Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 619 - Super Tech


__ADS_3

Kou dan Zoiru telah bersepakat untuk melakukan sebuah perang, cara yang adil untuk menentukan sesuatu dan tentunya semua bangsa Legenda sangat menantikan perang karena mereka sudah lama sekali tidak berperang.


Tentunya mereka juga tidak sabar untuk menendang bokong prajurit Oather, Kou sudah mengumumkan berita itu kepada semua Legenda dan ia akan coba sebisa mungkin untuk membantu Legenda yang tidak mampu.


Sebagian dari Legenda bukannya senang berperang melainkan mereka merasa ketakutan bahwa perang itu bisa saja bersangkutan dengan konflik yang akan datang.


Kou mencoba sekuat mungkin untuk membuat semua orang, ia seperti biasanya duduk di atas kursinya lalu bekerja keras untuk melayani Legenda yang kesusahan dan ketakutan.


Ia juga perlu merancang rencana beberapa kali sampai waktu istirahat sudah tidak bisa ia anggap lagi karena rasa takut gagal sampai menyebabkan banyak korban jiwa terhadap bangsanya sendiri.


Sudah 2 bulan berlalu, semua Legenda tentunya menantikan perang itu dengan melakukan latihan keras, Arata terus melampiaskan semua amarahnya di dalam kubus waktu Haruka.


Sebagian dari keluarga dekat Kou langsung mendapatkan saran untuk berlatih di dalam kubus waktu agar mereka bisa terus bertambah kuat dan mencapai tingkatan baru.


Bukan hanya Arata saja yang bekerja keras tetapi Shizen dan Yuuna juga sama, kekurangan dua Legenda legendaris lagi yang sedang mengurus hal lain seperti Shira yang berlibur dan Haruki yang bekerja di Zuutouri.


Penerus orang tua mereka juga masih terus berlatih, misalnya Minami dan Hana yang masih sekarang terus berlatih melakukan serangan kombinasi dan kerja sama agar gabungan mereka berjalan sempurna.


Shuan terkadang-kadang melakukan latihannya karena ia khawatir dengan Kou yang terus duduk di atas kursi selagi bekerja, dia hanya bisa mendapatkan istirahat pada saat tengah malam, melihatnya tidur juga jarang.


2 bulan dengan proses yang sangat baik untuk bangsa Legenda, perang yang tidak dapat di ganggu oleh ras lain kecuali Legenda dan Oather saja karena sumpah Oath yang sudah berjalan.


***


"Shucchi!" Minami menendang wajah Shuan sampai ia terjatuh di atas tanah.


"Apa yang kau lakukan?! Fokus!" Seru Minami.


"Maaf... sepertinya aku terlalu memikirkan Kou saat ini..." Shuan kembali bangkit lalu ia mengeluarkan sebuah layar yang dapat melihat posisi Kou sedang bekerja seperti biasanya.


"Kou memberikan dirimu layar itu agar kau dapat mengawasinya dari jauh bukan? Dia baik-baik saja kok." Minami melihat Kou terus bekerja sampai ia melihat banyak sekali buku dan dokumen yang bertumpuk-tumpuk.


"Dia sudah sembuh loh, itu artinya tubuhnya kebal dengan apapun karena ras Astralnya yang benar-benar memiliki sistem imun tinggi."


"Jika dia tidak tidur juga setengah kemampuan Astralnya akan membantu dirinya." Ketika Minami berbicara seperti itu, Shuan langsung sadar seketika sehingga ia menganggap dirinya seperti orang bodoh sekarang.


"AKU LUPAAAA!!! SIALAN...!!! Dia kan bisa menghabiskan waktu selama 24 jam tanpa masalah karena kemampuan Astralnya itu, terkadang aku melupakan dirinya setengah Legenda, Dewi, dan Astral." Shuan mengacak-acak rambutnya.


"Aku terasa seperti orang bodoh sekarang..."


""Kau memang bodoh."" Kata Hana dan Minami bersamaan.


"Brengsek..." Shuan merapatkan giginya.


"Hahhhh... Kau ini bagaimana sih? Sudah dua bulan menikah dengan Kou tetapi melupakan ras gabungannya itu." Hana menghela nafasnya selagi menepuk wajahnya.


"Berisik! Aku lupa, rasa khawatir yang berlebihan itu membuat diriku menjadi seorang pelupa." Shuan berjalan pergi untuk melanjutkan latihannya itu.


Satu bulan kemudian, masih berjalan lancar seperti biasanya dan setiap waktu berjalan begitu cepat, semua Legenda merasa khawatir dan sedikit takut ketika menghadapi Zoiru dan pasukan Oather.


Kou sudah menjelaskan semua kemampuan, rencana, dan kekuatan mereka jadi apa yang harus mereka lakukan hanya bertahan dan bertarung seperti mengurusi konflik iblis sejak itu.


"Hahhh! Lelahnya..." Kou bersandar dengan kursi di belakangnya sehingga ia menekan sebuah tombol di kursi untuk mengubah kursi tersebut menjadi kasur kecil.


"Kamu sudah bekerja keras untuk hari ini, nyonya. Selamat beristirahat." Kata Tech sambil mengipas tubuhnya beberapa kali menggunakan kipas yang ia pegang.

__ADS_1


"Nyonya Haruka baru saja masuk, Kou... sebentar lagi dia akan masuk ke dalam ruangan ini." Peringat Tech, Kou segera menekan tombol itu lagi untuk mengubah kasurnya menjadi kursi.


"Permisi, adik kecilku yang sangat membanggakan~" Haruka dan Rokuro masuk ke dalam ruangan itu, Rokuro membawa sebuah oleh-oleh untuk Kou agar ia bisa menetapkan kerja kerasnya.


"Kou, aku harap kami tidak mengganggu." Kata Rokuro.


Kou tersenyum lebar, sudah tiga bulan ia tidak mendapatkan kunjungan dari Haruka dan ketika ia datang untuk melihat kondisinya, Kou dikejutkan dengan perut Haruka yang sudah besar.


"Uwahh! K-Kakak... kamu kebanyakan makan ya?" Kou turun dari kursinya lalu ia mengusap perut Haruka.


"Kejam... Kakak tidak pernah makan sebanyak itu." Haruka menggembungkan pipinya.


"Hahaha~ Bercanda kok, sepertinya aku sudah bisa merasakan bayimu di dalam..." Kata Kou sambil menggunakan kekuatan dari The Mind untuk mencari tahu jenis kelamin dan apa yang ia pikirkan.


"Wah, selamat~ ternyata bayi gadis yang sehat." Kata Kou sampai mengejutkan Haruka dan Rokuro ketika mereka mengetahui jenis kelamin anak mereka untuk pertama kalinya.


"Ahhh...! Aku lupa, kamu kan bisa membaca pikiran apapun... itu artinya kita tidak perlu konsultasi kepada dokter, Rokuro." Haruka tersenyum kepada Rokuro, merasa senang bahwa ia akan melahirkan seorang putri.


Rokuro sendiri merasa senang ketika mendapatkan seorang putri sebagai anak pertamanya, ia sebenarnya tidak menginginkan anak laki-laki karena rasa takutnya dengan putranya yang bisa saja nakal dan keras kepala.


Mengurus putra jauh lebih sulit di bandingkan putri, dalam bangsa Legenda, mengasuh putra jauh lebih sulit dibandingkan mengasuh putri karena gampang untuk dimengerti.


"Terima kasih, Kou... kebetulan, aku tadi mampir ke restoran untuk memesankan crepes madu yang kamu suka. Terima lah atas kerja kerasmu..." Rokuro memberikan kantung itu kepada Kou.


"Wahhhh~ Kalian tidak perlu repot-repot seperti itu... tetapi terima kasih ya~ aku membutuhkan madu sebagai tenagaku." Kou terkekeh dan menerima kantung itu dengan sepenuh hatinya.


"Jangan berlebihan mengonsumsi madu loh! Tidak baik..." Haruka mencubit pipi Kou.


"Sakit, sakit... iya, Kakak." Haruka melepaskan pipi Kou lalu ia menoleh sekeliling dan tidak melihat Shuan sama sekali.


"Dia sedang berlatih... aku tidak begitu keberatan sih karena Shuan harus terus melanjutkan perjuangannya seperti Ayahnya." Kou menghampiri kursinya lalu ia duduk kembali sambil menikmati crepes nya.


"Kou..." Haruka mengeluarkan suara khawatir dan itu langsung menarik perhatian Kou yang merasakannya dengan jelas bahkan ia membaca pikiran Haruka dengan cepat.


"Tidak apa-apa kok, Kakak. Aku mengerti, justru aku tidak ingin Kakak bertarung selagi mengendong bayi kecil." Kou tersenyum, tidak memiliki pilihan lain selain berjuang sendirian sebagai keturunan Comi.


"Maaf ya, adik kecilku..." Haruka memeluk Kou erat sambil mengelus kepalanya, untuk saat ini ia masih merasa trauma dalam menggunakan sihir waktu apapun karena kedatangan Mortem sebanyak itu.


"Tidak apa-apa, itu artinya Rokuro akan ikut berperang juga?" Tanya Kou dan Rokuro langsung terlihat kebingungan, bingung harus memilih apa sehingga Kou menunjuk dirinya.


"Kamu tetap diam saja bersama Haruka, aku sudah menyiapkan tempat perlindungan untuk Legenda yang tidak mampu dan menyiapkan tempat khusus untuk kalian juga." Kou tersenyum.


"Pulau pribadi kalian sudah aku lindungi dengan Heaven's Gate, semuanya akan berjalan baik-baik saja..." Kou mengangguk penuh rasa bangga.


"Kou, terima kasih... kau sudah membantu banyak orang, hebat sekali untuk seorang gadis sepertimu." Rokuro mengacungkan jempolnya.


"Aku masih belajar untuk bisa menjadi yang paling hebat di bandingkan Mama." Kou terkekeh dan Haruka langsung mengecup kening Kou.


"Beliau sudah bangga tentunya... melihat dirimu sehat dan melanjutkan pekerjaannya, kau melakukan yang terbaik." Haruka terkekeh.


"Hm! Kakak juga harus bisa melakukan yang terbaik untuk menjadi seorang Mama!" Kou mengacungkan jempolnya.


"Jadi... kapan kamu akan mengandung anak Shuan, Kou?" Haruka mengatakannya dengan senyuman lebar sampai membuat wajah Kou memerah seketika.


"E-Ehh!? Ehhh... Ummm... Ahhhhh..." Kou langsung panik bahkan ia mulai menatap ke sebelah kanan dan kiri, tidak tahu harus jawab apa karena ia merasa tidak pantas untuk memiliki perut besar seperti Haruka.

__ADS_1


"Ahhh... Uuummmm... Hmmmmm..." Kou mulai salah tingkah sampai membuat Rokuro dan Haruka terkekeh melihat dirinya masih belum siap untuk bertanggung jawab sebagai seorang ibu sepertinya.


"Hahaha, masih membutuhkan waktu untuk memikirkannya. Kalau begitu..." Haruka mengubah topik pembicaraan, kali ini ia mulai mengkhawatir tentang dirinya yang akan ikut bertarung.


"Kamu benar ingin masuk ke dalam medan perang itu?" Tanya Haruka dengan tatapan khawatir.


"Hm! Tentu saja, aku sudah menjadi prajurit Legenda normal sekarang, itu artinya aku juga harus ikut bertarung sebagai seorang pemimpin yaitu ratu Touriverse!" Kou menepuk dadanya sambil menunjukkan senyuman penuh kebanggaan.


"Kakak juga harus tahu kan bahwa setiap perang, keturunan Comi harus ikut untuk menjadi sumber pengetahuan dan rencana agar perang bisa menang..." Kou mulai terlihat murung sekarang.


"...hanya saja sekarang aku sendirian masuk ke dalam medan perang tetapi aku mendapatkan banyak perlindungan kok, Kakak Haruka dan Kakak Honoka lebih baik beristirahat."


"5 bulan kemudian, perut kalian sudah pasti bertambah sangat besar sampai kekuatan dan Lenergy kalian akan terus di serap oleh anak kalian." Kou terkekeh.


Haruka tersenyum dan ia masih merasa penasaran, "Pertarungan akan terjadi di luar angkasa dan semesta bukan? Kamu tidak bisa bertarung tanpa alat pernafasan bukan..."


"Sudah aku urus kok, malahan aku baru saja menciptakan rencanaku dulu sekali bersama Mama ketika aku masih bayi." Kou menatap Tech dan ia langsung menekan tombol di lengan kanannya.


Terdengar suara bel mulai berbunyi, Haruka dan Rokuro menengok ke sebelah kanan karena melihat sebuah tabung baja muncul dari dalam lantai dan melepaskan banyak asap.


"Walaupun aku sudah sembuh, tetap saja aku tidak dapat mengalami pertarungan panjang seperti saling adu serangan dan sihir, jadi aku menciptakan Project yang aku dan Mama inginkan..."


Haruka melebarkan kedua matanya ketika asap itu menipis lalu menunjukkan sebuah tabung yang terbuka lebar, di dalamnya terdapat sebuah zirah yang terbuat dari semua besi yang Kou kumpulkan.


Rokuro terkejut ketika melihatnya, era Touriverse benar-benar maju bahkan ini pertama kalinya ia melihat sebuah zirah dengan modifikasi teknologi dan sistem yang tinggi, terlihat jelas seperti pakaian robot.


"Hebat... kamu menciptakan ini sendirian?" Tanya Haruka.


"Hm~ Dengan bantuan Tech juga aku dapat menciptakan zirah teknologi yang dapat membantuku bertarung di medan perang nanti..."


"Namanya adalah..."


"...Super Tech!"


***


"Hahhhh... tubuhku terus memasuki tahapan baru lagi dan lagi karena Golden Spirit itu..." Minami berbaring di atas tumpukkan rumput yang ia jadikan sebagai tempat tidur ketika malam telah tiba.


"Apakah kita bisa melakukan gabungan itu pada saat perang di mulai?" Tanya Hana yang mulai duduk di atas tumpukkan daun di sebelah Minami.


"Harus! Zoiru memang dewa dengan penuh kebanggaan bahkan ia dengan baiknya memberikan bangsa Legenda delapan bulan untuk berlatih..."


"...proses latihan selama delapan bulan di kuil ini bisa saja memberikan hasil yang cukup mengerikan loh." Minami terkekeh.


"Itu benar sekali, mungkin kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan---" Hana melihat Minami sudah tertidur seperti kucing, ia tersenyum kecil.


Hana mulai mendekati dirinya untuk memberikan rasa terima kasih kepada dirinya yang sudah mau menghabiskan beberapa bulan dan 24 jam penuh untuk terus berlatih lagi dan lagi.


Hana mendekat bibirnya dan wajahnya mulai memerah, ia mencium pipi Minami lalu kembali menuju tumpukkan daunnya dan mencoba untuk tidur.


"Ciuman teman tidak ada pengaruh buruk..."


"...hanya menunjukkan kasih sayang sebagai teman mungkin?" Wajah Hana langsung memerah.


"A-Apa yang aku lakukan!?"

__ADS_1


__ADS_2