Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 990 - Kaitan yang Mengerat


__ADS_3

"Rasakan ini!" Arata menepis bola voli yang baru saja ia lempar ke atas menuju arah kelima gadis yang dikejutkan dengan kandungan Lenergy di dalamnya.


"Aku kira kita akan bermain seperti biasanya tanpa menggunakan kekuatan dan Lenergy." Koizumi membalas balik dengan mengoper ke arah Ako yang langsung melakukan Smash.


Para Kakek dan Cucu masih menghabiskan waktu bersama dengan bermain bola voli di pantai yang begitu cerah, pancaran cahaya dari matahari memberikan tenaga besar kepada tubuh mereka masing-masing.


Siang hari yang sangat cocok untuk beraktivitas seperti bermain sesuatu yang cukup untuk mengeluarkan keringat, Shira melompat ke atas lalu ia melakukan Smash sekuat tenaga sampai mengenai pasir.


"Sial! Tidak sampai...!" Kata Konomi yang tidak berhasil menangkis kembali bola voli itu karena ia memiliki reaksi yang cukup lambat ketika Shira mengayunkan lengan kanannya ke atas.


"Bagaimana kalau kita meningkatkan sedikit kekuatan dan Lenergy untuk membuat permainan bertambah semakin menarik?" Tanya Hinoka.


"Ide yang bagus, kalau begitu kami tidak akan bisa kalah dengan mudah---" Mereka semua dikejutkan dengan Shinobu yang menerima operan dari Koizumi.


Pergerakan tangannya sempat tak kasat mata sampai tapak tangannya mengenai bola tersebut lalu menyebabkan bola voli itu mendarat tepat di belakang mereka sampai tubuh mereka menerima banyak sekali pasir karena hantaman tadi.


"Cepat sekali... aku terlalu meremehkan kecepatan yang dimiliki Shinobu sepertinya." Shizen mengambil kembali bola tersebut selagi membersihkan tubuhnya dari pasir.


"Jangan senang dulu, anak-anak. Kami juga memiliki seseorang yang sangat handal dalam kecepatan, bukannya begitu?" Tanya Haruki kepada Shira yang sedang jongkok selagi meminum kaleng kopinya.


"Kau menyerah begitu saja...?" Haruki memasang tatapan datar ketika melihat Shira yang bermalas-malasan selagi menikmati kopinya.


"Cepat lempar saja bola tersebut." Kata Shira yang mendengar suara gerakan tangan Shizen mencoba untuk mengoper ke arah dirinya yang langsung melakukan Smash secepat mungkin.


Kecepatan Shira tadi sangat mendadak sampai melepaskan dorongan yang menggerakkan rambut mereka, bola tersebut berhasil ditangkis oleh Shinobu dengan tambahan operan kepada Koizumi.


"Jyah!!!" Koizumi mengangkat lengan kanannya ke atas untuk melakukan Smash.


Mereka semua sudah bersiap siaga untuk menahannya, pandangan mereka tertipu dengan pergerakan tangan Koizumi yang selama ini tidak menangkis apapun karena Ako dari belakang langsung melakukan Smash.


Tepukan tapaknya menyebabkan bola voli itu pecah ketika mengenai daratan karena kekuatan yang ia masukkan ke dalamnya, mereka resmi mendapatkan poin lagi.


"Permainan sudah mulai terlihat menyenangkan sepertinya...! Kalau begitu kita akan langsung serius saja!" Arata memasang tatapan serius bersama teman-temannya.


"Kami tidak akan kalah juga dalam permainan seperti ini."


***


"Hah... Hah... Hah..." Mereka semua bernafas berat serta dipenuhi keringat karena mencoba untuk mengejar dan menangkis kembali bola voli itu tetapi tidak bisa.


Sebagiannya juga mengenai tubuh mereka sampai memerah karena disebabkan oleh kekuatan terkandung di dalam bola voli yang sudah mereka masukkan.

__ADS_1


"Mungkin kami sedikit berlebihan, wajar saja sih." Kata Shira yang melihat semua area hancur karena hantaman bola voli kembali diperbaiki oleh pohon emas yang Shinobu tumbuhkan.


"Rasanya cukup menyenangkan juga ya~ menahan semua bola voli itu dan mencoba untuk tidak membiarkan bola tersebut mengenai daratan..." Kata Shinobu selagi meregangkan punggungnya seperti kucing.


"Kalau begitu, kita sudah melakukan permainan kecil yang mengeluarkan banyak sekali keringat..."


"...pancaran sinar matahari mulai terasa lebih menyegarkan sekarang sampai aku menginginkan sesuatu yang dingin di dalam tubuhku agar menyeimbangkan semuanya."


"Kalau begitu kita akan beristirahat di restoran yang belum pernah kita kunjungi dalam Sunshine Heaven?" Tanya Konomi.


"Itu benar, ayo."


Mereka semua mulai mengunjungi sebuah restoran yang menyediakan banyak sekali minuman dingin untuk menyegarkan tubuh mereka.


Setelah membeli beberapa es krim dan minuman dingin, mereka kembali melakukan perjalanan untuk mengunjungi wisata serta toko yang menyediakan banyak sekali oleh-oleh untuk dibawa pulang nanti.


Setiap oleh-oleh terlihat begitu indah bahkan pemilik kota bilang bahwa semua itu berdasarkan dari pancaran yang sudah mengubah berbagai macam materi menjadi sesuatu yang begitu murni dan suci.


Banyak sekali aksesoris yang menarik perhatian Shinobu dan temannya karena bentuk serta desain yang terlihat begitu indah, mereka langsung membeli kalung dan gelang berlian yang memancarkan cahaya putih.


Dan tentunya yang harus membayar semua barang mahal itu adalah para Kakek yang bersedia untuk mentraktir cucu mereka agar kaitan mereka bisa bertambah semakin erat.


Banyak sekali hal yang Hinoka beli sampai ekspresi Shizen yang awalnya terlihat senang menjadi menyesal karena ia baru saja ingat bahwa Hinoka adalah seorang idol yang pastinya membutuhkan banyak sekali aksesoris mahal.


"Berapa kali pun dilihat, tetap saja terlihat sangat indah."


"Benar juga."


"Tapi, aku tidak bawa baju renang, aku tidak bisa berenang."


"Tenang saja, kita ke sini bukan untuk berenang."


"Terus kita akan melakukan apa sekarang?" Tanya Shinobu dengan ekspresi penasaran.


"Kita akan membuat sebuah tanda tangan, seperti ini." Shira mulai menyentuh pasir lalu menekannya menggunakan tapak tangannya sampai mereka bisa melihat jejak dari tapaknya itu.


"Hoh~ menarik!" Shinobu melakukan hal yang sama dengan meninggalkan jejak tapak tangan di sebelah Shira.


Mereka semua melakukan hal yang sama sampai dipasang dengan berbagai macam dekorasi seperti bintang kecil serta kerang yang memiliki warna seperti berlian.


Di atas jejak tapak itu diberi nama mereka masing-masing untuk dijadikan sebagai kenangan, Shinobu mulai mengambil foto satu per satu sampai ia mengingat sesuatu tentang harapan.

__ADS_1


"Kalau begitu mari kita mengucapkan harapan kita semua untuk masa depan nanti." Shinobu menatap mereka semua yang langsung mengangguk lalu menghadap ke depan.


Apa yang mereka harapkan tidak jauh dari kedamaian dan konflik yang tidak akan pernah muncul lagi secara besar-besaran, setelah itu mereka mengambil foto bersama sebagai Kakek dan Cucu lalu mengakhiri perjalanan mereka bersama.


***


"Hanya tersisa satu hari lagi ya... empat hari, tiga malam." Kata Hinoka selagi menyisir rambutnya di depan cermin.


"Waktu memang berjalan begitu cepat ketika kita menikmati semua kesenangan ini ya, mungkin jika pancaran surga itu kembali menyinari suatu wilayah maka kita harus secepatnya berkunjung."


"Ide yang bagus, mungkin kita sudah tumbuh sangat besar sampai kemungkinan memiliki seorang cucu."


"Pikiranmu jauh sekali ya, padahal realitanya kamu tidak memiliki seorang pacar karena semua laki-laki yang menyatakan cintanya pada dirimu langsung menerima penolakan." Kata Konomi.


"Aku hanya tidak ingin pacaran sekarang kok, lagi pula kita sebagai pemberontak tidak bisa sembarangan menghabiskan waktu seperti pacaran."


"Ya, karena kamu memang sudah memiliki seorang yang sangat kamu cintai."


"Berisik!" Ako mulai tersipu ketika melihat Konomi memperhatikan Shinobu yang sedang menonton TV dengan ekspresi penasaran.


"Apakah kalian sudah menyiapkan semuanya?" Tanya Koizumi yang baru saja membereskan baju-bajunya ke dalam koper karena besok siang mereka sudah harus pulang.


"Aku terlalu malas untuk melakukannya, tetapi aku janji semuanya akan terselesaikan dengan cepat." Kata Hinoka yang langsung menerima tepukan dari kepalanya karena ia sudah pasti akan bangun telat.


"Dibangunkan saja susah, kami tidak akan percaya dengan apa yang kamu katakan kepada kami, Hinoka." Koizumi mulai mengambil sisir tersebut lalu meminta dirinya untuk membereskan pakaiannya.


"Masih pukul 7 malam, apakah kita akan menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan bermain permainan yang menyenangkan?" Saran Ako.


"Aku memiliki sebuah ide yang hebat!" Kata Konomi yang bergegas menuju kopernya hanya untuk mengambil lima tongkat kecil yang mulai ia kasih tanda merah di salah satu dari tongkat tersebut.


"Memangnya kita akan melakukan apa?" Tanya Shinobu yang langsung mematikan TV karena Konomi berhasil menarik perhatian dirinya yang terfokus pada acara TV.


"Kalau tidak salah namanya adalah Perintah Mutlak! Kita berlima akan memainkan sesuatu yang berkaitan dengan perintah..."


"...yang aku pegang saat ini adalah lima tongkat dengan tanda merah di salah satunya. Seseorang yang berhasil mengambil tongkat dengan tanda tersebut akan menerima kekuasaan untuk memerintah."


"Mereka yang mendapatkan tongkat dengan angka harus melaksanakan perintah yang diberikan oleh seseorang berkuasa..."


"...perintah itu mutlak jadi mungkin kita bisa bersenang-senang dengan bermain ini." Penjelasan Konomi sudah bisa dibilang cukup jelas untuk mereka mainkan secara langsung dengan duduk di atas lantai.


"Ini pertama kalinya aku mendengar sesuatu yang menyenangkan, tetapi perintah yang kau maksud itu mungkin bisa memuaskan..."

__ADS_1


"...kesenanganku, fufufu~"


__ADS_2