kepalanya, mencoba untuk bangun sendirian.
Shinobu berhasil bangkit tetapi tubuhnya terus bergetar karena kedinginan bahkan ketika ia berjalan terlihat pincang sampai membuat Shira khawatir karena ia tidak datang lebih awal.
Shinobu mencoba untuk mendekati pemakaman itu lalu memperbaiki semua kehancuran itu dan bahkan sempat memberi Tech sebuah harapan terakhir bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Shinobu menempati bunga matahari di atas batu nisan Tech sehingga ia terjatuh karena terlalu lemas untuk melakukan sesuatu, "Pekerjaanku sudah selesai... mungkin lebih baik menghabiskan waktu denganmu."
Shira langsung membantu Shinobu untuk berdiri lalu ia menggendong tubuh kecilnya yang terasa dingin, "Rasanya dingin ya..."
Shira langsung memancarkan cahaya dari tubuhnya untuk menghangatkan dirinya lalu ia mengeluarkan sapu tangan untuk membersihkan semua luka dan noda darah di tubuhnya itu.
"Kau sudah berumur 6 tahun saja... cepat sekali pertumbuhan dan perkembanganmu sampai aku tidak menyangka kamu berjuang sendirian."
"Terasa begitu pahit dan menyakitkan ya..." Shira menempati dirinya di atas tanah lalu menyembuhkan semua lukanya sampai ia bisa melihat wajah Shinobu yang terlihat bersyukur dan tenang.
Shira memberi Shinobu sebuah usapan di bagian kepala untuk memuji dirinya karena sudah berjuang keras melawan dunia sejak kecil, "Seburuk-buruknya dirimu... setidaknya kamu sudah berjuang untuk melawan."
"Dari bayi sampai sekarang... kamu menerima sebuah tindasan dan hinaan itu ya, aku sendiri bahkan tidak sekuat seperti dirimu, Shinobu."
Shira baru saja selesai menyembuhkan semua luka itu, Shinobu menunjukkan senyuman polosnya kepada Shira lalu ia berterima kasih kepada dirinya karena sudah mau datang.
"Terima kasih... Kakek..." Kata Shinobu yang terlihat lemas.
"Jangan khawatir sekarang... aku akan merawat dirimu dengan waktu liburan ini." Shira menepuk kepalanya pelan-pelan lalu menggendong dirinya dan memutuskan untuk membawanya pergi menuju restoran lezat.
Shinobu memeluk tubuh Shira dengan sangat erat, rasanya begitu hangat sampai membuat dirinya murung dan sedih ingin menangis tetapi tidak bisa karena ia akan menghancurkan janjinya sendiri.
Shira tidak membicarakan apapun, ia langsung terbang ke atas pelan-pelan selagi melihat semua arwah itu sudah berubah menjadi partikel emas yang terbang tinggi ke atas langit untuk mengunjungi tempat istirahat terakhir.
Shinobu memejamkan kedua matanya untuk beristirahat sebentar, Shira sempat menatap wajah tidurnya yang terlihat begitu damai, melihatnya saja membuat hatinya terasa berat sampai ditusuk-tusuk oleh perasaan bersalah.
"Selama ini aku selalu mengawasi dirimu sejak lahir..."
"...tidak pernah turun tangan hanya untuk melihat seberapa jauh kamu dapat menanganinya sendiri." Ungkap Shira yang selama ini selalu mengawasi perjuangan dan usahanya sejak bayi.
Semuanya terlihat menyakitkan dan membingungkan untuk pola pikirannya sampai ia rasanya dirinya adalah Kakek yang tidak berguna dan baik jika melihat cucunya kesusahan seperti itu sendirian sampai rela berjuang sendiri tanpa menyusahkan siapa pun.
"Tatapan yang kau sempat tunjukkan sejak itu..."
...
...
"Maafkan aku, Shinobu. Aku hanya ingin melihat dirimu mampu sampai mana untuk bisa menahan semua kesakitan itu sampai kamu sempat lulus dalam ujian itu."
"Membunuh mereka tanpa ampun... menjadikan mereka sebagai makanan untuk bertahan hidup bagi dirimu serta hewan-hewan hang mempercayai dirimu sudah membuatku percaya bahwa..."
"...kau bisa bertambah kuat!"
***
"Shiratori Shira...?! Kemana saja kau?!" Tanya Ophilia yang melihat Shira datang ke restorannya bersama dengan Shinobu yang sedang tidur di gendongannya.
"Kebetulan aku sedang beristirahat... waktu itu tidak bisa dikembalikan, aku memutuskan untuk menghabiskan beberapa waktu bersama Shinobu."
__ADS_1
Shira menepuk pelan punggungnya untuk membangunkan dirinya, hidungnya mencium banyak sekali aroma yang begitu wangi sampai membangkitkan ***** makanannya.
"Ophilia, aku memesan semua---"
"Semua menu... aku mengerti." Ophilia menghela nafasnya karena ia baru saja didatangi oleh seseorang yang sangat rakus terhadap makanan sampai ia harus menyiapkan ribuan hidangan untuk Shira dan Shinobu.
Shira duduk di atas kursi lalu ia mendapatkan banyak sapaan dari Legenda yang sedang menikmati sarapan mereka, Shinobu duduk di sebelah Shira dengan kepala yang tertunduk.
"Kamu tidak perlu menyembunyikan identitasmu seperti kok, lagi pula kamu tetaplah kamu." Shira membuka penutup kepala Shinobu sampai ia melihat salah satu telinganya terlihat kacau.
"Ini bekas luka...? Pipi kirimu juga?" Tanya Shira yang mulai menyentuh pipinya sampai Shinobu menjawab dengan anggukan, ekspresinya terlihat malu dan gugup.
Ini pertama kalinya ia menghabiskan waktu lebih lama bersama Shira, ia terlihat jauh lebih besar dan mengerikan ternyata sampai Shinobu bingung ingin membicarakan soal apa bersama dirinya.
"Terlihat keren... ternyata kamu menyimpannya untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa kau sudah berjuang ya." Shira memuji dirinya lagi dengan mengusap kepalanya.
Shinobu langsung menunduk dan menutupi wajahnya sendiri karena merasa sangat malu berbicara dengan Kakeknya yang terus memuji dirinya sendiri.
"Kau tidak perlu bersikap malu seperti itu, aku ini Kakekmu." Shira melihat Ophilia datang bersama dengan pelayan lainnya yang mulai menempati banyak sekali hidangan di atas meja sampai bertumpuk-tumpuk.
"Baiklah... banyak sekali hidangan lezat yang harus kita nikmati di musim sejuk ini, Neko Legenda sepertimu harus makan banyak juga!"
Shira mulai mengajak Shinobu untuk makan bersama serta menghabiskan ribuan hidangan yang ia pesan untuk merayakan pembukaan musim yang semua Legenda tunggu yaitu musim sejuk.
"Pembukaan musim sejuk biasanya di awali dengan banyak makanan dan minuman yang harus kita santap, itu bisa membuat kita sebagai bangsa Legenda bertambah kuat dan sehat."
"Apakah... anu... Koneko boleh memakannya...?" Tanya Shinobu yang terus menatap semua hidangan itu dengan bibir yang menjatuhkan banyak air ludah.
"Jelas lah... kau tidak perlu menanyakan pemberian seseorang seperti itu, nikmatilah apa yang orang lain berikan kepadamu karena semua itu adalah kebahagiaan dan kepercayaan."
Shinobu langsung memeluk Shira cukup erat, "Koneko merindukan Kakek..."
"...Koneko menyayangi Kakek Shira, terima kasih." Melihat Shinobu bersikap manja seperti itu membuat Shira bersyukur bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kalau begitu, jangan menahan diri dan nikmati semua makanan di meja ini!" Seru Shira yang langsung menyantap duluan sampai ia makan begitu cepat dan lahap hingga mengejutkan Shinobu.
Shinobu memasang tatapan yang terlihat kaget ketika melihat Shira seperti mesin yang menghancurkan barang apapun begitu cepat, ia langsung tertawa kecil lalu mengambil sebuah roti dan memakannya pelan-pelan.
"Kakekku... memang selalu seperti ini ya... syukurlah dia pulang..." Ungkap Shinobu yang mulai menyantap semua makanan itu satu per satu dengan kecepatan yang mulai mengimbangi Shira.
"Kebahagiaan itu tidak terlalu sulit... kepercayaan juga... sekarang aku tahu bagaimana Kakek..." Shinobu tersenyum polos sampai Shira bisa melihatnya lalu merasa bersyukur.
"Aku akan datang kepadamu jika kau benar-benar sudah siap, kita hanya perlu menunggu selama beberapa hari sampai kau benar-benar kembali pulih sempurna..."
"...di saat itu, aku ingin mengajak dirimu untuk berlatih denganku." Ungkap Shira, Shinobu dapat mendengarnya dengan jelas sampai ia mengangguk.
Shira dan Shinobu mulai menikmati hidangan itu bersama seperti keluarga bahagia, Shira mengingat kembali masa-masa ketika dirinya bersama kedua anaknya.
Sungguh membahagiakan sampai dirinya yang terus memasang wajah serius dan kejam sempat menunjukkan kembali ekspresi yang tenang dengan senyuman penuh rasa bersyukur kepada Shinobu.
Shira melihat Shinobu memakan semua makanan itu tanpa menahan diri, dia jauh lebih menurut kepada dirinya karena sejak bayi dia memang sudah menurut kepada apa yang Shira lakukan dan katakan.
"Apakah ini mungkin...? Anak yang menyayangi Kakeknya lebih di bandingkan Ayahnya...? Maaf ya, Shuan." Shira meminum segelas bir besar itu lalu kembali merasakan kebahagiaan juga.
"Seperti yang kau katakan... Ayah..."
"...aku melihatnya dengan jelas... sebuah harapan emas yang tidak dapat di pandang oleh siapa pun kecuali diriku sendiri."
__ADS_1
"Shiratori Shinobu--- Tidak... Shinobu Koneko memanglah keturunan terakhir dari Shiratori yang akan mengubah apapun ketika waktunya tiba." Ungkap Shira yang melihatnya ketika Shinobu merenung di hadapan batu nisan.
Ophilia melihat dari jauh bahwa mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, ternyata yang dapat membuat Shinobu tertawa kecil dan tersenyum seperti itu sampai mau makan lahap tidak jauh dari Kakeknya yaitu Shiratori Shira.
"Kou... ternyata kamu benar... Kakeknya bisa mengubah pola pikiran Shinobu sedikit demi sedikit." Ophilia menghela nafas dengan lega.
***
"Aahhhh~ kenyang sekali..." Kata Shira yang mulai menepuk perutnya.
"Bagaimana, Shinobu...? Merasa kenyang?"
"Mm!"
Shinobu mengangguk lalu melihat pintu restoran terbuka sampai menunjukkan Haruki dan Arata yang datang untuk mengunjungi Shira karena baru saja pulang.
"Lihatlah siapa yang datang..." Kata Haruki yang melihat Shira sedang mengelus kepala Shinobu, melihat keberadaan mereka membuat dirinya langsung menurunkan lengannya.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Shira dengan ekspresi yang kembali serius.
"Ekspresimu berubah begitu cepat... ternyata Shinobu memang dapat mengubah suasana hatimu ya." Kata Arata.
"Berisik... apakah kalian memiliki urusan denganku...? Waktu santai seperti ini aku ingin menghabiskan waktu dengan cucuku." Shira menggendong Shinobu yang terlihat mengantuk sampai dirinya langsung tertidur ketika digendong olehnya.
"Kau selama ini memperhatikan dan mengawasi dirinya bukan...? Apakah itu latihan pertama yang kau berikan kepada Shinobu?" Tanya Haruki.
"Ya... aku ingin melihat dirinya sanggup sampai titik mana, ternyata enam tahun ini dia berjuang sangat baik sampai melebihi anak kecil biasa."
"Mungkin dia sudah terlalu biasa mengandalkan dirinya sendiri tanpa menyusahkan siapa pun, sudah dua kali ia menunggu di pemakaman tanpa siapa pun yang menemani dirinya."
"Dia tidak ingin mengandalkan siapa pun melainkan dirinya hanya ingin bisa mengandalkan dirinya sendiri dan tentunya membantu seseorang yang membutuhkan sesuai dengan kemampuannya juga."
Shira mulai mengelus punggung Shinobu agar dirinya bisa mengalami tidur yang sangat damai untuk waktu yang lama agar jiwa dan mentalnya bisa merasakan ketenangan yang membangkitkan kekuatan cahayanya.
"Kalau begitu, aku permisi." Shira menghampiri mereka berdua lalu melewatinya karena saat ini ia tidak ingin berurusan dengan siapa pun kecuali Shinobu.
Pelatihannya akan di mulai sekarang juga karena ia sudah lulus dengan latihan pertama yang dirinya berikan, Shira tetap merasa bersalah karena membiarkan Shinobu merasakan semua kesakitan itu.
Shira langsung terbang tinggi ke atas langit dan menghilang begitu saja sampai dirinya tiba di dalam kabin Shinobu, semuanya terlihat rapi dan sempit karena hanya dirinya saja yang tinggal di kabin itu.
Di pagi yang cerah ini Shinobu merasa lelah dan terus tidur karena menghabiskan waktu tiga puluh hari tidak tidur sama sekali karena perlu menjaga pemakaman itu dari segala bahaya.
Shira menempati Shinobu di atas kasurnya lalu ia menyelimuti tubuhnya sampai ia mulai duduk di sebelahnya lalu melihat banyak sekali pajangan foto di atas laci sebelah kasurnya.
"... ..."
Shira menghela nafasnya lalu ia berbaring sebelah Shinobu selagi menatap ke atas, dirinya merasa bingung harus melakukan apa yang terbaik bagi cucunya sendiri.
Memulai latihan berat masih ia tunda sampai kondisi dirinya membaik, lengan Shira langsung di sentuh oleh Shinobu sampai dirinya segera mengeratkan genggamannya kepada baju Shira.
"... ..." Shira menoleh kepada Shinobu yang tertidur dengan damai sampai wajahnya terasa seperti memancarkan sinar penuh harapan kepada dirinya sendiri.
"Aku akan merawatmu sampai kau siap menghadapi sesuatu yang lebih kejam dan sulit, Shinobu..." Shira langsung memeluk tubuhnya yang kecil lalu memejamkan kedua matanya untuk beristirahat juga.
"...mari bertambah kuat bersama..."
"...sejauh apapun itu demi bisa menikmati ketenangan."
__ADS_1