
Rokuro perlahan-lahan membuka kedua matanya ketika sinar matahari mulai mengenai kedua matanya, kemarin itu adalah malam yang terasa cukup panjang dan menyenangkan bagi dirinya sehingga sekarang ia merasa lelah karena sudah mengerahkan seluruh kekuatan penuhnya untuk membuat Haruka merasakan arti dari kenikmatan, seseorang yang menyambut dirinya adalah Haruka yang berbaring di sebelah-nya dengan sebuah senyuman.
"Pagi, Rokuro... tidur nyenyak...?"
"Ahh... Haruka ya... pagi..." Rokuro dikejutkan dengan tubuh Haruka yang masih telanjang dan ia bisa melihat seluruhnya, kemarin malam itu ia tidak menyangka akan merasakan surgawi dunia yaitu melakukan observasi terhadap tubuh seorang wanita, ia tidak menyangka melakukannya dengan Haruka akan membuatnya merasakan kenikmatan paling atas, jadi ini yang disebut sebagai anugerah tubuh dari keturunan Comi.
"Hei... kamu melihat kemana, mesum..." Haruka mengembungkan pipinya sehingga ia mulai memeluk Rokuro lebih erat, rasa cinta mereka sudah bersatu menjadi satu karena Rokuro yang sudah menandakan dirinya sebagai miliknya, mereka beristirahat kembali di dalam hotel-nya walaupun sudah pagi tanpa mengingat pulang atau memikirkan tentang orang tua dan saudara mereka.
Arata dan Ophilia merasa canggung dan bahkan wajah mereka merah ketika mengetahui Rokuro saat ini masih belum pulang walaupun sudah jam tujuh pagi, Ophilia berjaga-jaga untuk menghubungi Honoka dan ternyata Haruka sendiri masih belum pulang. Mereka memiliki ekspresi dan perasaan yang sama bahwa hubungan mereka tidak berjalan dengan sehat melainkan sudah jatuh ke dalam lubang yang bisa dibilang sebagai kesesatan.
Honoka menepuk wajahnya, ia tidak menyangka Kakaknya akan melakukan tindakan parah seperti itu, semoga saja ia bisa pulang dengan selamat karena ia memiliki banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Haruka. Bagaimana bisa dirinya yang malu bisa menghabiskan waktu bersama pasangannya di sebuah hotel, Honoka dikejutkan dengan kacamatanya yang menunjukkan sebuah pesan di lensa-nya, pesan dari Haruka bahwa ia akan pulang lebih lama lagi jadi mereka berdua bebas melakukan apapun.
"Hahhhh... Kakak ini... enak sekali bisa memiliki seseorang yang dapat memperbaiki suasana hati di hari keluarga ini." Honoka menghela nafas dan merasa senang untuk Kakak-nya karena ia dapat beristirahat dengan tenang hari ini, tidak ada kegiatan yang bisa ia lakukan kecuali pergi untuk berbelanja bersama Minami di hari keluarga ini, Honoka juga harus membeli sesuatu untuk Haruka dan Kou.
Minami dan Honoka pergi meninggalkan rumah Shira, di rumah sekarang hanya terdapat Kou yang masih tidur sedangkan Shuan yang sedang berlatih di luar, Shira dan Megumi sudah mengajak Shuan untuk ikut membeli beberapa makanan tetapi ia menolaknya karena ingin berlatih, di balik alasan-nya itu terdapat tujuannya yang ingin tetap bersama Kou untuk melindungi dirinya yang masih tertidur.
Tidak lama kemudian, Shuan beristirahat sebentar dengan masuk ke dalam rumahnya untuk mengunjungi dapur, ia membuka kulkas untuk mengambil gelas susu dinginnya lalu ia meminum-nya dan menutup kembali kulkas itu sehingga ia melihat Kou yang baru saja turun dari tangga, Kou tersenyum kepada Shuan dan ia hanya bisa diam karena kedatangannya itu terlihat persis seperti matahari yang baru saja terbit.
[Pagi, Shuan.]
"Ah, iya, pagi." Shuan merasa sangat terkejut karena perilakunya berbeda dengan yang kemarin, terlihat lebih bersinar sekarang dengan senyuman itu, mungkin karena kemarin ia mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan mendukung dirinya Kou menjadi bersemangat seperti itu, Shuan mulai merasa sedikit canggung saat di dekatnya.
Kou mulai tersenyum kepada Shuan sambil memejamkan kedua matanya, perilaku itu bisa dibilang sebagai serangan dari keimutan yang menusuk jantung Shuan sampai membuat dirinya hampir tersedak ketika meminum susu dingin itu, di sisi lainnya Kou berusaha menyembunyikan rasa malunya, Shuan ingin sekali berbicara lebih lama jika bisa hanya berduaan dan hari ini cukup cocok juga karena sudah berduaan di dalam rumah.
"Kou, hari ini senggang...? Aku ingin berbicara denganmu, setidaknya menemani hari yang cukup cerah ini dengan suhu yang terasa sejuk." Shuan berhasil mengatakannya dengan wajah yang terlihat serius.
__ADS_1
[Ehh...? Kemana?].
"Ahh... Ke tempat rahasia kita bagaimana? Biasanya lautan itu akan terlebih lebih indah di pagi cerah seperti ini karena matahari yang menyinari lautan tersebut, aku tidak memaksa jika tidak ingin maka aku akan melanjutkan latihanku ini." Shuan menempati gelas kosong di atas kursinya dan ia mulai berjalan pergi karena ia memiliki perasaan bahwa Kou akan menolak, ia tiba-tiba tidak bisa bergerak seketika karena pengendalian pikiran Kou untuk tidak pergi karena ia tidak akan menolak.
"A-Apa ini yang aku rasakan...? Ahh... kemampuan natural Kou 'kah!?" Ungkap Shuan, ia melihat Kou tersenyum dan mengangguk. Entah kenapa suasana terasa lebih canggung dari kemarin, mungkin mereka sudah menghabiskan waktu bersamaan dengan berduaan lama sekali sampai tidak memikirkan tentang yang lainnya, mereka sekarang mulai bertingkah aneh seperti biasanya tanpa memikirkan situasi.
Dipikirkan kembali, kepala Shuan dipenuhi dengan gambaran Kou yang menunjukkan sisi imut-nya, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat sehingga Kou memiringkan kepalanya lalu mengeluarkan sebuah catatan bahwa ia ingin ikut. Melihatnya Shuan merasa sangat senang sampai lemas, ia bengong seketika tetapi Kou menyadari dirinya dengan melambaikan kedua tangannya sehingga Shuan terkejut lalu ia mengangguk dan mengajak dirinya ke tempat rahasia itu.
"Ahh... Maaf, Kou, hanya bengong sebentar... mungkin cape..." Shuan mengatakan itu dengan nada santai bersamaan dengan wajahnya yang terlihat serius.
[Aneh, kamu yang mengajak malah bengong. Jangan-jangan lelah ya...? Kamu sudah terlalu banyak berlatih loh, enggak apa-apa 'kan?].
"Tenang saja... aku masih waras dengan waktu istirahat, tidak seperti Ayah."
[Sekali lagi, Shuan. Terima kasih sudah mengajakku], Kou tersenyum sambil memegang layar itu dan Shuan hanya bisa mengangguk, mencoba untuk menjaga karakteristik-nya yang terlihat serius. Ketika mereka sudah sampai di tempat rahasia itu, Shuan tiba-tiba merasakan sesuatu yang janggal ketika melihat ekspresi Kou yang terlihat seperti tidak enak badan, kemungkinan penyakitnya baru saja kambuh dan gawat sekali jika ia sakit di suasana dingin seperti ini.
Shuan melihatnya lebih dekat dan Kou terlihat demam, situasi seperti ini bertambah buruk karena yang lain sedang sakit dan ia sendiri tidak memiliki alat atau semacamnya untuk menghubungi yang lain tetapi suasana seperti ini pas untuk dirinya melakukan tujuan yang sudah ia tentukan kemarin yaitu menjaganya, dengan cepat Kou menulis sesuatu lalu menunjukkannya kepada Shuan.
[Lautan yang biru terlihat lebih indah ya... aku iri kamu memiliki tempat rahasia hebat seperti ini, kalau begitu... aku baru saja membawa sedikit camilan, mau makan?], Kou mengeluarkan beberapa camilan dari dalam saku rok-nya lalu ia menunjukkan kepada Shuan.
"Tidak, terima kasih, kita pulang, sekarang. Titik..." Ketika mendengar Shuan yang mengatakan penolakan itu dengan ekspresi dingin-nya membuat Kou kebingungan sampai ia memiringkan kepalanya sedikit.
"Kamu kelihatan tidak sehat... apakah semua ini salahku kemarin? Membawa dirimu larut malam ke sini, suhu dingin itu mempengaruhi tubuhmu, kamu demam 'kan?"
[Tidak kok, hanya lelah saja. Kalau istirahat pasti sembuh kok.], Kou mencoba untuk membuat alasan, sebenarnya ia tidak ingin pulang dan beristirahat karena ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Shuan.
__ADS_1
"Tidak... jika aku bilang pulang maka pulang... Nanti malah tambah parah dan merepotkan, jangan memaksakan dirimu, Kou. Pulang, ayo, aku antar tentunya." Shuan meraih tangan Kou dan mengajak dirinya kembali ke rumah Shira, di pikiran Shuan langsung terlintas kenangan yang tidak enak untuk diingat dan saat dirinya menggenggam tangan Kou.
[Tunggu, Shuan, berani banget sih...] Sebuah layar virtual muncul di hadapan Shuan, Kou sempat untuk menulisnya dan ia tidak menyangka bahwa Shuan akan menggenggam tangannya erat, tangannya itu terasa begitu hangat dan nyaman bagi dirinya.
"Ahh...?" Shuan baru saja sadar bahwa ia menggenggam tangan Kou, ia langsung melepaskannya dan menatap arah lain dengan tatapan yang terlihat malu dan kesal secara bersamaan karena pikirannya yang tidak terkendali seketika. Di sisi lain, Kou memalingkan matanya tersipu malu, suasana yang begitu panas bagi mereka dan entah kenapa Shuan bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Maaf. Aku hanya ingin kau cepat istirahat agar demam itu tidak bertambah parah, kau tahu."
[Tidak apa-apa, kaget saja... kaget...].
[Selain itu, kenapa kamu bisa tahu, padahal jarang sekali Kakak-Kakakku tahu kondisiku sedang demam kecil seperti ini... hanya sekedar demam kecil saja sudah membuat dirimu mengetahuinya].
"Melihatnya wajahmu langsung tahu kok, karena aku selalu memperhatikan dirimu."
Dengan wajah tersipu, Kou menunjukkan tulisan lain, [Begitu ya... hanya dengan melihat...]
[Terima kasih, Shuan, dari pagi tubuhku terasa dingin seketika mungkin karena musim sejuk ini memang tidak baik untuk diriku jika terlalu lama tetapi demam kecil seperti ini dapat dengan mudah disembuhkan.], Kou tersenyum.
"Tidak boleh begitu, lain kali jika ingin keluar gunakan pakaian yang hangat. Jika tidak punya maka aku akan membelikan-nya untuk dirimu sebagai hari keluarga... Hari keluarga itu bukan tentang keluarga saja tetapi teman juga masih bisa dibilang sebagai keluarga juga karena menggantikan mereka ketika sedang tidak ada..." Shuan mengatakan itu dengan tatapan serius, Kou begitu terpesona melihat dirinya masih menjaga sisi keren-nya itu.
[Jangan begitu dong... simpan saja uang itu untuk alat latihan atau semacamnya, ya?]
"Kau terlalu baik, Kou... tidak adil." Shuan tidak percaya akan menemukan gadis seperti dirinya yang terus membuat hatinya bergerak seketika, rasa masa bodoh-nya hilang seketika karena ia terlalu peduli kepadanya sehingga kondisi demam kecil seperti ini akan ia lawan dengan cepat agar Kou bisa merasa lebih baik lagi, kali ini dengan sengaja Shuan menggenggam tangannya untuk mempercepat perjalanan.
"Lain kali jika ada kendala aneh, beritahu aku..."
__ADS_1