
Megumi memegang lengan kanan Shira dengan sangat erat, "Shira... Aku pikir kau akan mati ketika menggunakan pedang itu." Ucap Megumi selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat khawatir, "Aku sudah bilang bukan...? Aku tidak akan mati sebelum aku menjadi yang terkuat." Dengan tangan Shira yang lain, dia membelai rambutnya, aroma sampo melayang samar dari rambutnya yang mengkilap.
Lampu tidak menyala di dalam ruangan kamar Shira, dan mungkin karena keremangannya, keheningan hampir terasa, "Shira?"
"Ya?"
"Kamu tidak akan pernah selingkuh 'kan...?" Tanya Megumi
"Tentu saja tidak akan."
"Syukurlah..." Megumi mengusap pipinya dengan tangan Shira, seolah-olah di merasa lega, entah bagaimana rasanya enak bagi Shira sendiri, "Shira... Bisakah kamu membantuku?" Tanya Megumi.
"Apa itu?"
"Usap rambutku... dengan waktu yang sangat lama..."
"Baiklah." Megumi bahkan tidak perlu bertanya. Shira terus membelai rambutnya, rambutnya yang mengkilap masih agak lembab dari mandinya, dan terasa berbeda dari biasanya, Shira membelai rambut Megumi dengan sangat pelan dan lembut, "Ahhhh..." Dengan ekspresi puas di wajahnya, Megumi sedikit bergetar selagi menggerakkan ekor-nya beberapa kali yang mengartikan dia merasa senang saat ini.
"Apakah kamu suka rambutmu dibelai oleh diriku?"
"Ya ... Sepertinya begitu. Aku menyadarinya... ketika kamu mulai melakukannya." Megumi menjawab sambil menggigil, "Kamu memiliki tangan yang besar,Shira ... Seluruh kepalaku bisa masuk ke dalam tanganmu."
"Itu karena kamu memiliki kepala yang kecil, Megumi." Kepala Megumi bulat dan berbentuk sangat baik, keindahan alami terbuat dari hal-hal yang berbeda dari kita semua. Terpesona, Megumi memeluk lengan Shira dan tanpa sadar mendorong dadanya dengan lengan Shira, sensasi lembut menyelubungi lengannya, "... ..." Shira tidak memberitahu, dan berpura-pura untuk tidak menyadarinya.
"Shira..." Shira menatap Megumi dan dia menatapnya dengan mata basah yang imut.
Megumi memiliki tubuh kecil. Itu sebabnya dia selalu harus menatap Shira yang memiliki tinggi badan yang lumayan tinggi, itu sebabnya Shira tahu itu tidak disengaja, tapi itu sangat imut, lalu, "Mmmm..." Megumi memberi isyarat dengan bibirnya.
"Dasar gadis manja." Shira memberinya kecupan cepat di bibir, "Lagi..."
"Dasar..."
"Nnn..." Mereka berciuman kembali, "Funyaaaaaa..." Megumi menggerakan kedua telinga dan ekornya karena ia merasa sangat menikmati kecupan yang diberikan Shira kepada dirinya.
"Kamu jarang menciumku di bibir ketika kita masuk ke dalam akademi ini... Aku selalu memikirkannya kapan kamu akan menciumku lagi. Bahkan aku selalu mencium bantalku."
"Maaf... Yah, kita berada di akademi jadi aku terlalu gugup untuk mencium-mu sih. Takutnya aku melanggar peraturan yang disediakan akademi ini."
"Shira, kamu tampak sangat tenang tentang ini. Apakah kamu tidak benar-benar memikirkan diriku?"
"Tidak mungkin itu terjadi. Aku mencium bantalku juga karena rasa kangen terhadap bibirmu yang lembut dan manis itu."
"Benarkah?" Tanya Megumi selagi membuka mulutnya dengan sangat lebar dan kedua matanya terlihat seperti bersinar karena ia merasa senang bahwa Shira merindukan bibir Megumi, "Ya, sungguh ... Tapi yang asli itu jauh lebih baik."
"Benarkan!? Tehehe~" Megumi mulai bersikap malu. Shira menciumnya lagi, Megumi selalu terlihat lucu, tetapi hari ini dia terlihat lebih manis dari biasanya. Mungkin itu karena Shira tidak bisa dekat dengannya untuk sementara waktu, masih berpegangan tangan dengan Megumi, Shira duduk di tempat tidurnya, lalu Shira melihat sekeliling kamar-nya dengan samar-samar, ia melihat pintu dan jendela kamarnya sudah tertutup rapat.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Shira membawa Megumi ke dalam kamarnya dan sepertinya ia aman membawa Megumi masuk ke dalam kamarnya walaupun mereka sedang berada di akademi, tidak penting seberapa dekatnya mereka, Shira masih tidak yakin untuk bisa menanggung resiko jika dia ketahuan membawa seorang gadis ke dalam kamarnya di saat tengah malam, "Apakah kamu tidak akan menyalakan lampu kamarku?"
"Ahhh... Sebenarnya aku ingin tidur, tetapi aku mendengarmu baru saja selesai ganti baju." Jadi itu kenapa Megumi baru saja bangun dari tidurnya karena mendengar Shira baru saja selesai ganti baju, "Kamar-mu bagus kok... Dan aku tidak peduli asalkan aku bisa tetap bersamamu."
"Dibandingkan dengan kamarku, kamar-mu terlihat lebih indah." Ucap Megumi selagi menggerakkan ekornya pelan, "Begitu ya..."
"Di kamar biasanya aku membaca buku dan mempelajari tentang sihir-sihir lainnya." Megumi sepertinya tidak memiliki hobi yang khas, Shira sudah tahu bahwa Megumi sering berlatih dan bertarung, tetapi itu bukanlah hobi melainkan sebuah kewajiban bagi bangsa Legenda, "Hei... Aku ingin duduk disebelahmu."
"Kemarilah." Shira mulai menarik Megumi lalu ia membiarkan Megumi duduk di sebelahnya, "Uhh... Ummm... Ahh..." Megumi mulai mengeluarkan suara yang terdengar gugup ketika ia duduk di sebelah Shira, Shira bisa melihat ekor Megumi yang bergerak pelan selagi membentuk sebuah hati, sepertinya Megumi masih belum siap untuk duduk di sebelahnya, bahkan duduk di atas kasur dengan kekasihnya.
Sejujurnya, Shira merasa sedikit canggung juga, tapi Megumi lebih merasa canggung daripada seharusnya karena ia berada di dalam kamar Shira dan duduk di atas kasurnya, jadi Shira baik-baik saja, "... ...!"
"Ahh...! Shira...!" Shira mulai membuat Megumi berbaring di atas kasurnya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, Shira menatapnya tepat di kedua matanya yang memiliki warna lautan, perlahan-lahan wajah Megumi mulai memerah karena ia baru saja dikejutkan oleh Shira yang membuatnya terbaring di atas kasurnya, "Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Shira yang mulai memerah juga.
"Hmm... Lebih nyaman di posisi seperti ini..." Megumi berbicara dengan malu-malu selagi menghadap jauh dari Shira, itu bukan hanya kecanggungan, sepertinya dia benar-benar malu, Shira baru saja sadar bahwa hal yang ia lakukan tadi hampir saja seperti paksaan atau pemerkosaan, ketika ia sadar ia mulai memiliki rasa bersalah dan malu, "Maaf karena sudah mengejutkanmu." Shira mengulurkan tangannya untuk membantunya, tetapi dia menolak untuk mengambil tangannya. Mungkin dia malu karena Shira melihatnya seperti ini.
"Kamu bisa tetap seperti itu."
"Ehh...?" Shira mengangkat kaki Megumi ke tempat tidur, lalu ia naik ke tempat tidur sendiri dan berbaring di sebelahnya, "Shira...?"
"Seperti ini mudah bukan?"
"Hmm...! Kamu terlalu dekat..."
"Lebih baik ya... Tetapi itu membuatku merasa sangat malu..." Megumi mengatakan ini dengan matanya yang terlihat seperti berkaca-kaca, Shira mendekatkan wajah dan bibirnya ke bibir Megumi, lalu ia mencium ujung hidungnya, "Bolehkah aku memelukmu?"
Megumi mengangguk, "Hm..." Shira memeluk Megumi dengan lembut, membungkus tubuh kecilnya, "Ahh..." Megumi menggerakkan kedua telinga dan ekornya pelan. Terbungkus dalam pelukan Shira, Megumi menghela nafas aneh, "Aroma dari rambutmu terasa enak... seperti sampo..." Shira menempelkan hidungnya ke rambutnya dan mencium aroma itu.
"Shira... Hmm... Kamu memiliki aroma seperti keringat."
"Bohong, aku baru saja mandi."
"Tapi baunya harum, hmm... ya, aku bisa terbiasa dengan aroma ini." Jangan bicara tentang orang-orang seperti mereka semacam makanan lezat, Shira membuka lengannya dari tubuhnya dan ia memandangnya dari depan, "Megumi, aku mencintaimu."
"Jika aku tidur seperti ini maka aku pikir aku akan memiliki mimpi yang indah. Selamat malam. "Megumi memejamkan kedua matanya, "Jangan tidur dulu!"
"Kenapa tidak? Aku ingin tidur di sebelahmu. Hei, nyanyikan aku sebuah lagu pengantar tidur."
"Megumi, bukan 'kah saat ini kau bersikap lengah?"
"Heh...?"
"Aku mungkin mempermainkanmu saat kau tidur."
"Seperti menggambar sebuah kumis di wajahku?" Megumi mengatakannya dengan nada yang terdengar serius, "Bukan, itu bukan yang aku maksud."
__ADS_1
"Jika kamu ingin mencubit hidungku... atau menyentuh pipiku... Kamu bebas melakukannya." Sepertinya dia ingin Shira melakukan kenakalan padanya, "Bisa saja aku menyentuhmu lebih parah lagi."
"Contohnya?"
"Tidak, maksudku..." Shira tidak mengharapkannya untuk tidak mendapatkannya setelah mengisyaratkannya sebanyak ini. Jadi Shira terjebak pada kata-kata, "Kamu selalu mengatakan bahwa dirimu adalah gadis muda yang imut, namun kamu tidak bertindak seolah-olah kamu menyadarinya, bukan?"
"Muu... Apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak terlalu kuat dan tubuhku ini kecil."
"Itu tidak ada artinya dengan itu, kamu ini sangat imut. Wajah dan tubuhmu dan kamu memiliki proporsi yang pas juga, seorang gadis yang sangat imut." Shira mengatakan ini banyak namun dia masih belum sepenuhnya percaya, "Biarkan saja begitu. Aku mengatakan bahkan jika kamu melakukan beberapa hal cabul, aku tidak akan membencimu, jadi aku akan tidur dulu, selamat malam."
"Setidaknya ganti bajumu dulu ke baju tidur."
"Baiklah, gantikan bajuku." Megumi mengatakannya dengan suara yang manis, gadis ini, apakah dia mengerti apa yang baru saja dia katakan dan semacam konflik macam apa yang sedang Shira alami saat ini, "Meskipun kau gadis yang kusukai, dan kau sangat imut bagiku?"
"A-Aku tahu itu."
"Dan ini adalah kamarku dan kau saat ini sedang berbaring di atas kasur sebelahku?"
"Uhh... Aku tidak mengerti bagian itu."
"Aku ingin melakukan lebih dari sekadar menciummu." Shira mengatakannya sedikit terus terang, sambil membelai rambut Megumi, dia menggeser tangannya ke bawah ke pipinya, menyikat melewati telinga, dan ke lehernya, "Ahh..." Mata Megumi rileks seolah merasa senang karena gelitik, dan kemudian Shira menurunkan tangannya lebih jauh.
SKIP
***
Morgan mulai mengambil tiga kertas tentang tantangan yang berat untuk semua peserta di kelas satu sampai lima, "Sebentar lagi... Tournament of Solicitation akan dimulai dan pertarungan yang asli akan muncul... Aku sudah mendata semuanya dan sepertinya Tournament of Solicitation akan diikuti oleh 72 petarung, 72 petarung itu adalah seseorang yang berhasil menang dalam seleksi dan sangat aktif dalam turnamen ini." Morgan mulai menulis di tiga kertas yang berwarna merah
"72 orang yang di-belah menjadi tiga turnamen... Itu artinya Turnamen satu, dua, dan tiga yang diisi dengan 24 peserta yang lolos dalam seleksi. Itu artinya akan ada tiga peserta yang bisa menang di turnamen ini dan aku sudah menyediakan tiga Solicitation's Order, sepertinya Tournament of Solicitation kali ini akan berjalan cukup sengit." Morgan tersenyum dan ia merasa lega bahwa semuanya berjalan lancar, masalah tentang Katrina dan Sabrina diurus oleh Korrina karena ia dapat ijin dari Morgan sendiri, "Cara untuk lolos seleksi adalah mendapatkan nilai yang besar atau menang dalam setiap tantangan yang disediakan oleh pemandu." Ucap Morgan.
"Dan aku yakin Korrina tidak akan bisa menjadi pemenang lagi, dia bahkan sudah memberitahuku bahwa semua peserta yang ia kenal sangatlah kuat." Morgan mulai membuka sebuah laci dimana di dalamnya terdapat beberapa dokumen yang berhasil lolos dalam seleksi sehingga langsung masuk ke dalam turnamen, "... ..." Tanpa Morgan sadari, Korrina sedang mengintip di balik pintu menggunakan ilusi dan Morgan sendiri lengah ia tidak merasakan keberadaan Korrina.
"Sial... Aku tidak bisa melihatnya." Korrina menghela nafasnya lalu ia berjalan pergi dan menghampiri papan yang besar, ia melihat papan tersebut dan ternyata ia melihat toga kertas besar yang berwarna merah, "Jadi tiga kertas ini menunjukkan tantangan dari Morgan yang diberikan kepada pemandu untuk kita semua ya...?" Korrina mulai menatap kertas yang berada di bagian kiri.
"Battle Royale... Tantangan yang memiliki kertas berwarna merah bisa mengartikan bahwa itu buruk, semua peserta dari berbagai kelas diwajibkan untuk mengikuti tantangan ini dan memilih lima peserta dari setiap kelas untuk mengikuti Battle Royale ini. Itu artinya 25 peserta akan bertarung di arena besar yang melayang di atas langit, jika seorang peserta jatuh maka dia akan dikeluarkan dari akademi." Korrina membulatkan kedua matanya ketika ia membaca kertas yang pertama, ia langsung membaca kertas yang tengah, "God of Destruction... Semua peserta dari berbagai kelas diwajibkan untuk mengikuti tantangan ini dan memilih lima peserta dari setiap kelas untuk bertarung melawan dewa kehancuran yang akan mencoba untuk menghancurkan akademi ini... Tantangan ini cukup beresiko karena dewa kehancuran bisa saja membunuh dalam sekejap dan jika itu terjadi maka itu jauh dari tanggung jawab akademi ini, jika gagal maka Tournament of Solicitation akan dibatalkan."
Korrina membaca kertas yang terakhir, "Base Hunting... Semua peserta dari berbagai kelas diwajibkan untuk mengikuti tantangan ini dan memilih lima peserta dari setiap kelas untuk menginap di dimensi yang sangat pedih bagi mortal biasa yang bernama Cursed Realm, semua peserta akan disediakan beberapa markas dan disaat itulah semua peserta harus menghancurkan markas mereka sebelum wilayah itu membunuh kalian, kelas yang menang akan langsung diloloskan dalam seleksi."
"Korrina." Panggil Morgan sehingga ia mulai menatap Morgan dengan tatapan yang terlihat kesal, "Morgan, apa maksudmu dengan semua tantangan ini?"
"Setiap tantangan akan dijelaskan dengan jelas oleh pemandu dari setiap kelas, tantangannya berat bukan...? Ya, seharusnya kau membutuhkan usaha yang besar untuk mendapatkan sesuatu yang kau inginkan seperti keinginanmu yang ingin tercapai dengan cepat. Setiap kelas wajib berpartisipasi jika tidak maka mereka akan langsung dikeluarkan." Ucap Morgan.
Korrina mulai berkeringat karena ketiga tantangan itu sangatlah sulit, "Tantangan akan dimulai dua hari lagi, jadi persiapkan mental dan kekuatanmu untuk mengikutinya. Ketiga tantangan itu sulit, apalagi tantangan dalam melawan dewa kehancuran."
"Baiklah..." Korrina mengangguk pelan karena ia takut bahwa ia akan kehilangan teman di kelas tiga-nya, sepertinya berjuang demi mendapatkan Solicitation's Order itu lebih sulit sekarang.
__ADS_1