
"Dimana mereka menyembunyikannya?" Tanya Demetrio yang berhasil membunuh beberapa orang untuk merebut sesuatu di dalam desa yang begitu kuno dengan bangunan abstrak.
"Mereka semua memang kesulitan untuk berbicara karena kecantikan dan keindahan yang aku pancarkan, sayang sekali." Marina mulai memeriksa setiap wadah di dalam bangunan abstrak itu.
Demetrio mengangkat tanah di sebelah barat lalu ia berhasil mencari apa yang ia inginkan, "Sudah cukup, Marina. Kita menemukannya..."
"...kita tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi sebelum mereka semua di luar sana sadar, aku juga tidak ingin bertemu dengan seseorang yang sudah mengasuh diriku."
"Tentu saja, Tuan Demetrio~ kita akan mencari yang lainnya, mungkin Daria bersama kandidat lainnya sudah mengumpulkan mereka sampai keluar dari lubang itu?"
"Semoga saja... waktu kita tidak begitu panjang, mungkin saja... apa yang aku harapkan dari mereka adalah untuk tidak melepaskan lebih banyak pasukan."
"Jika terjadi seperti itu maka... tumpahan darah akan terjadi, hari dimana mereka yang menentang takdir dewa akan mati tanpa menyisakan waktu untuk menyesali perbuatan dosa mereka."
***
"Apa yang kita butuhkan adalah jumlah... para kandidat dan tentunya Demetrio pasti akan mengerahkan semua pengikutnya untuk mengepung kita." Peringat Shinobu.
"Keberadaan Demetrio mendadak hilang..." Ucap Shinobu yang mengejutkan semua temannya karena ia dapat mendeteksi keberadaan seorang Dewa.
"Kau bisa merasakannya, Shinobu?" Tanya Konomi.
"Itu benar, mungkin karena aku sempat menggunakan The Mind kepada dirinya jadi aku tahu rasanya keberadaan seorang Dewa sekarang, terutama lagi Lenergy."
Shinobu memegang dagunya lalu ia mulai berpikir, tujuh kandidat dengan bawahan mereka yang bisa disebut sebagai Saint. Jumlahnya sangat banyak dan mereka memiliki God Lenergy yang mampu menekan mereka.
Melawannya dengan jumlah kecil seperti enam orang akan menyebabkan kesalahan fatal, Anastasia sudah berkenan untuk membantu karena ia ingin membantu Shinobu demi mendapatkan kepercayaannya.
"Anu... apakah kalian semua... setuju untuk membawa pemberontak lainnya yang membenci dewa dalam masalah ini?" Tanya Shinobu.
Mereka semua memasang tatapan kaget ketika mendengar Shinobu yang menginginkan bantuan dari para pemberontak, semua pemberontak di akademi sudah pasti membenci dirinya tetapi ia ingin bantuan mereka.
"Mungkin aku tidak bisa mengajak mereka tetapi salah satu dari kalian pasti memiliki teman bukan...? Mungkin meminta bantuan Paman Arata untuk melepaskan pemberontak lainnya."
Mereka semua menatap satu sama lain lalu menyetujuinya, "Ada benarnya juga ya... kita bukan hanya berurusan dengan kandidat, Saint, atau Dewa melainkan mereka sendiri memiliki pengikutnya."
"Kalau begitu, Hinoka. Bukannya sekarang adalah kesempatan yang cocok untuk memberitahu semua pemberontak di akademi?" Tanya Ako.
"Ehh? Aku?!" Hinoka menatap dirinya sendiri dengan wajah yang memerah, mereka semua langsung menatapnya dan mengingat bahwa dirinya cukup terkenal di kalangan akademi itu.
Bisa dibilang gadis idol yang sudah menyentuh hati semua orang termasuk gadis-gadis, "Aku akan mencobanya sebisa mungkin, siapa tahu mereka sibuk..."
"Ternyata menjadi popular tidak begitu buruk bagimu ya, Hinoka." Sarkas Koizumi.
"Apa maksudnya itu!? Bukannya kau juga terkenal...?! Bantu aku, Sapizumi---" Wajah Hinoka menerima satu hantaman dari serangan Koizumi yang menggunakan gaya karate.
Setelah membahas rencana dan strategi itu, mereka memutuskan untuk mengumpulkan bala bantuan demi bisa menghentikan semua Legenda fanatik itu sebelum mereka mengancam seluruh planet di Yuusuatouri.
__ADS_1
Shinobu seketika berpikir bahwa meminta bantuan kepada pemberontak lainnya bukan pilihan yang baik karena mereka tidak mendapatkan imbalan apapun.
Yang lebih pentingnya lagi adalah mereka bisa saja tidak peduli dengan apa yang Legenda fanatik itu lakukan karena keutamaan untuk menghentikan kerajaan paling penting.
Keadaan rumit seperti ini membuat Shinobu merasa lega bahwa ia sudah menyiapkan cadangan, sebuah cadangan itu adalah ciptaannya sendiri yang selalu ia lakukan di ruangan bawah tanah.
"Aku tidak pernah berhenti berkarya sedikit pun... setelah memperoleh kembali tangan dan kakiku yang asli, aku tetap menciptakan sesuatu yang berkaitan dengan teknologi dan sistem."
"Mungkin hobi sejak kecil bersama Mama." Shinobu tersenyum lembut lalu ia berjalan pergi menuju ruangan bawah tanah untuk pergi menghampiri ruangan percobaan.
Ruangan itu sudah bertambah luas karena sejak enam tahun dia sudah mengerjakan apapun sampai enam tahun ini, banyak sekali perubahan yang terjadi sampai ia tidak begitu ingin menggunakannya begitu cepat.
Ketika Shinobu melangkah masuk ke dalam, ruangan itu sudah menyala dan menunjukkan banyak sekali ciptaan serta mesin yang sudah ia buat ketika masih kecil sampai sekarang.
"Mungkin Koneko memang membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan sebagai pasukan... bawahan mungkin?" Shinobu terkekeh pelan selagi menggaruk-garuk pipinya.
Hatinya mulai tertusuk oleh rasa rindu karena sudah kehilangan sistem yang menjaga dirinya dari bayi sampai berumur enam tahun, sungguh waktu yang menyenangkan bagi dirinya.
"Tech." Shinobu tersenyum lembut ketika melihat sisa dari tubuh robot Tech yang sudah hancur, ia akan menyimpan barang berharga untuk selamanya.
Di sebelah barang kenangan itu terdapat kacamata baru yang Shinobu langsung kenakan sampai ia melihat banyak sekali tulis dan informasi virtual muncul.
"Sudah lama sekali aku tidak memakainya... mungkin karena aku ingin mengembangkannya menjadi sesuatu yang benar." Shinobu menyentuh kacamata itu yang langsung berubah menjadi telepon telinga.
Sebuah alat yang menempel di telinganya tetapi ia mengalami kendali seketika dimana alat itu langsung jatuh, "Ahh...! Aku lupa... telingaku tidak terletak seperti Legenda lainnya!"
"Fueeehhhh..." Shinobu mengambil alat itu lalu ia melakukan sedikit perbaikan agar bisa menempel dengan pipinya itu agar ia bisa berbicara dengan sistemnya.
"Cyber... kamu bisa mendengarku?" Tanya Shinobu yang baru saja memanggil nama dari sistem itu, hampir sama dengan Tech tetapi Cyber hanya akan mengikuti perintah sesuai dengan apa yang Shinobu katakan.
"Apakah kamu bisa mengeluarkan kreasi itu... sebanyak-banyaknya karena aku ingin memulainya sekarang juga." Perintah Shinobu.
"Dimengerti, saya akan mempersiapkan semuanya." Kata Cyber yang mulai mengutak-atik sistem sampai menyiapkan sebuah ruangan besar untuk mengeluarkan kreasi milik Shinobu.
Alat itu berubah kembali menjadi kacamata yang ia kenakan, untuk sekarang ini yang terbaik bagi dirinya karena enam tahun lamanya ia menghabiskan waktu belajar, berkarya, dan berlatih tanpa berhenti.
Rasanya semua usaha itu memang terbayar dengan benar karena ia sudah merasa yakin sekarang, tidak ada lagi penahanan diri yang ia rasakan sejak masih kecil, semua itu berkat dirinya yang mau menangis.
Semua perasaan terpendam sudah lepas, mengubah dirinya menjadi seorang Legenda biasa yang bisa membuat kesalahan dan kebaikan sampai tujuannya masih banyak sekali yang belum diselesaikan.
"Baiklah..."
"...Koneko..."
"...akan berjuang!"
***
__ADS_1
"Kemampuan anehmu itu membuatku bingung." Demetrio memperhatikan semua orang di hadapannya yang menggunakan sihir kuno kepada dirinya yang sudah kenal karena lapisan tanah liat itu.
"Tapi karena sekarang kekuatanku sudah melebihi kalian semua... tidak ada lagi masalah di antara kita bukan?" Tanya Demetrio yang mengampuni semua orang di hadapannya.
"Apa yang kalian butuhkan adalah sebuah kepercayaan... kepercayaan yang dapat mempercayai sesuatu bahwa hal itu akan bertahan untuk selamanya."
"Kepercayaan yang dapat mengembalikan kedamaian dan keselamatan lalu menjaganya untuk selama-lamanya, ikutlah denganku atau kami semua."
"Mempercayai seorang dewa dan memberikan harapan kalian kepada kami maka kekuatan yang para Dewa peroleh tidak bisa terbayangkan lagi! Semuanya pasti akan berjalan dengan sempurna..."
"Tidak ada lagi yang namanya konflik di antara kita semua, ayo." Demetrio mengajak mereka semua untuk mengikuti kepercayaan dewa.
Karena mereka sudah kalah oleh dirinya, tidak ada pilihan lain selain ikut dan menyembah Demetrio bersama dewa lainnya sampai ia tersenyum puas bahwa rencana ini pasti akan berhasil.
"Sepertinya tidak ada yang harus ditakutkan jika kau sudah menjadi seorang Dewa yang memiliki banyak pengikut dan kekuatan sihir yang tidak terbatas."
Demetrio menatap kedua tapaknya, "Aku juga merasa senang bisa lahir sebagai seorang Legenda... untungnya aku terlahir kembali menjadi bangsa petarung bar-bar yang bisa bertambah kuat dengan cara apapun."
"Sel Dewaku dengan sel tubuh Legenda ini sudah mulai menyatu... apakah aku bisa mengakses kekuatan dari Saint Legenda yang dimiliki Demetra?"
"Yang lebih penting adalah... Legend's Boost, aku merasakan kekuatan yang meningkat drastis ketika dipermalukan oleh Shinobu Koneko dengan pikiran sialan itu."
Demetrio menerima beberapa panggilan dari kandidat lainnya bahwa mereka sudah mengumpulkan pengikut itu sebanyak-banyaknya dan tentunya meraih kembali sesuatu yang ia perintahkan.
"Kerja bagus... tidak lama lagi semuanya akan berjalan dengan cepat. Kepercayaan terhadap Dewa lah yang akan mengungkapkan misteri dari labirin ini."
"Sebentar lagi para Saint dan pengikut kita yang kuat akan menghalangi Shinobu Koneko bersama seluruh rekannya." Peringat Beval.
"Dewa Demetrio... aku meminta izin dirimu untuk membiarkan Saintku yang bernama Keith untuk mengurusi Shinobu karena rasa dendamnya yang besar itu."
"Pembalasan dendam ya, silakan saja. Aku tidak begitu peduli dengan musuh, apa yang aku inginkan hanya kepercayaan dan kekuatan yang terpendam di dalamnya." Demetrio menyilangkan kedua lengannya selagi melihat semua pengikut barunya pergi.
"Tuan Demetrio~" Marina mendarat di hadapannya dengan tatapan yang terlihat senang tetapi Demetrio bisa merasakan sesuatu dari tatapan itu.
"Berita buruk?"
"Ahh~ sungguh hebat Tuan Demetrio, kamu selalu saja bisa membedakan mana yang darurat dan baik ya..."
"...kata Manusia itu, kita tidak bisa terlalu lama berada di tempat ini karena mesin mereka mengalami kepanasan yang mampu menyebabkan ledakan."
"Portal airku juga tidak bisa bertahan lama... jika kita tidak pergi sekarang juga maka kita semua akan terjebak di tempat ini untuk selamanya!"
"Kalau begitu, kita bergegas mengumpulkan pengikut lainnya... masih ada waktu, bukannya begitu?" Tanya Demetrio sampai Marina mulai menciptakan gelembung yang memperlihatkan Manusia.
Manusia itu sibuk memperbaiki mesinnya yang kepanasan, "Kau bisa meminta Pyro untuk mengendalikan kepanasan dari mesinnya."
"Ada benar juga..."
__ADS_1
"Baiklah, jangan menghabiskan waktu lainnya!"
"Kita jadikan tundaan yang lalu menjadi kenyataan...!"