
"HAHHHHHHH!!!" Koizumi menjerit keras sampai melepaskan seluruh aura Crimson nya sampai mengenai semua kesatria yang berada di dekatnya.
Tubuh Shinobu yang terluka parah mulai mendapatkan perlindungan dari Koizumi agar dirinya bisa terjaga dengan aman, ia mulai maju ke depan lalu menghantam wajah Mories, setelah itu menusuk perutnya untuk melemparnya ke atas.
Senzu tercengang ketika pergerakan Koizumi jadi tak kasat mata, dirinya bahkan tidak bisa melakukan serangan apapun karena Koizumi terus mengincar Mories yang sudah menyiksa Shinobu beberapa kali.
Viz mencoba untuk menggambar lambang Virgo lagi tetapi wajahnya menerima satu pukulan dari Koizumi lalu ia menjatuhkannya di atas tanah dengan menindih tubuhnya menggunakan beberapa meteor yang muncul di atas langit.
Koizumi melepaskan auranya lebih besar sampai menjatuhkan Liberon yang mencoba untuk menyerangnya dengan kemampuan tak kasat mata itu, dirinya terjatuh di atas tanah sampai menerima tekanan yang begitu besar.
"Ke... Kekuatan apa ini...!?" Tanya Viz, ia bisa melihat malam hari ini dipenuhi dengan warna merah karena sinar cahaya bulan berwarna merah itu sampai membuat dirinya merasa ketakutan.
Liberon merasa yakin bahwa Koizumi bertambah kuat seperti itu karena ledakan amarah dan bulan merah itu yang mereka katakan sebagai [Crimson Moon] di dalam sejarah.
Mories yang mencoba untuk melawan malah menerima serangan yang jauh lebih besar dan fatal oleh Koizumi yang benar-benar kebal ketika menerima serangan sarung tinju darinya.
"Kenapa...? Bagaimana bisa Mories, kesatria zodiak Aries tidak dapat menghancurkan tubuh atau tengkorak siapa pun menggunakan kekuatan zodiak Aries yaitu [Super Strength]?!" Tanya Senzu.
"Hyaagghhh!!!" Koizumi menghantam wajah Mories sampai terpental menuju istana yang sudah hancur, setelah itu ia muncul tepat di belakang Senzu yang berencana untuk menyerangnya secara diam-diam.
Dua pukulan penuh tenaga mengenai kepalanya sampai Senzu terjatuh di atas tanah lalu menerima tusukan belati yang Koizumi ciptakan melalui sihirnya sampai ia tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima semuanya.
Mories melesat maju ke arah Koizumi tetapi ia berhasil menahan satu serangan darinya lalu ia menyerang balik dengan menghantam wajahnya, setelah itu menebas perutnya dan mengakhiri serangan dengan menendangnya ke belakang.
Mories merapatkan giginya kesal karena kekuatannya tidak memberikan efek apapun kepada Koizumi yang terlihat sangat kesal, ia melesat ke atas tetapi Koizumi mulai mengejar dirinya.
Mories menunjuk ke arah Koizumi lalu melepaskan sihir api yang berbentuk tinju ke arahnya tetapi ia berhasil menangkisnya ke atas sehingga dirinya langsung menebas tubuh Mories beberapa kali.
Koizumi menebas wajah Mories lalu ia menusuk dadanya cukup dalam sampai menerobos tulangnya, ia tidak akan membiarkan seseorang yang sudah melukai Shinobu di hadapannya kabur.
Koizumi mencekik leher Mories lalu ia menusuk puncak kepalanya sampai menghancurkan tengkoraknya sehingga ujung dari belati itu menusuk otaknya sedikit.
Koizumi melakukan satu putaran yang menendang wajah Mories sampai ia terjatuh di atas daratan, setelah itu ia muncul tepat di hadapan Senzu.
Koizumi menghantam wajah Senzu tanpa harus melihatnya sehingga ia terpental ke belakang lalu menabrak tubuh Liberon dan Viz secara bersamaan sampai mereka terpaksa harus melakukan sesuatu.
Viz mencoba untuk menggunakan mantranya tetapi dirinya menerima beberapa serangan dari Time-Replay yang Koizumi ciptakan sampai mereka tidak bisa maju untuk melawan dirinya yang akan menyiksa Mories.
Mories bangkit lalu ia memegang belati di puncak kepalanya, dirinya mencoba untuk menariknya keluar tetapi berakhir terjatuh di atas tanah karena rasa sakitnya tidak bisa di tahan lagi.
Koizumi awalnya ingin memuaskan rasa amarahnya tetapi nafasnya yang terasa sesak menghentikan dirinya sampai ia berlutut di atas tanah dengan nafas yang terengah-engah.
"Kakak..." Shinobu menatap Koizumi sehingga dirinya muncul tepat di hadapannya lalu mengeluarkan sebuah tangan untuk menutup kedua matanya agar Shinobu tidak menatap bulan merah itu.
Koizumi mengontrol nafasnya lalu ia menatap tajam Mories yang terlihat ketakutan seketika, Senzu bangkit lalu ia berencana untuk mundur bersama kedua kesatrianya yang masih hidup.
"Kau ingat dengan perkataan pemimpin Leon sejak itu bukan...? Kita terpaksa harus mundur jika keadaan telah berubah seperti ini..." Kata Senzu yang terlihat ketakutannya.
"Tapi... bagaimana dengan Mories? Kita tidak bisa meninggalkan seorang rekan sendirian atau dia akan mati oleh dirinya...!" Seru Viz.
"Tidak ada yang namanya pengorbanan tak berguna... Mories menggunakan nyawanya untuk membiarkan kita pergi agar bisa melaporkannya kepada sang penyihir dan pemimpin Leon!"
Viz dan Liberon tidak memiliki pilihan lain selain mundur, mereka juga sadar bahwa melawan Koizumi ketika ia mengamuk atau bukan merah bangkit adalah pergerakan yang salah.
"Tu-Tunggu...!!! Jangan tinggalkan aku..! Aku mohon...!" Mories mulai merangkak ke arah Koizumi tetapi kedua lengan dan kakinya langsung di potong oleh Koizumi.
"Aku masih belum selesai denganmu... kekuatan dan kemampuanku hanya terbatas untuk dirimu, aku biarkan mereka pergi saja agar bisa di urus nanti..."
"...tetapi urusan itu akan jauh lebih menyakitkan dan menderita di bandingkan dirimu, Kesatria brengsek!" Koizumi menempati lengan dan kaki yang berhasil ia mutasi di dekatnya.
"Kau mati sebagai kesatria penuh kebanggaan, Mories... kami berjanji akan kembali demi memberikan hukuman berat untuk pemberontak seperti dirinya!" Seru Senzu.
Mories mulai menangis ketika melihat dirinya di tinggal oleh rekan yang selalu ia bantu dulunya tanpa di khianati seperti saat ini, ia meringis kesakitan karena Koizumi yang mulai memutasi bagian lainnya.
"Terkutuk kalian...!!!" Teriak Mories keras yang merasa terkhianati oleh ketiga kesatria zodiak itu.
Viz dan Liberon menyentuh punggung Senzu lalu mereka mengalami perpindahan berkat sihir teleportasi yang dimiliki oleh Senzu, mereka bersumpah akan kembali lalu membalaskan dendam kematian Mories.
Koizumi di sisi lainnya sibuk memutasi tubuh Mories tanpa henti sampai ia tidak akan membiarkan dirinya mati terlebih dahulu sebelum mengambil bagian-bagian tubuh yang dapat ia jual juga.
__ADS_1
"Bukannya cukup menyedihkan...? Kau bahkan di khianati oleh kesatria zodiak yang dipenuhi dengan kebanggaan!" Koizumi mencabut kedua mata Mories dan lidahnya sampai ia menjerit kesakitan.
Mories tidak bisa melakukan apapun sehingga wajahnya menerima injak dari Koizumi, untungnya pandangan Shinobu tertutup oleh sapu tangannya agar ia tidak bisa melihat sesuatu yang sadis di hadapannya.
Bulan Crimson sudah menghilang ketika dirinya mengalami penyakit sesak nafas karena kutukannya itu, untuk sekarang semuanya terkendali dengan aman sampai ketika ia pulang nanti, dirinya akan membawa sebuah inhaler.
Koizumi mengulurkan lengan kanannya ke depan lalu memunculkan sebuah jam pasir yang memiliki lambang Greed, "Semua kesakitan dan luka yang kau berikan pada sepupuku..."
"...semua akan terbayar dengan sesuatu yang tidak pernah bisa berakhir, selamanya... sampai kau terbiasa dengan kesakitan itu!' Jam pasir itu mulai berputar cepat.
"Mfffggghhhhh!!!"
"Tidak ada maaf bagimu...!!! Brengsek!!!" Koizumi langsung memasukkan Mories ke dalam jam pasir itu, ia berhasil melakukannya.
Dengan ini Mories dinyatakan terjebak untuk selamanya di dalam jam pasir itu tanpa jalan keluar apapun, jika jam itu hancur maka Mories akan dipindah ke jam lain tanpa henti.
Isi dari jam itu dipenuhi dengan rasa sakit, mimpi buruk, penderita, dan kematian yang tidak akan pernah habis sampai Mories terpaksa harus merasakan semuanya tanpa sedikit jeda atau istirahat.
Koizumi menarik nafas dalam-dalam lalu ia menghembusnya pelan sehingga pikirannya kembali tenang, jika saja tadi ia terus mengamuk dengan kekuatan penuh maka planet Legenia bisa saja hancur.
Ia mulai mendekati Shinobu yang terlihat begitu hancur, banyak sekali luka yang dirinya terima dan ia mulai memancarkan tubuh Shinobu dengan sihir pemulihan yang berhasil ia pelajari dari Ophilia dan Haruka.
Tubuh Shinobu kembali pulih seperti biasa tetapi tidak untuk telinga kirinya yang sudah putus sampai lubangnya tetap tertutup dengan batu Obsidian, pendengarannya mengalami sedikit gangguan di bagian kiri tetapi ia masih bisa mendengar.
"Terima kasih, Kakak---" Shinobu terkejut ketika tubuh kecilnya menerima satu pelukan dari Koizumi yang mulai menangis karena dirinya datang terlambat.
"Bodoh... kenapa kamu harus di culik seperti itu... lihatlah sekarang... kamu... kamu terlihat semakin menderita dan menyedihkan." Koizumi mengatakannya selagi menangis karena ia merasa tidak tega untuk sepupunya.
Sepupu kecilnya yang tidak memiliki lengan, kaki, mata kiri, dan sekarang ia telah kehilangan satu pendengar termasuk ekornya yang putus setengah sampai rasa kesedihannya bertambah besar.
Shinobu hanya bisa diam, merasa gagal dan kecewa kepada dirinya sendiri karena ia tadi tidak bisa melawan sama sekali, lengan dan kaki buatannya sudah di hancurkan oleh Senzu.
Shinobu terpaksa pulang dengan kondisi seperti itu, Koizumi siap membawanya pulang kapan saja karena ia sendiri merasa khawatir tentang Kou.
***
Tech yang berencana untuk mencari Shinobu langsung mendeteksi dirinya dengan sistemnya sendiri sehingga ia langsung mendekati Shinobu dan melihat dirinya sedang di gendong oleh Koizumi yang dipenuhi banyak darah.
Koizumi memasang ekspresi kecewa, dirinya tidak bisa menangis tetapi ia mulai menundukkan kepalanya kepada Koizumi dan meminta maaf sebesar-besarnya.
"M-Maafkan aku, Kakak... seharusnya aku tidak berkeliaran sembarangan seperti tadi..."
"...aku benar-benar lemah, ahaha... lebih baik aku diam saja di rumah dan belajar seperti kutu buku yang tidak berguna." Shinobu tersenyum polos walaupun menerima penyiksaan dari kesatria tadi.
Melihatnya saja membuat Koizumi semakin bersedih bahwa gadis umur 4 tahun seperti dirinya masih bisa bersikap kuat seperti itu tanpa menangis sedikit pun, ia terlihat begitu polos sampai membuat Koizumi bertambah sedih dan kasihan.
"Shinobu... kamu tidak lemah kok... justru kamu itu kuat..." Koizumi meneteskan beberapa air mata tetapi ia langsung menghapusnya dan berbalik badan.
"Kalau begitu... aku akan pergi untuk melapor... jaga dirimu baik-baik... jika kamu terculik lagi seperti tadi maka aku akan menemukan dirimu..." Koizumi melayang ke atas langit lalu melesat ke arah timur untuk melapor.
"Saya gagal untuk menjaga Anda, putri kecil. Mohon maafkan saya..."
"...saya sudah menerima jenis hukuman apapun dari Anda." Tech berlutut kepada Shinobu tetapi ia langsung menerima sebuah elusan di kepala oleh Shinobu.
"Tidak apa~ Aku baik-baik saja sekarang..." Shinobu tersenyum polos, tatapannya terlihat begitu jelas bahwa dirinya tidak merasa sedih atau menderita.
Berkat bantuan dari The Mind, ia bisa mempertahankan semua sikap negatif sampai dirinya terus bersikap bahagia dan polos sampai membuat orang di sekitarnya merasa semakin sedih.
Tech melihat senyuman manis dan polos Shinobu yang terganggu oleh luka yang membekas itu, robot seperti dirinya yang tidak berperasaan masih bisa merasakan kesalahan yang begitu menyakitkan.
"...saya awalnya ingin melapor kepada semuanya bahwa kamu telah di culik."
"Aku baik-baik saja sekarang... dimana Mama...?" Shinobu segera bergegas masuk ke dalam kabin untuk menemui Kou yang sedang berbaring di atas kasur.
"Mama...! Mama...! Aku pulang..." Panggil Shinobu sampai Kou yang mencoba untuk menenangkan pikirannya langsung dikejutkan dengan suara itu.
"Koneko!?" Kou bangun lalu melihat Shinobu yang berdiri di sebelah kasur selagi memegang Kisetsu nya dengan erat, ia sudah siap untuk di marahi.
"Koneko..." Kou mulai menangis lalu menarik tubuh putrinya untuk memberi dirinya sebuah pelukan erat yang mampu membuat perasaan Shinobu semakin tenang di bandingkan sebelumnya.
__ADS_1
"Apakah kamu baik-baik saja...?! Siapa yang menculik---"
"Aku baik-baik saja..." Shinobu tersenyum lalu ia mengangguk.
Kou melebarkan matanya ketika melihat Shinobu kehilangan satu kuping di bagian kiri bahkan ekornya juga terlihat semakin pendek karena sudah di potong oleh kesatria tadi.
Pemulihan Koizumi juga tidak berhasil untuk menghilangkan semua luka itu sampai ia bisa melihat jelas bekas lukanya itu, semua luka dan kesakitan yang ia terima tetapi Shinobu masih bisa tersenyum begitu polos seperti tidak terjadi apa-apa.
Semuanya sudah ia anggap biasa sampai Kou mengerti karena sejak bayi, dia berjuang untuk jalan dan bergerak normal menggunakan alat kecil yang Kou pasangkan.
Sejak berumur 1 sampai sekarang, dirinya terus di perlakukan buruk oleh beberapa Legenda yang membenci Neko Legenda, dirinya benar-benar tersakiti tetapi The Mind terus membuat dirinya bersikap positif tiada batas.
Kou sudah membiarkan dirinya untuk menangis kapan saja di hadapannya tetapi Shinobu tidak mau, ia sudah berjanji kepada Shuan dan Kou bahwa dirinya akan menangis ketika ia sudah tidak bisa menahannya.
Sampai sekarang, dia terus menahannya dan bersiap kuat tanpa batasan apapun, walaupun Shinobu menganggap dirinya lemah, semua orang melihat dirinya sebagai gadis pejuang keras untuk melawan semua kepedihan dan kesulitan kehidupan.
"Kamu boleh menangis kok..." Ucap Kou yang sudah menangis duluan selagi mengusap kepalanya.
"Koneko baik-baik saja kok..." Shinobu tersenyum lalu ia memeluk erat Kou untuk menurut kepada dirinya bahwa ia sudah melanggar peraturannya untuk tidak berkeliaran.
"Mama boleh memarahiku dan menghukumku... aku akan menurut..."
"Koneko..." Kou memeluk Shinobu erat lalu ia menepuk punggungnya pelan-pelan beberapa kali.
Setiap katanya terdengar lembut dan senyumannya yang polos terlihat begitu jelas tetapi kemampuan pikiran Kou bisa melihat bahwa hati Shinobu terus di tusuk oleh rasa sakit yang berhasil ia tahan tanpa henti.
Beberapa menit kemudian, Kou yang terus menangis di pelukan Shinobu melihat putrinya tertidur dengan damai, ia mulai menempatinya di atas kasur lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Wajahnya terlihat begitu damai sampai ia menanggap semua kesakitan dan kepedihan yang ia rasakan sebagai hal biasa karena sudah sering merasakannya.
Kou melihat mimpi Shinobu dengan jelas, ia sedang berlatih dengan beberapa luka yang masih membekas di tubuhnya, memikirkannya saja membuat suhu tubuh Kou bertambah semakin panas.
"... ..." Kou mengelus kepala Shinobu.
"Maaf ya..."
"...maafkan Mama karena sudah melahirkan gadis malang seperti dirimu..."
"...bahkan tanggung jawabku tidak begitu kuat dan cukup untuk memperbaiki semuanya..."
"...tetapi kamu tetap bersikap kuat seperti itu..." Kou mengatakannya dengan air mata yang terus berjatuhan.
"Tech, tolong jalankan rekaman yang Koneko lihat dengan mata buatannya..." Perintah Kou sehingga Tech menunjukkan layar besar yang memperlihatkan rekaman sebelumnya.
Rekaman itu menunjukkan Shinobu yang terus di siksa tanpa henti oleh semua kesatria itu untuk membantu mereka semua dengan ilmu pengetahuan yang ia peroleh, bukan hanya itu saja tetapi mereka mengingatkan otaknya dan ibunya
Termasuk kabin yang di jadikan sebagai inti sistem Tech, Shinobu sudah pasti menolaknya dan ia terus menerima siksaan pedih dari mereka dengan ekspresi yang memohon untuk bertahan.
Ekspresinya terlihat begitu kesakitan sampai Kou tidak bisa melihat sedikit pun air mata yang keluar melalui matanya, dia benar-benar bisa menahan tangisan itu sampai akhirnya karena The Mind.
Kou sering melihat rekaman siksaan, yang Shinobu rasakan berkali-kali, setelah itu ia meminta Tech untuk menutup layar itu karena ia sudah melihat semuanya.
"Aku mohon..." Kou menatap gambar Korrina yang terpajang di tembok.
"...aku tidak ingin pulang..."
"...aku ingin menjaga dirinya sampai akhir dan tumbuh besar..." Kou mulai menangis selagi menahan dadanya yang terasa kesakitan karena tidak bisa meninggal Shinobu sendirian.
***
"... ..." Koizumi terbang di atas langit selagi memikirkan sesuatu yang benar-benar membuat dirinya sedih kepada Shinobu dan kesal kepada para kesatria zodiak.
"Shinobu, apakah kamu baik-baik saja...?!"
"Mm... A-Aku baik-baik saja... lebih baik utamakan Kakak saja dulu yang terluka... Kakak dipenuhi banyak darah." Shinobu menyatakannya dengan ekspresi polos.
"Tetapi kamu kan... kamu menerima luka dan kesakitan yang jauh lebih parah dariku..."
"Tidak apa-apa... Aku baik-baik saja kok... f-fuehhhh... kepala Kakak sampai meneteskan darah." Shinobu mengusap kepala Koizumi menggunakan sapu tangan.
__ADS_1
Air mata mengalir keluar melalui matanya, "Sudah hampir setiap hari aku melihat dirinya bersikap sekuat itu..."
"...Shinobu."