Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 695 - Kembali Menjadi Seorang Petarung


__ADS_3

Tubuh Honoka di bawa Haruka pergi, sudah waktunya untuk mengubur tubuhnya itu di dalam kuburan yang berdekatan dengan Ayahnya sendiri, tidak memakan waktu yang cukup lama karena pemakaman itu hanya dipenuhi dengan seseorang yang mengetahui kematiannya.


Hana saat ini tidak tahu karena ia terlalu sibuk melindungi Neko Isle, Shira dan Megumi di sisi lainnya masih berlatih di dalam kuil itu bertahun-tahun demi menyempurnakan kemampuan yang sulit untuk di kuasai.


"Mamaaaaaaaa....!!!" Teriak Hinoka keras yang mencoba untuk mendekati Honoka, Bakuzen terus menahan dirinya karena ia terlihat seperti ingin masuk ke dalam kuburan itu.


Hinoka terus menangis sambil menjerit-jerit karena ia tidak bisa bermain dan merasakan kasih sayang Honoka yang begitu peduli kepadanya dirinya.


"Jangan membawa Mama pergi...!!! Aku mohon...!!! Mamaaaaa!!! Banguuuunnn...!!!" Jerit Hinoka keras, Koizumi dan Shinobu mencoba beberapa kali untuk mengajak dirinya bermain tetapi ia terus mengabaikan mereka semua.


Rasa penderitaan pertama yang di rasakan oleh hatinya di masa kecilnya, kejadian seperti ini bisa menjadi sesuatu yang cukup trauma bagi Hinoka yang masih berumur tiga tahun sehingga ia mulai membenci darah dan luka.


Arata dan Haruki mulai memasukkan semua tanah yang sudah di gali ke dalam kuburan itu, Haruka dan Kou menatap peti itu untuk terakhir kalinya lalu mereka menjatuhkan beberapa kelopak bunga Crimson.


"Hiks... Hiks... Mama..." Hinoka tidak bisa menjerit lagi karena terlalu lelah, pikirannya dipenuhi dengan nasehat Honoka bahwa menangis tidak akan mengubah apapun.


Jika suatu saat dirinya pergi dan meninggalkan Hinoka maka ia harus mengingat satu hal bahwa dirinya akan selalu berada dekatnya, di dalam hatinya untuk selalu menjaga Hinoka di situasi apapun.


Hinoka berlutut sambil menghapus semua air matanya karena ia sudah berjanji kepada Ibunya sendiri untuk tidak bersikap nakal dan cengeng, ia harus menurut walaupun Honoka sudah tidur untuk selamanya bagi dirinya.


"Hinoka... sabar ya, nak... Papa akan menyempatkan waktu bermain denganmu." Bakuzen mengelus kepala Hinoka.


"Mmm... aku ingat bahwa orang yang tidur selamanya... pasti akan bertemu lagi di dunia mimpi, aku sudah berjanji kepada Mama untuk tidak menangis."


"Aku harus mandiri... aku harus menjadi gadis yang penurut dan hebat, Mama pasti memperhatikan diriku di dalam hati ini..." Hinoka menyentuh dadanya sendiri dengan tatapan yang masih sedih.


Banyak sekali dongeng yang Honoka ceritakan mulai Hinoka ubah menjadi pelajaran, seperti kehidupan asli yang ia hadapi sekarang bahwa Ibunya tidak akan bersama dengannya lagi.


"Sebentar lagi, aku berumur 4 tahun... aku harus kuat...!" Hinoka mencubit kedua pipinya selagi menunjukkan ekspresi yang masih bersedih.


"Mama..." Rasa sakit di hatinya masih terasa karena kasih sayang seorang Ibu sangat besar sampai ia sendiri tidak dapat menahannya.


Sekali saja, ia ingin bertemu dengan Honoka dan menanyakan berbagai macam hal lalu bermain untuk yang terakhir kalinya, tetapi semua itu tidak bisa.


"Kakak Hinoka..." Panggil Shinobu sambil menyentuh jarinya dengan jari lainnya, ekspresinya langsung terlihat gugup ketika Hinoka menatapnya dengan tatapan yang bersedih.


"Aku... anuuu... aku... bisa... membantu kok..." Ucap Shinobu dengan nada yang pelan, Hinoka terlihat kebingungan sehingga Koizumi mulai menyentuh kedua pipi Shinobu.


"Jangan bersikap malu dan ketakutan seperti itu... Hinoka tidak akan melakukan apapun kepadamu." Kata Koizumi sambil memainkan kedua pipi Shinobu yang tembam.


"Aku bisa...! Aku bisa membuat sebuah mimpi dimana... kalian bisa bermain lagi...!" Shinobu menaikkan suaranya sehingga Hinoka terkejut ketika mendengarnya sampai wajahnya menunjukkan ekspresi penuh harapan.


"Benarkah...?! Benarkah...?!" Hinoka bangkit lalu ia mendekati Shinobu untuk menggenggam kedua tangannya itu.


"Menciptakan mimpi...?! Hebat...! Aku ingin bertemu dengan Mama dalam mimpi... setidaknya aku tidak akan merasa kesepian jika seperti itu...!" Hinoka terus melompat-lompat.


Situasi mulai terjaga karena Shinobu yang mau membantu Hinoka untuk menggunakan The Mind agar bisa memunculkan sebuah mimpi dimana Hinoka bertemu dengan Honoka kembali agar mereka bisa menghabiskan waktu untuk terakhir kalinya.


Kou bisa mendengarnya dengan jelas, ia tersenyum kecil karena Shinobu baru saja memberikan harapannya kepada seseorang untuk pertama kalinya sampai ia merasa bangga.


"Kou..." Haruka mulai mengelus punggung adiknya, Kou mulai menatap Haruka.


"Iya, Kakak...?"


"Penguburan Honoka sudah selesai..." Kata Haruka, ia bisa melihat kuburan Honoka sudah tertutup dengan tanah.


Mereka semua mulai mendekati kuburan itu dengan batu nisan yang memiliki tulisan [Honoka Comi], semua teman dan keluarga Honoka yang berada di wilayah pemakaman itu mulai memberikan rasa penuh hormat.

__ADS_1


Rasa hormat kepada seorang manusia yang berubah menjadi Legenda layak karena sudah membantu dengan masalah yang berbeda-beda.


""Legends Never Dies..."" Mereka semua menempati beberapa bunga merah di atas kuburan itu lalu melepaskan sihir ke atas langit untuk menunjukkan rasa hormat yang lebih tinggi lagi.


Hinoka mulai mendekati kuburan itu dengan tatapan yang masih sedih, "Papa... aku boleh menangis untuk yang terakhir kalinya bukan...? Di hadapan Mama yang tertidur di dalam kasur barunya..."


"Hm, silakan..." Bakuzen mengelus kepala Hinoka, membiarkan dirinya menangis sampai Hinoka berlutut di atas tanah lalu menyentuh tanah itu.


"Mama... aku janji tidak akan bersikap nakal... aku akan menjadi Legenda yang layak ketika sudah berumur 4... hiks... aku ingin bertarung!"


"Hiks... Aku harap Mama bisa melihatku di atas sana dan di dalam diriku... ketika kita saling bertemu lagi, aku akan menceritakan banyak hal kepada Mama!" Hinoka tersenyum selagi meneteskan beberapa air mata.


Hinoka mencoba untuk menerima realitas yang menyakitkan itu, ia mulai menunjukkan senyuman lebarnya selagi meneteskan air mata lalu mengambil satu bunga untuk mengubahnya menjadi pir.


"Mama, ini pir... semoga Mama bisa menikmati makanan kesukaan Mama di tempat tidur terakhir ini..."


"...Hinoka akan bersikap mandi! Itu adalah janji!" Hinoka menempati pir itu di atas batu nisan tersebut lalu ia berdiri tegak selagi menundukkan kepalanya.


"Sampai jumpa di lain hari, Mama... aku harap Mama bisa tidur dengan tenang." Kata Hinoka yang mulai menerimanya seperti gadis yang tumbuh.


Sebelum ia pergi, dirinya mendekati batu nisan itu lalu memberinya sebuah kecupan pelan sebagai kecupan terakhir untuk Ibunya yang sudah gugur.


"Bye-bye..." Hinoka mencoba untuk tersenyum tetapi ia malah menangis sampai dirinya mulai memeluk batu nisan itu dengan sangat erat, membiarkan air matanya keluar sampai puas.


Shinobu dan Koizumi mulai mendekati Hinoka untuk mengajak dirinya bermain agar ia bisa kembali ceria dan berbahagia seperti biasanya.


Semua orang sudah pergi meninggalkan pemakaman itu tetapi Hinoka, Koizumi, dan Shinobu masih tetap di tempat itu untuk menemani Hinoka yang saat ini masih memeluk batu nisan itu dengan air mata yang mengalir deras.


***


Kuil cahaya, Shira dan Megumi melompat menuju satu sama lain lalu mereka melancarkan satu serangan yang dapat menyinari seluruh ruangan dengan cahaya putih yang membentuk alam semesta besar.


"Hah... Hah... Hah..." Megumi kehabisan nafas karena terlalu lelah, ia menghabiskan waktu selama bertahun-tahun di dalam kuil itu hanya untuk berlatih dan bertarung dengan suaminya.


"Bagaimana, Megumi? Apakah kau sudah merasa puas sekarang?" Tanya Shira yang terlihat biasa saja karena ia baru saja menguasai beberapa kemampuan cahaya lainnya yang terus berkembang.


"Tubuhku yang terasa lemah karena berhenti menjadi seorang petarung telah kembali seperti biasanya!" Ucap Megumi selagi menatap kedua tapak tangannya.


"Jika kita keluar sekarang... kemungkinan besar banyak kejutan akan menyambut kita, aku hanya bisa berharap mereka semua baik-baik saja tanpamu." Shira mengepalkan kedua tinjunya.


Ia terpaksa harus melawan latihan yang rahasia dan tersembunyi itu agar kemampuan yang ia inginkan yaitu Golden Spirit bisa tercapai dengan cepat sampai ia dan Megumi terus melakukan latihan berbeda di dalam kuil itu.


"Baiklah, istriku... bisakah kamu menunjukkan hasil terakhir dari proses latihan itu? Apakah kau sudah membangkitkan kembali jiwa petarungmu itu...?"


"Kekuatan cahayamu sangat menonjol dengan Golden Life, aku harap kau bisa meningkatkan kemampuan itu lebih tinggi lagi..."


Megumi mengangguk lalu ia memejamkan kedua matanya sampai aura emas dengan partikel putih muncul melalui tubuhnya sampai membesar.


Shira bisa merasakan ketenangan yang begitu besar karena pergerakan auranya itu, kekuatan cahaya dari Golden Life yang terlihat sempurna karena Megumi berhasil menguasainya ketika melaksanakan latihan besar bersama Shira.


"Seperti itu, Megumi! Tetaplah fokus, carilah jawaban dan pintu yang berada di dalam hatimu itu...!" Seru Shira keras.


Megumi menarik nafas dalam-dalam lalu ia menghembusnya pelan sampai menyebabkan dorongan dan pancaran cahaya besar ke arahnya sampai Shira memasang tatapan kaget.


Bertahun-tahun Megumi berhenti bertarung, dan sekarang kemampuan yang ia miliki sudah cukup untuk membuat Shira merasa kagum dan kaget karena ia tidak menyangka istrinya memiliki potensi cahaya sebesar itu.


Rambut Shira terus bergerak cepat karena mengenai embusan dorongan dan pancaran cahaya yang di keluarkan oleh Megumi melalui tubuh dan embusan nafasnya itu.

__ADS_1


"Megumi..." Shira tersenyum bangga melihat istrinya telah menginjak tingkatan yang cukup baik di era kerajaan seperti ini.


Dengan hasil yang di dapatkan oleh Megumi, Shira yakin bahwa dirinya bisa melanjutkan kehidupan sebagai seorang petarung untuk melindungi semua Legenda yang sangat ia percayai dan sayangi.


"Fuhhhh..." Megumi menghela nafasnya, ia berhasil menggunakan semua potensi untuk menginjak tingkatan yang paling tinggi.


Shira melihat rambut Megumi yang bertambah panjang, warna dari keemasan itu sudah cukup untuk menarik perhatiannya sampai ia tersipu merah melihat betapa anggun istrinya itu.


"Ukuran tubuhmu yang kecil... rambutmu yang panjang... kedua mata kucingmu yang berwarna perak... kau memang seleraku, Megumi."


"Untuk apa aku memilih banyak gadis jika kau satu-satunya gadis yang menarik perhatian dan hatiku." Shira tersenyum serius selagi mengepalkan kedua tinjunya.


"A-Apa yang kamu katakan, Shira...?"


"Tidak ada...! Kamu sudah selesai melaksanakan latihan itu, hebat!" Shira mengacungkan jempolnya itu.


"Shira..." Megumi tersenyum, ia mulai melompat ke arah Shira sampai menjatuhkan dirinya, mereka mulai menatap satu sama lain selagi tertawa bersama.


"Mulai dari sekarang... aku akan bertarung di sisimu...! Sebagai seorang istri yang kembali menjadi petarung Legenda yang menulis sejarah baru...!"


Shira mencoba untuk berbicara tetapi ia tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukannya karena Megumi langsung mencium bibirnya itu cukup lama.


"Semoga beruntung, Megumi."


"Ehh...? Kamu tidak akan ikut...?"


"Tidak, tubuhku mengalami risiko yang dapat mengubah diriku menjadi cahaya untuk selamanya, masih membutuhkan waktu yang lama sampai aku bisa keluar."


"Golden Spirit ternyata memang sulit ya..." Ucap Megumi dengan tatapan khawatir.


"Itu benar, sekali lagi... maaf ya." Shira memberi Megumi sebuah kecupan di bibir lalu mereka bangkit dari atas langit-langit emas itu.


"Semoga kamu bisa melindungi mereka semua sekarang... bisa di bilang kekuatanmu sudah setara dengan teman-temanku seperti Arata dan Haruki." Shira terkekeh.


"Aku memiliki harapan besar untukmu bahwa kau dapat menghentikan masalah yang datang secara mendadak."


"Terima kasih, sayang..." Megumi tersenyum lebar lalu ia memeluk perut Shira dengan erat.


"Aku tidak ingin kehilangan siapa pun termasuk dirimu... semoga kamu bisa menang dan menahan masalah sulit itu sampai aku dapat mengembalikan tubuh asliku."


"Ehh..."


"Tetaplah maju, istriku!!!" Teriak Shira keras, mencoba untuk memberinya semangat sampai Megumi tersenyum lalu mengeratkan pelukan itu.


"Aku akan melakukan yang terbaik, suamiku!" Megumi mundur beberapa langkah selagi mengacungkan jempolnya.


Shira mengangguk lalu ia mengacungkan jempolnya juga, melihat Megumi memancarkan cahaya emas besar yang mulai menipis sampai memindahkannya keluar.


***


"... ...!!!" Semua Legenda dapat merasakan keberadaan yang terasa mengerikan itu untuk sekejap, hanya satu detik saja tubuh mereka terasa seperti dikejutkan dengan kejutan besar.


"A-Apa itu tadi...!?" Tanya Arata yang dapat merasakannya bahkan Kuro sendiri mulai melakukan meditasi karena seseorang baru saja keluar dari tempat latihan selama bertahun-tahun.


Megumi mendarat di atas daratan sampai mengejutkan semua orang yang baru saja pergi dari pemakaman itu, ia berdiri tepat di hadapan mereka selagi membalikkan badannya.


"Sudah lama sekali..."

__ADS_1


"...maaf terlambat."


__ADS_2